
"Tolong lindungi saja Yang Mulia Duke, saya yang akan mengurus diri saya sendiri." Sambil tersenyum pahit Yanneta melanjutkan kata-katanya.
"Kemudian mimpi Yang Mulia Putra Mahkota adalah masa depan Duke. Di pesta nanti Duke dan Putra Mahkota akan bertemu dengan seorang wanita, Rose Attlier. Disinilah tragedi terjadi. Seharusnya terjadi perebutan cinta segitiga antara mereka."
"Seharusnya tidak ada tragedi Putri Gwinia. Mungkin karena keberadaan saya, maka masa depan berubah."
"Ceritanya sudah menyimpang. Aku tidak tahu lagi."
Hari berlalu begitu saja. Seperti biasa Lionel mondar-mandir antara mansion dan istana. Menakjubkan dia tidak pernah mendapatkan serangan kutukan meskipun intensitas berkunjung ke istananya semakin meningkat.
Tuan Penyihir, Dyos Tatiha sendiri sibuk untuk mengurai alur peristiwa mahadasyat yang akan terjadi. Siang malam dia membaca buku-buku ilmu sihir. Berkutat dengan mantra. Hingga berkubang dalam banyak skenario di otaknya. Dia masih bertukar surat dengan Verdian dan secara berkala melaporkannya pada Yanneta.
Yanneta sendiri tidak bisa banyak membantu. Pengetahuan yang dia punya terbatas. Masa depan yang ada dalam cerita Red Rose Tragedy sudah pasti berbeda. Saat ini dia sibuk memikirkan masa depannya sendiri.
Tiba-tiba suara ketukan menyadarkannya. Seorang pelayan masuk setelah dipersilahkan.
"Count Rainhart ada disini."
Betapa terkejutnya Yanneta. Dia berdiri dengan gugupnya. Tidak ada penggambaran apapun tentang ayah Yanneta, Count Rainhart. Dia bingung harus bagaimana.
"Tuan Count sedang menunggu di ruang penerima."
Sekilas ingatan Yanneta muncul. Count Rainhart tidak pernah memberikan kasih sayang pada putrinya. Karena istrinya yang meninggal akibat melahirkannya. Dia adalah saudagar yang gila kerja. Count suka bepergian ke luar negeri dan tidak pernah pulang sepanjang tahun.
Tapi sekarang dia ada disini. Terlebih di mansion Soveil.
Pintu terbuka dan seorang laki-laki paruh baya berdirin menghadap jendela. Kerutan di beberapa titik menunjukkan usianya yang sudah lanjut.
Yanneta mematung karena tidak tahu bagaimana harus menyapa.
"Anda disini, ayah."
Count menoleh dengan wajahnya yang dingin. Terlihat jelas bahwa dia adalah orang tanpa belas kasihan. Di hadapan putrinya, matanya liar seperti siap memangsa buruannya. Hanya kengerian yang terlihat.
Sangat tidak persahabat.
Yanneta menegakkan punggungnya dengan senyum tipis. Di sepanjang jalan dari kamarnya ke ruang penerima dia sudah bisa menebak seperti apa ayah Yanneta.
Tanpa sepatah katapun Count Rainhart duduk.
__ADS_1
Hening.
"Kapan ayah kembali?"
Basa-basi seperti bagaimana, tolong beritahu Yanneta dia harus bagaimana menghadapi seorang ayah yang tidak pernah dia lihat. Di kehidupan aslinya dia adalah yatim piatu. Dia tidak mengenal kasih ayah karena dia dibesarkan oleh ibu tunggal hingga sekolah menengah pertama. Dia tumbuh dewasa sendirian. Kerasnya hidup memaksanya untuk hidup tanpa rasa lain selain keteguhan hati.
"Sekian lama tidak bertemu leluconmu semakin meningkat."
Jleb.
Kata singkat namun banyak makna. Pertama dari pandangan yang tidak bersahabat, selanjutnya adalah ucapan yang tidak lembut. Jelas Count Rainhart sangat tidak menyukai putrinya.
Yanneta akhirnya melemaskan punggungnya yang tegang. Dia tidak perlu repot-repot menjaga sikap dihadapan orang yang mau bagaimanapun membencinya. Lagipula orang itu bukan ayahnya. Untuk apa menjaga muka apalagi mencari buka. Jangan harap.
"Apa yang membawa Tuan Count jauh-jauh datang kemari?" Yanneta blak-blakan. Sebutan 'ayah' sudah menghilang dari lidahnya.
Dahinya berkerut sebelah. Count Rainhart terkejut dengan ketajaman lidah Yanneta. Mereka jarang bertemu, dia tidak peduli anak itu tumbuh menjadi apa. Dia cukup dengan bertanggungjawab atas kebutuhannya. Selama dua puluh satu tahun ini, Count jarang sekali bertemu apalagi mengobrol dengan putrinya.
Dia kembali dari Benua Timur karena undangan pesta ulang tahun kaisar Zagc. Dia menempuh jarak bermil-mil untuk kembali. Begitu sampai dia mendengar jika Yanneta tinggal di mansion Duke Soveil.
Count Rainhart tidak marah juga tidak bergembira, tapi dia setidaknya perlu bertemu putrinya. Menanyakan kenapa harus Soveil, Rainhart adalah salah satu pengikut setia Zagc. Seorang Rainhart dekat dengan Soveil mencoreng martabat keluarganya.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
Yanneta sedikit memiringkan kepalanya. Dia dengan berani membalas tatapan Count Rainhart. Kenapa harus takut, orang tua di depannya ini tidak pantas disebut orang tua. Orang tua sejati tidak akan mengabaikan darah dagingnya.
"Tuan Count datang jauh-jauh kemari hanya untuk menanyakan hal tersebut?"
Keberanian Yanneta muncul tidak tahu darimana. Seharusnya dia bersujud meminta maaf. Kalau bisa sambil menangis. Seorang anak perempuan yang bahkan belum menikah tinggal di rumah kekasihnya. Orang tuanya berhak marah. Tapi perasaan Yanneta berkata lain. Count Rainhart ini tidak datang hanya untuk memarahi putrinya. Sebaliknya dia ingin meruntuhkan hati putrinya.
"Kamu banyak berubah ternyata. Mungkin karena waktu yang lama."
"Ya. Saya memang banyak berubah."
"Kembalilah. Kamu punya tempat tinggal kenapa harus tinggal di rumah orang lain." Count Rainhart segera berdiri.
"Saya menolak. Saya akan tetap tinggal disini."
Setidaknya sampai Lionel bertemu dengan Rose, pikir Yanneta.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Saya tidak akan kembali."
Mata Count Rainhart berubah menjadi kilatan penuh emosi. Putri yang dulunya pendiam kini menjadi berani. Dia bahkan tidak takut sama sekali berhadapan dengannya.
"Duke Soveil pasti mengajarimu hal yang tidak benar. Kamu menjadi anak yang berani membantah." Suara Count naik satu oktaf.
"Sebelumnya mohon maaf Tuan Count. Saya adalah kekasih Duke, saya beritahu jika Tuan Count belum mendengarnya." Jawab Yanneta ringan.
"Lalu, kenapa saya harus pulang di rumah yang tidak menerima saya? Saya lebih suka hidup disini, semua orang menerima saya dan Lionel, maksud saya Duke Soveil sangat mencintai saya. Saya sudah dewasa. Saya berhak menetukan hidup saya." Kata-kata panjang Yanneta diikuti dengan senyum sinis.
"Kamu pikir kamu bisa menjadi Duchess? Jangan bermimpi! Wanita rendahan sepertimu tidak pantas menjadi Duchess. Duke Soveil adalah bangsawan terhormat. Menikahi wanita tidak tahu malu yang menggodanya dengan mengekor di belakangnya adalah hal yang mustahil. Ingat jati dirimu." Count Rainhart terbakar oleh emosi.
"Rainhart adalah pengikut setia Zagc, Soveil tidak akan mempertimbangkanmu sedikitpun untuk menjadi Duchess Soveil. Tahu dirilah!"
Segala macam umpatan ditumpahkan ke Yanneta. Tubuhnya tersentak namun segera menguasai diri. Apa yang dikatakan Count Rainhart tidak salah. Count benar. Dia memang hanya seorang wanita rendahan yang berharap cinta seorang Duke. Dia bahkan menutup telinga dengan segala macam rumor yang beredar.
Tanpa sepengetahuan Lionel, Yanneta sering berkirim surat dengan para sahabatnya, Eliz, Yolanda, Rebecca dan Hillary. Percakapan mereka sangat terbuka meskipun dalam surat. Karena jarak, Yanneta lebih sering berkomunikasi dengan tiga orang lainnya yang tinggal di ibu kota kecuali Eliz.
Mereka mengumpulkan berbagai macam rumor yang beredar di masyarakat. Kebanyakan tentang Duke Soveil dengan kekasih simpanannya, Lady Rainhart, hingga pendapat tentang Putri Gwinia yang lebih cocok menjadi Duchess Soveil dibanding dirinya.
Tumpahan kata-kata kasar Count tidak sampai menggedor hatinya. Yanneta tersenyum diam-diam. Pepatah yang mengatakan 'darah lebih kental daripada air' itu salah. Buktinya adalah dia sekarang. Yanneta dan ayahnya. Bagaimana dia bisa tega bersikap kasar pada putrinya. Count Rainhart sangat keterlaluan.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan Count, anda cukup bersikap abai seperti biasa pada saya. Saya tidak akan mempermalukan nama Rainhart. Anda biasanya tidak peduli pada saya, lalu kenapa sekarang anda sepertinya khawatir? Selama ini kita hidup dengan tidak saling mengenal bukan?" Yanneta berdiri. Dia tidak ingin terintimidasi dengan jarak yang ada.
"Kamu!" Bentak Count Rainhart.
"Hari ini kamu bukan lagi Rainhart. Rainhart tidak peduli lagi denganmu. Kamu bukan lagi seorang putri Rainhart!" Lanjutnya.
"Bukankah sudah sejak lama?" Suara Yanneta bergetar diakhir, dia berusaha menahan air matanya.
Mata Count Rainhart terbelalak. Dia meninggalkan ruang penerima dengan wajah merah penuh amarah. Di sepanjang jalan kembali mulutnya terus mengeluarkan kata-kata kasar untuk Yanneta.
Begitu pintu tertutup tubuh Yanneta ambruk. Hari ini seperti kejutan. Secara mendadak dia menjadi yatim piatu. Tidak jauh beda dengan kehidupannya dulu. Dia tidak punya keluarga lagi.
Sebentar lagi dia juga akan ditinggalkan oleh Soveil. Lengkap sudah. Hidup sebatang kara di dunia yang asing. Dia harus bagaimana.
Air mata Yanneta tumpah.
__ADS_1
Bersambung..