Kekasih Sementara Sang Duke

Kekasih Sementara Sang Duke
#26 Mencari Kebenaran (Dunia Paralel)


__ADS_3

Untungnya kedatangan Putra Mahkota seperti tidak pernah terjadi. Semua pelayan di mansion kompak untuk tutup mulut.


Seperti berjalan di atas es yang tipis. Yanneta menjalani hari-harinya dengan penuh rasa takut.


Waktu bertemu dengan Lionel pun semakin berkurang. Entah kenapa waktu sibuknya meningkat tajam. Dia hampir tidak bisa melihat wajahnya di malam hari. Bahkan di malam hari Lionel Soveil masih di istana untuk menyiapkan parade ksatria.


Sekilas Yanneta pernah bertanya pada Fabian, para ksatria datang dari setiap penjuru Zagc. Empat wilayah bagiannya masing-masing mengirim batalyon untuk berpartisipasi. Karena waktu yang kurang, akhirnya malam pun menjadi siang hari.


Yanneta menitip pada Fabian untuk Lionel. Tetap menjaga kesahatan dan jangan lupa istirahat. Hanya inilah yang bisa dia berikan.


Dia sendiri sedang menghitung hari menuju takdirnya. Masih banyak yang belum terurai namun dia tak sanggup lagi. Memikirkannya saja membuat kepalanya hampir pecah. Dia tak sanggup lagi. Yanneta hanya bisa terus berdoa semoga Lionek tetap aman sampai tragedi ini selesai.


Gwinia tampaknya akan menjadi lawan barunya selain Verdian. Entahlah, sejak kapan ceritanya menjadi salah seperti ini. Jika percaya pada takdir, sekeras apapun Gwinia berusaha, dia akan tetap kalah. Mengingat benang takdir yang mengikat Lionel dan Rose. Akhir Gwinia pasti akan sama.


Malam ini adalah bulan purnama, artinya lima belas hari lagi menuju pesta ulang tahun kaisar. Tidak banyak waktu tersisa. Tapi Yanneta tetap disini dan tidak beranjak. Dia sangat pengecut. Dia mengatakan Lionel adalah favoritnya, namun dia tidak melakukan apapun padahal tahu apa yang akan terjadi.


"Sudah kubilang jangan gunakan perasaan sejak awal. Kamu sendiri yang sakit hati bukan." Dia marah pada dirinya sendiri.


"Paling tidak aku harus meminimalisir kerusakan sebanyak mungkin. Demi Lionel dan Rose." Ada kepahitan di akhir kalimatnya.


Ada untungnya Lionel sibuk dengan tugasnya. Dia jadi bisa menyiapkan hatinya. Sampai sini batasnya.


Tiba-tiba matanya menangkap cahaya diantara pepohonan hutan lindung Soveil. Cahaya itu pasti dari rumah sihir Dyos. Di tengah malam seperti ini orang itu masih terjaga.


Sebuah ide muncul secara impulsif. Mungkin dia tidak bisa banyak membantu, tapi Dyos Tatiha mungkin bisa. Setidaknya perasaannya bisa lega.


Yanneta mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya dari udara dingin kemudian segera menyelinap keluar dari kamarnya.


"Maaf mengganggu waktu Tuan Penyihir." Sapa Yanneta begitu pintu rumah sihir Dyos terbuka.


"Anda tidak mempersilahkan saya masuk?" Desaknya saat melihat tanda-tanda penolakan Dyos.


"Apa yang anda lakukan tengah malam begini Lady?" Suaranya lembut namun mengandung kekesalan di dalamnya.


"Saya ingin menceritakan sesuatu yang saya simpan sendiri selama ini." Senyum Yanneta tersungging.


Entah ini benar atau tidak, dia hanya ingin membantu Lionel. Dyos yang seorang penyihir murni pasti bisa mengerti keadaannya.


Dahi Dyos terangkat sebelah. Dia sebenarnya tidak tertarik dengan rahasia orang lain. Tapi di tengah malam begini berdiri seorang wanita di depan pintu rumahnya, tidak mungkin dia tolak.


Akhirnya dia menyingkir untuk memberi akses Yanneta masuk.


"Sepertinya Duke tidak kembali malam ini." Sindir Dyos seraya menutup pintu.


Rumah yang awalnya remang-remang kini terang benderang hanya dengan menjentikkan jari.


Dyos menarik kursi di seberang Yanneta.


"Duke orang yang sibuk." Jawab Yanneta lirih.


"Apa yang ingin anda sampaikan? Saya tidak ingin pembicaraan ini menjadi semakin lama. Tengah malam di ruangan yang tertutup, saya takut dieksekusi oleh Duke karena berkhianat."


Yanneta mengangguk paham. Siapa yang tidak tahu dirinya di masion Soveil yang agung ini. Posisinya bahkan seperti nyonya rumah. Tidak ada yang berani mengatakan jika dia adalah bangsawan rendahan yang menumpang hidup di Soveil. Atau bangsawan rendahan yang menggoda Duke.


Untungnya para pelayan ramah padanya. Dia tahu dia tidak tahu diri. Namun tempat paling aman adalah Soveil. Tidak ada jaminan jika Gwinia tidak lagi menargetkannya.

__ADS_1


Oleh sebab itu, dia terus bergantung pada Lionel. Lagipula hal ini akan segera berakhir. Lima belas hari lagi.


"Bagaimana keadaan Duke? Dia baik-baik saja bukan? Maksud saya karena dia lebih banyak menghabiskan waktunya di istana bisa jadi dia mendapat serangan."


Mata Dyos bergetar. Setelah beberapa saat dia membuka suara.


"Untuk masalah ini anda bisa bertanya pada saudara saya."


Yanneta sedikit memiringkan kepalanya.


"Saya tahu tentang kutukan Hell."


Seperti belati yang dilemparkan tiba-tiba, seseorang yang sepertinya acuh jika dunia hancur kini terguncang. Terlihat jelas dari sorot mata Dyos yang tidak fokus.


"Jadi tidak perlu berbohong pada saya Tuan Penyihir." Wajah Yanneta berubah tegas.


Dia biasanya menampilkan senyum manis dan keanggunan. Kali ini dia menegaskan setiap kalimatnya. Tersirat jelas jika dia serius.


"Bagaimana bisa?" Dyos akhirnya bereaksi.


"Inilah rahasia saya, dan saya ingin berbagi rahasia dengan anda."


Ada ketidakpercayaan, rasa ragu, hingga terkejut. Itulah ekspresi Dyos ketika mendengarkan cerita Yanneta. Bagi orang awam semua ini pasti aneh. Yanneta jelas dicap sudah gila. Namun Dyos Tatiha tidak berkomentar apapun. Dia penyihir. Bidang studinya jelas sama di luar nalarnya. Sihir nyata. Dia bukan ilusi atau buatan belaka. Itu alami.


Mendengar penjelasan Yanneta memang membuatnya tercengang. Awalnya dia ragu tapi dia percaya. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.


"Anda mengatakan anda pertama kali tiga bulan?" Tanya Dyos.


Yanneta mengangguk cepat.


Dyos mulai berpikir keras. Dia menggaruk dagunya yang tidak gatal. Semuanya seperti potongan puzzle yang harus disatukan.


"Lady Rainhart tadi mengatakan jika anda datang dari dunia lain bukan?"


Yanneta mengangguk.


Dalam cerita Yanneta ada kejujuran ada juga kebohongan. Dia mengatakan jika dia bisa melihat masa depan setelah marasuki tubuh Yanneta Rainhart. Bahwa dunia ini adalah sebuah dunia novel tidak Yanneta ceritakan. Ada resiko besar yang bisa saja meledak.


Coba bayangkan tiba-tiba kita mendengar jika dunia yang kita tempati sekarang, hidup yang kita jalani sekarang hanyalah sebuah kisah novel. Betapa menakutkannya itu.


"Saya bisa melihat masa depan sampai batas tertentu. Tidak semua hal saya tahu."


Dyos mengangguk.


"Sihir hitam dan sihir murni punya kemampuan khusus. Sihir murni bisa menyembuhkan, sedangkan sihir hitam bisa mengacaukan. Membuka gerbang ke dunia lain juga salah satu kemampuan sihir hitam jika syarat-syarat terpenuhi. Sihir murni juga sama, dia bisa menyucikan seluruh dunia."


"Presmis yang ada ditambah dengan keterangan Lady, bisa saya simpulkan jika ada seorang penyihir hitam yang berusaha membuka gerbang dunia. Karena kekuatannya yang kurang memadai, terjadi kesalahan acak. Lady Rainhart terseret ke dalamnya."


Yanneta kini yang mengangguk. Dia mencurigai Gwinia.


"Apakah ada hubungannya dengan Putri Gwinia?"


"Bisa jadi. Jika Putri adalah penyihir hitam mungkin Putri lah yang melakukan mantra membuka gerbang dunia lain. Tapi membuka gerbang tersebut membutuhkan banyak kekuatan."


"Seperti sword master?" Tembak Yanneta acak.

__ADS_1


Dyos tersentak. Dia tidak memikirkan sejauh ini.


"Putri Gwinia mengincar kekuatan ilahi Lionel."


Menjadi sword master bukanlah hanya gelar ksatria semata. Menjadi sword master artinya orang tersebut memiliki kekuatan ilahi untuk menggunakan sihir. Dua jenis sihir sekaligus, sihir murni dam sihir hitam. Dan ini dianggap legal jika sihir hitam digunakan saat di medan perang.


Seorang sword master memegang sebuah pedang yang telah diberkati oleh menara Zonix. Legitimasinya kuat. Jadi jiwa seorang sword master mengalir dua elemen sihir sekaligus. Kekuatannya yang besar jika disalah gunakan bisa berakibat fatal. Bahkan dia bisa menghandurkan dunia dalam sekejap mata.


"Ah jadi Gwinia membutuhkan kekuatan Lionel untuk membuka gerbang dunia lain. Untuk apa? Apa yang akan dia lakukan?"


"Artinya Putri Gwinia pernah membuka gerbang dunia lain. Sudah pasti dia adalah penyihir hitam." Dyos bergidik ngeri.


"Di masa depan yang saya lihat Putri Gwinia bukanlah penyihir hitam. Kenapa sekarang seperti ini?"


Dyos tidak bisa menjawab.


"Putri Gwinia yang tahu jawabannya."


Setelah itu Yanneta terus mengungkapkan pikirannya pada Dyos. Rahasia yang selama ini memberatkan pundaknya mulai terurai. Lega rasanya berbagi rahasia dengan orang yang bisa memamahi. Tidak menuduh dan berpikiran terbuka.


Tanpa terasa fajar hampir menyingsing. Setelah bertukar janji untuk saling menjaga rahasia, Yanneta pamit untuk kembali. Bisa gawat jika dia ditemukan menghabiskan malam di rumah sihir Dyos Tatiha.


Langkahnya tergesa-gesa saat menyusuri jalan setapak keluar dari hutan lindung. Dia mematikan lampu yang dia bawa karena takut ada yang melihat.


Saat bangunan mansion yang besar terlihat, sebuah suara benda jatuh mengejutkannya. Yanneta menutup teriakannya dengan kedua tangannya.


Bruk


"Apa itu?"


Sumber suara berasal dari tembok gerbang mansion sisi Barat. Ada sesuatu yang sepertinya bergerak menuju ke arahnya.


"Siapa disana?"


Sosok hitam besar terus mendekatinya.


Yanneta gemetar. Dia mencoba untuk lari namun usahanya dicegah. Sebuah tangan menariknya.


"Kya!"


"Lady, ini saya."


"Yang Mulia Putra Mahkota!"


Begitu sosoknya terlihat, wajahnya terungkap. Disinari cahaya rembulan dan lampu mansion, wajah Verdian terlihat semakin jelas.


"Apa yang anda lakukan.."


Bruk


Tubuh besar Verdian ambruk ke tanah.


"Yang Mulia, Yang Mulia Putra Mahkota."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2