
"Ah! Ah, hnng!”
“Hufff… Saya suka saat Yanneta memeluk saya lebih erat.”
Suara daging bergesekan dengan daging menyelimuti seluruh kamar. Lionel meletakkan jarinya di mulut Yanneta.
"Hisap itu." Dia menghela napas panas dan mengucapkannya.
“Saya, saya tidak bisa—mmph! Heup!”
“Jangan bilang tidak Yanneta. Itu menjengkelkan.”
"Huu, heup!"
Lionel memasukkan jarinya ke dalam mulut Yanneta dan bergerak. Yanneta menyempitkan alisnya, tapi dia tidak peduli. Akhirnya, Yanneta menggigit jarinya, dan Yanneta mencabut jarinya. Sebaliknya, dia mengangkat tubuhnya tegak dan meraih pinggang Yanneta. Bagian bawah mereka yang terjalin semakin dekat.
"Ah…!"
Yanneta mencapai ******* saat dia masuk lebih dalam dan menusuk ke dalam dirinya. Kegembiraan dan kesenangan yang luar biasa mengalir masuk. Dia tidak tahu sudah berapa kali. Saat dia mencapai klimaksnya, inderanya menjadi lebih sensitif. Dia tidak tahu mungkin penyebab kematiannya benar-benar karena terlalu banyak.
Saat paha Yanneta bergetar dan dia terengah-engah, Lionel tidak melepaskannya dan mulai memukul lagi.
"Tunggu, aku masih..." Kata-kata Yanneta dengan cepat berubah menjadi erangan dan berhamburan ke udara.
“Uungg! Uh, ngg……! Ah! Ahhkk! Ang ……! Hnn!”
“Heuhk, Yanneta tidak tahu seberapa ketat anda menjepit saya."
"Ah! Nggg! Ahukk……! Ber, henti, ah! Nggg!”
“Saaya ingin terus begini seperti orang gila. Hooo…”
“Nngg……! Heuungg! Heuk! Hhnngg……!”
Matanya berkilat seolah-olah otaknya mengalami konsleting. Itu membuatnya gila. Tidak, dia pikir dia memang sudah gila. Obat ekstasi juga tidak akan bisa memberinya candu sebanyak ini. Kata-katanya tidak keluar dengan benar. Sebuah gumaman berputar-putar di tenggorokannya.
Sementara itu, posisinya berubah. Lionel menopang pinggang Yanneta dan mengangkatnya. Yanneta tiba-tiba duduk di atas milik Lionel, membiarkan panjangnya semakin dalam.
Hakkk!
Dia merasa seperti menusuk perutnya.
“Terlalu, dalam……! heuk!”
"Huff, berhenti...., mengepalkan, ugh."
“Itu, itulah yang saya rasakan…! Aahngg! Ang!”
Dia hanya bergerak sekali, tapi Yanneta terjatuh, melingkarkan tangannya di leher Lionel. Dengan cara itu, dada bulatnya yang menggairahkan bergesekan dengan dada kencang Lionel.
__ADS_1
Lionel memiringkan kepalanya dan membenamkan wajahnya di leher Yanneta. Aroma manis dan lembit melewati hidungnya. Lionel ingin memakannya. Dia tiba-tiba punya pikiran. Itu adalah dorongan untuk menelan seluruh tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Faktanya, dia tidak tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan dan apa yang dia bicarakan saat ini. Dia hanya meludah dan memikirkan apa pun yang terlintas di benaknya. Ia merasa tergila-gila dengan keberadaan Yanneta Rainhart.
"Itu membuat saya gila."
Lionel menggerakkan pinggangnya, memangsa leher Yanneta. Saat dia menurunkan tangannya dan meraih pinggangnya yang ramping. Dinding yang menelan miliknya menggeliat seolah ingin mematahkannya, lalu dia mengangkat lagi pinggangnya. Di tempat mereka bergabung, cairan tubuh mereka bercampur dan mengalir melalui celah itu.
Yanneta menangis.
“Hahh! Nnngg…! Ah, ah! Aangg! Haaahhh…! Aahh!”
“Hukk!”
"Ah! Ah, heuk! Hngg! Ah!"
Dia mempercepat. Lionel mencengkeram pinggang Yanneta dan menurunkan pinggulnya. Cairan memercik ke segala arah. Akhirnya, Lionel memeluk pinggang Yanneta engan erat.
“Ah, ah, ah…!”
Tiba-tiba Yanneta mencapai klimaksnya. Pada saat yang sama, Lionel juga memenuhi perut Yanneta dengan benih miliknya. Dia mengerang dan cairan terus-menerus keluar. Sambil menggendong Yanneta sebentar, dia mengeluarkan semuanya hingga tetes terakhir, dan Yanneta jatuh menimpa Lionel tanpa daya. Dia sepertinya pingsan karena kesenangan. Dia bisa merasakan napasnya yang terengah-engah di pundaknya.
Lionel menariknya keluar dan membaringkan Yanneta di tempat tidur. Cairan keruh menyembur keluar dari tempat dia baru saja datang dan pergi. Saat dia melihatnya diam-diam, pikirannya perlahan kembali.
Lionel melihat sekelilingnya. Pakaian berserakan di mana-mana, dan dia serta Yanneta polos tanpa busana. Selain itu, dia dan Yanneta ditutupi cairan mereka. Secara khusus, melihat tubuh Yanneta yang penuh dengan jejaknya, Lionel bergumam, mengacak-acak rambutnya dengan liar.
"Saya sudah menjadi gila karena Yanneta." Dia menurunkan tubuhnya perlahan kemudian mencium lembut pipi Yanneta.
Kemudian, pada saat itu, dia melihat ke luar jendela. Matahari telah mencapai puncak tertingginya. Disinari cahaya matahari tubuh Yanneta bersinar di matanya.
Dia tumbuh menjadi semakin haus akan keberadaan Yanneta. Ingin segera memiliki seuntuhnya. Tidak buruk mengikatnya di tempat ini. Yanneta adalah hidupnya. Cinta yang menetap di hatinya.
Tiba-tiba Lionel kesal. Hari-hari dia semakin sibuk karena urusan istana. Bahkan siang ini seharusnya ada rapat dengan bangsawan kekaisaran terkait pesta yang akan diadakan. Tapi harus meninggalkan Yanneta tercintanya dia belum rela. Dia ingin sedikit lebih lama menghabiskan waktu dengannya.
Mengurungnya di mansion saja tidak cukup. Lionel ingin membawanya kemana-mana. Dia ingin menempelkan tanda kepemilikannya pada Yannta.
Bercak merah hasil perbuatannya yang terukir dia setiap sudut tubuh Yanneta tidak cukup membuatnya puas. Dia ingin Yanneta menjadi miliknya seutuhnya.
Pernikahan.
Ide ini tiba-tiba terbersit dipikirannya. Tidak ada yang mampu mengelak ikatan suci pernikahan. Jika Yanneta menjadi istrinya, dia bisa memiliki wanita yang bisa membuatnya tenang ini.
Hatinya selalu gelisah bila tidak melihatnya.
"Aku harus segera menyelesaikan acara sialan ini."
Pada hari itu Lionel memutuskan bahwa hari itu adalah hari liburnya. Dia menolak diganggu dengan alasan apapun. Bahkan Dean yang datang jauh-jauh dari markas ksatria Zagc tidak diperbolehkan masuk.
Khusus hari ini Lionel ingin menghabiskan waktunya bersama Yanneta.
__ADS_1
Hari-hari berlalu begitu cepat. Sudah tiga hari sejak kejadin Verdian, akhirnya dia mengirim surat. Sangat panjang hingga beberapa halaman. Dia terpicu oleh asumsi Yanneta dan diam-diam mulai menyelidiki.
Secara mengejutkan dia menemukan sebuah altar yang terukir dengan simbol rumit. Bahkan dia menggambarkannya di surat yang dia kirim.
Selain waspada, Verdian menutup rapat mulutnya. Dia juga sebisa mungkin menghindari Gwinia. Bagaimanapun dia pasti tahu jika usahanya pada Verdian gagal. Bisa jadi Gwinia juga mencurigainya.
Dia terus mencari alasan Gwinia melakukannya. Jika apa yang Yanneta bilang untuk tahta Zagc, Gwinia pasti ingin menyingkirkannya.
Verdian menulis semua pemikirannya ke dalam lima halaman penuh surat yang dikirim diam-diam dengan identitas yang dirahasiakan.
"Ini adalah simbol altar pemujaan." Ucap Dyos setelah menutup halaman terakhir surat Verdian.
"Pesta ulang tahun kaisar akan menjadi puncak dari ritual Gwinia." Celetuk Yanneta.
Malam itu akan menjadi tempat Gwinia membangkitkan kembali sihir hitam di Zagc. Altar persembahan sudah disiapkan. Tinggal kekuatan pendukung yaitu kekuatan ilahi Lionel.
Dia pasti akan mengambilnya bagaimanapun caranya.
"Bagaimana dengan kaisar yang sekarang?" Tanya Yanneta tiba-tiba.
Sejenak dia melupakan entitas ini. Jika Gwinia mengincar tahta, sudah pasti kaisar sekarang akan disingkirkan. Dia saja sudah mulai mencemari Verdian dengan sihir hitamnya untuk menghalanginya dari tahta.
"Akan ada yang mati. Pesta ulang tahun kaisar akan menjadi malam yang berdarah." Dyos tidak menjawab.
"Duke, bagaimana dengan Duke?"
"Saya yang akan melindunginya. Lady tidak perlu khawatir. Saya akan menulis balasan pada Yang Mulia. Saya perlu melihatnya sendiri. Kita perlu membuat rencana. Semua ini harus digagalkan."
"Harap berhati-hati Tuan Penyihir."
"Lady tidak perlu khawatir. Lady cukup mendampingi Yang Mulia. Kemungkinan besar Yang Mulia akan mengamali serangan malam itu."
"Tentu saja."
"Kamu tidak perlu khawatir juga. Akan ada orang yang menyelamatkannya. Rose Attlier."
"Tapi Lady, mungkin akan ada skenario membuka gerbang dunia lain jika kekuatan ilahi Duke direbut."
"Apakah anda ingin mengatakan jika saya bisa saja lenyap?"
Jika gerbang paralel terbuka Yanneta bisa saja ikut terseret. Dia masuk karena usaha Gwinia untuk membuka gerbang. Kalau gerbang dibuka lagi dia bisa saja lenyap. Ikut terseret. Keberadaanya menjadi abu-abu. Seperti berjalan di es yang tipis.
Ada senyum kecut dibibirnya. Jika memang dia harus terhapus dari dunia ini dia ingin memastikan jika Lionel baik-baik saja. Dia ingin agar Rose dan Lionel bersatu.
Jauh di lubuk hatinya dia tidak ingin meninggalkan dunia ini. Dia sudah nyaman. Dia cukup dengan melihat Lionel berakhir bahagia dengan Rose.
Seperti ilusi sesaat. Dia ingin berharap selamanya.
Bersambung.
__ADS_1