Kekasih Sementara Sang Duke

Kekasih Sementara Sang Duke
#31 Kekacauan (Tragedi Sihir Hitam)


__ADS_3

"Lady Rainhart?"


Suara seseorang dari belakang mengejutkan Yanneta. Dia segera menyeka air matanya. Saat matanya fokus kembali, sosok Verdian terlihat mendekat.


"Apakah anda baik-baik saja?" Tanya mendesak Verdian.


"Bagaimana Yang Mulia bisa ada disini?"


Verdian membantu Yanneta bangkit. Tak peduli dengan pertanyaan Yanneta, dia malah membesihkan ujung gaunnya yang kotor oleh tanah.


"Yang Mulia." Yanneta sontak mundur satu langkah. Siapa dia hingga membuat Putra Mahkota lebih rendah darinya.


"Saya melihat anda terburu-buru keluar. Saya sudah memanggil Lady beberapa kali. Sepertinya anda tidak mendengarnya."


"Ah maafkan saya." Yanneta jujur. Dia tidak mendengar pangggilan Verdian.


"Saya sudah melihatnya." Ucap Verdian tiba-tiba.


Yanneta yang tidak mengerti menatap Verdian dengan bingung.


"Lady Attlier, saya sudah bertemu dengannya." Jelasnya singkat.


Bola mata Yanneta bergetar. Lady Attlier artinya itu adalah Rose. Kapan dia menemuinya. Menemukan Rose adalah skenarionya.


"Saya sedikit penasaran maka saya memanggilnya secara pribadi. Maaf jika ini menyinggung Lady, saya ingin sedikit membantu. Tapi saya gagal. Duke Soveil tetap bertemu dengan Lady Attlier. Saya tidak bisa mencegahnya." Suara Verdian bergetar di akhir.


Apa yang dikatakan Verdian lebih mengejutkan. Sikap gelisahnya cukup menjadi bukti jika dia telah berusaha meskipun gagal.


"Masa depan dalam mimpi itu, saya ingin menghindarinya."


Tubuh Yanneta membeku. Ternyata bukan hanya dia, Verdian juga tidak menginginkan mimpi itu menjadi nyata.


"Sudah saya sampaikan sejak awal Yang Mulia, masa depan mereka tidak akan bisa berubah."


"Saya tidak ingin tragedi kami bertiga terjadi."


"Sepertinya tidak akan."


"Bagaimana Lady bisa yakin?"


Yanneta tersenyum tipis.


"Buktinya Yang Mulia ada dihadapan saya sekarang. Seharusnya anda juga ada disana, bertemu dengan Lady Attlier dan jatuh cinta."


Verdian diam.


"Saya tidak ada perasaan apapun pada Lady Attlier. Apakah tragedi yang Lady katakan tidak akan terjadi?"


Yanneta menggeleng lemah.


"Bisa ya bisa tidak. Tragedi cinta segitiga kalian bisa jadi tidak akan terjadi Yang Mulia. Namun bagaimana dengan rencana Putri Gwinia?"


"Tuan Tatiha sudah bersiap bersama dengan penyihir murni lain. Semoga hal itu tidak akan terjadi."


"Semoga."


Dia juga berharap seperti itu.


"Saya akan kembali untuk melihat keadaan. Apakah Lady juga akan kembali?"


"Tidak Yang Mulia. Saya akan disini sebentar lagi."


"Jaga diri anda baik-baik Lady."


Belum menjawab Verdian sudah menghilang. Tempat dia berada cukup jauh dari tempat pesta. Yanneta ingat pesan Dyos bahwa dia harus menyingkir sejauh mungkin. Jika rencana membuka gerbang berhasil, agar tidak terseret Yanneta harus menghindar.

__ADS_1


Lagipula misinya telah selesai. Mempertemukan Lionel dengan Rose. Saat ini mereka pasti sedang berdansa. Saling memandang dengan penuh minat dan cinta. Lionel, tidak akan mencari Yanneta lagi.


Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada ini. Yanneta menepuk dadanya pelan karena sesak. Seharusnya dia senang. Kebalikannya, dia merasakan patah hati paling dalam.


"Semoga kalian bahagia." Bisik Yanneta pelan.


Bang!


Suara ledakan yang diikuti dengan teriakan orang-orang terdengar sayup. Yanneta yang berdiri di tempat gelap samar-samar bisa melihat keributan di tempat pesta yang terang benderang.


Para tamu berhamburan menyelamatkan diri.


"Apakah Gwinia sudah mulai menjalankan rencananya? Apa yang terjadi disana? Lionel, apa yang terjadi pada anda?" Gumam Yanneta dengan mata tak lepas dari keributan itu.


Rasa penasarannya menetas. Meskipun sudah diperingatkan oleh Dyos, Yanneta tidak takut. Dia ingin memastikan jika Lionel aman.


Langkah kakinya melebar.


Tempat pesta hancur berantakan. Ada beberapa orang tergeletak di tanah. Salah satunya adalah kaisar Zagc dengan tubuh berlumuran darah.


"Apa yang terjadi?"


Di sisi sebelah barat taman ada api yang melahap semua tanaman hijau yang merambat. Sebentar lagi tempat ini akan habis terbakar. Yanneta gemetar. Mereka semua kemana. Dia mencari-cari dengan bingung.


Klang! Tak! Klang!


Suara benda tajam saling bergesekan terdengar. Arah suaranya dari sisi lain yang sepertinya menuju altar persembahan. Yanneta mengikuti suara dengan langkah gontai.


Benar.


Di sebuah tempat yang luas, tanahnya terukir dengan simbol yanh rumit. Meskipun gelap simbol tersebut memancarkan sinar yang terang. Terjadi pertempuran antara ksatria Zagc yang dipimpin oleh Lionel dan Verdian dengan ksatria Zonix. Sedangkan Dyos dan Rose serta beberapa penyihir murni membuat lingkaran sihir berwarna putih. Mereka sepertinya sedang menahan sihir hitam Gwinia.


Penampilan Gwinia berubah drastis. Rambutnya terurai panjang. Aura hitam menyelimutinya. Mata indahnya yang biasa dia gunakan untuk menggoda Lionel kini berwarna gelap. Dia telah menunjukkan identitasnya sebagai penyihir hitam.


Ada tabrakan aliran sihir mereka.


Sebaliknya, Rose Attlier, ternyata dia adalah seorang penyihir murni. Kemampuan ini tidak diceritakan dalam Red Rose Tragedy. Hanya ada beberapa baris penjelasan tentangnya. Bahwa dia adalah cinta pertama dan orang yang bisa menyembuhkan Lionel dari kutukan.


Jadi itulah alasannya. Tubuh penyihir murni secara alami akan memurnikan tubuh orang lain yang sakit. Jika mereka saling berhubungan dengan intim, proses pemurniannya akan semakin efektif.


Mana sihir yang dimiliki oleh para penyihir sangat unik. Setiap penyihir memiliki mana sihir yang berbeda. Sepertinya mana sihir milik Rose adalah pemurnian. Dia bisa memurnikan sekaligus menyembuhkan dalam waktu yang bersamaan.


Apabila Yanneta memaksakan diri untuk tetap bersama, Lionel tidak akan bisa sembuh. Dia butuh mana sihir Rose. Kini akhirnya dia tahu. Kenapa takdir mereka tidak bisa diputus.


Yanneta mengakui keserakahannya.


Hari-hari yang dihabiskannya bersama Lionel berputar-putar di kepalanya. Rasa sakit yang amat sangat menghantam Yanneta. Perutnya seperti diaduk-aduk tak karuan. Rasa mual naik dari perutnya menuju tenggorokan.


"Hah! Hoek!"


Tubuh Yanneta ambruk. Dia berusaha bertumpu pada salah satu tangannya agar tidak jatuh. Sambil memegang perutnya Yanneta sekuat tenaga mengatur nafasnya. Dia tidak boleh tumbang disini.


Pertempuran sengit masih berlangsung. Satu persatu ksatria Zonix berjatuhan. Para penyihir tidak kalah tegangnya. Gwinia seorang diri melawan lima orang penyihir murni termasuk Rose dan Dyos.


Sorot matanya tiba-tiba mengunci Lionel yang sedang menangkis perang ksatria Zonix. Bibirnya bergerak menggumamkan sesuatu yang tidak terdengar. Keluar bayangan hitam dari bibirnya. Bayangan tersebut melesat secepat kilat ke arah Lionel.


"Argh!" Suara Lionel melengking saat bayangan tersebut menembus jantungnya. Pedangnya lepas dan tubuhnya ambruk.


Lionel mengalami kejang.


Yanneta yang melihatnya bangkit dengan kekuatan terakhirnya. Lionel mengalami serangan. Mantra Hell telah diucapkan. Bayangan hitam tadi berputar-putar di sekitar Lionel. Seperti mencari sesuatu. Pasti kekuatan ilahi swordmaster milik Lionel.


"Leo. Lionel." Yanneta segera merengkuh tubuh Lionel yang kejang. Matanya terpejam erat. Dahinya berkerut dan basah oleh keringat.


"Lady, menjauh." Verdian yang sadar akan keberadaan Yanneta berteriak.

__ADS_1


Dyos yang tidak jauh darinya menoleh. Tatapannya tertuju pada Yanneta dan Lionel. Saat fokusnya berkurang, mana sihirnya meredup. Sihir hitam Yanneta menembus dadanya. Dia terpental dan muntah darah.


"Tuan Tatiha." Salah satu penyihir berteriak. Mereka semakin meraptkan barisan untuk melawan Gwinia.


"Menyerahlah, tubuhnya adalah milikku!" Pekik Gwinia.


Dia meningkatkan kekuatan sihirnya berlipat-lipat. Dari setiap ujung jarinya keluar bayangan hitam. Gwinia mengucapkan mantra sihir kemudian mengarahkan tangannya ke arah target. Bayangan hitam lepas tak terkendali. Satu persatu para penyihir tumbang, termasuk Verdian.


Mereka terpental dan muntah darah seperti Dyos.


Gelak tawa Gwinia meledak. Tubuhnya melayang dengan banyangan hitam yang lebih besar menyelimutinya.


"Malam ini adalah akhir dari kalian semua." Tawanya kembali meledak.


"Lady Rainhart menyingkirlah." Ucap Dyos.


"Tidak saya tidak bisa."


"Anda bisa dalam bahaya." Timpal Verdian.


"Lionel, bagaimana dengan Lionel." Yanneta masih memeluk Lionel yang kejang.


"Kami yang akan mengurusnya. Percayalah pada kami." Dyos meyakinkan Yanneta.


Dengan air mata yang membasahi pipinya Yanneta melepas tubuh Lionel. Dia berdiri dengan canggung.


"Lady Attlier tolong urus Yang Mulia Duke, saya bersama dengan para penyihir lain akan melawan Putri Gwinia."


Rose mengangguk. Dia segera bangkit dan mendekati Lionel. Setelah menarik nafas dalam-dalam dia mengeluarkan mana putih dari telapak tangannya kemudian memasukkan mananya ke dada Lionel. Kejangnya berkurang.


Para penyihir bangkit kembali. Mereka merapatkan barisan dan membentuk formasi sihir. Verdian yang berhasil menghabisi ksatria Zonix segera bergabung dengan para penyihir. Meskipun di bawah Lionel, Verdian juga memiliki sedikit kekuatan ilahi. Dia bukan swordmaster seperti Lionel, namun dia punya cukup mana sihir untuk membantu.


Melihat Rose yang sedang menyembuhkan Lionel, Yanneta kembali tersadar.


Seharusnya memang begini. Kenapa Yanneta terus berusaha mendekati Lionel. Sudah tidak ada tempat lagi baginya.


"Lihat. Tidak ada yang bisa kamu lakukan." Yanneta terus meyakinkan dirinya.


"Lady Attlier." Ucap Yanneta pelan.


Rose yang sedang berkonsentrasi menoleh.


"Saya percayakan Duke pada anda. Tolong jaga dia." Yanneta menyeka air matanya.


Dia harus segera pergi bukan, dia hanya akan menjadi hambatan bagi mereka. Kehadirannya akan membuat yang lain semakin kesulitan.


"Dia adalah orang yang sangat saya cintai. Saya percaya Lady Attlier akan menjaganya dengan baik. Semoga masa depan kalian bahagia."


Tanpa menoleh Yanneta berlari keluar dari kekacauan. Air matanya tak terbendung lagi. Dia terus berlari tanpa menghiraukan apapun. Ujung gaunnya yang sobek. Kakinya yang terluka karena berlari dengan sepatu hak tinggi. Tidak dia hiraukan.


Saat dia melihat sebuah kereta dengan simbol yang tak asing, Yanneta berlari ke arahnya. Kereta sedan menunggunya.


Dia berhenti sejenak sebelum membuka pintu kereta. Dia menoleh ke arah tempat pertempuran. Cahaya hitam dan putih terlihat menembus langit. Suara pertempuran tidak terdengar lagi.


Dia tidak berani memikirkan akhirnya.


Dengan tenggorokan yang pahit Yanneta bergumam.


"Semoga masa depan kalian berakhir bahagia."


Bersambung.


FYI


Mana sihir merupakan sejenis kekuatan yang dimiliki oleh para penyihir.

__ADS_1


Mana adalah aspek penting dari setiap penyihir yang pernah hidup karena itu adalah sumber kekuatan sihir mereka, yang digunakan untuk mengaktifkan berbagai mantra sihir.


__ADS_2