Keluarga Amari

Keluarga Amari
Part 1 Awal Bertemu Mereka


__ADS_3

Mohon saran dan kritikannya


°


°


°


Pemandangan yang terjadi di depan rumah menjadi hal yang lumrah bagiku selama ini. Mereka menangisi kematian orang yang dicintai. Maklumlah jarak pemakaman dari rumahku terbilang dekat. Hanya berjarak beberapa meter saja. Mungkin bagi kalian akan takut jika melihatnya, tetapi hal itu tak masalah bagiku.


"Siapa yang mati hari ini?" celetuk Alois-- adikku--yang tubuhnya bisa dikatakan gendut.


"Bukan mati, Lois. Mati itu untuk hewan," selaku membenarkan ucapannya.


Terkadang anak ini seenak mulutnya kalau berkata tanpa memikirkan perasaan orang yang sudah meninggal. Ya ... orang di dalam peti itu kini ada di hadapanku. Seorang lelaki tua berjenggot sedang menatap tak suka kepada Alois.


"Maafkan adikku, Tuan. Dia memang agak tidak terkontrol jika bicara."


Alois mengernyitkan dahinya sambil memasang mimik bingung.


"Apa--dia ada di sini?" tanyanya dengan menunjuk jari.


Aku menggangguk.


"Pantas baunya khas orang yang barusan meninggal," ucapnya enteng.


Aku hanya bisa mengurut dada melihat tingkahnya.


"Aku minta maaf atas sikapnya, Tuan."


Akhirnya aku yang meminta maaf kepadanya. Inilah yang tidak aku suka dari keadaan ini. Keluargaku memiliki keunikannya masing-masing. Aku bisa melihat, mendengar dan menyentuh mereka yang tak tampak. Adikku hanya bisa mencium kehadiran mereka. Kakak lelaki bisa meramal masa depan. Sedangkan ayah dan ibu.... bisa aku katakan mereka bisa mengetahui kematian seseorang dalam waktu dekat.


Kami menyembunyikan kemampuan ini dari masyarakat. Kami takut jika mereka mengetahui kenyataan tentang keluarga Amari yang sesungguhnya. Karena selain itu, kami memiliki satu rahasia yang tak bisa diungkap oleh siapapun.


"Jadi masih maukah kalian berteman denganku?"


*****


Brakk....


Aku baru saja mau membuka mulut untuk sarapan. Tiba-tiba ayah membuka pintu depan dengan bersungut-sungut.


"Cowni kita mati lagi. Padahal aku sudah memasang jebakan," sungut ayah sambil duduk bersama kami di meja makan.


"Mungkin ada hewan besar yang memakannya, Yah." Lagi, Lois selalu menyahut tanpa alasan.


Ibu memandang anak bungsunya dengan menggelengkan kepalanya.


"Malam nanti biar Henzie dan ayah yang menjaga," sahut kakak lelakiku yang super dingin bagai es batu.

__ADS_1


"Sudah jangan dipikirkan lagi, Greg. Biar Henzie yang menemanimu malam nanti," sambung ibu dengan sabarnya.


Beberapa menit kemudian, ayah tetap menggerutu tentang ternaknya yang mati. Sapi kesayangannya tiba-tiba saja mati tanpa sakit. Pagi hari saat ia ke kandang terdapat pemandangan yang tak lazim. Tidak ada darah yang tertinggal. Sapi itu menjadi kurus sekali. Aneh, bukan?


"Aku sudah selesai. Terima kasih sarapannya, Bu," kataku sambil menggeser kursi dan bersiap berangkat sekolah.


"Lean,...." panggil ibu lembut.


"Ya," jawabku pendek.


"Jangan tinggalkan adikmu, Nak. Kalian, 'kan satu sekolah?"


"Aku tahu, Bu. Aku akan tunggu di luar."


Usiaku dengan Lois hanya dua tahun saja. Tiap tahun kami akan berangkat ke sekolah bersama kecuali pulangnya. Dia selalu banyak kegiatan terutama jika berurusan dengan bola.


"Lois! Cepat keluar!" Aku berteriak dari teras. Kebiasaan dia yang tak bisa diubah sering terlambat.


Ah....sial. Padahal masih pagi, mata ini malah melihat sesosok pria tua dengan seragam tentaranya sedang berhilir mudik di pinggir jalan.


"Sekarang apa lagi yang kau lihat, Lean?" tanya Lois tepat di wajahku.


Aku singkirkan wajahnya dan tak menggubris ocehannya. Ia selalu senang bertanya mengenai penglihatanku.


*****


Lihatlah karena ulahnya, kami terlambat ke sekolah di hari pertama. Ia begitu tenangnya seakan tak terjadi masalah dan langsung belari meninggalkanku.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum membalasnya.


"Ayo kita masuk," ajaknya sambil melangkah menuju pos satpam.


Ia gadis yang ramah, murah senyum dan begitu ceria sambil bersenandung.


"Hari pertama saja sudah terlambat. Bagaimana dengan hari selanjutnya?" tegur satpam bertubuh tambun dengan berkacak pinggang.


"Maaf, Pak. Saya habis pindah rumah kemarin jadi bangunnya agak terlambat," ujarku berbohong agar tak mendapat hukuman.


"Namamu siapa?"


Ia melihat buku absen anak-anak baru dengan kacamatanya.


"Leanne Lavender Dulcie Amari."


"Nama yang cukup panjang, ya, Nona Amari?"


Aku hanya tersenyum masam. Memang aneh jika memiliki nama panjang?


"Besok jangan terlambat lagi," sambungnya lagi dengan nada rendah.

__ADS_1


Aku segera melangkah dengan cepat. Bel tanda masuk sudah berdering nyaring. Oh, ya sejenak aku melupakan gadis yang bersamaku tadi. Rupanya dia tak sama dengan yang lainnya. Gadis yang memakai seragam era 50-an itu melambaikan tangannya dan menghilang bagai asap.



"Mengapa dia tak pergi ke dunianya?"


Kurasa dia penunggu sekolah ini dan ada sesuatu yang membuatnya tetap tinggal.


*****


Anak-anak yang lain sudah berkumpul di aula. Mereka serempak merapatkan barisan kala guru datang, aku segera menyusul.


"Hai ..."


"Hai juga ..." Aku membalas sapaan gadis yang ada di sampingku. Kali ini bukan hantu yang menyapaku.


"Namaku Isaballe. Panggil saja Aile."


Aku menyambut uluran tangannya dengan senang.


"Namaku Leanne. Panggil saja aku Lean."


Kami tak bisa melanjutkan obrolan ini karena kepala sekolah sudah ada di depan dan siap untuk berpidato. Untunglah pidatonya tak lama.


"Kau ada di kelas berapa, Lean?" tanya Aile sambil melihat papan nama kelas.


"Entahlah...." Aku melihat deretan nama di papan, "Kita sekelas ternyata."


Kulihat ekspresi Aile yang ceria dan langsung menggandeng lenganku agar masuk kelas bersama. Di hari pertama aku sudah mendapatkan seorang teman. Dia adalah gadis yang menyenangkan bila diajak bicara maupun bercanda.


Berbeda dengan diriku yang masih enggan berteman yang lainnya, Aile sudah banyak bicara dengan teman sekelas. Ya ... aku memang susah untuk mengenal orang yang baru.


Hari pertama tidak ada pelajaran. Kami hanya berkenalan teman yang lainnya dan guru kelas memperbolehkan muridnya bersantai.


"Kamu mau ke mana, Lean?"


Meskipun sedang asyik bicara dengan teman sebangkunya, Aile masih memperhatikan diriku yang hendak ke kamar mandi.


"Ke kamar mandi sebentar."


"Mau aku temani? Gosipnya di sana ada penunggu yang menakutkan."


"Tidak usah. Aku berani kok," sahutku santai.


"Kamu yakin?" tanyanya ragu.


Aku menggangguk. Aile sayang, untung kau tak memiliki penglihatan sepertiku. Andai kau tahu jika mereka yang kau bicarakan sebenarnya ada di sebelahmu sejak tadi. Aku ingin memberitahu kepada Aile dan teman yang lainnya jika wanita berpakaian lusuh dan berdarah di perutnya itu memang ada. Namun, ya namanya orang yang tak percaya. Mereka malah mengganggap itu lelucon.


\=Bersambung\=

__ADS_1


Hari pertama Leanne sudah merasakan kehadiran mereka yang tak tampak. Apa yang akan dilihat Leanne selanjutnya?


Part selanjutnya "Ada Yang Salah?"


__ADS_2