Keluarga Amari

Keluarga Amari
Part 21 Rahasia


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


"Hai namaku Leanne Lavender Dulcie Amari."


"Panjang banget namamu. Aku Alvin Hans Widipa. Senang berkenalan dengan gadis bule sepertimu."


"Aku bukan bule asli. Aku ada darah Indonesia juga dari kakek buyut hanya saja aku dan keluargaku lama tinggal di Irlandia."


"Lalu sekarang kamu tinggal di sini?"


"Heum ... tapi hanya sementara saja sampai ayahku menyelesaikan tugasnya."


"Kalau begitu kita berteman saja. Aku panggil kamu Anne saja, ya. Oh, ya itu adikku Cloe. Kita sekelas sedangkan adikku sekelas dengan adikmu."


Kenangan itu kembali berputar. Sesuatu yang tidak aku ingin ingat sama sekali. Pemuda yang menjadi teman akrab kini telah berubah. Ia bukan lagi seorang remaja melainkan menjadi kakek dari Anson. Waktu berlalu begitu cepat sehingga aku tidak menyadarinya.


"Jadi ... akhirnya dirimu tahu apa kumaksud, Dik? Kamu dan keluarga Anson saling terhubung."


"Cloe yang malang," desis Lois menggelengkan kepalanya.


"Padahal kita sudah pergi sejauh mungkin dan sekarang kita malah bertetangga," timpal Ibu sembari menyulam di kursi kesayangannya.


"Di mana langkah kaki kita pergi, pasti ada hal yang menghambat kita," sela Ayah dengan mata yang masih fokus membaca koran.


"Pasti dirimu kaget sekali tadi, ya, Leanne?" Lois menceletuk sambil melihatku.


Syok itulah kurasa tadi. Tidak pernah menyangka sama sekali jika peristiwa ini akan datang. Berita baiknya Alvin tidak ingat dengan diriku. Ia terus bertambah tua sedangkan aku masih tetap di usia muda. Aku dan keluargaku harus menerima takdir ini selamanya.


"Ingat! Kita bukan manusia biasa. Bukan juga hantu atau iblis. Kita akan tetap seperti ini selamanya dengan tubuh dan usia yang sama tiap tahunnya."


Itu perkataan Ayah yang terus terngiang di telinga dan kami harus mematrikan kalimat itu melekat di pikiran tanpa bisa mengelak takdir.


Hidup kami berubah dalam sekejap. Malam itu sekumpulan warga sengaja membakar rumah di saat kami terlelap. Aku dan Lyn terjebak di kamar. Di saat terakhirnya, Lyn mendorongku jatuh ke halaman belakang dan Ayah menangkapku dalam keadaan tidak sadarkan diri. Para warga termakan hasutan jika kami adalah keluarga pembunuh yang telah menghilangkan nyawa puluhan wanita muda untuk dijadikan tumbal sekte.


Kami tidak menyalahkan Lyn atas kegemarannya menyukai dunia gaib dan sihir. Karena alasan itulah salah satu warga yang tidak menyukai usaha perkebunan Ayah maju pesat, ia melakukan hal keji pada kami. Tak hanya membakar seluruh rumah, orang yang tidak kukenal itu memberi racun pada makanan kami yang disajikan oleh pelayan.

__ADS_1


"Jangan salahkan dirimu dan Lyn. Ini sudah takdir yang harus kita jalani."


Menurut Ayah dan Ibu, di saat dalam perjalanan menuju hutan gelap tempat tinggal Serenity. Mereka kesakitan dan berusaha menahan rasa sakit itu demi diriku agar hidup. Jika bukan karena Serenity, mungkin aku tidak akan bertemu mereka lagi.


Wanita berambut ranting itu menawarkan bantuan dengan satu syarat kelak aku yang akan menggantikan posisinya. Serenity memberikan hidup abadi dan kelebihan di diri kami.


"Setiap dua puluh tahun sekali, kita harus pergi dan pindah ke tempat lainnya agar jati diri kita tidak diketahui."


Kami sudah hidup lebih dari seratus tahun dan mengganti nama tiap dua puluh tahun sekali. Sudah banyak negara yang kami kunjungi dan Irlandia tempat yang dipilih Ayah setelah sudah ratusan tahun tidak menginjakkan kaki di negara kelahiran ini.


"Ayah,...." Panggilku, tetapi Ayah hanya berdehem saja.


"Apa sampai sekarang Ayah atau Ibu tidak tahu siapa pelaku pembakaran itu dan menjadikan kita seperti ini?"


Lois langsung menaruh ponselnya begitu juga dengan Zie yang sedari berkutat dengan laptopnya ikut menyimak. Pandangan kami langsung terarah pada Ayah dan Ibu.


"Sudah saatnya kau memberitahu mereka, Greg," ucap Ibu tanpa melirik Ayah.


Ayah melipat korannya dan membetulkan cara duduknya agar nyaman lalu melihat kami satu persatu. Kami yang duduk di lantai tidak sabar mendengarkan rahasia ini.


"Ayah rasa ini waktu yang tepat untuk memberitahu kalian," sahut Ayah seraya menghembuskan napas panjang.


"Jika bukan Serenity yang membuat kita seperti ini. Mungkin Ayah dan Ibu tidak akan pernah tahu pelakunya."


"Wanita itu mengatakan pada Ayah untuk mencari jawabannya sendiri jika ingin masih hidup. Untuk itulah Ayah dan Ibu mengambil keputusan tersebut."


"Apa kalian menyesalinya?" Lois ikut bertanya.


Ibu dan Ayah menggeleng bersama dan menyunggingkan senyuman pada kami. Untuk apa menyesalinya sekarang, bukan?


"Jadi siapa pelakunya, Yah?" Zie menyelidik dengan tatapan menelisik.


Ayah mengambil cerutunya lalu mulai bercerita, sesekali menghela napas kemudian mengusap setitik air matanya.


"Paman kalian yang melakukannya," ucap Ayah seraya memijit keningnya.


"Paman Remmington?" Kami serempak menyahut.


"Tapi mengapa, Yah?" desakku agar segera dijawab.


"Warisan kakekmu semua jatuh pada ayah. Pamanmu yang merupakan adik tiri ayah tidak bisa menerima. Pamanmu yang berhati busuk itu menghasut semua warga apalagi saat melihat Lyn sering bertemu Serenity. Itu yang menjadikan alasan dirinya menghancurkan bahkan mengambil nyawa kita."

__ADS_1


"Jika bukan Serenity, kita tidak pernah tahu pelakunya. Karena Remmington berpura-pura menolong memadamkan api, tetapi nyatanya pria itu banyak tipu muslihatnya," sambung Ibu kemudian.


Akhirnya rahasia yang Ayah simpan selama ini sudah kami ketahui. Ayah maupun Ibu selalu menutupi kenyataan karena mereka tahu jika kami sangat mengagumi dan menyayangi Paman Remmington. Namun, di balik sikap baiknya tersimpan sebuah ambisi dan dendam pada kami.


"Maafkan Ayah, Nak. Karena kami pikir itu lebih baik tidak diketahui oleh kalian. Kami mengganggap membiarkan saja agar tidak menyakiti perasaan kalian."


Paman Remmington dengan senyumannya saat berkunjung ke rumah kami. Ia tipe seorang paman yang ideal bagi keponakannya terutama Zie dan Lois yang mengagumi keahliannya memanah dan menembak. Kami menyayangi dan mengganggap seorang pahlawan.


"Ayah dan Ibu berharap kalian bisa melupakan kejadian itu dan jalani kehidupan kalian seperti biasa," kata Ayah sembari beranjak dari sofa.


Ketika tabir rahasia sudah dibuka satu persatu, apakah aku masih bisa menjalani keseharian seperti biasa? Anson dan aku hanya bisa menjadi teman biasa. Namun, bagaimana jika hati ini mulai ada rasa suka?


"Selamanya kita tidak akan bisa menjalin hubungan dengan seseorang, Dik. Hanya sebatas teman biasa dan setelah itu kita harus menyingkir dari kehidupannya."


Ucapan Zie benar, kami tidak bisa melakukan hal tersebut karena kami berbeda. Di tahun 1520 adalah waktu di mana semuanya berubah. Tahun 1950 merupakan awal pertemuanku dengan Alvin saat kami pindah dari Swedia.


"Tak terasa ya sudah lima ratus tahun kita hidup," timpal Lois sambil menyerahkan tissue padaku yang meneteskan air mata.


*****


Sudah lima kali panggilan dari Anson dan tidak aku angkat. Dua pesan juga tidak kubaca. Untuk saat ini aku tidak ingin diganggu. Pertemuan tadi sangat mengejutkan dan membuka kenangan pahit. Senyuman dan tatapannya masih sama seperti dulu dan aku tidak menyadari jika rupa Anson serupa dengan Alvin. Bodohnya diriku yang tidak dapat menerkanya.


Ponselku bergetar untuk ketiga kalinya, aku tahu itu dari Anson. Akhirnya aku membalasnya walau singkat. Menangis merupakan jalan satu-satunya agar diriku lega.


"Kau masih menyimpan foto ini? Bagaimana jika temanmu tahu siapa dirimu?"



Ubel mengambil selembar foto dari laci meja belajarku. Dia datang dengan seenaknya tanpa melihat kondisiku saat ini. Tampangnya yang mengejek semakin membuatku kesal dengannya.


"Dulu mencintai kakeknya sekarang cucunya. Ingat gadis cantik, dirimu tidak boleh jatuh cinta padanya!"


"Tidak bisa anda pergi saja. Aku ingin sendiri."


Tanpa diperintah dua kali, makhluk bertudung itu melesat pergi melewati jendela. Perkataan terakhirnya sebelum menghilang semakin menambah kesal.


"Tidak ada manusia yang mau berteman dengan makhluk seperti kita, Nona Amari."


\=Bersambung\=


Jadi sudah tahu rahasia keluarga Amari, bukan?

__ADS_1


Apa yang dipilih Leanne? Tetap berteman walau kenyataan yang menyakitkan akan terjadi atau pergi menjauh sama seperti dulu?


Part selanjutnya "Ragu"


__ADS_2