
Mohon saran dan kritiknya...
°
°
°
Aku masih memikirkan hal kemarin mengenai Cloe. Mengapa gadis itu selalu menampakkan dirinya saat aku bersama Alvin? Akan tetapi, sorot matanya tidak menyiratkan suatu kebencian atau dendam. Dia hanya berdiam dengan menatapku sayu.
"Kamu mau ikut menjenguk kakekku, Lean? Kurasa ia akan senang bertemu denganmu." Anson mengajakku sepulang sekolah.
"Tapi aku belum minta ijin pada Ibu."
Ibu bisa marah jika aku pergi tanpa ijin darinya. Selarut apa pun, kita harus memberitahu jika ada suatu acara.
"Aku sudah memberitahu Zie. Ia mengijinkanmu ikut, kok."
"Oh, ya?" Aku merengut. Tidak seperti biasanya Zie memberi ijinnya.
"Mungkin karena kamu anak perempuan satu-satunya, ya. Makanya itu keluargamu sangat menjaga."
"Tidak juga, kok. Ibuku memang seperti itu. Selalu cemas berlebihan jika anaknya tidak pulang tepat waktu." Aku terkekeh. Anson tersenyum simpul.
"Jadi ... kamu mau ikut? Kita ke sana naik mobil."
Aku malu saat Anson mengetahui isi kepala ini. Aku pikir ia akan mengajakku ke rumah sakit naik sepedanya. Lagipula aku ini ya bodoh. Mana mungkin naik sepeda kalau jarak rumah sakit itu jauh. Aku menepuk kepala sendiri.
"Baik ... aku ikut."
Untuk pertama kalinya selama beberapa tahun terakhir ini, aku pergi bersama seseorang selain keluargaku. Di dalam mobil, hanya diriku dan Anson yang menyetir. Ada perasaan canggung saat bersamanya. Aku sampai beberapa kali memalingkan wajah ke arah luar ketika Anson melihatku.
"Tumben kamu tidak bawel. Biasanya kamu selalu mengajak aku bicara terus tanpa jeda," katanya sambil fokus menyetir.
"Bukannya kamu pernah bicara kalau jangan menganggumu saat menyetir?" Aku mengingatkannya agar ia tahu.
"Benar juga. Tapi rasanya sepi kalau kamu tidak bersuara," timpalnya, melihatku lalu kembali lagi menatap depan.
"Sampai kapan kakek Alvin dirawat?" tanyaku ingin tahu.
"Mungkin sekitar seminggu lagi."
Diam dan sunyi lagi. Tidak ada percakapan berarti sampai kami tiba di rumah sakit kota yang jaraknya memang jauh dari rumah.
"Tunggu aku di lobby, ya. Aku akan memarkirkan mobil dulu."
Anson menurunkanku pertama dan ia memilih tempat parkir yang lebih dekat dengan lobby. Aku menunggunya di pintu masuk. Sembari menunggunya, bernyanyi kecil dapat membuat suasana menjadi tenang. Mata ini terus menatap ke depan memastikan Anson berjalan ke arahku.
Dari kejauhan kulihat sosoknya yang memakai jaket kulit dengan ponsel yang ia genggam. Matanya seolah mencari keberadaanku yang terhalang mobil lewat.
"Anson, aku di---"
__ADS_1
Ketika mobil sudah berlalu dan memperlihatkan sosoknya kembali, aku tercengang juga terkejut. Di belakangnya tampak mereka yang tak terlihat dengan penuh luka serta tubuh yang hancur. Bukan dua atau tiga melainkan puluhan sehingga mengingatkanku tentang film zombie yang ditonton Zie.
"Ada apa ini?" Aku membatin tanpa berkedip.
Semakin Anson mendekat, secara jelas kulihat kilasan peristiwa yang menjadi penyebab mereka meninggal. Bukan masa lalu yang terpampang di depan mata, tetapi masa depan yang aku tidak tahu kapan hal itu terjadi. Aku melihat kecelakaan dahsyat di udara. Tidak ada yang selamat sama sekali. Namun, mengapa ada Anson di antara mereka?
"Hei ... kamu lihat apa, Lean? Lihat hantu?" Anson mengarahkan tangannya ke depanku.
"He?" Aku melihatnya terkejut karena masih bingung dengan penampakkan yang terjadi.
"Aku tanya, kamu itu lihat apa?" tanyanya sambil menggelengkan kepala.
"Oh ... itu aku hanya melamun,"sahutku sambil tersenyum.
"Kukira kamu lihat hantu. Yuk, ayahku tadi menelepon agar aku segera masuk."
Aku mengikuti langkahnya dari belakang, mereka sudah tidak ada saat Anson bersamaku. Namun, bau hangus dari besi dan daging jelas tercium hingga membuatku mual.
"Mengapa aku bisa melihat masa depan? Bukankah itu hanya dilakukan oleh Zie?"
Aku tidak habis pikir tentang kemampuan ini. Apa mata ini salah atau memang diriku memilikinya?
"Bertambah lagi kemampuanmu, bukan? Masih menyangkal?"
Aku menoleh ke sumber suara. Serenity ada di belakangku dengan senyuman khasnya. Wanita itu mengerling nakal. Untuk sementara, aku menghiraukannya.
*****
Alvin yang terbaring di ranjang menyapa ramah padaku. Ia terlihat semakin tua dengan tubuh ringkihnya. Sementara itu, Nyonya Narve yang merupakan anaknya menyuapi bubur untuk dimakan.
"Aku juga, Kek," jawabku kaku. Aneh memanggilnya seperti itu.
"Bersantailah, Nak. Kalian bisa menikmati fasilitas gratis di sini," bisik Tuan Narve sambil menyerahkan sekaleng jus jeruk dan biskuit.
Aku menerimanya dengan senang hati karena kebetulan tenggorokan kering ini butuh asupan air. Anson duduk di sebelahku dan memakan zuppa soup dari toko roti seberang. Sekilas mataku melirik ke arah Alvin. Ia terlihat lemah dan butuh bantuan saat berdiri.
"Beginilah, Nak. Jika usia sudah tua dan lemah, kamu akan butuh bantuan orang lain," kata Alvin, tanpa sengaja mata kami saling bertatapan.
Ia masih sama seperti dulu sewaktu sakit dan terkesan manja. Beda sekali dengan Anson yang tampak cuek sekali jika sakit.
"Tapi anda masih terlihat sehat," sahutku dengan menatapnya yang akan ke kamar mandi. Alvin hanya terkekeh saja dan mengangguk-angguk.
"Ini. Kamu mau, kan?" Anson menyerahkan sepotong pizza yang ia taruh di piring kecil.
"Aku sudah membuang paprikanya."
Anson tahu kalau aku tidak suka sama sekali paprika. Ia menyisihkannya lalu menambahkan irisan daging juga keju.
"Aku melihatmu beberapa kali di kantin, tiap kali memesan pizza. Kamu akan membuangnya," katanya saat aku terheran akan sikapnya.
"Terima kasih." Aku menyahut sambil memakan pizza pemberian Anson. Menikmati dengan perlahan.
__ADS_1
Aku sama sekali tidak menyangka jika selama ini ia memperhatikan diriku. Kukira ia tidak peduli.
"Ayleen, apa kau sudah menemukan temannya Cloe?"
Aku tersedak ketika perkataan itu keluar begitu saja dari bibir Alvin. Aku buru-buru mengambil minum dan Anson tampak cemas karena wajahku berkeringat.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Alvin memandangku penuh khawatir.
"Aku baik-baik saja. Ada bulatan cabe di tenggorokanku," ucapku agar tidak ketahuan.
"Kamu tidak melihatnya, Anson? Kasihan Lean harus memakannya." Nyonya Narve memarahi Anson yang terus menepuk punggungku.
"Minum ini. Biar terasa lega." Anson menyerahkan secangkir teh hangat.
Beberapa saat setelah kondisiku membaik, Anson menyuruhku rebahan di sofa. Sedangkan dirinya bersama sang ayah membeli makanan pesanan Alvin.
"Tidur saja sebentar, Nak. Setelah ini aku akan menyuruh Anson mengantarkanmu pulang," tandas Alvin yang kini berada di kasur.
Aku hanya pura-pura tidur di sofa karena aku ingin tahu percakapan antara Alvin dan Nyonya Narve. Mereka masih membahas tentang pencarian tersebut.
["Untuk apa ayah mencari teman bibi Cloe?"]
["Bibimu datang pada ayah untuk mencarinya. Kata bibimu, ada rahasia yang harus diungkap dan itu diketahui oleh temannya sendiri." ]
Aku sudah di sini, Cloe. Mengapa kau tidak datang padaku?
["Memangnya ayah masih ingat namanya dan tempat tinggalnya?"]
["Namanya Anne Lavender. Ayah tidak tahu di mana ia tinggal sekarang. Mungkin usianya sudah sama dengan ayah."]
Aku ada di sini, Alvin. Ini aku, temanmu dan Cloe.
Tetesan air mata jatuh perlahan. Alvin tidak mengingatku sama sekali. Aku ada di sini, teman cucumu dan rumah kami bersebelahan.
[ "Aku akan menyuruh temanku yang tinggal di Indonesia untuk mencari tahu tentangnya melalui tetangga rumah ayah dulu."]
Kalian tidak mungkin bisa mencari kami. Semua jejak tentang kami sudah dihilangkan oleh Ayah dan Ubel. Mengapa Cloe tidak datang padaku sendiri?
"Maaf jika aku tidak datang padamu, Leanne. Ada hal yang aku takutkan."
"Tolong jaga Alvin dan Anson."
"Hanya kau yang bisa mengubah masa depan mereka."
Aku yakin sekali itu suara Cloe yang berbisik di telinga. Namun, kenyataannya aku tidak merasakan kehadirannya. Dia tidak ada di mana pun. Apa aku halusinasi?
\=Bersambung\=
Mengapa Cloe tidak menemui Leanne sendiri? Apa yang ia takutkan?
Temukan jawabannya di part selanjutnya "Aku akan menemukanmu"
__ADS_1