Keluarga Amari

Keluarga Amari
Part 16 Hadiah Dari Anson


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya.....


°


°


°


"Hai adik centil. Apa kabar?"


"Aku kira kau akan menggunakan kekuatanmu itu. Nyatanya kau malah memilih tidak menggunakannya. Ada apa denganmu, Adikku?"


Lyn? Ia datang dalam mimpiku. Sudah lama rasanya aku tak melihat dirinya. Ia berbeda kini dengan yang dulu. Tampak cantik walau banyak luka di tubuhnya.


"Lyn, kami merindukanmu. Mengapa kau tak pernah datang menemui kami?"


Lyn hanya mengulas senyuman tipisnya dan mengacak poniku yang menjadi kebiasaannya untuk menunjukkan rasa sayang. Lyn duduk di samping, pakaian biru kebanggaannya menjadikan dirinya bukan seperti hantu.


"Leanku, aku memang sengaja tidak pernah datang menemui kalian. Namun, aku selalu melindungi kalian dari atas. Jangan mengkhawatirkan diriku yang sudah bahagia."


Lyn memelukku erat sekali seakan tak ingin lepas. Aku meluapkan rasa rindu dengan menangis. Jemarinya terasa dingin saat menghapus air mata ini.


"Maafkan aku, Lyn," lirihku pelan.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Lean."


"Tapi karena aku...."


"Itu bukan kesalahanmu, Leanku. Sudah tugasku sebagai anak pertama melindungi saudara dan orang tuanya. Jadi jangan pernah menyalahkan dirimu atas tragedi itu. Tetaplah menjadi anak yang periang dan tersenyum."


Belum sempat aku membalas ucapannya, Lyn menghilang digantikan suara tangisan Ibu yang meraung. Memangnya ada apa denganku?


Meski terasa berat, kupaksa saja mata ini membuka untuk melihat gerangan yang terjadi. Netraku menangkap Ayah yang memeluk Ibu sedangkan Lois duduk termangu di sofa.


"Ibu ..." Aku memanggilnya dengan suara pelan.


"Oh Tuhanku, Lean!"


Ibu mengusap wajahku dan menciumnya bertubi-tubi seakan diriku baru terbangun dari koma sangat lama. Aku merasa sakit di seluruh tubuh dan tulang terasa lepas.


"Selamat datang kembali, Anakku."

__ADS_1


Ayah menggenggam jemariku erat dan mencium kening. Aku ingin tahu peristiwa yang sebenarnya. Namun, mengantuk membuat mataku kembali tertutup. Biarlah nanti kutanya setelah sadar.


*****


Mataku memang terpejam, tetapi telinga ini mendengar keributan yang terjadi di kamar. Ayah yang sibuk menyahut perkataan Ibu, Zie yang ribut dengan Lois hanya urusan remote tv dan Anson yang selalu datang tiap pagi sebelum sekolah.


"Putri tidur, kamu sudah lama loh berada di sini. Apa tidak capek?"


Sayup kudengar Lois mengomel karena hari ini gilirannya menjaga di rumah sakit. Ia memang bukan tipe orang yang suka menunggui seseorang.


"Kamu mau tahu berapa lama di sini?"


Lois menunjukkan angka dua diikuti dengan gerakan bibirnya yang mengatakan dua minggu. Jadi selama itukah aku tertidur? Aku masih belum banyak bicara karena ada luka di leher.


"Untunglah ada Zie dan Ubel yang menolong kalian. Anson hanya menderita memar di tubuhnya. Kamu yang paling parah karena hantu itu hampir saja melumpuhkan semua kekuatanmu," jelas Lois yang bisa kudengar saja tanpa bisa bicara.


"Oh, ya Anson tiap hari datang ke sini hanya untuk menjengukmu. Kukira pemuda itu cuek, tetapi ia perhatian juga padamu, ya?" Lois meledek sambil mengunyah es krim.


"Cepat pulih dan kembali ke sekolah. Ailee tiap hari menanyakan kabarmu. Tapi ia takut ke rumah sakit untuk melihatmu," ocehnya lagi.


Andai aku bisa bangun dari tempat tidur, bantal ini sudah kulempar ke arahnya. Adik yang tukang banyak bicara dan mengomel.


Aku menarik napas dan hanya bisa mengelus dada atas perlakuannya. Makan adalah hobi nomer satu di kepalanya.


*****


Dua minggu terbaring di kasur membuat badan ini terasa pegal. Dari laporan Ayah yang diajukan pihak polisi, ada beberapa sekumpulan orang yang mencelakai aku dan Anson padahal kenyataannya bukan seperti itu. Bagaimana mungkin kami mengatakan hal yang sebenarnya?


Alissa si hantu itu dibawa oleh Ubel. Ya ... memang Ubel yang mampu menaklukkan makhluk bandel yang mencelakai manusia.


"Ini ada hadiah dari Anson. Pemuda itu memberikannya padamu waktu kamu tertidur," ucap Ibu sembari menyerahkan kotak seukuran cincin.


"Apa isinya, Bu?" tanyaku dengan gerakan bibir.


"Entahlah. Buka saja, Lean. Mungkin itu hadiah ucapan terima kasihnya padamu," lanjut Ibu lagi sambil membereskan pakaianku ke tas. Hari ini aku diperbolehkan pulang.


Aku akan membukanya nanti setelah sampai rumah. Tidak seperti biasanya Anson bersikap seperti ini. Namun, apa ada daya. Tangan usil Lois merampasnya dariku dan langsung membuka tanpa ijin.


"Apa ini? Apa kalian jadian, ya?"


Pertanyaannya sontak membuat Ibu berhenti dari kegiatannya semula dan menatapku penuh arti. Anson memberiku sebuah kalung berliontin bulan sabit dan di tengahnya ada inisial namaku.

__ADS_1


"Aku hanya berteman dengannya," jawabku pelan tanpa mau ribut dengan Lois.


"Kamu tahu, bukan? Jika kita hanya bisa berteman saja tanpa hal lebih?" Lois mengguruiku padahal Ibu hanya diam saja.


"Iya aku tahu."


"Jangan sampai ia tahu siapa kita sebenarnya, Nak. Sudah cukup satu orang saja yang mengenali kita." Ibu mengelus rambutku dengan kecupan hangat di kening.


"Pakailah kalungnya. Jangan membuang pemberian orang," sambung Ibu sambil mendorong kursi roda.


"Bu, beberapa malam lalu aku bermimpi Lyn. Dia datang menemuiku."


Ibu tak menjawab, tetapi bisa kurasakan gerakan kursi roda yang didorong terasa lamban. Aku tahu ia merindukan Lyn selama ini.


"Ibu kira Lyn tidak akan datang lagi," ujar Ibu terdengar pelan.


"Apa Ibu tidak ingin dengar apa yang sudah kami perbincangkan?" tanyaku menoleh ke belakang. Ibu menitikkan air mata.


"Pasti Lyn mengatakan tidak perlu merindukan dirinya, bukan?"


Aku menggangguk dan kembali menatap ke depan. Ah, Ibu pasti merindukan anaknya yang selama ini sudah pergi. Ibu pandai menyembunyikan perasaannya.


"Sudahlah jangan bahas itu lagi. Ibu yakin Lyn sudah bahagia di sana. Sekarang yang perlu kita bahas adalah mengenai dirimu dan Anson. Ceritakan nanti di rumah bagaimana bisa kamu membuat Anson berubah."


Kuambil kalung itu dari kotaknya. Lama terdiam aku memandang dengan seksama. Aku memang tidak boleh menyukainya dan hanya bisa berteman saja. Bibirku tersenyum karena setidaknya ia sudah membuka hati.


"Ayah dan Zie sudah menunggu di lobby. Jangan beritahu ayahmu kalau ada yang memberikan hadiah. Bisa-bisa ia akan marah," kata Ibu dengan nada bergurau.


Aku akan mampir ke rumahnya esok dan mengucapkan rasa terima kasih pada Anson.


"Ayah merindukan anak gadis ini," sahut Ayah sambil menyentil hidungku.


Ayah menuntunku sampai masuk mobil, sesaat sebelum meninggalkan lobbi. Aku melihat Lyn, dia melambaikan tangannya dan memberikan kecupan.


\=Bersambung\=


Hayo ... apa Lean menyukai Anson?


Tapi mengapa Lois mengatakan jika mereka tidak boleh saling menyukai?


Part Selanjutnya "Mari Kita Berteman"

__ADS_1


__ADS_2