Keluarga Amari

Keluarga Amari
Part 26 Petualangan Penuh Kejutan


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya.....


°


°


°



Aura jahat sudah melingkupi sejak masuk dan aku tahu ada sesuatu yang bakal mengikuti langkah kami. Buktinya sekarang nenek tua melayang dengan wajah keriputnya yang mengerikan sedang mengawasi kami.


"Untuk apa kalian datang ke sini. Cepat pergi!"


"Aku tahu kau bisa melihat kami. Jangan berpura-pura."


Nenek tua ini agak menyebalkan, dia berdiri tepat antara aku dan Ailee yang berjalan. Sesekali nenek tua itu menyentil telinga Ailee.


"Apa kamu tidak merasa---?" Ailee mendekat, memegang erat tanganku sambil berbisik,"Lean, aku rasa ada yang mengikuti kita sejak tadi."


Sepelan apa pun suara yang kau hasilkan di tempat sunyi, pasti terdengar jelas sekali. Ketika Ailee berbisik, teman lainnya yang ada di depan langsung berhenti dan menoleh.


"Apa ada hantu di sini?" Sam yang penakut bertanya sambil melihat sekeliling.


"Lebih baik kita pergi saja, Ruth," sambungnya lagi sembari menggandeng Ruth, tentu saja gadis pemberani itu tidak mau.


"Iya Ruth. Sejak tadi aku merasa ada sesuatu yang mengikuti dan menyentil telingaku," rengek Ailee dengan memohon.


Ruth agak kesal karena Ailee dan Sam tidak mau melanjutkan petualangan mereka di rumah berhantu, mereka berdua memilih pergi dan tinggal di kemah. Akhirnya yang tersisa hanya Ruth, Anson dan aku. Tentu saja diriku harus ikut, aku tidak mau terjadi sesuatu pada mereka.


"Sepertinya dirimu tidak takut lagi, Nona Amari?" Ubel yang sedari tadi duduk di dekat jendela memang datang setelah aku panggil, untuk mengawasi.


"Ayo, kita lanjutkan menelusuri tempat ini. Aku juga ingin melihat lantai dua."


"Kamu sudah berjanji padaku, Ruth. Jangan naik ke atas." Aku mencegahnya, tetapi sifat keras kepalanya tidak bisa ditundukkan.


"Aish ..."Ruth mendengkus dan menghiraukan perkataanku.


"Ruth Pieter Johans!" Aku sedikit membentaknya, Ruth dan Anson menatapku heran.


"Kalau kamu tidak mau. Silakan pergi. Susul mereka yang penakut itu," kesalnya dengan menghentakkan kaki lalu melanjutkan menuju lantai atas bersama Anson.


"Manusia itu merepotkan!" Ubel dengan santai mengupas kacang dan memakannya sambil duduk di jendela.


Aku memaki diri sendiri karena sudah terseret dalam petualangan ini. Jika bukan karena Anson, tak mungkin aku akan mengikuti Ruth. Gadis itu suka sekali dengan cerita seram dan mengaku bisa melihat mereka yang tidak tampak. Namun, maaf perkataannya hanyalah imajinasi belaka. Sorot matanya tidak menunjukkan dirinya seorang indigo.


"Ayo, Lean! Jadikan pengalaman ini sebagai pembuktian jika kamu bisa melihat makhluk halus," kata Anson.


"Kamu bisa melihat, Lean?" Ruth bermuka senang saat Anson mengatakannya. Dan aku hanya diam saja.


"Benar-benar merepotkan manusia itu. Jika nanti bertemu, mereka takut," celetuk Ubel yang setia menemani kami dan aku hanya bisa mendecih mendengar ucapannya.


Ruth menaiki anak tangga, kayunya berderit dengan pegangan yang sudah patah, tidak menyurutkan keinginannya untuk menjelajahi rumah ini. Aku dan Anson berada di belakangnya, Ruth mengambil beberapa foto untuk ia pamerkan pada teman kelas nanti.


"Tidak menyangka rumah ini begitu menyeramkan. Sini ... lihat, Leanne. Foto-foto mereka masih terpajang. Apa mereka korban pembunuhan itu?" Ruth terus saja berucap, ia tidak menyadari jika korban pembunuhan di rumah ini berada di antara kami sekarang.

__ADS_1


Tatapan mereka tidak bersahabat sama sekali, sang ayah menggeram marah sedangkan istrinya menatap tajam. Sementara si anak menyeringai dengan mulut yang sobek.


"Lebih baik kita secepatnya pergi, Ruth," ajakku bersikeras, tetapi Ruth tidak mau.


"Sudah terlanjur kita ke sini, Lean." Anson menimpali yang membuatku tambah kesal.


"Pokoknya kita harus pergi." Aku menyeret Ruth untuk turun.


"Aku tidak mau!" Ruth mengibas tanganku.


Ternyata penolakan Ruth, membuat penghuni rumah ini senang akan sifatnya yang keras kepala. Anson malah ikut-ikutan.


"Memangnya kalian mau ke mana?"


Pria yang memiliki luka menganga di perutnya menghampiri kami yang berada di ujung anak tangga. Istrinya tertawa mengerikan sedangkan si anak menangis kencang.


"Suara apa itu?" Ruth menyendengkan telinganya, penasaran akan suara tersebut.


"Apa mereka---?" tanya Anson terkejut.


Aku menggangguk dan meringis ketika Tuan Wilhem--nama pria itu sudah berada dekat sekali di depan kami.


"Ayo, lekas kita pergi!" Aku berseru dan berusaha menarik tangan mereka.


Namun, sial bagi kami. Tuan Wilhem berhasil menjauhkan aku dari Anson dan Ruth. Makhluk itu menarik paksa mereka hingga terhempas ke belakang.


"Aku tidak butuh dirimu, Nona Amari. Aku tahu jika menangkapmu sama halnya aku mencari masalah."


Sebegitu terkenalnya keluargaku sehingga dia menyunggingkan senyuman yang menakutkan.


Ah, payah si Ubel ini. Di saat aku membutuhkannya, dia malah menghilang. Dasar makhluk tidak peka.


"Lepaskan mereka, Tuan!" Aku membentaknya agar dia membebaskan Anson dan Ruth yang berusaha melepas diri dari ikatan di dinding.


"Bagaimana kalau aku tidak mau?" Suaranya bergema disertai tawa anak dan istrinya.


"Apa yang kalian inginkan dari mereka?"


"Apa yang kami inginkan? Hem ... tidak ada selain mengambil tubuh mereka."


Selagi Tuan Wilhem menghampiri Anson dan Ruth, aku berusaha mencari cara untuk mengalihkan perhatiannya. Namun, si istri yang melihatku, langsung membuatku terpental dan terjatuh dari tangga.


"Leanne, tolong kami!" Ruth berteriak kesakitan.


"Cepat pergi dari sini, Leanne!" Itu suara Anson yang memintaku pergi. Akan tetapi, aku tidak bisa melakukannya.


Aku berusaha naik ke atas lagi dengan napas tersengal dan kepala sedikit berdenyut, tetapi anaknya malah membuatku terjatuh lagi. Kepala ini menghantam lantai begitu keras hingga aku merasa pening dan hanya suara samar dari Ruth yang meminta tolong.


*****


"Lean, bukalah matamu. Lean ..."


Aku mendengar suara yang khas milik seseorang kukenal. Ia mengguncangkan tubuhku agak kasar. Saat kubuka mata ternyata mereka ada bersamaku sekarang. Bukannya mereka pulang?


"Ailee ... Sam ... apa yang terjadi?" Selang beberapa menit kesadaranku mulai pulih.

__ADS_1


"A--ku ... juga tidak tahu. Saat kami keluar rumah itu, ada sepasang suami istri yang menyergap dan membuat kami tidak sadar diri," kata Sam ketakutan.


Aku mendengarkan seksama semua rangkaian peristiwa yang mereka hadapi. Aku tahu berurusan dengan arwah pendendam itu sungguh merepotkan.


"Ayo, kita cari jalan keluar. Kita harus menolong Ruth dan Anson."


"Percuma, Lean. Kami sudah berusaha keluar, tetapi tetap tidak bisa," keluh Ailee putus asa.


Aku mengedarkan pandangan, ternyata kami terkurung di suatu kamar tanpa jendela dan hanya ada satu pintu. Sekuat apa pun aku mencoba membukanya tetap saja tidak bisa. Pintu ini terkunci dari luar.


"Apa yang sudah kukatakan padamu? Tidak bisa, 'kan?" Ailee terlihat pasrah sedangkan Sam sedari tadi komat-kamit tidak jelas.


"Pakai kekuatanmu, Leanne! Mengapa dirimu terlambat berpikir?"


Seenaknya saja Ubel mengataiku telat berpikir. Bukannya menolong, dia malah tidak menampakkan diri hanya suaranya saja.


"Kekuatan apa?" Tanpa sadar aku berbicara seakan Ubel ada di sini.


"Kamu bicara dengan siapa, Leanne?"


Ailee menepuk punggungku, menatap curiga dan melihat ke belakangku.


"Tidak ada. Aku hanya bicara pada diri sendiri."


"Kuharap dirimu tidak ikutan gila seperti Sam yang sejak tadi berbicara tanpa suara."


Aku tersenyum kecut. Aku juga tidak mau dianggap gila oleh teman lainnya.


"Apa yang harus aku lakukan, Ubel?" Aku berbisik dengan sangat pelan.


"Bacalah sebuah mantra yang pernah ayahmu ajarkan."


Aduh ... mantra apa yang diajarkan Ayah dulu? Mengapa otak ini tidak mampu mengingatnya?


"Itulah sebabnya Serenity mengatai dirimu telat berpikir," decih Ubel.


"Coba ingat mantra itu, Leanne! Mantra saat kalian tidak bisa membuka pintu besi."


Oh ... aku ingat sekarang. Dulu aku dan Ayah pernah dijebak oleh pria tua licik yang ingin merampas hasil bumi kami. Pria itu mengambil uang dan beberapa hasil bumi juga memasukkan kami di sebuah rumah dengan pintu besi.


"Nah ... sekarang apa dirimu sudah ingat, Gadis bodoh?"


Mudah-mudahan aku masih menghapalnya di otak ini. Maklum terkadang folder di kepalaku tidak muat untuk mengingat.


"Kita akan terjebak di sini selamanya. Kita akan mati," tangis Ailee. Sam bersandar di dinding dengan tatapan kosong.


"Jangan takut, Ailee. Aku akan berusaha membukanya. Sekarang menjauhlah dariku."


Aku menghela napas sejenak dan berharap mantra yang Ayah ajarkan masih dapat kuingat. Ya, semoga saja.


\=Bersambung\=


Bisa tidak Leanne mengingat mantra yang ayahnya ajarkan dulu? Apa Ruth dan Anson dapat tertolong?


Part selanjutnya "Seseorang Datang"

__ADS_1


__ADS_2