Keluarga Amari

Keluarga Amari
Part 31 Maafkan Aku


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Esok sudah mulai sekolah lagi, bertemu kawan dan mereka yang tak terlihat. Sampai detik ini, Ruth sama sekali tidak mengingat kejadian tersebut. Aku, Ailee dan Sam berjanji untuk tidak membicarakan hal ini pada siapa pun. Kemarin aku dikejutkan kedatangan Cloe di rumah Anson. Apa dia menyimpan dendam padaku atau ada sesuatu yang ingin dibicarakan?


Tak lama setelah peristiwa enam puluh delapan tahun lalu itu, kami sekeluarga meninggalkan negeri yang indah di pulau Jawa dengan sejuta kenangan. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal pada Alvin dan Cloe yang terbaring lemah. Kami benar-benar pergi tanpa meninggalkan jejak dan memilih tempat yang baru. Di sebuah desa dekat perbukitan Inggris. Mau tak mau, itulah kehidupan yang harus kami jalani.


"Kamu membuang air dengan percuma, Nak."


Sahutan seseorang di belakang mengejutkanku. Aku tidak sadar jika selang air yang seharusnya kusiramkan ke taman bunga malah jatuh ke tanah.


"Kamu melamun? Apa masih memikirkan perkataan Anson kemarin?"


Aku berusaha berdiri kuat kala tatapan hangatnya melihatku dan menetralisirkan keadaan.


"Ah, tidak, Kek. Aku hanya memikirkan esok," ucapku bohong sambil mematikan kran air dan menggulung selangnya.


Alvin membantuku menggulung selang lalu meletakkannya di tempat semula. Sejak dulu, ia selalu senang membantu aku menyiram tanaman.


"Hari yang indah untuk esok, bukan?" tanya Alvin sambil duduk di kursi kayu buatan Ayah.


"Mau minum apa, Kek?" tawarku basa-basi, aku duduk di depannya.


"Tidak usah. Aku ke sini karena menyukai tanaman di halaman rumahmu. Mereka menyejukkan mata."


"Apa mereka tidak rusak saat hujan turun deras?" tanyanya menoleh padaku, aku gelagapan saat ia menatap.


"Di samping tanaman itu, Ayah sudah membuatkan penutup jadi kalau hujan tidak akan rusak tanamannya." Aku menjawab dengan menatapnya juga.


"Aku harap bisa berkenalan dengan ayahmu, Nak."


Kamu sudah mengenalnya, Alvin.


"Anda bisa menemuinya di perkebunan. Tidak jauh dari sini kok," ujarku yang disambut gembira oleh Alvin.


"Berarti ayahmu itu petani?"


"Ya, kira-kira begitu."


"Senangnya memiliki teman sepertimu, Nak. Namun, sayang cucuku itu tidak suka berteman. Aku harap kamu dan Anson dapat berteman akrab."


"Ya, Anson memang sulit di dekati." Tidak sepertimu yang mudah bergaul dengan siapa saja, Alvin.


Alvin terkekeh dengan melipat kedua tangannya lalu menatapku kembali. Sunggingan senyumannya terasa bersahabat.


"Itulah cucuku. Sejak kembarannya koma, ia menjadi anak yang pendiam dan tidak mau berteman. Tapi, aku dengar kamu yang berhasil membuat Anson mengambil keputusan itu."


"Ah, aku hanya bicara dengannya saja." Aku berbohong lagi.

__ADS_1


"Terima kasih sudah mau berteman dengannya walau kamu tahu sendiri anak itu mood-nya mudah berubah," tawanya mengembang.


Beberapa saat kami saling terdiam dan menyaksikan awan yang mulai menghitam.


"Aku pamit dulu. Senang berbicara denganmu, Nak. Nanti aku akan memberitahu Anson agar tidak terlalu keras denganmu."


Alvin berlalu dari hadapanku sebelum hujan mengguyur bumi sore ini. Aku masih dapat melihat Anson menjemput Alvin agar tidak kehujanan.


"Aku tidak menyangka kakek tua itu adalah Alvin. Mereka bertambah tua, kita tidak pernah berubah."


Celetukan dari Lois yang sedari tadi mencuri dengar perbincangan kami menyadarkanku jika roda waktu sudah berputar begitu cepat. Kami dipaksa untuk belajar memahami dunia yang tiap tahun mengalami perkembangan.


*****


"Lean ... tunggu dulu!"


Aku yakin itu suara Ailee. Meskipun, ramai oleh celotehan anak-anak sekolah yang berbaur, aku tahu suara cempreng itu miliknya.


Ailee berlari dengan napas yang tersengal seraya menghampiriku yang berhenti hanya sekedar menunggunya. Ia mengambil napas panjang sebelum bicara. Anak-anak lain memperhatikan tingkahnya, ia tidak ambil pusing.


"Ini gila, Lean."


Aku mengernyitkan dahi, tidak paham arah bicaranya.


"Apanya yang gila?"


"Ini semua karenamu. Pokoknya ini karenamu, deh."


"Bicara itu yang jelas, Ailee. Aku tidak paham," kataku sambil berjalan menuju kelas.


"Apa hubungannya youtube kalian denganku?"


"Aduh Lean ini. Lihat jumlah view-nya, dong. Ini semua berkatmu, Lean."


"Jika bukan karenamu, aku dan Sam tidak akan dijuluki pemburu hantu." Ailee terlihat senang sekali. Akan tetapi, tidak dengan seseorang yang ada di hadapanku sekarang.


"Ikut aku!"


"Sebentar lagi bel berbunyi, Anson."


"Hanya sebentar saja," ajak Anson sambil menyeretku.


Sempat terdengar dengkusan Ailee yang kesal karena belum selesai bicara denganku, Anson sudah terlebih dulu menyeretku untuk mengikutinya.


*****


Anson membawaku ke atap sekolah. Dengan kasar, ia menghempaskan tanganku. Aku merasa ada kemarahan di wajahnya yang tidak kupahami.


"Ada apa kamu membawaku ke sini?"


Tatapan Anson yang menelisik membuatku tidak nyaman. Ia menarik bibirnya ke atas seakan meledek.


"Kemarin aku sempat dengar kamu menyebut nama seseorang. Dari mana kamu tahu nama bibiku?"

__ADS_1


Deg .... seperti ada air dingin yang langsung membasahi seluruh badanku.


"Eh ... itu---" Aku tak mungkin menjawab jujur, bukan?


"Jangan bilang kamu mengenalnya?"


"Apa kamu menyelidiki masa lalu keluargaku melalui Kakek Alvin?"


Aku perlahan mundur ke belakang hingga membentur pintu yang menuju ke bawah karena Anson terus berjalan ke arahku. Kini jarak kami begitu dekat.


"Bibimu sendiri yang memberitahuku semalam," ujarku bohong. Aku tidak dapat mengelak saat kedua matanya beradu pandang denganku.


"Kamu tidak bohong lagi?" tanyanya ketus.


"Tentu saja aku tidak bohong."


"Lebih baik kamu tidak berbohong mengenai dirimu karena aku tidak menyukai gadis pembohong."


Anson berbisik di telinga, dada bidangnya yang menempel ke tubuh ini membuat jantungku berdegup kencang. Kami saling berdekatan bagaikan pelukan. Suaranya mampu membuat aku hanyut dalam perasaan.


"Jangan sekali-kali berbohong padaku, Lean."


Aku membeliak tidak percaya ketika Anson mencium kening lalu mengacak poniku sambil tersenyum.


"Bel sudah berbunyi. Cepat masuk."


Aku masih termangu di tempat bahkan saat Anson sudah pergi dulu, kaki ini sulit digerakkan. Apa yang barusan terjadi? Ia mencium keningku. Kemarin ia dalam keadaan marah, sekarang sebaliknya. Memangnya ada apa dengan Anson?


*****


Ailee menaruh curiga ketika melihatku tersenyum sendiri, ia berulang kali menanyai hal yang tidak penting.


"Apa yang kalian lakukan tadi di atas?"


"Tidak ada hanya berbincang saja," jawabku sambil membereskan meja dan kursi. Hari ini tugasku dan Ailee piket membersihkan kelas.


"Tidak mungkin Anson membawamu ke sana hanya untuk berbincang. Pasti ada sesuatu yang terjadi, bukan? Buktinya setelah kamu turun, senyummu terus mengembang," ungkitnya mencari jawaban.


"Ailee, kami hanya sekedar berbincang, kok."


"Anson tidak menciummu, bukan? Ya, seperti kamu tahu di film-film itu," tuduhnya agar aku segera menjawab.


"Anson tidak menciumku. Sudah puas dengan jawabanku?" sahutku sembari mengusirnya pulang. Lebih baik aku piket sendiri daripada mendengar ocehan Ailee. Jangan sampai ia tahu tentang Anson yang menciumku. Gosip akan tersebar.


Sebelum menutup pintu kelas, aku merasa ada sepasang mata yang terus memperhatikan sejak tadi. Aku tidak tahu siapa yang telah berani memperhatikanku tanpa menunjukkan wujudnya. Makhluk itu memiliki aura yang sama seperti saat aku menemui Serenity di hutan.


\=Bersambung\=


Akhirnya Anson mulai sedikit menyukai Leanne. Buktinya ia mencium keningnya. Perasaan Leanne terbalas, tetapi bisa tidak mereka bersatu selamanya?


Lalu siapa sosok yang memperhatikan Leanne?


Kalau penasaran, simak terus cerita ini.

__ADS_1


Part Selanjutnya " Anson dan Leanne"


Di sini kita mengetahui isi pikiran Anson, ya. Sesekali Anson yang bicara.


__ADS_2