
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Leanne berjalan mengendap di malam hari agar tidak ada yang tahu kepergiannya menemui Serenity. Ia sudah yakin permen yang dibawa Lois sudah dihabiskan oleh teman-temannya dan mereka pasti sudah tertidur nyenyak. Dengan penutup kepala, ia menembus kegelapan di sebuah hutan. Tak jauh dari danau tempatnya berkemah.
Leanne tidak perlu menggunakan penerang karena matanya bisa melihat dalam gelap. Cuaca yang dingin menusuk tak menyurutkan langkah kakinya, berpacu melawan dentingan jam dan sunyinya hutan hanya untuk menemui wanita yang sudah hidup lebih dari ribuan tahun.
"Untuk apa juga, sih, dia menemuiku di tengah malam buta?" Kesalnya terus berjalan sampai tengah hutan.
Penunggu hutan senantiasa mengikuti langkahnya yang kian masuk dan suara gerahaman binatang tidak membuat takut. Leanne menyadari jika kehadirannya membuat beberapa makhluk merasa bingung.
"Akhirnya kau datang juga, Leanne," ujar Serenity yang sudah menunggunya di perapian.
"Memangnya ada apa anda menemuiku? Bukannya lebih enak bicara di rumah?"
Leanne duduk di samping Serenity yang memakai jubah putihnya. Wanita itu seharusnya menjadi ratu salju karena menyukai semua warna putih.
"Di rumahmu banyak yang akan mendengar. Lebih enak di sini."
"Di sini juga sama, Serenity. Apa anda tidak melihat banyak mata yang sedang memperhatikan kita?" Tunjuk Leanne dengan jarinya.
"Mereka itu makhluk lemah dan tidak berdaya. Daerah ini milikku sehingga tak seorangpun yang akan datang. Lagipula aku lebih nyaman bicara berdua saja."
Leanne mengambil ranting dan memainkannya di api unggun. Ia menghangatkan dirinya sebisa mungkin. Udara semakin dingin jika malam menjelang.
"Cepat katakan urusan anda. Aku tidak ingin yang lain tahu jika aku menghilang.
"Tenanglah anak manis. Aku akan menjelaskan padamu satu persatu," sahutnya ketus.
"Aku rasa ayahmu sudah memberitahumu yang sebenarnya, bukan?" Mata biru Serenity menatap wajah Leanne.
Leanne tak menjawab hanya berdehem saja. Percuma baginya untuk buka suara karena wanita itu sudah tahu isi pikirannya.
"Aku sudah menjelajahi waktu selama ribuan tahun. Terkadang ada perasaan bosan dengan segala rutinitas yang kulakukan. Aku mencari pengganti yang benar-benar siap untuk menjaga dunia kita dari apa pun."
__ADS_1
"Kerjaanmu hanya jalan-jalan mengelilingi dunia. Begitu kok dibilang bosan,"
Leanne terkejut karena kepalanya dipukul Serenity,"Aku bisa mendengarmu, Gadis bodoh."
"Seharusnya anda mencari yang lain bukan aku," dengkus Leanne.
"Hanya kau yang memenuhi syarat sebagai penggantiku. Kau memiliki semua yang tidak dimiliki penguasa sebelumnya."
Leanne mencibir dan tidak percaya yang diucapkan Serenity. Ia sadar jika dirinya tidak pandai dalam segala hal. Matematika saja nilainya selalu di angka lima.
"Kau tidak butuh memecahkan soal matematika jika menjadi sepertiku." Serenity membaca pikirannya sekali lagi
Leanne menelan ludah dan tak habis pikir dengan ucapan Serenity.
"Memangnya aku memiliki kemampuan apa? Oh ... maksudku begini. Masih banyak makhluk sepertiku yang memiliki kepandaian."
Leanne terlihat bingung saat Serenity tertawa. Suara tawanya mampu mengusir sekawanan gagak yang sedari tadi memperhatikan.
"Tanpa kau sadari selama ini dirimu memiliki kelebihan yang tidak bisa dimiliki kedua saudaramu atau orang tuamu."
Leanne terhenyak dan berpaling menatap Serenity yang bersiul kecil untuk mengusir kesunyian malam.
"Apa ayah dan ibumu tidak memberitahu?"
"Aku yang meminta pada mereka agar menyembunyikan identitasmu sampai tiba waktunya."
"Jika ayahmu bisa membuat orang mati secara tiba-tiba, kau bisa menghidupkan kembali. Jika adikmu bisa berteleportasi dengan rentang waktu sebentar, kau bisa pergi ke masa lalu dan masa depan sesukamu. Jika ibumu bisa membuat racun mematikan, kau bisa membuat penawarnya dan terakhir mengenai kakakmu yang bisa melihat masa depan, kau bisa melihat masa lalu seseorang dengan kedua matamu," terang Serenity memberitahu secara gamblang.
"Ah, anda bercanda." Leanne tak percaya sama sekali. Mana ada kelebihan seperti itu.
"Aku tidak pernah bercanda dalam urusan serius, Gadis bodoh. Mengapa kau telat sekali dalam berpikir?"
Leanne tersinggung saat Serenity mengatakan dirinya telat dalam berpikir. Sayangnya, itu memang benar.
"Mana buktinya aku memilikinya?"
"Kau saja yang tidak sadar. Salah satu contohnya saat kau membelai burung nuri yang mati lalu kau letakkan burung kecil itu di tanah. Beberapa saat kemudian dia hidup kembali dan terbang."
Leanne ingat hal itu, ketika menemukan burung kecil tergeletak di tanah dan merasa kasihan, ia membelainya juga menyiapkan makam kecil. Namun, saat ia kembali mengambil sekop di bengkel ayahnya, ternyata burung itu sudah tidak ada. Mungkin benar kata Serenity jika dirinya telat berpikir.
"Sudah menyadarinya? Masih banyak contoh lainnya. Mau kuberi tahu lagi?"
__ADS_1
"Tidak usah. Nantinya lama-lama aku juga tahu," kesal Leanne sembari memanyunkan bibir.
"Aku mencari pengganti tidak mudah. Sudah banyak makhluk yang kulihat, tetapi tak ada satu pun yang menarik. Dan---."
Serenity berdiri seraya menepuk bahu Leanne,"Tidak ada makhluk abadi yang memiliki pribadi hangat dan menyenangkan sepertimu. Aku yakin kau mampu memimpin dan menjaga kedamaian dunia dengan hati baikmu yang seluas lautan."
Leanne merasa tersanjung, tetapi bukan berarti dirinya bangga akan hal itu. Sejak dulu, ayah maupun ibunya selalu mengajarkan untuk memperlakukan tiap makhluk dengan baik.
"Mengapa anda begitu yakin aku bisa melakukannya?"
Serenity mengembangkan senyumannya dan menatap Leanne penuh perhatian. Ia tahu gadis muda itu dapat diandalkan karena Leanne tidak sama seperti mahkluk lainnya yang serakah akan kekuasaan. Dunia tidak akan tercipta damai jika penguasa memiliki hati yang buruk.
"Karena aku percaya pada kemampuanmu dan kebaikan yang terpancar di hatimu."
Serenity bersiap untuk pergi karena sebentar lagi matahari akan menampakkan sinar hangatnya. Namun, lengannya dicekal oleh Leanne.
"Tapi---"
"Aku tidak memintamu untuk menggantikanku secepatnya. Kau butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya."
"Leanne, kau tahu, bukan? Jika kita hanya bisa mencintai makhluk yang sama seperti kita. Bukan pada manusia yang hidupnya sudah digariskan."
Leanne melepaskan tangannya dan diam tergugu untuk beberapa saat. Ia tidak menyangka jika Serenity tahu dirinya jatuh hati pada manusia.
"Jika kau ingin menjadi penguasa sejati, kau harus menghilangkan rasa cintamu."
"Bagaimana jika aku tidak bisa melakukannya?" tanya Leanne melihat Serenity dengan perasaan sedih.
"Apa maksudmu?" Serenity membalikkan tubuhnya menghadap belakang. Kini ia bisa melihat jelas sorot mata penuh kesedihan ada pada Leanne.
"Yang kau maksud itu ... cinta?"
Leanne tahu pertanyaan yang diajukan tidak akan dijawab oleh Serenity. Buktinya, wanita itu hanya diam sembari meninggalkan Leanne di hutan yang sunyi.
"Huft ... percuma mengajukan pertanyaan yang sudah tahu jawabannya," ucapnya sambil mengusapkan kedua tangannya di dekat bara api.
Beberapa meter dari tempat Leanne, sepasang mata sedari tadi memandang tajam. Leanne menyadari ada yang mengawasinya ketika ada suara gesekan sepatu menjauh. Ia memiliki kepekaan terhadap suara. Bahkan sekecil apa pun bunyi yang didengarnya.
"Siapa di sana?"
\=Bersambung\=
__ADS_1
***Hayo ... siapa kira-kira yang mengawasi mereka berdua?
Part Selanjutnya "Bersenang-senang***"