Keluarga Amari

Keluarga Amari
Part 25 Bersenang-senang


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya.....


°


°


°


"Ya ampun ... Lean. Bangun jam berapa dirimu?"


Ruth dan Ailee menatap heran karena aku sudah di depan api unggun dengan menyiapkan air panas untuk seduhan susu hangat.


"Aku tidak bisa tidur. Dingin sekali," sahutku bohong sembari merapatkan jaket.


"Kalian mau susu cokelat atau yang putih?" Aku menawarkan pada mereka yang tampak menggigil.


"Cokelat saja." Mereka berdua serempak menjawab lalu duduk di kayu panjang.


"Rasanya tahun ini cuaca tidak bersahabat sama sekali. Dinginnya sampai bisa membuat tulangku sakit semua," keluh Ailee, menghirup aroma susu dan meminumnya secara perlahan.


"Semalam itu tidurku yang paling nyenyak." Ruth merentangkan tangannya dan menengadahkan kepala.


Seharusnya kalian berterima kasih padaku karena permen itu telah menghantarkan tidur yang nyenyak. Namun, ada sedikit merasa bersalah takut mereka menyadarinya.


"Permen itu akan bereaksi di dalam tubuh selang dua jam. Jangan khawatir mereka akan curiga padamu."


Aku tersenyum lega teringat ucapan Lois sebelum ia menyerahkan permen itu.


"Eh ... ada yang tersenyum sendiri, nih. Hayo ... kamu lagi lihat siapa? Anson, ya?" ledek Ailee. Padahal aku tidak melihat Anson yang baru bangun.


Aku menjitak keningnya, ia meringis dan pura-pura mengadu pada Anson dengan manjanya,"Anson, ada yang memukul, nih."


Anson yang cuek tidak menanggapinya, ia hanya meraih gelas susu yang kusodorkan padanya lalu ikut bergabung dengan kami. Sementara itu Sam terlihat asyik membuka camilan dan membagikannya.


"Hari ini kita jalan-jalan ke sana, yuk," ajak Ruth menunjuk hutan yang kulalui malam kemarin.


"Apa kamu tidak takut di sana ada binatang buas?" tanya Sam yang ternyata penakut.


"Iya. Aku tidak mau ke sana," sambung Ailee bergidik.


Ruth menunjukkan ekspresi kesal karena di antara kami tidak ada yang mau. Kecuali Anson yang diam saja.


"Untuk apa jauh-jauh datang ke sini malah hanya menikmati danau yang beku?"

__ADS_1


"Benar kata Ruth. Tujuan kita untuk berlibur. Mengapa kita tidak mencobanya?" Anson mulai angkat bicara, Ruth senang.


"Masuk ke sana? Kalian yakin?" Sam ragu dengan ucapan Anson yang langsung disetujui Ruth.


"Ayolah ... kapan lagi kita bisa berlibur, Sam?"


Akhirnya Ruth membuat semua orang menyetujuinya. Aku enggan untuk melangkah, tetapi Ruth memaksa. Mau tak mau kaki ini pun berjalan menyusuri hutan. Namun, aku sudah memperingatkan mereka untuk tidak masuk terlalu dalam karena kekuasaan Wolfgang ada di sana. Semua setuju kecuali satu orang yang membuatku khawatir. Ruth memiliki rasa ingin tahu besar. Semoga saja ia bisa menepati janjinya.


*****



Benar kata Ailee, cuaca semakin tidak bersahabat saja. Sinar mentari malah tak mampu menghangatkan. Beginilah kehidupan di sini, karena kotaku terletak di lautan atlantik.


"Wah ... indah juga, ya. Apa aku bilang sama kalian? Bagus, bukan pemandangannya?" Ruth antusias sekali, tertawa riang.


Seluruh tumbuhan tertutup salju sehingga di depan hanya ada hamparan warna putih. Aku merapatkan jaket dan menutup kepala dengan topi. Sungguh jika bukan karena desakan Ailee, tak mungkin aku berada di sini.


"Pakai ini. Lama-lama kamu akan menjadi mayat hidup," ujar Anson sambil melilitkan syal ke leherku.


Semua menatap kami curiga dan Ailee menyunggingkan senyumannya. Ia bahkan berdehem sambil bicara sendiri, aku mendengarnya.


"Bilang suka saja repotnya minta ampun."


"Ayo, kita ke sana. Pemandangannya bagus sekali," ajak Ruth menggandeng Sam. Pemuda itu terlalu penurut pada kekasihnya.


"Terima kasih," ucapku menahan dingin sampai bibir ini gemetar.


Kami berjalan agak ke belakang sedangkan yang lainnya memilih mendahului. Aku tertawa saat Sam terjatuh karena tersandung ranting kayu. Bukannya menolong kekasihnya, Ruth malah membuat tubuh pemuda itu penuh dengan salju.


Aku dan Anson terus beriringan mengikuti mereka, entah ke mana tujuan mereka. Tanpa sengaja tanganku menyenggol tangannya, getaran bagai listrik seakan menjalar seketika. Anson mungkin tidak menyadari sentuhan itu atau ia menyadarinya. Ah, entahlah. Aku tidak tahu, mimiknya tetap sama meski sedang bercanda atau serius.


"Aku sudah tidak melihat Autumn lagi. Mungkin dirinya sudah bahagia di atas sambil meminum es jeruk kesukaannya," sahut Anson tiba-tiba. Matanya menyorotkan kesedihan, tetapi ada sebuah keikhlasan di hatinya kini.


"Iya aku rasa begitu." Jika ia menatapku seperti itu rasanya mulut ini tidak bicara.


"Aku senang bisa bertemu denganmu, Lean. Ya, walau kuakui dirimu aneh sekali."


"Memangnya aku seaneh apa?" tanyaku meringis.


Kami berhenti dulu sebelum ia menjawab pertanyaanku, ia membenarkan topiku yang hampir jatuh.


"Ada kalanya kamu bicara sendiri. Apa kamu bisa melihat mereka yang disebut---"

__ADS_1


"Hantu maksudmu?" Anson menggangguk.


"Sedikit kok." Lagi-lagi aku berbohong.


"Autumn juga begitu, tetapi aku tidak percaya."


"Seharusnya kamu mempercayainya karena di bumi ini kita tidak hanya berdampingan dengan manusia, tetapi dengan yang lain juga," jelasku pada Anson yang mulai merespon.


"Apa di hutan ini juga ada?" selidiknya, ia mengedarkan pandangan. "Ah, mana mungkin ada hantu di siang hari," sangkal Anson yakin.


Aku mengambil salju, membuatnya menjadi bola kecil lalu melemparnya pada Anson. Ia tidak marah atau jengkel, malah melakukan hal yang sama terhadapku. Kata siapa mereka yang tak terlihat itu hanya muncul malam hari? Omong kosong itu. Di siang hari mereka berupa bayangan tembus pandang sedangkan malam hari, bayangan mereka semakin nyata.


"Benar tidak ada hantu,'kan?"


"Kalau ada bagaimana?" Aku mencandainya agar ia takut.


Anson menelan ludah dan berjalan terlebih dulu, aku memanyunkan bibir. Bilang saja dirimu takut. Aku berlari kecil menghampiri mereka yang sudah ada di depan.


*****


"Nah ... ini yang mau aku tunjukkan pada kalian? Rumornya rumah di tengah hutan ini bekas pembantaian."


Tentu saja perkataan Ruth membuat siapa saja pasti kesal atau marah. Tak terkecuali diriku. Ternyata Ruth punya maksud lain mengajak kami mengelilingi hutan ini. Ia ingin pergi ke rumah hantu yang terkenal dengan pembunuhan sadisnya.


"Kamu gila, ya, Ruth!" Ailee membentak dan eskspresinya menunjuk rasa tidak suka.


"Pokoknya aku tidak mau masuk. Kalian saja!" Ailee hampir saja melangkah pergi, tetapi Ruth memohon bagai anak kecil.


"Ayolah ... kita cuma masuk ke lantai saja. Tidak sampai ke atas. Aku cuma ingin tahu saja. Iya, ayolah ...."


"Kamu yakin, Ruth?" tanya Anson dengan mimik serius.


"Iya aku yakin ingin masuk ke sana," jawab Ruth seantusias wajahnya yang sumringah.


Aku melihat Sam yang terbengong sejak tadi. Matanya memandang daerah sekeliling. Aku tahu ia menyimpan rasa takut.


"Leanne, mau ikut berpetualang bersama kami?" Ajakan Ruth langsung kusambut dengan senang walau hanya di wajah.


Aku sengaja mengikuti mereka karena kutahu ada sesuatu hal yang akan terjadi. Di luar saja, aku bisa merasakan hawa jahat yang pekat.


"Ubel, datang padaku saat ini." Aku memanggilnya sebelum melangkah masuk.


\=Bersambung\=

__ADS_1


Ayo ... apa yang akan terjadi di rumah hantu itu? Ikuti petualangan mereka di part selanjutnya.


"Petualangan Penuh Kejutan"


__ADS_2