Keluarga Amari

Keluarga Amari
Part 28 Kekuatan Lain 2


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya....


°


°


°


Aku tidak tahu maksud dari rencana Serenity yang mengubahku dari manusia biasa menjadi makhluk seperti sekarang ini dengan segala kekuatan yang ada pada diriku. Aku bahkan tidak membayangkan sama sekali memiliki kekuatan yang mengubah wujud. Demi menolong Anson dan Ruth, penyamaran harus dilakukan untuk mengelabui Tuan Wilhem.


Dari sudut pandang kedua suami istri tersebut, aku hanyalah sebuah angin tanpa bisa dilihat. Mereka berdua membawa Anson dan Ruth ke basement, menidurkan di lantai dan lilin yang mengelilingi. Aku yakin mereka akan melakukan ritual pemindahan tubuh.


"Sebentar lagi kita memiliki tubuh yang baru, Sayang. Kita bisa memiliki anak," ujar Nyonya Wilhem membelai rambut Ruth.


Tuan Wilhem hanya berdehem dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh basement. Dia tidak menyadari ada diriku.


"Ayo, kita mulai ritualnya, jangan sampai tengah malam," sahut Tuan Wilhem yang langsung mendapat respon dari sang istri.


"Lalu tubuh yang lama, akan kita kubur saja," lanjutnya sambil memandang dua tubuh yang sudah tua di ujung sendiri.


"Aku menginginkan tubuh yang muda," timpal Nyonya Wilhem.


Jiwa mereka baru saja meninggalkan tubuh yang mereka pinjam dari sepasang suami istri petani di sebuah desa, tak jauh dari sini. Mereka sudah bosan menggunakan tubuh yang renta sehingga memilih Anson dan Ruth. Namun, selama ada aku, jangan harap kalian bisa mengambilnya.


"Tidak semudah itu, Tuan."


Aku menghentikan percakapan mereka dan kembali pada wujud yang semula.


"Dari mana kau datang?" tanya Nyonya Wilhem tak suka.


"Aku sudah di sini sejak tadi," sahutku perlahan menghampiri mereka.


"Pergilah, Gadis Bodoh! Kami tidak ada urusannya denganmu." Tuan Wilhem terlihat geram.


"Sudah kukatakan jangan memanggilku gadis bodoh. Apa susahnya, sih menyebut namaku?" Aku mendengkus kesal karena memanggilku seperti itu.


"Dan juga mengapa Ubel yang lainnya tidak bisa menangkap kalian? Seharusnya kalian itu sudah dimusnahkan."


Sepasang suami istri itu malah tertawa pongah yang membuat lantai bergetar dan lampu gantung bergoyang karena ulah mereka.


"Ubel mana pun tidak ada yang bisa menangkap kami karena kami sudah membuat batas antara mereka sehingga tidak bisa masuk ke rumah kami. Kecuali----"


Tuan Wilhem tidak melanjutkan perkataannya, dia menatapku dengan seringai-nya dan mendecih.


"Kecuali siapa?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Tanyakan pada dirimu sendiri," ketusnya dengan memandangku.


Aku saja tidak tahu, kok malah dia tanya padaku? Aku hanya menggeleng karena makhluk ini luar biasa.


"Kami sudah tidak punya waktu. Sebentar lagi tengah malam."


Tuan Wilhem akan melancarkan aksinya saat ini juga. Mau tidak mau aku harus menggunakan kekuatan lainnya. Tangan kuayunkan membentuk lingkaran angin lalu mendorongnya ke arah mereka sehingga membuat terjerembab.


"Jangan membuat kami marah, Nona Amari!" Tuan Wilhem membentakku. Dia juga melakukan hal yang sama padaku. Aku terpelanting ke belakang.


"Kalian tidak bisa melakukan itu pada temanku!" Aku berteriak dan berusaha berdiri.


Namun, sang istri melayang ke arahku dan langsung mencekik leherku. Jelas, aku tidak bisa bernapas.


"Lepaskan gadis itu! Aku tidak mau sampai keluarganya datang," kata Tuan Wilhem.


"Tidak bisa. Ia sudah membunuh anakku!" teriak Nyonya Wilhem, cekikan-nya semakin kencang.


Nyonya Wilhem melihatku meronta kesakitan, tetapi dia tertawa lantang.


"Jika kalian sampai melukai anakku, roh kalian akan kami hancurkan."


Itu suara Ayah yang datang, seketika Nyonya Wilhem melepas tangannya, mundur dan bersembunyi di belakang suaminya.


"Dik, kamu tidak apa-apa? Mengapa tidak memanggil kami?"


"Jaga saudara kalian, Nak. Ayah dan ibu yang akan mengurus dua makhluk ini."


"Dua puluh lima tahun lalu, aku sudah memperingatkan kalian. Jangan pernah mengganggu keluarga Amari dan kami memperbolehkan kalian tinggal di hutan ini. Mengapa kalian melanggarnya?"


"Itu karena teman dari anak anda, Tuan Amari," sahut Tuan Wilhem.


Jadi ... mereka takut pada Ayah dan Ibu? Pantas mereka menyuruhku pergi menjauh tadi.


"Jangan pernah melukai manusia yang tidak bersalah, Wilhem. Kami sudah menyediakan tempat ini pada kalian. Namun, kalian malah mengambil alih tubuh manusia. Kalian harus menyadari siapa diri kalian sebenarnya," sambung Ayah berjalan mendekati mereka. Tuan Wilhem diam seribu bahasa.


"Aku yang memaksanya mencari tubuh manusia. Aku bosan menjadi makhluk tak kasat mata yang tidak bisa melakukan apapun," timpal Nyonya Wilhem, suaranya bergetar.


"Mengapa kami tidak bisa seperti kalian?" tanya Nyonya Wilhem lagi. Aku, Zie dan Lois malah melihat mereka yang sedang mengeluarkan uneg-unegnya.


"Apa bedanya kami dengan kalian?" Wanita yang memiliki paras cantik itu meraung pada Ayah. Bibirnya bergetar menahan tangis.


"Kami berbeda denganmu, Nyonya Wilhem." Ibu ikut bersuara.


"Apa bedanya!" Nyonya Wilhem membentak.

__ADS_1


"Kami tidak menyakiti manusia dan mencari masalah," sahut Ayah dengan sabarnya.


"Kami ingin seperti kalian. Memiliki tubuh dan jiwa yang utuh." Kini giliran Tuan Wilhem yang berbicara.


Ayah mengulas senyuman hangatnya, ia mengulurkan tangan pada Tuan Wilhem dan pria tua itu menyambutnya. Aku tahu itu cara Ayah untuk menjawab pertanyaan dari sepasang suami istri tersebut.


"Nah ... apa kalian sudah memahaminya? Apa gunanya memiliki tubuh dan jiwa yang utuh jika makhluk seperti kita tidak bisa merasakan kematian?"


Tuan Wilhem menatap nanar Ayah. Matanya menunjukkan rasa prihatin.


"Kalian bisa terlahir kembali, sedangkan kami?"


Ada nada kesedihan kala Ayah bicara seperti itu. Kami turut merasakannya. Benar kata Ayah, kami memang berbeda dengan mereka. Kami tidak akan bisa merasakan kematian dan lahir kembali.


"Seharusnya kalian sudah terlahir kembali, tetapi kalian malah menghancurkan kesempatan itu," ujar Ibu.


"Apa yang harus kami lakukan?"


Kulihat Nyonya Wilhem memandang Ibu yang berdiri tak jauh darinya. Dengan sifat Ibu yang lemah lembut, ia memeluk Nyonya Wilhem. Begitulah Ayah dan Ibu, mereka jarang sekali memakai kekerasan pada makhluk yang berulah kecuali jika sudah keterlaluan. Keluarga Amari memang bisa menyentuh dan memegang makhluk tak kasat mata layaknya manusia biasa.


"Pulanglah, Shopia. Pulanglah kalian ke tempat yang seharusnya. Mohon ampunan-Nya."


Perlahan tubuh tembus pandang itu berubah menjadi sesosok yang sempurna seperti saat mereka hidup dulu. Tak ada wajah penuh darah atau leher yang patah. Mereka melambaikan tangan, berjalan ke arah Ubel yang menjemput dan menembus dinding.


"Mengatasi mereka tidak perlu kekerasan, Nak. Kau harus bisa mengontrol emosimu," sahut Ayah melihatku yang masih duduk lemas.


Aku hanya menggangguk. Mungkin aku harus belajar mengatur emosi dan meredam marah.


"Ayah dan Ibu akan mengurus temanmu. Sam dan Ailee sudah aman. Mereka sudah ada di rumah," sambung Ayah sambil menyerahkan kunci mobil pada Zie.


"Terima kasih, Yah." Aku langsung memeluk Ayah dari belakang.


"Dasar manja," ledek Lois sebal melihatku bertingkah layaknya anak kecil.


"Itulah keluarga, Nak. Mereka akan saling mencintai dan melindungi satu sama lainnya," jawab Ayah mengacak rambutku.


"Sekarang antarkan adik-adikmu pulang, Zie."


Zie langsung mengiyakan perkataan Ayah. Namun, saat aku membalikkan badan, tanpa sengaja kulihat Anson memandang kami dengan bingung. Ayah menyuruh kami segera pergi dan ia akan mengurusnya. Aku harap Anson tidak melihat semua yang telah terjadi tadi.


\=Bersambung\=


Lean semakin mengetahui kekuatan lain yang ada pada dirinya. Apakah ia dapat menerimanya?


Lalu apa Anson melihat semuanya? Yuk ... baca terus cerita ini.

__ADS_1


Part Selanjutnya "Bertemu Kawan Lama"


__ADS_2