
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Di usia yang menginjak delapan belas tahun, semuanya terhenti. Aku tidak pernah bisa lagi merasakan bertambahnya usia atau menua. Begitu juga dengan keluargaku lainnya. Peristiwa itu terjadi di tahun 1520, lebih tepatnya lima ratus tahun lalu. Kami makhluk abadi yang terus menghuni bumi ini entah sampai kapan. Kami tidak bisa dimusnahkan atau dibunuh. Terkadang aku menertawakan diri sendiri. Jika semua manusia yang ada di bumi ini tidak ada. Mungkin yang tersisa hanya kami berlima saja. Mengenaskan, bukan?
Temanku datang silih berganti. Kalau Zie menjaga jarak dengan siapa saja yang ia temui. Lain dengan Lois yang senang berkawan bahkan dengan binatang sekalipun. Satu-satunya yang Zie mau ajak bicara hanya Cloe. Padahal Cloe usianya sama dengan Lois.
"Aku menyukai Zie. Apa aku boleh berteman dengannya?"
Cloe bertanya padaku suatu hari ketika Zie mengajaknya makan bersama. Ia terlihat bahagia sekali karena Zie mengatakan akan mengajaknya jalan-jalan akhir pekan.
"Ia akan mengajakku ke suatu tempat. Apa aku boleh melakukannya, Lean?"
Cloe gadis yang manis, cara berpakaiannya memang terlihat kuno dan tidak modis. Ia senang memakai gaun selutut dengan motif bunga. Penampilannya yang membuat Zie menyukai Cloe.
"Boleh, ya, Lean?" Ia meminta ijin padaku, bukannya pada Lois yang sekelas dengannya.
"Untuk apa meminta ijin padaku? Silakan saja kalau kamu mau berkencan dengan Zie," sahutku sambil menertawainya karena ia tersipu malu.
Namun, ada hal yang berubah sejak kencan mereka. Andai saja aku mengetahuinya lebih awal mungkin tidak akan ada peristiwa mengerikan itu. Tanpa sengaja Zie mengajak Cloe ke wahana rumah hantu, awalnya memang tidak terjadi apapun. Akan tetapi, selang beberapa hari ada sesosok pemuda yang mengikutinya terus.
"Cloe, apa kamu memiliki saudara lelaki yang baru-baru ini meninggal?"
Cloe menggeleng dan menjawab tidak ada saudara atau kerabatnya yang meninggal.
"Memangnya ada apa, Lean?"
Aku tidak mungkin menjawab jujur karena pemuda yang memiliki perawakan khas orang asia itu, selalu mengawasinya dari jauh. Sesekali berada di samping Cloe ketika ia berjalan sendiri.
"Apa akhir-akhir kamu tidak merasa ada yang mengikutimu?" tanyaku sepelan mungkin.
Cloe menggeleng dan memajukan bibirnya karena kesal atas pertanyaanku.
"Memangnya ada apa, sih, Lean?" dengkusnya melipat kedua tangan sambil mencondongkan tubuhnya ke arahku.
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya khawatir saja."
"Jangan khawatirkan aku. Ada Zie yang akan menjagaku," katanya sambil melirik Zie yang sudah tiba di kantin.
Aku tahu memang ada Zie yang akan melindunginya jika di sekolah. Namun, bagaimana jika di rumah atau di tempat lain? Itu yang aku takutkan. Dan hal yang menakutkan terjadi padanya malam itu.
*****
Dua jam setelah Zie mengantarkan Cloe pulang, aku mendapat pesan dari Cloe yang mengatakan jika Zie akan mengajaknya bertemu di gedung sekolah untuk memberi kejutan. Kakakku itu bukanlah tipe orang yang suka memberi kejutan pada seseorang atau keluarganya.
Malam yang tidak pernah dilupakan oleh kami saat aku dan Zie melihat Cloe ditawan oleh pemuda yang mengikutinya terus. Pemuda asia itu menyukai Cloe dan akan membawa rohnya ke alam lain.
"Zie, tolong aku!" Cloe merintih ketika kedua tangannya terikat di kursi.
"Lepaskan dia, Makhluk jelek!" Aku berteriak, tetapi teriakanku di aula sekolah tidak didengar olehnya.
"Aku memiliki nama, Nona Manis. Panggil aku, Romi."
__ADS_1
Cloe terlihat bingung dengan situasi ini. Ia tidak melihat Romi, yang dilihatnya hanya ada aku, Zie dan dirinya.
"Kamu bicara dengan siapa, Lean?" Cloe menyapu ruangan dan tidak melihat sesosok yang berada di sampingnya.
Cloe telah ditipu oleh Romi yang sengaja mengirim pesan menyuruhnya datang ke aula. Saat sudah berada di aula, Cloe tidak tahu jika sudah ada Romi yang siap mengambil jiwanya. Untung aku memiliki perasaan yang tidak nyaman siang itu.
"Ternyata gadis ini perlu dibuka matanya untuk melihat ketampananku," ledek Romi yang siap membuka mata batin Cloe.
"Jika kau melukainya, akan kupastikan rohmu akan hancur!" Ancam Zie dengan nada marah.
"Kalian bicara dengan siapa? Siapa yang ada di sini?" Cloe mulai menangis.
"Jangan sentuh temanku, Romi!" Aku berlari ke arahnya, tetapi tubuhku terhempas.
"Siapa Romi? Mengapa kalian bertingkah aneh?" Teriak Cloe histeris.
Zie mengambil alih pertarungan ini, sementara aku berusaha membebaskan Cloe. Ikatannya begitu kencang hingga tanpa sadar aku menggunakan kekuatan.
Cloe tidak memahami situasi yang sedang terjadi, ia melihat Zie bertarung sendiri di aula dengan tangan kosong.
"Apa yang Zie lakukan? Dan apa yang ada di tanganmu?"
Tanganku bercahaya di lampu yang redup, ia terlihat bingung dan ketakutan. Tanganku memang akan mengeluarkan cahaya putih jika sedang menggunakan kekuatannya.
"Siapa kalian, Lean?"
"Mungkin akan seru jika ia melihatku juga."
Romi berhasil menyeret tubuh Cloe ke arahnya, membuka mata batin dan tertawa puas setelah mencium bibirnya.
Sekarang bukan hanya Cloe, tetapi Alvin juga ada di sini dan menyaksikan sesuatu yang tidak perlu mereka lihat dan ketahui.
"Wah ada manusia yang akan menyerahkan nyawanya hari ini," tawa Romi membahana.
Aku dan Zie kewalahan menghadapi Romi yang terus berusaha merebut Cloe dari tangan Zie. Cloe menjerit tiada henti saat ia melihat wujud asli Romi yang penuh luka di wajahnya.
"Alvin, cepat bawa adikmu pergi dari sini!" Zie menggendong Cloe lalu membawanya pada Alvin.
"Sebenarnya ada apa? Siapa orang itu? Mengapa kalian bertarung dengannya?"
Pertanyaan beruntun dari Alvin tidak disambut baik olehku. Aku menyuruh mereka segera pergi. Namun, ia malah menaruh tubuh lemas Cloe di pojokan. Ia tidak tahu jika makhluk yang disebutnya manusia itu adalah sesosok yang mengerikan jika dilihat dari dekat.
"Aku akan membantumu, Zie."
Aku berusaha mencegah Alvin agar tidak mendekat saat Zie bertarung dengan Romi. Begitu ia mendekat, langkahnya terhenti dan terdiam.
"Jadi ... kau ingin membunuhku, Anak Muda? Kau kira bisa membunuh makhluk yang sudah mati!"
Alvin pucat pasi ketika bertatap muka dengan Romi. Ia tidak berkedip dan menahan rasa takutnya.
"Jangan sakiti dia, Romi!" Aku berusaha mendekat dan menggunakan kekuatanku untuk menyingkirkannya. Aku berhasil walau sebentar saja.
Alvin terduduk lemas, ia memperhatikan Romi dengan wajah ketakutan.
"Si--ap--a ka--lian?"
__ADS_1
Alvin mundur, langsung berlari ke arah Cloe dan memeluk sang adik erat. Ia menepis tanganku saat aku berada di dekatnya.
"Makhluk apa kalian itu?" tanyanya menatapku penuh curiga.
"Aku akan memberitahumu nanti. Sekarang keluarlah dari sini," pintaku membuka pintu agar mereka keluar.
"Aku tidak ingin memiliki teman yang aneh seperti kalian," ujarnya seraya menggendong Cloe keluar.
Hatiku sakit saat mendengar Alvin berkata seperti itu. Akan tetapi apa dayaku karena itulah kenyataan sebenarnya. Keluargaku memang aneh.
"Kalian pikir mudah keluar dari sini!"
Romi menutup pintunya dengan sekali hempasan, kulihat Zie sudah lelah dan tersungkur.
"Tidak ada yang bisa membawa gadis itu pergi."
Dengan tangannya, Romi hendak mengambil Cloe. Aku menarik kaki Romi agar melepaskan Cloe.
"Cepat bawa pergi Cloe, Alvin!" Aku menjerit sekuat tenaga.
Namun, usahaku gagal. Romi berhasil mengejar Alvin dan melempar Alvin dari ketinggian. Ia menjerit kesakitan saat kaki kanannya terbentur kursi yang terbuat dari batu.
"Alvin ....!
Aku menangis saat ada banyak darah di kakinya. Ia diam tidak bergerak.
"Sekarang giliran kami yang akan menghancurkanmu, Romi!"
Ayah datang bersama Ubel menyelamatkan kami. Hanya di tangan mereka, makhluk itu berhasil dikalahkan dan dihancurkan. Aku melihat Zie memeluk Cloe yang pingsan.
"Maafkan kami, Nak. Ayah dan Ubel harus melakukan ini pada kedua temanmu. Jika mereka sadar, Ayah tidak yakin jika mereka masih memiliki pemikiran yang normal."
"Tapi Ayah---"
Zie berusaha mencegah Ayah untuk menghapus semua ingatan peristiwa ini untuk selamanya.
"Maaf Zie. Separuh jiwa Cloe sudah diambil Romi untuk memulihkan kekuatannya, gadis ini tidak bisa hidup lebih lama. Apa kau tidak kasihan dengannya jika ia ingat peristiwa ini, Nak?"
"Ayah tidak bisa sepenuhnya memulihkan keadaan Alvin seperti semula. Maafkan Ayah dan Ubel yang akan melakukan ini pada mereka."
Dan dini hari itu, kami melihat Ayah dan Ubel menghilangkan semua ingatan Alvin dan Cloe tentang kami. Mereka tidak akan pernah lagi mengenalku atau Zie.
Entah bagaimana caranya, Ubel menyamarkan tempat kejadian di aula menjadi sebuah kecelakaan. Ubel menjadikan bangunan aula itu runtuh dan seakan-akan menimpa Alvin.
"Ini yang terbaik buat kita semuanya," ujar Ibu memelukku usai menyelesaikan masalah tadi.
Di tahun 1950-an adalah masa terberat bagi aku dan Zie. Kami kehilangan cinta pertama. Sejak saat itu Zie menutup diri terhadap gadis mana pun yang ingin berdekatan dengannya. Keesokan harinya terdengar berita di radio yang mengabarkan peristiwa runtuhnya gedung aula.
"Malam tadi dikabarkan adanya gedung aula sekolah roboh karena pondasi yang tidak kuat. Pihak sekolah negeri belum bisa memberi keterangan dan sementara itu ada beberapa murid yang mengalami luka serius selagi mereka latihan di aula. Sampai saat ini belum ada penjelasan dari pihak rumah sakit mengenai keadaan korban."
\=Bersambung\=
Itulah mengapa Zie begitu diam, cuek dan dingin. Ia tidak ingin mengalami kejadian serupa seperti dulu.
Part selanjutnya "Maafkan aku."
Berikan like-nya kalian untuk mendukung cerita ini. Terima kasih
__ADS_1