
Mohon saran dan kritiknya...
.
°
°
°
Mata dan pikiranku tidak fokus saat Mr. Watson menerangkan pelajarannya, aku masih penasaran pria bertudung itu. Mungkin saja pria tersebut jugalah yang sering mengawasiku.
"Kamu memikirkan apa, sih, Lean?" Ailee menyikut lenganku sembari berbisik.
"Heh?" Aku menoleh padanya,"Ada apa?" tanyaku saat Ailee menatapku curiga.
"Kamu lagi mikir apa?" tanyanya lagi.
"Tidak ada," jawabku singkat.
"Kupikir kamu lihat hantu di sekolah ini," sahutnya seraya memperhatikan Mr. Watson lagi.
Sejak memiliki konten video bersama Sam, nama mereka menjadi terkenal di sekolah. Siapa yang tidak kenal dengan 'The SixSense'? Ada saja tingkah mereka yang membuat ketakutan para pengikutnya walau terkesan konyol. Seperti kemarin malam, mereka malah memanggil penunggu gedung kantor yang lama tidak terpakai dan menyebabkan hantu di sana keluar semua. Lagi-lagi, aku yang harus membantu mengusir mereka.
"Aku mau ke toilet dulu. Biar tidak mengantuk," potongku cepat agar ia tidak mengoceh terus.
Setelah meminta ijin pada Mr. Watson, aku bisa bernapas lega. Di dalam kelas penuh sesak dengan mereka yang ikut belajar. Rasanya di sana seperti sekerumunan murid yang haus akan ilmu.
"Kamu sudah melihatnya, 'kan?" Ubel telah berjalan di sampingku kini.
"Lihat apa?" tanyaku ketus dan bersuara pelan.
"Orang yang mengawasimu."
Aku berhenti dan menghadap padanya,"Kau sudah tahu, Tuan Issac?"
"Tumben kamu memanggil namaku. Biasanya dirimu selalu menyebutku Ubel atau makhluk jelek."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Tuan Issac."
"Iya tentu saja aku tahu. Bukankah aku tahu segalanya?" Ia berkata sombong, tetapi kenyataannya memang ia mengetahui semuanya.
"Sombongku," desisku seraya beranjak menuju toilet.
"Apa dia tidak menyakitimu, Leanne?"
Ubel Issac menungguku di luar. Namun, suaranya yang khas masih bisa kudengar di dalam.
"Selama ini dia hanya mengawasiku saja," sahutku dari bilik toilet. Untung suasana di sini sepi, jika ada yang mendengar aku bicara sendiri. Bisa gawat seantero sekolah.
"Memangnya dia siapa, sih? Apa aku mengenalnya?" tanyaku seraya membilas tangan.
Ubel Issac menyembulkan kepalanya ke pintu dengan tangan bersidekap lalu menggangguk.
"Belum saat aku memberimu, Leanne. Namun, ketika kalian bertatap muka. Berusahalah jangan terkejut."
__ADS_1
"Apa yang dia inginkan dariku?"
Sehabis dari kamar mandi, Issac masih mengikutiku hingga ke kelas. Ia tidak mau memberitahunya. Jengkel rasanya saat ia berlalu begitu saja.
*****
"Kelihatannya kamu ada masalah, Leanne?"
Hari ini tidak ada pelajaran dari Mrs. Sherly, guru berlesung pipit dan bermata sipit itu sedang sakit sehingga kami menghabiskan waktu santai sampai jam pulang. Aku dan Anson sedang menikmati hangatnya sinar mentari yang tak bisa kami nikmati sepanjang waktu. Tempat favorit kami ada di atap sekolah.
"Tidak ada, kok. Hanya capek saja seharian membantu Ayah mengurus kebun."
Kemarin setelah memancing, kami kedatangan tamu dari luar kota. Mereka memesan berbagai rangkaian bunga untuk dijadikan hiasan pesta pernikahan.
"Besok sore ada acara?" Anson bertanya sesuatu yang membuatku tak paham. Ia mengatakan itu sambil tiduran dengan menutup mata.
"Maksudmu?"
Ia membuka mata dan menghela napas panjang,"Masa kamu tidak paham?"
Jika pria muda mengajak seorang gadis ke suatu tempat berarti itu ajakan kencan. Tapi aku tidak yakin kalau Anson akan mengajakku. Pasti ada hal lain.
"Leanne, aku mau mengajakmu menonton. Jadi apa besok kamu ada waktu?"
Kukira telinga ini salah dengar. Namun, dilihat dari tatapannya, aku tahu ia tidak bohong.
"Kalau kamu ada---."
"Aku tidak ada acara besok." Aku menjawab dengan cepat.
"Besok sore tunggu aku di depan rumahmu. Nanti sepulang sekolah, kuminta ijin pada ibu atau ayahmu," jawabnya datar kemudian merebahkan tubuhnya lagi.
*****
"Pakai yang ini saja. Ibu tidak suka kamu pakai gaun yang lehernya rendah," gusar Ibu melihat anak gadisnya yang akan kencan. Ibu langsung menjahitkan pakaianku, tidak butuh lama karena itu ahlinya. Pakaian yang kami kenakan semua dari hasil jahitannya.
"Leanne yang pergi, Ibu yang ribut," celetuk Lois di ambang pintu dengan cokelat di tangannya.
"Diam saja, Lois. Ini urusan wanita. Pergi saja," usir Ibu sambil mengibaskan tangannya. Lois mendecih lalu pergi.
Kulihat Ibu sibuk memilihkan pakaian di lemari, menerawang lalu mengembalikan lagi. Jika sudah begini, aku harus turun tangan.
"Yang ini saja, ya, Bu?" Aku memperlihatkan sackdress selutut yang simpel.
Ibu melihat sejenak dan menggangguk,"Baiklah. Ini sudah bagus."
Memilih pakaian saja membutuhkan setengah jam, bagaimana jika aku menikah? Namun, dipikir lagi secara nyata, aku tidak akan bisa menikah dengan siapapun.
"Bu, mengapa Ibu mengijinkan Anson untuk mengajakku pergi nonton?"
Ibu menengadahkan kepalanya menatapku, pakaianku yang berserakan di kasur sudah dirapikan dan menghampiriku di meja rias.
"Ayah dan Ibu tidak bisa memaksa kalian untuk selalu berdiam diri terus di rumah. Ada kalanya kalian harus mengenal dan mengetahui rasa cinta antar pasangan walau---." Ada jeda saat Ibu mengutarakan isi hatinya.
"Walau kita tidak bisa bersatu selamanya," timpalku dengan senyuman kepedihan.
__ADS_1
"Selama kamu bisa mencintainya, cintailah dengan sepenuh hatimu dan buatlah kenangan seindah mungkin. Kelak kamu tidak akan bisa bertemu lagi dengannya," ucap Ibu membelai rambutku yang terurai.
Aku memeluk pinggul Ibu erat. Ibu membalasnya dengan mengecup keningku. Aku tahu ini keputusan berat yang harus dipikirkan Ibu atau Ayah. Biarlah kami mengenal cinta walau pada akhirnya tidak bisa bersama.
"Pergilah, Nak. Bersenang-senanglah dan nikmati waktumu," sahut Ibu mengurai pelukannya. Kulihat Ibu menitikkan air mata.
Dari lantai bawah, Lois memanggilku dengan teriakannya. Anak itu sejak dulu selalu begitu. Ia tidak pernah mau memelankan suaranya. Di ruang tamu sudah ada Ayah yang bercengkerama dengan Anson, Lois yang asyik menonton dan Zie yang gemar membongkar peralatan lalu memasangkannya kembali.
"Kami pergi dulu, Tuan," pamit Anson sopan pada kedua orangtuaku.
"Ingat pulang jangan melebihi jam sebelas malam," celetuk Lois yang ingin aku timpuk.
Anson melihat ke Ayah yang tampak canggung. Ayah lalu membalas dengan leluconnya,"Yang penting tidak sampai besok."
"Aku akan mengantarkannya pulang sebelum itu, Tuan."
Akhirnya aku dan Anson meninggalkan rumah untuk menonton. Sekitar lima belas tahun lalu, aku pernah ke bioskop seorang diri. Namun, ini beda rasanya saat kau diajak kencan bersama orang yang kau sukai.
*****
"Cantik," kata Anson di dalam mobil.
"Apanya yang cantik?" Aku malah bertanya karena gugupnya.
"Pakaian yang kamu kenakan itu cocok denganmu."
"Terima kasih." Aku menjawab dengan malu.
Seperti biasanya, Anson tidak banyak bicara jika sedang menyetir. Ia tidak mau konsentrasinya terganggu jika ada yang bicara terlalu banyak. Untung cuaca hari ini cerah, biasanya tiap sore akan turun hujan.
Ruby? Tanpa sadar aku melihatnya di jok belakang mobil. Untuk apa dia mengikutiku? Saat aku melihatnya dari kaca spion, dia malah tersenyum nakal.
"Tenanglah aku tidak akan mengganggu kencan kalian."
"Aku disuruh Isaac dan Serenity untuk menjagamu."
Ruby paham yang kupikirkan tentangnya. Dia menjawab tanpa kusuruh. Sebenarnya untuk apa dua makhluk aneh itu memintanya menjagaku?
"Jangan padaku, Leanne. Tanyalah pada si makhluk jelek bertudung itu atau pada wanita ranting."
Ruby tetap mengikuti kami hingga sampai di gedung yang dulunya merupakan tempat teater terkenal. Kelihatannya memang sudah tua, tetapi mereka memiliki film yang bagus dan terbaru.
"Ayo, masuk. Kok malah bengong di sini?" Anson menegurku saat berada di depan pintu. Ia seperti tak sabar.
"Kamu mau popcorn rasa apa, Lean?" Ia bertanya saat kami sudah ada di dalam.
"Rasa keju saja," sahutku dengan mata yang memandang ke sekeliling.
"Sebentar lagi filmnya akan mulai. Aku sudah beli tiketnya."
Anson menggandeng tanganku dan meremas jemari, ia menyunggingkan senyuman manisnya.
"Tidak usah takut. Ada aku di sini."
\=Bersambung\=
__ADS_1
Apa yang ditakutkan Leanne? Ada apa di sana?
Jawabannya ada di Part "Tamu Tak Diundang"