
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Úinéir saoil , cabhraigh linn an doras seo a oscailt.
[ Hai pemilik kehidupan, bantu kami membuka pintu ini ]
Mengucap mantra tidak boleh sembarangan dan asal ucap karena satu kata saja salah maka tidak akan membuahkan hasil. Perlahan, pintu besi itu terbuka dengan mudahnya. Ternyata aku pintar juga.
"Bagaimana bisa kamu membukanya, Lean?" Ailee keheranan sambil mengusap gagang pintu.
"Entahlah ... pintu ini terbuka begitu saja saat kucoba-coba," kataku bohong.
"Kamu tidak menggunakan semacam sihir, bukan?"
"Tentu saja tidak," elakku agar tidak ketahuan.
Mata Sam berbinar ceria, mengusap buliran kristal beningnya dengan kasar dan memelukku.
"Aku tidak peduli kamu menggunakan sihir atau apa pun, yang penting kita keluar dari sini."
Kami tidak menyangka sama sekali jika rumah ini memiliki lantai atas yang begitu panjang di mana terhubung antara rumah satu dengan rumah yang ada di belakangnya.
Namun, yang menjadi pertanyaanku yang membingungkan. Siapa yang membawa kami ke sini? Aku sangsi jika Tuan Wilhem yang menggendong tubuh kami. Bukankah dia adalah makhluk tak kasat mata? Dia tidak mungkin melakukannya.
"Lean, kamu dengar suara orang yang berbicara di sana?" tanya Ailee menunjuk satu ruangan di ujung.
"Aku harap mereka itu manusia. Bukan hantu atau sejenisnya," timpal Sam.
Jika itu manusia, aku tidak akan memanggil Ubel. Aku tangani sendiri. Namun, makhluk ini bebal sekali. Mereka mencari tubuh baru untuk bisa ditinggali.
"Argh ...."
Aku yang berada di depan, langsung menoleh ke belakang saat Ailee dan Sam berteriak.
"Han--tu, han--tu ..."
Aku melihat sesosok yang kukenal. Dia memegang kedua pundak mereka dan menyunggingkan senyuman.
"Jangan takut, Ailee ... Sam. Dia tidak akan menyerang kalian."
"Iya kami tahu, tetapi kami takut, Lean," ujar Ailee bergetar.
"Ruby, tidak bisakah dirimu menampilkan wujud yang indah. Jika wajahmu seperti itu tentu saja, mereka takut."
"Hem ... baiklah."
Seketika gadis blonde berpakaian hitam itu menampilkan wujud yang tidak menyeramkan. Wajahnya terkena hantaman palu, dia tewas di tangan kekasihnya.
"Sekarang lihatlah dia, Sam ... Ailee. Dia tidak akan menyakiti kalian malah akan menolong kita."
__ADS_1
Sam dan Ailee yang menutup matanya, menoleh ke belakang dan tersenyum kecut. Mereka langsung lari ke arahku.
"Apa kamu bisa melihat mereka, Lean?" tanya Ailee bingung.
Aku menggangguk. Ruby adalah temanku selama ini. Dia tidak pernah mengganggu siapa pun. Hobinya itu jalan-jalan.
"Ruby itu temanku," sahutku, Sam dan Ailee memegang kedua tanganku saat Ruby melayang mendekat kami.
"Aku tidak akan mengganggu kalian. Tenang saja."
Mereka berdua menggangguk pelan dengan rasa takut yang masih ada di wajah mereka.
"Kau ke mana saja selama ini, Ruby? Sudah dua tahun aku tidak melihatmu."
Kami beriringan menuju ruangan yang ada di ujung. Ruby berada di depan untuk menunjukkan tempat.
"Aku keliling dunia, Lean."
"Apa hantu bisa keliling dunia?" tanya Sam dan Ailee serempak.
Ruby menoleh dan tersenyum genit pada Sam.
"Mereka akan masuk ke tubuh orang lain sementara waktu dan saat sampai, mereka akan keluar. Begitu seterusnya," jelasku geleng-geleng kepala mendengar Ruby yang selama ini menghilang.
"Benar juga, sih. Mana bisa hantu memiliki password dan visa?" Dengan konyolnya, Sam masih bisa bercanda. Tentu saja kami tertawa.
"Diam dulu. Lean, kamu tidak dengar suara itu?"
Ketika kami sampai depan pintu yang tertutup, terdengar sebuah perdebatan yang mengusik telinga. Salah satunya ada nama keluargaku.
[ "Aku tidak mau berurusan dengan keluarga Amari itu. Mereka tidak dapat disentuh dan dilindungi oleh penguasa alam."]
Dari balik pintu kayu yang tebal, aku melihat Tuan dan Nyonya Wilhem berdebat, sementara itu sang anak mengawasi Anson dan Ruth yang tertidur di kasur. Lama-lama kekuatanku begitu terasa nyata. Dulu aku tidak bisa menembus benda untuk melihat, tetapi sekarang berbeda.
[ "Kita bisa mengambil tubuh orang lain, Sayang8. Bukan mereka." ]
[ "Aku tidak peduli! Salahkan gadis itu yang sudah berani masuk ke rumah kita. Itu sama saja dia mengantarkan nyawanya sendiri."]
"Apa yang kamu dengar, Lean?" tanya Ailee dengan berbisik.
Sam maupun Ailee tidak bisa mendengar perdebatan sepasang suami istri tersebut.
"Anson dan Ruth ada di dalam. Kita harus segera menolong mereka. Kalau tidak, tubuh mereka akan diambil alih," kataku sepelan mungkin.
"Cepat tolong mereka, Lean!" Sam memohon padaku, suaranya keras membuat Tuan Wilhem mengetahui keberadaan kami.
Dalam situasi genting seperti ini, aku tidak mungkin melibatkan Ailee dan Sam. Aku takut mereka akan dicelakai.
"Ruby, bawalah temanku keluar. Aku tak ingin mereka celaka."
"Bagaimana dengan dirimu?" Sam terlihat cemas.
"Kami tidak mungkin keluar tanpa kamu, Lean," sambung Ailee yang mulai berani.
"Jangan khawatirkan Lean. Ia bisa menjaga dirinya."
Aku menggangguk menanggapi perkataan Ruby. Setelah aku desak, akhirnya mereka keluar dengan perlindungan dari Ruby.
__ADS_1
"Hebat juga dirimu bisa bebas di tempat itu, Nona Amari?" Tuan Wilhem seakan mengejekku ketika kami saling bertatap muka.
"Tidak ada yang tidak mungkin selama kita bisa melakukannya, Tuan Wilhem," sindirku.
"Tapi sayangnya, pelindungmu tidak ada di sini. Memangnya gadis bodoh sepertimu bisa apa?" Ejeknya lagi disertai tawa sang istri.
Enak sekali mulut kotornya mengatakan aku gadis bodoh. Asal tahu saja, dalam situasi sempit, aku bisa melakukan yang mustahil sekali pun.
"Aku tidak butuh dia. Yang aku butuhkan adalah kekuatanku sendiri."
"Sombong sekali dirimu," timpal Nyonya Wilhem yang berada di belakang suaminya.
Mengapa memangnya kalau aku sombong? Memang ada buktinya kok.
"Buktikan jika gadis bodoh sepertimu mampu mengalahkan kami," sahut Tuan Wilhem dengan angkuhnya. Padahal dirinya sudah jadi arwah penasaran.
Aku memulainya dengan bacaan mantra yang pernah Zie ajarkan ketika kami berhadapan dengan makhluk yang tidak bisa menerima kematiannya, dia menjadi brutal dan membunuh semua manusia yang ditemuinya.
Namun, sayangnya mantraku hanya bisa membuat sang anak kesakitan lalu menjadi debu. Aku bingung apa yang salah dengan mantra ini?
"Berani sekali gadis bodoh ini mencelakai anakku!" Teriakan Nyonya Wilhem yang marah bergema.
"Gadis bodoh, kau tidak akan bisa mengalahkan kami!" Tuan Wilhem menyeringai dan memandang rendah kekuatanku.
"Aku bukan gadis bodoh!" Aku berteriak karena tidak suka jika aku dikatakan bodoh.
Tuan Wilhem tertawa keras sedangkan sang istri hanya bisa menangis melihat anaknya menjadi debu. Matanya penuh amarah saat menatapku.
"Aku akan membalas perbuatanmu pada mereka!" Nyonya Wilhem menunjuk Anson dan Ruth yang masih terbaring.
Seketika pintu yang terhubung antara aku dan mereka, tertutup rapat. Aku tidak bisa membukanya walau sudah kubacakan mantra. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Yakinlah pada dirimu sendiri, Lean. Hanya kau yang mampu menolong mereka?"
"Tapi bagaimana caranya?" Ubel tidak memberi solusi apa pun, dia hanya melihatku saja.
"Kau memiliki kekuatan yang tidak bisa dimiliki makhluk seperti kami. Di keluargamu, hanya dirimu yang memilikinya."
Di saat seperti ini, Ubel malah mengajakku main tebakan. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang.
"Berpikirlah sekarang. Apa susahnya untuk berpikir?" Seharusnya aku yang mendengkus kesal, bukan dirinya.
"Iya, ini aku sedang berpikir, Ubel!"
Kekuatan apa yang kupunya, tetapi keluargaku tidak memilikinya? Aku bagai orang bodoh yang berjalan hilir mudik sambil mengingat. Sesekali aku menjitak kepala sendiri agar folder otak ini terbuka.
"Sudah menemukan caranya?"
Ubel tahu jika aku sudah menemukan caranya. Dia beranjak dari tempatnya berdiri hendak pergi.
"Aku akan menolong kedua temanmu yang ada di luar itu. Ruby selalu mencari masalah."
Kekuatan yang tidak bisa dimiliki yang lain adalah aku mampu mengubah wujud menjadi apa saja dengan sebuah mantra tentunya. Dulu sekali aku pernah melakukannya ketika bermain bersama Lois. Namun, ketahuan oleh Ayah dan Ibu. Sejak itu mereka melarangku menggunakan kekuatan itu lagi. Akan tetapi perlu diingat, kekuatan ini hanya bisa dipakai selama beberapa menit saja.
\=Bersambung\=
Leanne akan berubah wujud menjadi apa?
__ADS_1
Apakah mampu Leanne menolong kawan-kawannya?
Temukan jawabannya di part yang akan datang "Kekuatan Lain 2"