
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Seharusnya ini menjadi kencan pertama dan tak terlupakan bagiku, tetapi kenyataannya tidak seindah yang kubayangkan. Anson terus menggenggam tanganku meski kami sedang duduk menonton. Bukan mereka yang tidak tampak yang kutakutkan melainkan sesosok pria yang terus mengikuti ke mana saja aku pergi. Para arwah penasaran terasa enggan keluar dari persembunyian, mereka bersembunyi di balik dinding atau di lukisan. Sebenarnya siapa pria tersebut? Jika dilihat selintas, perawakannya dan tingginya seperti Ayah. Aku yakin sosok itu tidak muda lagi.
"Aku tidak bisa ke sana. Ia bisa melihatku juga, Lean."
Ternyata sosok itu juga bisa melihat Ruby dan itu semakin membuatku penasaran. Sepanjang film diputar aku tidak bisa menikmati. Sepasang mata milik sosok itu terus memandangiku di ujung dekat layar tersebut.
"Aku lihat kamu tidak menikmati filmnya. Apa jelek, ya?"
Aku menggeleng,"Tidak kok. Hanya saja hantunya seram."
"Kamu ini lucu, Lean. Sering lihat mereka, tapi lihat film hantu jadi takut." Kekeh Anson yang masih menggemgam jemariku menuju lobi.
"Tunggu aku di sini. Aku mau ambil mobil dulu."
Sabtu malam memang harinya anak-anak remaja atau dewasa untuk bersenang-senang setelah lima hari disibukkan oleh aktifitas. Aku dan Ruby--tentunya menunggu Anson di lobi.
"Dia ada di sebelah kananmu. Berdiri di samping pemuda berambut hitam."
Ruby berbisik memberitahuku dengan berhati-hati. Aku mengikuti petunjuknya dan melihat pria yang mengikuti kami. Namun, kali ini dia benar-benar menunjukkan siapa dirinya. Pria tersebut membuka tudungnya, menyeringai dan berkedip. Aku tak mampu berkata saat dia menyapa dengan senyuman sinis.
"Senang berjumpa denganmu lagi."
*****
"Lain kali kita nonton film yang lain, ya. Kurasa kamu tidak menyukai film tadi," ujar Anson saat mobilnya berhenti di depan pagar rumahku.
"Maafkan aku karena aku tidak bisa menikmati film tadi," sahutku merasa sedih.
Anson mengacak rambutku dan mengulas senyuman hangatnya. Ia pasti kecewa, tetapi tidak ditunjukkan padaku. Aku tahu dari membaca pikirannya. Aku berjanji lain kali hal ini tidak terjadi lagi.
"Tidak apa-apa, Lean. Anggap saja ini kencan yang gagal. Bukankah masih ada hari lainnya?"
"Apa kamu mau menyapa Ayah dulu? Ia ada di depan teras."
Ayah sedang menanti kedatanganku. Ia akan selalu cemas jika anak-anaknya pulang malam dan menegur kalau telat. Namun, tidak marah hanya menasehati.
Anson turun dan menyapa Ayah. Anson sama dengan Alvin yang cocok jika bicara dengan Ayah. Mereka berdua akan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bicara yang tidak penting. Kutinggalkan mereka dan masuk ke dalam rumah.
"Wah ... yang baru pulang kencan. Bahagia sekali, nih." Lois menggodaku saat aku duduk di sebelah Ibu.
"Jangan ganggu kakakmu, Lois."
"Aku 'kan ingin tahu, Bu."
"Apa ada yang perlu kamu ceritakan, Dik? Kulihat kamu ada yang ingin diceritakan."
Zie selalu tahu apa yang ada di pikiranku. Haruskah aku menceritakan pengalaman tadi? Bagaimana reaksi mereka? Sungguh aku bingung sekali.
"Bu,..." Aku memanggil Ibu yang sedang merajut.
Ibu menghentikan kegiatannya lalu menatapku dengan cinta. Sesibuk apa pun, Ibu atau Ayah selalu menyempatkan waktunya untuk kami.
"Iya, Sayang. Ada apa?"
Aku harus memilah kata agar mereka tidak terkejut. Bagaimana pun ini juga menyangkut keluargaku.
__ADS_1
"Bu, bagai---"
Ucapanku terpotong kala suara Ayah muncul dari balik pintu. Senyuman Ayah yang senang membuatku urung untuk bercerita. Hanya sementara saja kutunda.
"Besok kita diundang ke rumahnya Anson. Alvin berulang tahun esok."
Lois menepuk tangannya, tanda ia senang akan mendapatkan yang diinginkan. Zie hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Apa kita perlu kado, Greg?"
"Buatlah syal saja untuknya seperti yang kau pernah buatkan dulu, Gle," ujar Ayah mengedipkan matanya padaku.
Ibu langsung mengambil bola wol hijau dan perlahan mulai merajutnya. Ibu ahlinya dalam membuat pakaian dan hanya membutuhkan waktu setengah jam saja.
"Aku akan istirahat, Bu." Aku pamit pada Ibu yang fokus merajut.
Lois sudah beranjak terlebih dulu. Bocah itu sehabis makan cokelat kesayangannya akan pergi tidur tanpa menggosok gigi terlebih dulu dan Ibu akan berteriak sampai ia melakukan perintahnya.
"Lean, apa yang ingin kamu bicarakan pada kami tadi?"
"Sudah lupa, Bu." Aku sengaja tidak mengatakan dengan jujur. Nanti saja pasti aku cerita.
******
"Kau sudah tahu pria itu, bukan?"
Dengan santainya Ubel Issac duduk di meja belajar sambil mengangkat ke dua kakinya. Di tempat tidurku ada Ruby yang rebahan. Dua makhluk ini seenaknya menempati kamarku.
"Sebenarnya anda sudah tahu tentang pria tua itu, kan?"
Aku bertanya seraya meletakkan tas dan duduk selonjor di lantai berkarpet. Kukira hantu tidak butuh istirahat, nyatanya si Ruby tengah asyik berada di kasur. Aku menghela napas panjang melihat kelakuan Ruby.
"Apa kau tidak memberitahu keluargamu mengenai kedatangannya?" Ubel Issac tetap santai di sana sambil memainkan lampu belajarku.
"Entahlah. Aku tidak tahu harus memulai dari mana menceritakannya."
"Untuk apa dia mengawasiku? Bukankah lebih baik dia langsung menemui Ayah?"
"Yang dia incar itu kamu, Lean. Kalau dia tidak dapat menemuimu secara langsung maka kemungkinan besar---."
Aku memandangnya penuh tanda tanya atas ucapannya,"Maksud anda?"
"Dia akan mengincar orang terdekatmu, Lean."
Ya, Tuhan mengapa hidupku tidak pernah nyaman? Selalu saja ada masalah. Sebenarnya untuk apa juga dia datang? Mengapa tidak dari dulu saja? Ah, entahlah kupikirkan saja nanti. Mata ini ingin memejam sebentar saja.
"Dasar Lean. Bukannya mencari jalan keluar malah tidur."
Masih bisa kudengar omelan Ubel Issac meski samar. Dia menyelimutiku lalu mengajak Ruby pergi agar aku bisa tidur.
*****
Aku berjalan lesu menuju meja makan. Untung ini hari libur jadi Ibu tidak memaksa kami untuk mandi dulu. Tubuhku rasanya capek karena semalam tertidur di lantai beralas karpet. Apa susahnya, sih menggendongku ke tempat tidur? Dasar makhluk tak berperasaan.
"Mengapa gadis nakal itu datang lagi?" tanya Lois yang habis meneguk segelas susu.
"Siapa?" Aku menguap dulu,"Oh maksudmu Ruby?"
"Iya aku lihat dia ada di kamarmu tadi malam," ujarnya memakan roti sandwich.
"Dia sudah datang menolongku sewaktu di rumah hantu."
Tenggorokan terasa lega, segelas susu dingin langsung tandas. Aku tidak suka susu hangat di pagi hari.
__ADS_1
"Gadis centil yang menyukai Lois itu, ya," ungkit Ayah sembari menggoda Lois.
"Dia bukan manusia. Dia itu hantu, Yah," gerutu Lois yang tidak disukai masa lalunya diungkit.
Sebenarnya Ruby itu sering menggoda Lois walau adik kecilku itu tidak bisa melihat Ruby dengan jelas, hanya samar-samar. Namun, hal itu sangat mengganggunya. Ruby tergila-gila pada bocah gendut yang sering makan itu. Akhirnya, Lois memintaku agar mengusir gadis centil tersebut. Tidak berhasil sepenuhnya, sih. Buktinya dia kadang mengganggu Lois.
"Apa dia masih mengganggumu, Ndut?"
"Jangan memanggilku seperti itu, Lean!"
Lois akan marah jika aku menyebutnya 'Ndut', ia tidak suka dengan panggilan itu.
"Apa yang kalian bicarakan dengan Issac kemarin?" Zie ikut nimbrung bertanya.
"Tidak ada. Hanya sekedar obrolan biasa," sahutku santai.
Ayah melirikku sekilas, ia tahu aku berbohong dengan helaan napas yang kudengar di samping. Ayah akan berdiam diri dulu lalu mengajak kami bicara beberapa hari kemudian. Kalau Ibu langsung menyuruh kami untuk menceritakannya.
"Jangan lupa siang ini, Greg," kata Ibu memberitahu Ayah yang hendak ke kebun setelah sarapan.
Aku jadi merasa bersalah pada Ayah. Seharusnya aku cerita peristiwa yang kualami beberapa minggu ini.
"Bu, nanti malam aku mau bercerita tentang sesuatu pada kalian."
Mau tak mau, aku harus menceritakannya agar mereka dapat mencari jalan keluarnya.
*****
"Wah ini syal yang sangat bagus untuk ayahku, Gle."
Nyonya Narve begitu senang ketika melihat syal buatan Ibu. Warnanya senada dengan pakaian yang dikenakan Alvin malam ini. Alvin mengucapkan rasa terima kasih dengan memeluk Ibu.
"Kurasa pernah lihat syal yang mirip dengan ayah sewaktu aku kecil," timpal Nyonya Narve mengingat sesuatu.
"Benarkah?" kata Ibu dengan raut dibuat terkejut.
Aku hanya bisa membisu. Syal ini adalah buatan Ibu yang kedua untuk Alvin. Dulu sewaktu Alvin berulang tahun, aku meminta pada Ibu untuk membuatkan pakaian, tetapi karena kekurangan bahan jadi ia membuatkan sebuah syal hijau untuknya.
"Mana ada syal yang mirip dengan buatan Nyonya Amari, Bu. Ibu ini ada-ada saja," kata Anson tak percaya.
"Ada, Nak. Ibu sangat yakin syal ini mirip sekali dengan milik kakekmu," sanggahnya meyakinkan.
"Ayah merasa tidak mirip, Aylee. Mungkin kau pernah melihat di suatu tempat," ujar Alvin menengahi.
"Tapi aku yakin, Yah," kilah Nyonya Narve dengan yakin.
"Apa kalian akan terus memperdebatkan hal seperti itu? Lihatlah tamu kita sampai kau tidak menyuruh mereka duduk."
Tuan Narve merasa tidak enak melihat kami yang berdiri dan menyaksikan perdebatan mengenai syal. Ayah hanya menanggapi dengan senyuman dan mengatakan tidak apa-apa.
"Sudah kukatakan pada Ibu. Jangan memilih warna hijau. Lihatlah sekarang kita hampir ketahuan," bisik Lois pelan sembari melangkah ke meja makan.
Aku tak menyangka jika Alvin masih menyimpan syal itu dan sang anak menyakini jika syal buatan Ibu sama dengan milik Alvin dulu. Bodohnya aku ini, seharusnya bukan warna hijau yang dijadikan rajutan.
\=Bersambung\=
Apakah Alvin akan menyadarinya jika Leanne adalah cinta di masa remajanya?
Yuk ... baca terus cerita dan temukan jawabannya.
Part selanjutnya "Biarkan Aku Bahagia"
Maaf nih baru bisa update. Saya tidak bisa ke warnet karena pandemi virus. Ini aja pinjam wifi tetangga.
__ADS_1
Apa kabar kalian di sana? Apa baik-baik saja?
Semoga kita dalam lindungan-Nya, ya.