Keluarga Amari

Keluarga Amari
Part 29 Bertemu Kawan Lama


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya...


°


°


°


Ailee dan Sam masih tidak percaya dengan peristiwa kemarin. Mereka bahkan tidak mau dihilangkan ingatannya saat Ayah membujuk. Menurut mereka, biar menjadi hal yang indah untuk dikenang. Pemikiran yang aneh.


"Bagaimana nasib Ruth dan Anson? Apa mereka masih takut?"


Ailee dan Sam berkunjung ke rumah menanyai keadaan teman yang lain. Ruth tidak ingat sama sekali akan peristiwa yang menimpanya. Menurut Ruth, ia seperti dicekik oleh seseorang lalu tidak sadar. Setelah itu, ia tidak tahu lagi. Itu bukan ulah Ayah yang menghilangkan ingatannya, tetapi karena syok dan trauma.


"Ruth tidak ingat sama sekali peristiwa kemarin. Ia malah melantur yang tidak jelas," sahutku menyerahkan camilan buatan Ibu. Sam langsung mengambilnya dengan wajah sumringah.


"Melantur bagaimana?" tanya Ailee menatapku lekat.


"Ruth mengatakan kalau ia tersesat di rumah hantu lalu jatuh dari tangga. Ia berpikir pingsannya itu disebabkan karena terbentur," ungkapku memberitahu.


"Mungkin hal yang sama terjadi pada Anson, ya," ungkit Ailee sembari memakan kacang goreng.


Aku menjelaskan pada mereka jika hal yang berbeda terjadi pada Anson. Ia mengingat semua dari awal peristiwa tersebut. Aku tidak tahu mengapa Ayah tidak bisa menghilangkan ingatannya. Aku akan mencari tahu nanti.


"Bagaimana keadaan Anson sekarang?" Sam yang mulutnya penuh kacang menyempatkan bertanya.


Aku hanya bisa mengangkat bahu karena sejak dua hari paska peristiwa itu, Anson tidak menampakkan batang hidungnya. Saat kutanya pada ayahnya, sang ayah mengatakan jika ia demam. Mungkin aku akan berkunjung sore ini.


"Kamu tahu, Lean? Sejak aku dan Ailee mengalami peristiwa itu, kami mulai bisa melihat hal-hal yang tidak kasat mata. Ya, walau tidak jelas, sih," kata Sam yang mendapat anggukan Ailee.


"Apa mau aku hilangkan penglihatan kalian?" tanyaku.


Mereka memandangku, terdiam lalu dengan santainya malah memakan puding buatan Ibu.


"Jadi ... kalian tidak mau?"


Ailee dan Sam menggangguk sambil menikmati puding cokelat dengan nikmatnya.


"Apa kalian yakin?" tanyaku bingung. Di saat yang lain ingin menghilangkan kemampuan tersebut, mereka malah tidak mau.


"Ini keren sekali, Lean. Kami malah mengucap terima kasih karena berkatmu, channel youtube kami bertambah view-nya."

__ADS_1


Ah ... dasar dua youtuber yang asalnya hanya memposting makanan kini malah berganti menjadi pemburu rumah hantu. Mereka tidak mau dihilangkan penglihatannya sejak pertama kali melihat Ruby.


"Oh, ya, Lean. Temanmu itu di mana sekarang?"


"Teman siapa maksudmu, Ailee?"


"Ya, teman tak kasat matamu itu. Memangnya siapa lagi?" sahut Sam yang sudah menghabis dua puding.


"Entahlah. Dia suka muncul seenaknya. Kadang beberapa tahun kemudian baru menemuiku. Gadis itu suka berkeliling dunia."


Ruby selalu datang dan pergi dengan seenaknya, dia hanya mengganggap aku hanya tempat singgah sementara. Namun, dia teman yang baik dan tidak pernah mengganggu siapa pun.


"Dik, ibu menyuruh kedua temanmu untuk makan siang di bawah."


Zie yang datang ke kamarku ditatap begitu dalam oleh Ailee. Ailee memang menyukai Zie saat melihat kakakku itu berkelahi di tengah lapangan. Entahlah apa yang membuat gadis itu menyukai Zie. Padahal tahu sendiri jika kakakku itu super cuek, dingin dan pendiam.


"Oke Zie. Kami akan segera turun," jawabku agar Zie segera pergi. Mata Ailee hampir tidak berkedip kala Zie menatapnya.


"Kakakmu sangat tampan, Lean. Ya, ampun andai ia menjadi pacarku."


Sam menggelengkan kepalanya dan melengos pergi untuk turun. Hobinya sama dengan Lois. Makanan itu nomer satu.


Saat aku menutup tirai jendela, terlihat Anson sedang memandang kamarku. Kamarku berada di lantai atas, begitu juga dengan kamarnya.  Mata kami saling beradu, ia tidak menyapa atau melambai tangan. Ia langsung menutup tirai kamarnya.


"Apa kamu marah denganku, Anson?" Aku bertanya dalam hati sebelum menutup tirai.


*****


Sejenak aku ragu untuk melanjutkan langkah menuju rumah Anson. Jika bukan desakan Zie untuk aku mencari sesuatu yang membuatnya tidak bisa dihilangkan ingatannya, mungkin aku tidak akan berada di sini sekarang.


Dua kali jariku terasa kaku untuk memencet bel. Aku takut kedatanganku malah membuatnya semakin menghindar.


"Mengapa kamu tidak masuk, Anak Manis?"


Itu suara milik Alvin berada di belakangku. Rasanya seluruh tubuhku gemetar hebat, tetapi aku paksakan untuk menyapanya. Tidak mungkin selamanya aku menghindar.


"Hai Kek." Terasa aneh ketika aku memanggilnya 'Kakek'.


"Kamu mencari Anson? Anak itu sedang sakit sejak pulang dari kemah. Yuk ... aku antar ke kamarnya."


Alvin menggandengku masuk. Sentuhan kulitnya membuat kembali terkenang masa-masa itu. Aku tidak dapat menolaknya saat jemari keriput itu menyentuh pergelangan tangan ini. Ia tersenyum hangat dan mengantarkanku ke kamar Anson.

__ADS_1


"Nah ... ini kamarnya. Ketuk saja pintunya, cucuku itu pemuda yang sensitif jika sakit." Kekehnya dengan senang.


Lesung pipinya saat tertawa masih sama seperti dulu walau usianya tidak lagi sama sepertiku. Ia berjalan tertatih menggunakan tongkatnya meninggalkanku di depan pintu kamar Anson. Tanpa sadar aku meneteskan air mata. Kaki kanannya yang pincang disebabkan peristiwa dulu. Rasa bersalah kian menangkup di hati.


"Apa kamu selalu menangis diam-diam?"


Aku tidak menyadari Anson sudah di samping dan menatapku penuh keheranan. Segera kuhapus dan tersenyum masam.


"Untuk apa datang menemuiku?"


Baru beberapa hari lalu, ia bersikap ramah padaku. Kini kembali menjadi Anson yang pertama kali kutemui. Ada apa dengannya?


"Memangnya tidak boleh mengunjungi teman yang sakit?"


Anson tidak mempersilakan aku masuk ke kamarnya jadi kami hanya berdiri di ambang pintu. Ia memandangku dari atas lalu ke bawah. Aku merasa risih ketika ia melakukannya.


"Ada apa? Apa ada yang salah denganku?"


"Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu dan keluargamu yang super aneh. Apa semua keluargamu bisa melihat atau berbicara pada makhluk tak kasat mata?"


Aku terhenyak mendengarnya. Tak menyangka sama sekali Anson akan berucap seperti itu. Tatapannya menyiratkan rasa ketidaknyamanan kala berdekatan denganku.


"Apa itu mengganggumu?" tanyaku dengan perasaan sedih.


"Aku kira selama ini hanya dirimu yang memiliki kemampuan itu, nyatanya keluargamu sama anehnya denganmu."


"Kami tidak aneh, Anson. Kami hanya memiliki kemampuan yang tak biasa. Tolong jangan sebut kami aneh." Suaraku mulai bergetar.


"Pergilah! Aku tidak mau melihatmu atau keluargamu yang aneh itu lagi." Ia mengusirku dengan kasar.


Sebelum ia menutup pintu kamarnya, aku memegang tangannya agar mau mendengar penjelasanku. Namun, saat kami bersentuhan. Sepintas lalu, aku melihat rentetan peristiwa yang akan datang dan sesosok gadis hadir di penglihatanku.


"Cloe ...."


Anson menepis tanganku lalu masuk ke kamarnya. Ia menutup pintunya dengan kasar. Aku masih diam terpaku menyaksikan peristiwa yang kulihat. Ternyata Ayah tidak bisa menghilangkan ingatannya karena ada Cloe yang mencegahnya. Namun, untuk apa Cloe baru datang? Apa karena Alvin ada di sini?


\=Bersambung\=


Cloe adalah adik dari Alvin. Ia juga cinta pertama Zie. Mengapa Cloe baru datang sekarang? Apa tujuannya?


Temukan jawabannya di part "Kembali Mengenang"

__ADS_1


__ADS_2