
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Pikiran Leanne masih diselimuti tentang peristiwa yang dilihatnya tadi di rumah sakit. Ia tak habis pikir karena kemampuannya semakin bertambah. Melihat masa depan adalah hal yang ditakuti. Baginya melihat semacam itu menakutkan sekali.
"Zie, apa aku boleh masuk?"
Ditatapnya Zie yang tengah asyik mengerjakan tugas di laptopnya. Ia menoleh dan menghentikan pekerjaannya agar Leanne bisa masuk.
"Masuklah. Ada apa, Dik?"
Leanne menutup pintu dan duduk di lantai bersebelahan dengan Zie yang bersidekap. Zie tahu pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya.
"Zie,..." Leanne memanggilnya pelan.
"Iya ada apa? Apa kau ingin membicarakan sesuatu tanpa diketahui ayah dan ibu?"
Leanne menggangguk dan menghela napas panjang. Ia tidak melihat Zie yang sedang memandangnya. Matanya memandang lurus ke jendela.
"Ceritakan saja jika kau sudah siap," ujar Zie membuka kembali laptopnya, tetapi sentuhan tangan Leanne membuatnya terhenti.
"Ada apa, Dik?" tanya Zie tegas.
"Zie, aku melihat masa depan tadi. Aku tidak tahu ini ada hubungannya dengan Anson atau tidak."
"Maksudmu? Coba kau ceritakan saja."
Leanne menceritakan semua peristiwa yang ia alami di rumah sakit. Kecelakaan, pencarian tentang dirinya dan Cloe yang muncul secara tiba-tiba. Leanne sudah tidak tahu harus mengatakan pada siapa selain Zie yang bisa ia percaya.
"Apa selama ini kamu merasa ada sesuatu atau seseorang yang mengawasimu, Dik?"
Sejenak Leanne teringat peristiwa yang dialami sewaktu bertemu Serenity atau saat sendiri. Ada sepasang mata yang selalu mengawasinya, tetapi sesosok itu tidak pernah menampakkan diri.
"Kukira sudah beberapa kali ada yang mengawasi seperti mengintip."
Zie memegang telapak tangan Leanne, memijitnya perlahan hingga Leanne mengadu saat pijatannya semakin keras.
"Zie, sakit. Apa, sih yang kamu lakukan?"
"Melihat masa depanmu, Dik," jawabnya setenang air yang menghanyutkan.
Zie melepas telapak tangannya dan mengambil kalung di laci lalu menyerahkan benda itu pada Leanne.
"Ini apa?"
"Benda itu dapat membantumu melihat sesuatu yang tak bisa kamu lihat melalui mata batin."
__ADS_1
"Tunggu ... aku belum paham." Leanne tampak berkedip tidak paham.
"Selama ini dirimu hanya bisa melihat mereka yang tak tampak saja, bukan? Tapi saat kamu memakai benda ini, kamu dapat melihat lainnya."
"Maksudmu ... aku bisa melihat makhluk lainnya? Sejenis makhluk yang sama seperti kita?"
Zie menggangguk. Selama ini penglihatan Leanne hanya sebatas melihat sesuatu yang tak kasat mata. Ia tidak pernah bisa membedakan manusia biasa atau manusia abadi. Mana yang jahat dan makhluk mana yang baik.
"Suatu hari nanti ada seseorang yang akan mempersulit kita dan kamu harus waspada."
Leanne memandang kakaknya sembari memakai kalungnya. Ia tampak kesulitan hingga Zie membantu.
"Pada siapa kita harus waspada?" Tiba-tiba saja Lois sudah berada di hadapan mereka dengan santainya.
"Kamu pasti melakukan teleportasi lagi, bukan?" Zie mendengkus kesal sedangkan Lois hanya cengir sambil makan keripik.
"Lois, bisa tidak, sih kamu ketuk pintu!" Leanne menjewer telinga Lois karena kesal.
"Aduh Leanne! Sakit sekali!" Teriak Lois mengusap telinganya.
"Awas kalau kamu cerita pada ayah atau ibu!" Leanne memperingati sang adik yang hendak mengadu.
"Iya, aku tidak mengadu. Tòlong lepaskan dulu jeweranmu, Leanne," tangis Lois yang hampir menetes.
Zie menghela napas panjang. Sejak dulu hingga sekarang mereka bagaikan dua sisi yang bertolak belakang dan tiap hari selalu diwarnai pertengkaran. Dulu masih ada Lyn yang akan mendamaikan. Kini sang ibu yang harus melerainya.
Zie mengembangkan senyum tipisnya tatkala mengenang saudari kembarnya yang sudah lama meninggal. Ia sangat merindukan Lyn.
"Tidak ada, Bu." Mereka menjawab serempak layaknya murid.
Nyonya Gle merasa ada sesuatu yang dirahasiakan darinya. Ia tahu hanya melihat kilasan kejadian beberapa saat lalu. Namun, ia menyadari jika anak-anaknya sudah dewasa dalam mengambil keputusan.
"Kalian ditunggu ayah untuk memancing. Bukankah ada yang meminta ikan kemarin?" Nyonya Gle melirik Lois yang sedang beradu mulut dengan Leanne.
Leanne dan Lois sadar akan tatapan tajam sang ibu dan berhenti agar siang ini tidak ada nasehat panjang seperti rel kereta api. Mereka berdiri, berlalu pergi dari kamar Zie dengan tetap melanjutkan adu mulut sampai turun.
"Kamu tidak ikut, Nak?"
"Aku di sini saja, Bu."
Nyonya Gle paham dan menutup pintu kamar sang anak. Sejak dulu, anak itu tidak pernah suka jika diajak bepergian. Ia lebih memilih belajar daripada menghabiskan waktu di luar.
*****
Rasa bosan hinggap di pikiran Leanne. Ia tidak suka dengan kegiatan yang dilakukan sang ayah atau adiknya. Ayah dan anak lelakinya itu memiliki hobi yang sama yaitu memancing. Jika cuaca sedang bagus maka hasil pancingannya akan dibagikan para tetangga.
"Kamu mau ke mana, Nak?" Tuan Greg tahu Leanne sedang mengendap pergi dengan diam-diam. Pendengaran sang ayah memang tajam luar biasa.
"Aku mau jalan-jalan sekitar sini, Yah."
"Hati-hati, Nak. Setengah jam lagi, kembalilah. Kita akan pulang," teriak Tuan Greg melihat anaknya sudah berlalu.
__ADS_1
Tepat di belakang sungai ada hutan buatan yang memang dirancang untuk taman bermain. Hari ini tidak banyak pengunjung, mungkin keadaan cuaca yang tak menentu membuat mereka lebih nyaman di rumah.
"Anson!" Leanne menjerit kecil saat pundaknya ditepuk.
Anson terkekeh melihat ekspresi Leanne yang kesal karena ulahnya. Namun, lelaki itu senang sudah menggodanya.
"Datang ke sini untuk cari inspirasi tugas, ya?" Anson meledeknya sambil beriringan jalan.
"Sudah selesai, kok," jawab Leanne dengan senang.
"Cepat sekali? Padahal tugas itu susah."
Bagi Leanne tugas apa pun tidak susah karena semua tugas sekolah tersebut sudah pernah ia kerjakan beberapa tahun, tinggal menyalin saja. Seperti tugas yang diberikan Mr. Walley di mana muridnya harus meneliti semua tentang alam.
"Aku dibantu Zie," jawab Leanne cepat agar tidak ketahuan bohongnya.
"Eh ... di mana kalung yang aku berikan?" Anson memegang bahu Leanne dengan kedua tangannya, ia melihat kalung yang ada di leher Leanne bukan pemberiannya.
"Aku simpan. Sayang kalau dipakai terus. Itu akan menjadi kenangan terindah untukku suatu saat nanti," ujar Leanne pelan yang menyerupai bisikan. Namun, Anson mendengarnya.
"Maksudmu?"
"Pokoknya kamu tidak boleh tahu." Leanne melempar senyuman nakalnya dan berlari menuju air pancur.
Bagi Anson, perkataan Leanne mengandung makna tertentu. Ia menyangka jika gadis itu mungkin akan pindah sekolah atau ada sesuatu yang disembunyikan.
"Ah ... tidak mungkin Leanne akan pindah sekolah." Anson membatin sambil menggelengkan kepalanya.
Sejak mengenal gadis itu lebih dalam, Anson merasa nyaman berada di dekatnya, bicara atau sekedar mengerjakan tugas bersama. Ia tidak mau kehilangan gadis aneh itu yang sudah membuat hatinya berdebar ketika berdekatan.
"Mengapa aku tidak mengenalnya lebih awal?"
Anson menyunggingkan senyumannya saat melihat Leanne bersama anak kecil yang sedang berebut memainkan air pancur yang tiap detik berubah warna.
*****
Anson berpamitan terlebih dulu untuk mengerjakan tugas yang sempat tertunda. Ia meninggalkan Leanne bersama anak kecil tadi dan sebelum menjauh dari pandangannya, ia melihat kembali wajah gembira Leanne. Ada perasaan berdesir melihat wajah gadis tersebut.
"Akhirnya kita berjumpa lagi, Nona."
Leanne terkejut, ia menoleh langsung ke belakang mencari sumber suara dan mendapati salah satu pengunjung yang aneh. Di seluruh tubuhnya muncul sebuah sinar hijau, mengenakan tudung di kepala dan menatap dirinya dalam.
Leanne berlari menghampirinya, tetapi pria itu menghilang di kerumunan pengunjung. Ia yakin sekali jika pria itu sama dengan dirinya. Menurut Zie, makhluk seperti mereka bisa dibedakan dengan cara melihat sinar di tubuhnya. Jika putih itu artinya manusia biasa. Merah menandakan makhluk seperti ubel dan hijau menandakan adanya makhluk abadi.
"Aku akan menemukanmu."
Leanne bergumam sambil melangkah pulang, Zie sudah memanggil dengan pluitnya yang hanya bisa didengar oleh Leanne.
\=Bersambung\=
Siapa pria bertudung itu? Apa dia musuh atau teman masa lalu keluarga Amari?
__ADS_1
Temukan jawabannya di part "Dia Datang"