
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Di sela liburan ini tidak ada hal yang kukerjakan selain membantu Ibu atau Ayah. Lois dan Zie sedang berpetualang menjelajahi pegunungan Carrauntoohil.
"Bantu ayahmu di kebun bunganya, Leanne. Beberapa pekerja tidak masuk kerja." Ibu memberi perintah yang tidak boleh kubantah.
Kutelusuri bebatuan kerikil menuju kebun bunga yang ada di belakang rumah. Ayah dan Ibu mengembangkan kebun bunga dan bibitnya yang akan dijadikan parfum. Selain itu ada ladang gandum juga jagung. Hasil panen akan dijual di pusat kota. Aku memaklumi jika beberapa pekerja tidak masuk kerja karena cuaca terkadang tidak mendukung.
"Masih marah dengan ayah?" tanya Ayah saat melihatku hanya diam.
Alu menggeleng sambil memetik bunga mawar yang dipesan sepasang pengantin untuk sore ini. Harumnya seketika menyejukkan hati.
"Ayah tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu, Nak. Kau hanya perlu jaga jarak saja dengan Anson."
"Iya aku paham, Yah. Jangan mengkhawatirkan aku," jawabku memberi senyuman manis.
"Ayah tidak melihat keluarga Anson beberapa hari ini. Keadaan rumah mereka sepi."
"Mereka sedang berlibur ke Inggris," sahutku santai.
Ayah menyentil dahiku karena melamun untuk beberapa saat. Meskipun, ayah tidak pernah marah. Ia selalu menjadi penengah bagi kami jika ada pertengkaran. Jika ada yang tidak disukainya, ia akan memberi alasan yang logis. Itulah yang dilakukannya sekarang. Membatasi pertemananku dengan Anson.
"Nikmati cuaca hari ini. Kau bisa berjalan mengelilingi bebukitan di sana," tunjuk Ayah. Kurasa Ayah tahu jika aku mulai merasa bosan.
Anjuran Ayah ada manfaatnya bagiku. Menikmati cuaca mendung sambil menelusuri bebukitan membuat segar pikiran. Kami jarang sekali menginjakkan kaki di sini, mengingat kondisi iklim di Irlandia yang curah hujannya lebih mendominasi. Ketika musim hujan tiba, bebukitan ini dipenuhi lumpur.
"Sudah merasa lebih tenang?"
Sekilas saja aku tahu yang muncul secara tiba-tiba dengan senyuman nakalnya. Terkadang dirinya terlalu banyak tahu atau memang ingin tahu tentang keadaanku.
"Bukannya anda bisa melihat sendiri keadaanku," celetukku sebal bercampur marah.
Ubel berdiri di sisi kanan sambil bersidekap, turut memandang bebukitan di depan mata. Aku memiliki pemikiran sendiri, entah yang dipikirkan makhluk jelek ini. Aku bukan Zie yang pintar membaca pikiran.
"Kau menyukai pemuda tampan itu?"
__ADS_1
Pertanyaan bodoh yang enggan kujawab. Dia mendesak bagai anak kecil yang harus diberi jawaban. Semakin lama kukenal dirinya, aku merasa sering diikuti.
"Anda seperti penyelidik saja," sahutku ketus sambil duduk dan merentangkan kedua tangan menghirup udara segar.
"Mungkin salah satunya itu tugasku." Kekehnya sambil bercanda.
Aku mendengkus kesal setengah mati. Mengapa dia tidak pergi saja? Menghilang mungkin.
"Ucapan Zie ada benarnya. Kau dan Anson saling terhubung. Tali yang terhubung itu ada kaitannya dengan masa lalu yang kau miliki dengan Alvin. Ada baiknya Cloe mengetahui rahasiamu. Coba kau bayangkan saja, bagaimana jadinya jika Alvin yang sudah tua menemukan kekasihnya masih awet muda?"
"Aku minta maaf jika peristiwa yang lalu membuatmu bersedih seperti sekarang. Mungkin ini ada baiknya, Leanne. Kau dan keluarga Narve tidak bisa bersatu selamanya," lanjutnya seraya memberi nasehat.
"Iya aku jika kita tidak bisa saling mencintai. Tetapi, biarkan aku tetap menjadi temannya. Ya, mungkin untuk beberapa tahun saja lalu sama seperti yang dulu, aku akan pergi dari kehidupannya."
"Apa kau yakin?"
Aku menoleh padanya dan mengangguk pelan. Aku akan memastikan tidak ada rasa suka di hati ini dan tetap berteman dengannya.
"Kalau kau tidak yakin. Beritahu aku saja. Biar nanti...."
"Biar apa?" Aku memotong perkataannya yang mengambang.
Ubel berdiri terlebih dulu lalu mengibaskan jubahnya yang terkena tanah. Kukira dia akan langsung pergi begitu saja, nyatanya malah mengajakku berjalan menuju bebukitan.
"Ikut aku!" Perintahnya bak raja.
"Kita mau ke mana?" Tidak sempat bertanya lagi, Ubel menarik tanganku agar mengikutinya.
"Kau akan tahu nanti. Ikuti saja aku, jangan cerewet."
"Aish ..." Aku memajukan bibir dan berusaha mensejajarkan langkah kaki dengannya.
Aku tidak tahu ke mana Ubel membawaku. Hingga akhirnya kami sampai di tempat paling ujung yang terdapat lautan membentang luas.
"Untuk apa anda membawaku ke sini? Ayah pasti marah kalau aku berada di sini," kataku berusaha melepas tangannya.
"Tenanglah aku tidak akan menenggelamkanmu, kok."
"Iya aku tahu anda tidak akan melakukannya karena percuma saja," desisku kesal.
"Kau lihat gadis muda di atas bukit itu?"
__ADS_1
Sejak kapan ada gadis muda di sana? Sepengetahuanku tidak ada sesosok siapapun saat beberapa hari lalu aku dan Zie ke sini.
"Namanya Corliss. Sebelumnya dia adalah manusia biasa yang jatuh cinta pada pria klan Wolfgang. Suatu hari Corliss mengetahui jika orang yang dia cintai bukan manusia biasa. Ubel lainnya berusaha mencegah kisah cinta mereka. Sang pria tidak mau menghilangkan semua ingatan Corliss. Dan kau tahu apa akibatnya?" Ubel menoleh ke belakang, tatapannya seperti menusuk.
Aku menggeleng karena benar-benar tidak tahu.
"Corliss terpaksa kami lenyapkan. Kau tahu tidak ada kisah cinta di antara klan Wolfgang dengan manusia. Jika ada maka mereka harus memilih salah satu. Melenyapkan semua ingatan manusia tersebut atau melenyapkan nyawa mereka."
Aku tertegun mendengar penjelasan Ubel yang selama tidak kuketahui. Dulu hingga detik ini yang kutahu jika ada makhluk seperti kami jatuh cinta pada manusia maka Ubel akan menghilangkan ingatan manusia tersebut.
"Lalu apa yang terjadi pada mereka?" tanyaku penasaran.
"Pria tersebut sering datang ke tempat ini jika laut pasang. Mereka tidak pernah bisa bersatu."
"Inilah yang aku takutkan saat kau memilih pilihan yang salah, Leanne. Aku tahu kau sungguh menyukai Anson. Namun, hubungan kalian tidak akan pernah menemukan titik terangnya."
Aku membiarkan air mata jatuh. Ragu itulah yang kini menggelayut di hati. Ada sakit yang kurasakan saat Ubel mengatakannya. Apa aku dan Anson akan seperti mereka? Aku berharap biar diriku saja yang merasakan cinta padanya.
"Dasar cengeng," kata Ubel seraya mengusap puncak kepalaku.
"Keputusan ada padamu, Leanne," lanjutnya lagi.
Awan hitam mulai menampakkan diri, diiringi rintik air kemudian dilanjutkan suara gemuruh ombak. Dari kejauhan kulihat seekor serigala sedang naik menuju tangga, tempat gadis itu berdiri.
"Kisah cinta yang tragis," sahut Ubel, kami saling menyaksikan pertemuan dua insan yang berbeda.
Serigala jantan itu mendekati Corliss lalu diusaplah punggung serigala dengan lembut olehnya. Perlahan muncul asap putih yang mengelilingi tubuh mereka. Seketika serigala itu berubah menjadi lelaki tinggi dan memiliki rambut sebiru langit dengan mahkota di kepalanya. Lelaki tersebut tampak gagah dengan jubah putihnya.
"Kuantar kau pulang. Langit semakin kelabu saja," keluhnya sambil mengajakku pulang.
Sebelum meninggalkan tempat ini, kutolehkan kepala ke belakang menyaksikan pertemuan yang mengharu dan mereka saling berpelukan melepas kerinduan.
"Kuharap kalian selalu bahagia walau sudah berbeda dunia." Aku bergumam sendiri seraya melangkah pulang bersama Ubel.
\=Bersambung\=
Leanne sudah mulai menyukai Anson. Bagaimana dengan Anson? Dia ada suka atau tidak, ya? Simak saja kelanjutan cerita ini.
Part Selanjutnya "Tetap Berteman"
__ADS_1