
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
Pisau yang ada di dapur mungkin tidak setajam tatapan Ibu saat ini. Sudah hampir setengah jam lamanya, Ibu melihatku tanpa berkata. Orang yang melahirkanku itu memang jago kalau disuruh berdiam diri sambil melihat lawan bicaranya. Sedangkan Ayah terlihat asyik dengan bacaannya. Entahlah apakah ia pura-pura tidak menolong atau sengaja melakukannya.
"Berapa lama lagi kita berdiam diri seperti ini?"
Ibu mengalihkan pandangannya ke arah Lois yang sedari tadi berkutat dengan ponsel. Merasa diperhatikan, ia langsung diam dan menunduk.
"Zie, apa saja yang kamu lakukan di sekolah?"
"Maksud Ibu?" balas Zie yang menutup buku bacaannya.
"Apa kamu tahu jika adikmu ini sudah terlalu jauh berteman dengan tetangga kita itu?" Ibu melirikku seraya berkata dengan Zie.
"Aku tahu." Zie memberi jawabannya. Tenang sekali tanpa takut.
Aku melihat Ayah yang masih membaca korannya. Apa ia tidak tahu jika aku perlu ditolong?
"Lalu kamu tidak mencegahnya?" Ibu mulai mengajukan semua pertanyaan yang menyelidik.
"Ini bukan salahnya---"
"Lean, kamu diam saja. Jangan bicara!" Ibu menatapku garang.
Akhirnya aku memilih diam. Perkataan Ibu tidak akan bisa dibantah oleh kami. Kecuali Ayah yang bisa menghentikan.
"Untuk apa aku mencegahnya? Semua akan terjadi pada waktunya, Bu. Leanne tidak bisa melawan takdirnya," ujar Zie setenang air menoleh padaku.
"Maksudmu apa berkata seperti itu? Kamu tidak membaca masa depannya, bukan?" cerca Ibu dengan berbagai pertanyaan.
Zie membaca masa depanku? Mengapa ia tidak mengatakan yang sejujurnya?
"Aku tidak membacanya hanya mengetahui saja," jawab Zie.
"Itu sama saja, Zie," sahutku menatapnya dengan jengah.
Terdengar kertas yang dikibas lalu ditutup, Ayah menoleh pada kami yang sejak tadi tak bersuara. Ia berdehem saat Ibu memulai lagi untuk berbicara.
"Apa kau setuju dengan perkataanku, Greg?"
"Bagaimana pendapat kalian, Nak?"
Jika Ayah sudah meminta pendapat kami, itu artinya kami harus menjawab sesuai yang ada di pikiran. Ayah selalu menyelesaikan masalah dengan kepala dingin terbanding terbalik dengan Ibu yang cepat emosi.
"Itu terserah Leanne, Yah. Ia tentunya bisa mengambil keputusan yang bijak setelah melalui berbagai masalah," ucap Zie memainkan remote tv.
Ayah menatap kagum Zie. Putra sulungnya itu memang mirip dirinya jika sudah bicara dan dalam menyelesaikan tiap masalah.
"Lalu bagaimana pendapatmu, Lois gendut?"
__ADS_1
Lois berhenti mengunyah keripiknya dan sedikit marah karena Ayah mengatainya 'Gendut' , "Berhentilah memanggilku seperti itu."
Sejenak kami teralihkan dan tertawa melihat mulut Lois penuh sisa keripik kentang kesukaannya.
"Baiklah ... ayah minta maaf, Nak." Kekeh Ayah sebelum melanjutkan pembicaraan,"Lalu pendapatmu apa, Nak?"
"Tidak ada yang bisa melawan takdir, bukan? Leanne kembali dipertemukan oleh orang yang memiliki darah sama dengan Alvin, itu artinya ada alasan di balik semua itu. Dan ... kita harus mencari tahu tentang itu."
Ayah menggangguk, Zie memberi tepukan tangan dan Ibu menatap anak bungsunya dengan heran.
"Tumben kamu memberi pendapat yang bijak," sahutku seraya mencoel pipinya yang tembem. Ia meringis.
"Benar kata adikmu, Nak. Ada hal yang tidak bisa kita hindari selamanya. Sejauh apa pun kita pergi, hal itu selalu mengikuti. Jika memang takdir berkata seperti itu maka kita harus mencari tahu. Untuk apa kamu dan keturunan Alvin dipertemukan."
"Benar begitu, Gle?" Ayah melihat Ibu dengan senyuman hangatnya.
"Tapi---"
"Tidak usah khawatir, Bu. Aku tahu mana yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh menurut kalian," kataku menenangkan Ibu yang cemas berlebihan.
Ibu mengusap rambutku lalu membelainya. Tanpa berkata apa pun, aku tahu Ibu menyetujui perkataan Ayah.
"Zie, ayo ikut ayah. Sepasang pengantin mau melihat bunga yang akan dijadikan dekorasi," ajak Ayah sambil beranjak dari sofa empuknya di ruang tamu.
Zie menggoda Lois dengan mengambil keripiknya yang ia sembunyikan di bawah bantal sejak tadi. Lois mengadu pada Ibu dengan manjanya.
"Ibu...! Zie mengambil keripikku."
Saking berisiknya, aku menutup wajahnya dengan bantal lalu berlari menghindari pukulannya. Senang rasanya memiliki keluarga yang penuh perhatian.
*****
Ruth melempar pertanyaan silih berganti saat kami di kantin. Namun, tidak ada seorang pun dari kami yang akan membicarakannya. Ailee dan Sam sudah berjanji untuk tutup mulut selamanya. Tentunya memakai ancaman sedikit dariku. Jika mereka sampai membocorkan maka semua konten youtube-nya akan aku singkirkan. Mereka lebih senang merahasiakannya karena tidak mau kehilangan penghasilan dari konten tersebut.
"Tidak ada apa pun, Ruth. Kami menemukanmu pingsan setelah kamu dan Anson ke lantai atas," sahut Sam sambil melirik Anson meminta bantuan.
"Apa itu benar, Anson?" Ruth bertanya penuh selidik. Ia mencondongkan wajahnya ke arah Anson yang berada di depan.
"Iya benar itu, Ruth," jawab Anson pendek.
"Aku punya perasaan aneh, deh. Sepertinya aku tidak pingsan dan yakin sekali---"
"Itu hanya halusinasimu saja, Ruth. Kamu mengigau saat pingsan dan kami membawamu ke rumah sakit," potongku saat ia merasa tidak yakin.
"Tapi menurutku tidak seperti itu. Pasti ada yang salah di otakku ini." Ruth mulai meragu karena perkataanku.
"Memang otakmu bermasalah kata dokter," celetuk Ailee sembari berdiri dari kursi dan mengantri makanan.
Aku, Anson dan Sam saling memandang tanpa bisa mengatakan yang sejujurnya. Jika kami bicara yang sebenarnya, Ruth akan lebih syok dari sebelumnya. Kata dokter yang menanganinya, ia memiliki riwayat jantung.
"Sampai kapan kita akan merahasiakan dari Ruth?" Anson bertanya saat kami pulang sekolah bersama.
"Entahlah. Mungkin demi kebaikan dan kesehatannya, aku rasa bisa untuk selamanya."
Anson menyunggingkan senyuman seraya menatapku. Ia menuntun sepedanya sedangkan aku mengikuti langkahnya.
__ADS_1
"Aku ingin mengetahui dirimu sebenarnya, Lean. Mengapa keluargamu memiliki kemampuan yang tidak bisa dimiliki orang lain?" Anson berhenti sejenak, memandang aliran sungai yang ada di bawah jembatan.
"Itu karena sudah turun temurun," jawabku tidak jujur
"Apa itu mengganggu?"
"Heum ... hanya sedikit, sih." Aku memberi jari keliking sambil tertawa.
"Maaf sebelumnya aku mengganggapmu aneh. Karena dulu Autumn juga bersikap aneh sepertimu," ujarnya menoleh padaku. Tatapannya tidak lagi mengejek.
"Tidak apa-apa. Kami sudah terbiasa dipanggil aneh," sahutku, mengetuk besi jembatan yang sudah berkarat dengan membalas tatapannya.
Kami saling terdiam sambil menikmati suara aliran sungai yang deras. Aku yakin nanti malam pasti hujan. Jika air sungai ini mulai menunjukkan arusnya yang deras maka bisa dipastikan akan turun hujan.
"Kakek Alvin dirawat di rumah sakit. Kemarin jantungnya bermasalah," beritahunya dengan mimik sedih.
Aku mendengar seksama. Ada gurat kesedihan di wajah Anson. Aku tahu ia sangat menyayangi kakeknya.
"Malam itu kata kakek Alvin, ia melihat saudarinya. Bibi Cloe datang padanya dan mengatakan sesuatu yang aneh sekali."
Aku menelan ludah dan berharap tidak ada hal yang membuatku takut.
"Mengatakan apa?" tanyaku.
"Bibi Cloe menyuruh kakek mencari gadis bernama Anne. Bibi ingin dipertemukan dengan gadis tersebut. Tapi bagaimana bisa mencarinya? Bukankah bibi sudah meninggal?"
"Lalu ...?"
Anson mengalihkan pandangannya menuju sekawanan burung yang terbang.
"Itu yang aku bingung. Kakek malah menyuruhku mencari informasi mengenai teman sekelas Bibi Cloe yang ada di negaranya.
"Bagaimana bisa aku menemukan Anne? Tentunya ia sudah tua, kan?" timpalnya lagi. Aku tidak bisa berkata-kata.
"Apa kamu akan mencarinya?" selidikku dengan gusar.
"Entahlah, Lean. Aku tidak tahu caranya."
Anson mengambil kerikil yang ada di tanah lalu melemparnya ke sungai. Aku ikut melempar juga, tetapi sayang tidak sejauh lemparan Anson.
"Ayo, kita pulang. Langit tidak bersahabat lagi."
"Kamu sakit, Lean? Tanganmu berkeringat dingin," kata Anson yang menggandengku untuk pulang setelah berkata seperti itu.
"Aku lapar," ucapku bohong.
"Naiklah. Aku akan memboncengmu dengan kecepatan tinggi," sambungnya seraya mengacak poniku.
Ada apa dengan semua ini? Masalah terus berdatangan sejak aku mengenal Anson. Apa yang diinginkan masa depan dariku?
"Mengapa kau baru mencariku sekarang, Cloe?"
\=Bersambung\=
Apa yang diinginkan Cloe dari Leanne? Apa dia menyimpan kebencian di masa lalu?"
__ADS_1
Temukan jawabannya di cerita ini.
Part selanjutnya "Melihat Masa Depan"