
Mohon saran dan kritiknya....
°
°
°
[ Di sini Anson yang bercerita ]
Awal masuk sekolah aku sudah disuguhi pemandangan yang tidak menyenangkan. Di gerbang sekolah waktu itu, aku melihat gadis yang bicara sendiri sambil menatap poster. Jika saja tidak terlambat ke sekolah, mungkin aku tidak akan bertemu gadis aneh itu.
Rambut cokelatnya yang dibiarkan terurai sebahu tidak menandakan ia penduduk asli ini. Mungkin saja ia pendatang sama sepertiku. Pekerjaan Ayah sebagai pengamat cuaca mengharuskan pindah ke Irlandia. Bisa dikatakan desa kecil dengan jumlah penduduk yang tidak banyak seperti di kota besar.
"Namaku Leanne Lavender Dulcie Amari."
Namanya cukup panjang saat ia memperkenalkan diri di depan teman-teman. Dari perkenalannya, aku tahu ia bukanlah warga asli sini melainkan ada darah campuran. Hal yang sama berlaku padaku.
Gadis itu tidak banyak bicara dan senang memandang langit jika ada guru yang mengajar. Kurasa ia tidak benar-benar memperhatikan. Buktinya beberapa kali, guru menegurnya.
Dan juga gadis itu aneh sekali, ia malah berbicara dan menjawab sendiri perkataannya ketika kulihat dirinya di depan kamar mandi.
"Kalau jalan itu lihat ke depan. Bukan ke belakang!" Aku membentak gadis itu ketika kami bertabrakan.
"Memangnya kenapa?"
Bukannya minta maaf karena sudah menabrakku, ia malah ikut membentak. Padahal dirinya yang salah telah berjalan tanpa melihat ke depan.
"Mata itu dipakai untuk melihat jalan. Bukannya menoleh ke belakang sambil mengoceh tak jelas!"
Ia meringis kesakitan sambil mengusap keningnya dengan poni. Aku merasa kesal akan sifatnya itu.
"Ini mataku. Ya seenaknya aku mau dipakai untuk apa."
"Dasar cewek aneh. Bicara sendiri di kamar mandi seperti orang gila."
Aku menyindirnya, tetapi ia malah pergi tanpa mengucapkan kalimat permintaan maaf. Benar-benar gadis aneh.
*****
Sepulang sekolah, tak sengaja aku melihatnya bicara sendiri dan ini sudah ketiga kalinya ia melakukan itu. Ia bicara seakan ada seseorang di sebelah dan memanggilnya 'Coraline'. Siapa sosok yang ia sebut? Padahal tidak ada teman sekelas yang memiliki nama itu.
"Ah, ini bukan urusanku. Lagi pula aku tidak senang mencampuri masalah orang lain."
Aku meninggalkan dirinya, lebih baik pulang ke rumah dan belajar daripada melihat wajahnya yang menyebalkan. Aku tak menyangka jika kami bertetangga, hanya berjarak dua rumah saja. Ayah memang memberitahuku jika ada tetangga baru dan mereka seorang petani.
Sore itu, aku melihatnya datang ke rumah mengantarkan pai sebagai tanda salam menyambut tetangga baru. Pakaiannya terlihat kuno sekali. Di tahun yang serba modern, ia masih memakai rok bunga selutut dengan kaos lengan panjang. Ibu menyambutnya dengan senang beda hal denganku. Aku sama sekali tidak menyukai gadis itu.
"Itu ada pai di meja. Bukankah kau menyukai pai, Nak?"
__ADS_1
Aku menolak saat Ibu menawarkan pai itu. Entah mengapa ada rasa enggan untuk mencicipi kue berbentuk oval. Namun, Ayah memaksa dan menyuapkannya langsung ke mulut.
"Bagaimana rasanya? Lebih enak ini, bukan?"
Kuakui kue pai buatan Nyonya Amari sangat enak dibandingkan pai Ibu. Rasanya gurih dan renyah kulitnya. Selai apelnya tidak terlalu manis.
Namun, aku mengaku buatan pai ibunya tidak enak saat kami berpapasan menuju kelas. Sungguh, aku tidak apa sebabnya diri ini begitu kesal dengan wajah tirusnya jika kami bertemu. Aku tidak membencinya hanya saja tidak menyukai cara berpakaiannya.
Di sekolah ini membebaskan muridnya tidak memakai seragam asal sopan. Leanne berbeda dengan teman yang lainnya, ia tidak suka berdandan yang sering dilakukan Ailee atau Ruth. Ia senang memakai rok selutut atau gaun pendek jika ke sekolah. Sesekali memakai celana panjang dengan kemeja.
Satu lagi yang tidak kusukai darinya, ia sering mengikuti atau menguping ketika aku sedang bicara dengan seseorang. Ia bahkan sok ingin berteman denganku. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Aku memang tidak terlalu senang memiliki teman lawan jenis. Mereka itu cerewet dan banyak keinginannya.
"Apa aku boleh berteman denganmu?"
Leanne sering menanyai hal itu dan aku mengacuhkannya. Ia gadis aneh yang tidak ingin aku ajak bicara.
*****
Beberapa hari ini ada yang aneh di sekitarku. Pertama aku tidak menanggapinya, tetapi kelamaan semakin mengganggu saja. Terkadang ada tangan dingin yang menyentuh leher dan seolah-olah ada seseorang yang ikut duduk di sebelah. Parahnya lagi, suara milik Autumn memanggil dan menyuruhku untuk datang menemuinya. Aku tidak mau dianggap gila oleh siapa saja.
"Anson ...."
Petang itu setelah pulang sekolah, aku melewati jalanan seperti biasanya. Tetapi, kali ini ada yang berbeda. Ada suara yang terus memanggilku dan seakan ada angin yang menyerang. Ini yang pernah kualami saat bersama Autumn. Kembaranku itu katanya bisa melihat makhluk tak kasat mata, tetapi aku tidak percaya. Ya, hingga detik ini.
"Pergi kalian semua!"
"Anson ...."
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya pelan.
Karena sikapku yang tidak bersahabat dengannya, aku menepis tangannya saat menyentuh bahuku. Aku pura-pura kuat dan pergi begitu saja darinya. Ia terus mengikuti dari belakang hingga sampai rumah. Sekali lagi aku mengacuhkan permintaannya saat ia ingin berteman denganku.
*****
Leanne datang ke rumahku hanya untuk mengucapkan berbela sungkawa atas meninggalnya nenek. Ya, malam ini kami akan terbang ke Indonesia untuk melihat pemakaman nenek. Ia sok akrab dengan Ayah dan Ibu.
"Untuk apa kamu datang ke rumahku?"
Aku menatap tidak suka atas kedatangannya. Selama ini tidak satu kawan yang datang ke rumah, mereka enggan berteman denganku yang terkenal dengan sikap pendiam dan jutek. Gadis ini sudah dua kali masuk rumahku dengan disambut hangat oleh Ayah atau Ibu.
Leanne gelagapan saat menjawab tanpa melihatku yang sedari tadi memperhatikannya. Ia bukan sedang menatapku melainkan menengok ke arah belakang. Apa yang dilihatnya?
"Sudah selesai, bukan? Silakan kamu pulang sekarang. Kami akan berangkat dan tidak ingin terlambat."
Aku mengusirnya bahkan Ayah dan Ibu tidak bisa berkata apapun.
"Baiklah aku akan pergi. Jaga dirimu." Leanne pamit dengan diantar Ayah sampai pintu.
"Ada apa denganmu, Nak? Gadis itu hanya ingin berteman denganmu. Apa salahnya kamu membuka hatimu sedikit untuk berteman?" Ibu menepuk bahuku dan hanya bisa menghela napas melihat sikapku.
__ADS_1
"Mau sampai kapan kamu seperti ini, Anson? Dulu kamu tidak seperti ini," tegur Ayah setelah mengantarkan Leanne.
"Aku hanya saja tidak menyukainya," jawabku ketus.
"Ingat Anson! Kecelakaan Autumn bukan salahmu. Hanya karena masalah ini kamu tidak lagi mau berteman itu artinya kamu menyalahkan diri sendiri. Autumn tidak akan menyalahkanmu."
Perkataan Ayah mampu membuatku kembali teringat peristiwa itu. Aku terlalu asyik bermain sehingga tidak memperhatikan Autumn yang bermain ayunan dengan kencang. Kepalanya terlebih dulu membentur tanah. Adikku dinyatakan koma, Ayah dan Ibu sudah angkat tangan. Ia tidak mungkin bisa sadar kembali meski kondisi jantungnya tidak bermasalah. Hanya aku yang menolak dan yakin suatu hari nanti, ia akan sadar dan membuka matanya lagi.
*****
Ada banyak hal yang kualami saat bersamanya. Maksudku Leanne yang terus menguntit bahkan mengekor ke mana saja aku berada. Gadis beralis tipis itu seperti paparazi yang terus memburu atau mengincar buruan. Ia yang pertama kali berani dekat dan bicara banyak dengan mulut bawelnya.
Dari peristiwa yang tak masuk akal hingga ia mengatakan bisa melihat arwah atau sesosok lainnya. Ah, entahlah apa namanya, aku juga bingung. Suatu hari ia mengatakan Autumn ingin bertemu denganku. Jujur, aku tidak percaya sama sekali. Autumn itu masih hidup. Masa adikku sudah jadi hantu?
Lagi-lagi, perbuatannya membuatku tercengang tak percaya. Ia dan adiknya yang gendut memperlihatkan secara nyata sosok Autumn di hadapanku. Aku nyaris pingsan saat itu.
"Hai ... kucing galak."
Hampir saja air mata menetes kalau aku tak ingat ada Leanne di kamar. Jika menangis, bisa-bisa ia mengatakan pada semua orang di sekolah kalau aku pemuda cengeng.
"Ingat Autumn waktumu tidak banyak di sini." Lois menyahut secara tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangannya.
"Sekarang saatnya memberitahu Anson, Autumn." Leanne ikut menimpali.
"Memberitahu apa?" Aku bingung dengan perkataan dua kakak itu.
"Anson, tolong lepaskan aku pergi, ya. Aku sudah lelah berada di dunia ini." Autumn memegang tanganku, terasa dingin sekali di kulit.
Belum sempat aku bicara, ada sesosok yang menurutku hanya ada di komik atau novel horor. Di depanku sekarang sosok yang menyeringai dengan kepala yang tertutup jubah menghalangi kami untuk saling bicara.
"Jangan lakukan itu, Ubel." Leanne memohon pada makhluk itu ketika aku berusaha mencegahnya mengambil Autumn.
Bahkan ia meminta waktu agar aku dapat bicara dengan Autumn untuk mengucapkan salam perpisahan. Aku semakin dibuat bingung olehnya karena ia berteman dengan makhluk mengerikan itu. Siapa Leanne sebenarnya?
Hampir satu jam aku dan Autumn berada di ruang rahasia kami yaitu di lemari besar milik Ayah. Di dalam sinilah kami sering menghabiskan waktu semasa kecil jika Ibu sedang marah akibat kenakalan anaknya. Banyak hal yang kami perbincangkan hingga ia memintaku untuk mengikhlaskan dirinya pergi dari dunia. Aku tahu ini berat, tetapi hati ini harus rela melepasnya agar ia damai di sisi Tuhan.
"Sampaikan salamku untuk Ayah dan Ibu. Katakan aku mencintai mereka juga---"
Autumn tersenyum, matanya yang sayu menatapku penuh kehangatan.
"Jaga dan lindungi Leanne. Ia gadis yang baik dan manis. Apa pun yang terjadi padanya nanti, ingatlah bahwa kamu harus berada di sisinya, Anson."
Ubel begitu nama makhluk itu dipanggil oleh Leanne membawa Autumn pergi dari sisiku selamanya. Perkataan terakhirnya belum bisa aku pahami. Untuk apa aku harus melindungi gadis aneh itu?
\=Bersambung\=
Apa maksud dari Autumn? Mengapa ia menitipkan Leanne pada Anson?
Penasaran? Temukan jawabannya di cerita ini.
__ADS_1
Part selanjutnya "Perasaan Tak Menentu"