Keluarga Amari

Keluarga Amari
Part 23 Tetap Berteman


__ADS_3

Mohon saran dan kritiknya. Jangan lupa beri like atau komentarnya.


°


°


°



Awan kelabu masih setia menemani pagi ini disertai rintik yang mulai reda. Aku memilih berdiam diri di kamar sambil mendengarkan musik dari ponsel.


"Nak, ada teman-temanmu di depan," kata Ayah di ambang pintu. Aku memang tidak pernah menutup pintu jika sedang bersantai.


"Siapa, Yah?" tanyaku mengernyitkan dahi. Bingung juga karena selama ini jarang ada yang berkunjung ke rumah. Mereka lebih memilih bertemu di kafe atau taman.


"Heum ... siapa, ya? Ayah tidak tahu," canda Ayah mengedipkan mata.


Aku penasaran siapa yang datang ke rumah. Kalau Ailee tidak mungkin karena ia sedang liburan. Aku segera bergegas turun dan melihat mereka.


"Kalian? Bukannya kamu sedang berlibur, Lee?"


Sedikit terkejut mendapati Ailee, Sam dan Ruth berkunjung ke rumah. Mereka terlihat bahagia dengan membawa perlengkapan untuk kemah.


"Yuk ... ikut kami berkemah di hutan," sahut Ailee memainkan kedipan matanya.


"Katanya dirimu liburan? Kok malah berkemah?


"Iya kita berlima sudah merencanakan sebelum liburan. Maaf, ya aku bohong sama kamu," ucap Ailee dengan nada manja.


Berlima? Lalu siapa orang yang kelima?


"Oh, ya Anson akan ikut dengan kita," sambung Sam yang selalu membawa obat tetes mata. Jika terkena debu atau angin makanya matanya tidak dapat melihat jelas.


Aku menelan ludah dan cemas seketika. Bagaimana bisa mereka mengajak aku?


"Kamu mau ikut, 'kan, Lean?" Ruth--si rambut keriting yang tidak pernah bisa diluruskan meski sudah dibawa ke salon-- bertanya dengan mimik serius.


"A...ku ..." Aku menjadi gagap seketika.


"Ayolah ikut bersama kami. Aku sudah ijin pada ayahmu, kok," rayu Ailee menarik piyamaku.


"Ya, kalian boleh berkemah bersamanya." Ternyata Ayah sudah berdiri di belakangku sedari tadi. Pantas saja Ailee yang biasanya urakan menjadi pendiam.


"Tuh, benar, 'kan. Ayahmu sudah mengijinkannya," sahut Ailee dengan berbinar.


"Ganti bajumu, deh. Masa kamu mau pergi dengan pakaian seperti itu," celetuk Sam sambil menggelengkan kepala.


Tersadar jika aku masih memakai piyama. Tanpa pikir lagi, aku berganti pakaian dan menyiapkan semua keperluan kemah. Ayah menghampiriku di kamar sedangkan Ibu hanya berdiri di ambang pintu.


"Maafkan ayah, ya, Nak. Tidak seharusnya ayah mengekangmu untuk berteman. Bertemanlah selama kau bisa melakukannya."


Aku terharu Ayah mengatakannya. Ia mengusap puncak kepalaku dan memeluk erat.


"Sudah Greg. Kau akan membuat temannya menunggu lama," dengkus Ibu memarahi Ayah.


Ayah memang tipe pria perhatian. Saking perhatiannya, ia sudah menyiapkan bahan makanan dan pakaian yang akan kubawa nanti.


"Kami pergi dulu, Tuan dan Nyonya Greg," pamit mereka sebelum naik mobil.

__ADS_1


"Selamat bersenang-senang, Nak."  


Ayah melambaikan tangan seperti melepaskan kepergianku yang lama padahal aku hanya sebentar. Di mobil kudapati Anson sudah berada di jok depan. Ia yang menyetir hari ini karena menurut Sam, ia paling paham mengenai tempat kemah yang bagus.


Ailee menyuruhku duduk di depan, ia tidak bisa jika berlama-lama berada di posisi depan karena akan mual. Anak itu memilih duduk di bangku paling belakang agar bisa tidur. Sedangkan Sam dan Rut--kurasa mereka sedang pendekatan-- berada di bangku tengah dengan sesekali berbisik lalu tertawa bersama.


"Aku tidak tahu jika dirimu bisa menyetir," kataku memecah keheningan di antara kami. Sejak tadi Anson lebih fokus menyetir.


"Heum ...." Anson hanya berdehem.


"Apa kakekmu masih di sini?" Aku bertanya sesekali menatap wajahnya.


"Heum ...."


Aku menghela napas panjang. Ia tidak menjawab hanya berdehem saja sejak tadi. Aku tidak ada teman bicara karena yang lainnya sudah tertidur. Mereka yang mengajak pergi malah lebih memilih tidur.


"Siapa yang mengusulkan kita per...." Perkataanku dipotong oleh Anson tanpa menoleh padaku.


"Diamlah Lean. Aku tidak ingin kita celaka jika kamu mengoceh terus."


Aku memanyunkan bibir, menyilangkan kedua tangan dan melihat arah kaca mobil. Mengapa ia masih saja ketus? Padahal aku hanya ingin mengajaknya bicara agar tidak tegang. Ya, sudahlah lebih baik aku diam.


*****


Akhirnya dua jam perjalanan mengantarkan kami ke sebuah danau indah bukan hutan yang dikatakan Ailee tadi. Aku dan Ailee kebagian membuat kopi sedangkan Anson, Sam serta Ruth membangun tenda. Mereka bertiga begitu cekatan dan gesit melakukannya. Kurasa mereka sudah terbiasa dalam hal ini. Buktinya setengah jam selesai tanpa ada kesalahan.


"Kita mau ke sana. Kamu mau ikut, Lean?" Tawar Ailee yang ikut bermain bersama Ruth dan Sam.


Aku menggeleng karena udara begitu dingin. Lebih baik memilih duduk di perapian sambil menyesap segelas kopi susu yang panas.


"Maaf yang tadi. Aku bukannya tidak mau menjawab, tetapi kalau menyetir aku lebih banyak diam karena fokus melihat depan," celetuk Anson sambil duduk di sebelahku. Ia menawarkan biskuit keju.


"Aku lupa," jawabku sepelan mungkin.


Anson berdiri sejenak dan pergi untuk beberapa saat. Ketika datang, kudapati dirinya sedang membawa sepasang sarung tangan ungu.


"Untung aku membawanya. Apa kamu memang pelupa? Tugas sekolah saja kamu kadang lupa," kesalnya padaku.


Ia langsung menarik tanganku dan memasangkan benda itu. Jarak kami begitu dekat sekali sehingga aku bisa mendengar deruan napas dan harum tubuhnya. Ia mungkin tidak menyadari jika jantung ini sudah berdegup kencang saat kulihat wajahnya.


"Apa yang kamu lihat di wajahku?" tanyanya ketus, aku langsung berpaling dengan perasaan malu.


"Tidak ada." Aku sampai gemetar saat menjawabnya. Duh ... bodoh sekali kamu Leanne.


Kami saling diam, melihat teman yang lain sedang belarian dan sesekali mencuri pandang padanya. Hati dan pikiran ini tidak kuasa menolak jika aku menyukainya secara diam-diam. Aku tahu ini salah. Kesalahan kedua yang pernah kulakukan.


"Kakekku masih di sini hingga dua pekan. Ia ingin berkenalan karena dirinya senang karena cucunya ini memiliki kawan sepertimu," kata Anson memecah kesunyian sambil meminum kopinya yang tinggal sedikit.


"Berapa saudara yang kamu miliki di Indonesia. Tentunya kakekmu memiliki saudara, bukan?"


Maaf Anson, aku bertanya seperti ini walau sudah tahu jawabannya. Biar dirimu tidak menaruh curiga jika aku terlalu banyak tanya.


"Adiknya meninggal karena sakit ketika remaja. Kakekku tidak memiliki saudara lain."


"Sakit apa?"


"Cloe terjatuh dari atap gedung sekolah, ia hilang ingatan dan beberapa tahun kemudian menderita kanker otak."


Sekali lagi maaf aku tidak bisa jujur padamu, Anson. Cloe tidak pernah jatuh dari atap. Ubel dan Ayah memang menghilangkan semua ingatannya. Zie yang membawa tubuh Cloe yang pingsan ke halaman sekolah seolah-olah gadis muda itu terjatuh. Sampai saat ini aku merasa bersalah pada kakekmu dan adiknya.

__ADS_1


"Aku bercerita, kamu malah meneteskan air mata? Memangnya menyedihkan?"


Aku menggeleng sembari menghapus air mata. Di saat seperti ini ingin rasanya menghilang dan tidak bertemu dengannya. Rasa bersalahku kian bertambah karena Anson adalah keturunan Alvin.


"Ayo, kita bergabung bersama mereka," ajak Anson seraya mengulurkan tangannya.


"Aku di sini saja, ya," jawabku malas.


Anson langsung belari menuju teman lainnya. Dari kejauhan kulihat kegembiraan mereka seakan tidak terjadi apapun. Terkadang aku ingin merasakan hidup layaknya manusia normal. Bisa bertambah tua dan jatuh cinta. Itu tidak akan mungkin terjadi pada keluargaku.


*****


"Kakakku menikmati sekali liburannnya kali ini, ya?


Gelas yang aku pegang jatuh ke tanah. Untungnya bukan di lantai.


"Ya ampun Lois! Kamu akan membuat aku pingsan dengan kedatanganmu yang tiba-tiba."


Tanpa sadar aku menjewer telinganya. Aku tahu ia memiliki kemampuan teleportasi, tetapi terkadang kelebihannya membuat kesal semua orang dengan kemunculannya yang mendadak.


"Sedang apa kamu ke sini? Sudah pulang dari pendakian? tanyaku tanpa jeda.


"Belum." Jawabannya menjengkelkan.


"Lalu untuk apa datang menemuiku?"


"Untuk ini. Zie menyuruhku untuk memberikan ini padamu."


Sebungkus permen? Ada-ada saja. Zie pikir aku anak kecil?


"Untuk apa dirimu jauh-jauh ke sini hanya untuk sebungkus permen?"


"Yeay ... Kamu pikir Zie memberikan itu untuk dirimu makan?"


Aku masih belum paham yang dimaksudnya. Lois menyibak rambutku dan berbisik.


"Berikan ke temanmu malam ini. Mereka akan tertidur setelah memakannya.


"Serenity akan mendatangimu. Kamu tidak mau jika mereka tahu siapa dirimu, bukan?"


Mengapa wanita ranting itu ingin menemuiku? Kuharap tidak terjadi apapun nanti.


"Aku kembali dulu, ya. Kasihan Zie sendirian," sahut Lois sambil mengambil cokelatku.


"Apa yang ada di dalam tasmu itu?"


Tas ransel hitam tersebut penuh dengan muatan sehingga Lois kesulitan.


"Makanan yang kuambil dari rumah," katanya berusaha melucu.


Itu sama saja mereka tidak melakukan pendakian karena Lois dengan santai menggunakan kemampuannya untuk mengambil makan di rumah. Aku yakin Ibu pasti mengetahuinya.


"Aku pergi, ya. Bye ... Bye ..."


Ia pergi melesat bagai angin. Untung saja hanya ada kita berdua di sini. Bisa celaka kalau ada yang tahu. Permen cokelat ini usianya sudah ratusan tahun. Ayah yang membuatnya dulu untuk menidurkan seseorang. Kalau manusia yang memakannya, mereka akan pulas sekali dan tertidur sampai esok. Namun, jika kami maka tidak ada manfaatnya sama sekali.


\=Bersambung\=


Untuk apa Serenity bertemu Lean? Apa sudah waktunya Leanne menggantikan Serenity? Di tunggu saja kelanjutannya.

__ADS_1


Part selanjutnya "Maaf, Aku Bohong"


__ADS_2