KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 14


__ADS_3

Malam itu Aby tidur di salah satu kamar di rumah itu.


Dan yang paling senang dengan keadaan itu adalah Bu Sari.


Setelah melaksanakan sholat Isya, Aby merebahkan tubuhnya. Ia kembali mengingat kejadian tadi sore di taman.


"Anisa pasti semakin membenciku, kenapa kami harus bertemu di saat ada Jelita juga. Aku paham betapa sakitnya hati istriku... ya Allah berilah jalan yang terbaik untuk kami bertiga. Amiin."


Aby berusaha memejamkan matanya.


Tapi baru saja ia menutup mata, suara tangisan Zahra memecah kesunyian malam itu.


Aby tidak tahan untuk tidak mencari tau keadaan Zahra.


Perlahan ia mendekati kamar Jelita.


Di situ sudah ada Bu Sari juga.


'Nak Aby, silahkan masuk! Siapa tau denganmu Zahra bisa diam." tukas Bu Sari mempersilahkan.


"Sini, aku coba menggendongnya." Jelita memberikan bayinya pada Aby.


Semula masih menangis tapi lama-lama bayi itu kecapean dan tertidur di gendongan Aby.


"Sudah tidur... " bisik Aby sambil meletakkan Zahra di bok nya kembali.


"Terimakasih, Mas." ucap Jelita.


"Ssstt... Jangan bersuara nanti dia terbangun lagi." bisik Aby membuat Jelita mengangguk dan tersenyum kecil.


Aby terkesiap melihat penampilan Jelita yang lain dari biasanya.


Malam itu Jelita sengaja memakai baju tidur yang agak transparan dengan rambut tergerai sebatas pinggang. Tentu saja hal itu adalah ide dari ibunya. Jelita yang memang pada dasarnya menaruh hati pada Aby, dengan mudah di pengaruhi Bu Sari.


"Kalau malam ini Aby tidak terpengaruh juga melihatmu, ibu jadi meragukan nya." gurau Bu Sari.


"Astagfirullah..! " ucap Aby dalam hati.


"Tenang by, walaupun Jelita sudah sah untuk kau jamah, kau sudah berjanji pada dirimu sendiri untuk tidak menyentuhnya sebelum mendapat restu dari Anisa" bathin Aby.


"Heeum.. Aku keluar dulu. " ucapnya canggung.


"Mas, bagaimana kalau Zahra bangun dan menangis lagi?" tanya Jelita dengan suara pelan.


"Kau panggil lagi aku di kamar sebelah."


"Tapi..." Aby tidak mengindahkan panggilan Jelita yang merasa kecewa.


Aby menutup pintu dengan dengan rapat.


"Semoga Allah menjaga perasaanku." bisik Aby.


Sementara itu, Anisa tidak mau tenggelam dalam keterpurukannya. Selain mengajar di sebuah sekolah swasta, ia juga kembali menyibukkan diri dengan kegiatan di pesantren milik Abahnya.


 Semua temannya menyambut bergabungnya Anisa dengan suka cita. Termasuk Ustadz Yahya yang diam-diam menyimpan perasaan padanya.


Perlahan ia bisa melupakan masalahnya dengan Aby.


"Nis, Minggu depan adalah peringatan haul yang ke tuju dari berdirinya pesantren ini.


Rencananya akan banyak tamu dari dalam dan luar instansi pemerintah.


Kepengurusan mengundang kita untuk rapat sore ini di Aula."


"Aku pikir kau pantas jadi pembicara dari pihak pesantren.


"Jangan aku, yang lain saja. Kau tau, kan aku sedang banyak masalah." jawab Anisa cuek.

__ADS_1


"Tapi di antara kita semua, hanya kau yang punya pengalaman dan wawasan paling luas." sanggah Mia.


Dan pada akhirnya, Anisa terpilih menjadi pembicara di acara tersebut.


Dan yang jadi ketua panitia adalah ustadz Yahya.


Kesibukan itu membuat mereka semakin sering bersama. Walaupun dengan yang lainnya pula.


"Hebat, kau luar biasa." puji ustadz Yahya saat acara telah usai.


"Acara kita sukses berkat Anisa. " puji yang lain.


"Ah, biasa saja." Anisa merendah.


Saat yang sama itu ponsel Anisa berbunyi.


(Nis, Mas ingin bertemu Al. boleh, kan?)


Pesan dari Aby.


(Silahkan, Mas. Al adalah putramu, kau boleh menemui yang a kapan saja) balas Anisa.


as harus kerumah atau gimana?) ketik Aby lagi.


(Aku sedang di rumah Abah, kalau kau setuju biar kita ketemu di taman saja)


Aby menyetujui usul Anisa.


Ustadz Yahya memandangnya dengan penuh pertanyaan.


"Maaf, aku duluan, ya.." Anisa bangkit dari tempat duduknya.


Mau kemana, Nis?" sapa Abahnya di depan pintu.


"Mas Aby ingin ketemu Al." jawab Anisa singkat.


"Kau mau mengantarnya sendirian?"


Namun tak berapa lama, ia muncul lagi di ruangan itu.


"Bah, pada kemana motor di depan, ya?" tanyanya bingung.


"Owh itu, semua motor di pakai anak pesantren untuk mengembalikan barang bekas acara tadi. Kalau begitu pakai saja mobil Abah..!"


Tapi Anisa kembali muncul.


"Bah, sopirnya tidak bisa nganter, kayanya a lagi sakit."


Kyai Romli berpikir sejenak.


"Yahya, kau antar Anisa..!" ucapnya kemudian.


Ustadz Yahya dan Anisa saling pandang.


"Abah tau, kalian tidak mungkin pergi berdua saja. Al dan Mia akan ikut serta."


Anisa menarik nafas lega. begitu juga ustadz Yahya.


"Dimana Mas Aby, dia berjanji akan menunggu disini?" kata Anisa pelan.


Anisa dan Mia berdiri di dekat mobil sambil mengawasi Al bermain.


"Nis, aku ke toilet sebentar, ya.. Kebelet." ucapnya meringis.


"Berani? Letaknya agak jauh lho..! Minta saja ustadz Yahya mengantar mu."


"Berani lah, malu lah minta di antar pipis sama pria." bisik Mia.

__ADS_1


Mereka tertawa bareng. Ustadz Yahya yang di dalam mobil tidak jelas mendengarnya.


Tak berapa lama kemudian, Aby datang sambil tergopoh turun.


'Maaf, Nis. Agak terlambat. Jalannya macet sekali." keluh Aby.


 Anisa hanya mengangguk.


Al langsung menghambur ke pelukan Ayahnya.


"Ayah rindu sekali pada Al, bagaimana sekolahnya sayang?"


" Teman-teman Al jagmhat semua, Al sering di ejek mereka, katanya Al tidak punya ayah. Soalnya ayah tidak pernah ngantar Al ke sekolah lagi. Bundaaa terus yang nganter."


Celoteh Al dengan mode ngambeknya.


Aby melihat kearah Anisa, Anisa pura-pura tidak mendengar ucapan Al.


Saat itu pintu mobil terbuka.


Wajah ustadz Yahya muncul dari sana.


Aby merasa kaget.


"Assalamualaikum.., gimana kabar, Pak Aby?" sapa pria itu dengan sopan.


"WAalaikum salam. Kabar saya baik."


 Mereka berbincang sebentar.


Lalu Aby menatap Anisa.


"Jadi kamu di antar Ustadz Yahya, Nis? Kurang baik di lihat orang. Kalau kau perlu di jemput, bilang sama Mas, aku pasti datang." kata Aby dengan wajah sabarnya."


"Kami bertiga, kok. Aku juga masih tau batasan mana yang boleh dan tidak boleh, Mas." jawab Anisa kesal.


"Mas, tidak marah.. Tapi ingin mengingatkan saja.


Itu karna kau masih resmi istri mas Aby."


Anisa membuang pandangannya kearah lain.


"Apa kau belum bisa memaafkan kesalahanku?" timpal Aby lagi.


"Aku belum bisa berpikir kearah situ, sebaiknya kita jalani saja sesuai keadaan." kata Anisa.


"Tapi Mas tersiksa Anisa, Mas sangat ingin kita seperti dulu lagi. Di situlah kebahagiaanku, di situlah surgaku." ucap Aby tertunduk lesu.


"Surga apa yang kau maksud? kalau memang itu surga mu, kenapa kau tega menghancurkannya...?"


Aby terdiam. Ia tidak bisa menjelaskan pada Anisa bagaimana sebenarnya hubungannya dengan Jelita.


Al datang menghampiri mereka.


"Ayah, aku mau ayah yang mengantarku ke sekolah besok pagi!"


Aby dan Anisa saling pandang.


"Tapi ayah, kan harus kerja, Nak."


"Dulu juga begitu, walaupun Ayah pergi kerja, tetap bisa ngantar Al."


Anisa dan Aby kewalahan membujuk Al.


"Tidak apa-apa, Nis. Besok Mas antar dia ke sekolah."


Anisa terpaksa setuju.

__ADS_1


Setelah merasa cukup, Anisa minta ustadz Yahya untuk pulang.


.


__ADS_2