KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
Bab 8


__ADS_3

Aby terus melajukan mobilnya, ia lupa memperhatikan ponselnya.


"Assalamualaikum..." ucapnya saat sampai di depan pintu rumah Jelita.


Bu Sari tergopoh membukakan pintu.


"Kenapa Jelita, Bu?" tanya Aby sopan.


"Kakinya terkilir di kabar mandi, dia tidak mau merepotkan Nak Aby. Tapi ibu yang maksa. Timbang bengkaknya tambah besar karna nunggu pagi, iya, kan?"


Aby mengangguk.


Ia memohon ijin untuk melihat Jelita di kamarnya.


"Silahkan..!"


Aby hanya berdiri di ambang pintu, ia merasa risih memasuki kamar seorang wanita, sekalipun Jelita sudah sah menjadi istrinya.


"Masuk saja, Nak Aby. Jelita tidak bisa berjalan, kayaknya kakinya cukup parah" imbuh Bu Sari.


Aby terlihat ragu.


"Maaf aku telah merepotkan mu malam-malam begini, Mas." ucap Jelita dengan menyesal.


"Tidak apa-apa, kita ke dokter!"


"Apa perlu?" tanya Jelita sambil meringis.


"Perlu sekali, bagaimana kalau kandungan mu kenapa-kenapa?"


Jelita tidak membantah lagi.


"Bu, kunci saja pintunya.!" kata Aby ke Bu Sari.


"Apa tidak sebaiknya ibu dirumah saja?" kata Bu Sari.


"Sebaiknya ibu ikut saja." Aby memaksa.


Niat hati Bu Sari memberi waktu berduaan kepada pasangan itu gagal sudah.


"Iya, Bu.. Ikut saja." sambung Jelita.


Bu Sari merasa kesal pada Jelita yang tidak paham dengan kedipan matanya.


Aby membawa Jelita ke dokter yang buka praktek terdekat dari sana.


"Karna mbak nya lagi hamil, saya tidak berani memberi obat ya g berdosis keras. Ini. sekedar pereda rasa nyeri saja. Istirahat yang banyak ya!" pesan dokter.


Setelah mendapat pengobatan, Jelita di bolehkan pulang.


Saat keluar dari ruangan dokter, Jelita terseok:dan meringis kesakitan.


"Bisa di papah istrinya, mas..!" ucap Dokter itu tersenyum.


"Aah, iya bisa Dok." jawab Aby salah tingkah.


Melihat itu, Jelita merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, biar ibu saja, Mas."


Kata Jelita menolak.


Mereka segera pulang.


"Saya pulang dulu,jangan lupa obatnya di minum!" Aby mengingatkan.


Jelita mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


Bu Sari datang membawa secangkir kopi untuk Aby.


"Minum dulu, Nak Aby. Kau pasti merasa capek."


"Terimakasih, Bu. Tapi saya harus pulang, ini sudah malam sekali."


"Kenapa harus khawatir begitu, Jelita juga istrimu.' Aby merasa tak enak karena Bu Sari sampai mengingatkannya tentang statusnya dengan Jelita.


"Maaf, Bu. Jelita memang benar istri saya. Dan saya merasa sangat bersalah padanya karna belum bisa memenuhi tanggung jawab sebagai suami."


Aby menatap Bu Sari dengan tatapan bersalah.


"Tidak masalah kok, Mas." kata Jelita mengakhiri ke bisuan di antara mereka.


"Iya, Nak. Tidak usah merasa bersalah begitu." sambung Bu Sari dengan hati yang cukup dongkol pada Jelita


Aby tidak mau mengecewakan orang tua itu, ia sempat minum kopinya beberapa teguk sebelum akhirnya mengucap salam dan bergegas pergi


"Bu, jangan terlalu menekan Mas Aby, kasian.. Semua ini tidak mudah baginya." ucap Jelita saat deru mobil Aby sudah menjauh.


"Ibu paham, tapi apakah ini gampang buatmu? Apakah ini adil buatmu?" sergah Bu Sari.


"Ibu hanya ingin melihatmu bahagia dengan mendapatkan hak mu, itu saja.." sambung Bu Sari lagi.


"Lalu apakah seseorang bisa bahagia di atas tangis orang lain?"


"Bisa! Dengan sedikit melupakan kebaikan, bukan berarti kita memenangkan kejahatan, selama ini kita selalu di tindas, tidak pernah di hargai. Dunia begitu kejam padamu, Nak."


"Tidak ibu... Mungkin aku bisa kejam pada orang lain, tapi tidak pada Mas Aby. lihatlah, dia rela mengorbankan perasaan istrinya. Dia menikahi ku jelas bukan karna nafsu. dia pria bermartabat." puji Jelita. Ia mulai berempati pada sikap Aby.


"Ibu tidak bermaksud jahat pada Aby maupun keluarganya, tidak sama sekali. Ibu hanya memikirkan perasaanmu, kau jujur pada Ibu!


Apakah kau rela di perlakukan seperti ini?"


Jelita mendesah panjang.


Bu Sari terdiam. Pada dasarnya dia bukan orang jahat. Hanya saja kerasnya hidup sudah menempa hatinya untuk menjadi seorang pejuang, perjuangan untuk mempertahankan sesuatu yang sudah di genggaman, itulah yang ingin dia tunjuk kan pada anak angkatnya, Jelita.


"Sudahlah, ibu tidak usah terlalu memikirkan itu semua, kita jalani saja yang terjadi sekarang ini.". Jelita mencoba berpikir bijak. Walaupun sebenarnya yang terjadi adalah sebaliknya.


Semua kebaikan Aby dan ketulusannya sudah merampas hatinya. Namun apalah daya, dia tau diri akan posisinya yang hanya seorang istri siri. Dan sudah jelas kalau Aby menikahinya hanya karna ingin mengangkat ya dari penderitaan, atau juga mungkin bayi yang di kandungannya. Yang paling Jelita tanamkan dalam pikirannya, Aby menikahinya bukan karna ketertarikannya, tapi karna rasa iba.


***


pukul 6:00


Suasana pagi yang lengang membuat Anisa berkendara dengan nyaman.


Ia langsung masuk kerumah tanpa harus memanggil Aby.


"Untung aku bawa kunci cadangan..."


Ia sedikit heran karna tidak ada aktifitas sama sekali.


Di dapatinya Aby baru selesai sholat subuh.


"Mas Aby kesiangan, ya? Kok baru sholat subuh, ini sudah jam berapa?" sapa Anisa. Sambil membuka jendela.


"Iya, mungkin karna capek seharian di kantor, pekerjaan lagi numpuk.jadi kebablasan tidurnya " jawab Aby beralasan.


"Pantesan pesanku tidak kau balas."


Aby hanya tersenyum mendengarnya. ia terlalu fokus pada Jelita hingga mengabaikan pesan dari Anisa.


Ia memakai pekerjaan kantor untuk berbohong pada istrinya, padahal yang sebenarnya dia tidak bisa tidur gara-gara minum kopi dari Bu Sari.


"Ohya, kenapa sepagi ini kau sudah di rumah? Abah gimana?"

__ADS_1


'Abah sudah baikan. aku pulang karna harus mengambil berkas penting yang ketinggalan."


jawab Anisa sambil menyiapkan keperluan suaminya.


Aby bersiap mandi dan Anisa sibuk di dapur.


"Nis, Anisa...!" teriakan seorang wanita arah depan. Anisa bergegas keluar.


"Bu Wiwin, ada apa, ya?" sapa Anisa dengan ramah.


"Ini, saya mau nganterin undangan hajatan untuk besok sore. Semalem saya dari mini market depan, maksudnya mau sekalian ngasi undangan ini, tapi rumahmu sepi sekali."


"Owh, iya Bu Wiwin, saya pulang ketempat Abah karna beliau kurang sehat."


"Gimana keadaan Abahmu sekarang? Pasti sempat parah, ya. Sampai kalian berdua harus menginap disana." kata Bu Wiwin lagi.


"Nggak parah, sih Bu. Tapi hanya saya saja yang pergi, Mas Aby dirumah kok."


jawab Anisa tersenyum.


"Ah, Mada iya..? Wong jelas-jelas saya lihat tidak ada mobilnya semalam."


"Ah, Bu Wiwin salah lihat kali, mobil sebesar itu kok di bilang gak ada."


"Iya, kali. Sudahlah. Ingat datang, ya!"


Wanita yang terkenal tulang gosip itu mohon diri.


Anisa masuk lagi sambil menggumam sendiri.


"Ada-ada saja, keseringan ngegosip kali, makanya matanya sudah rabun. Masa tidak bisa melihat benda Segede itu." Anisa terkikik sendiri.


"Kenapa tertawa sendiri?"


Aby tiba-tiba sudah muncul di dapur.


"Itu, tetangga nganterin undangan hajatan. Katanya semalam dia sempat kesini, tapi dia bilang rumah sepi sampai mobil mu juga tidak ada di garasi. Apa gak lucu tuh?" jelas Anisa tanpa memperhatikan wajah Aby yang pucat tiba-tiba.


Tangannya gemetaran meraih gelas yang ada di meja.


Prang..!


Gelas pecah berserakan.


"Mas Aby.. Hati-hati dong! Lagi mikirin apa sih?" Anisa memeriksa tangan Aby.


"Untung tidak terluka."


"Maaf, Nis. Mas juga tidak tau kenapa gelas itu tiba-tiba jatuh." Aby beralasan lagi.


"Ya, sudah, sekarang duduk, aku ambilkan sarapan."


Anisa membersihkan pecahan gelas itu saat Aby menikmati sarapannya.


"Oh, ya.. ! Jadi ingat omongan Bu Wiwin tadi, mas. Apa benar dia sudah minus, ya?"


"Atau barangkali dia mau mencari bahan untuk bergibah." ucap Anisa.


Aby cepat - cepat meraih minumnya untuk mengatasi ketegangannya.


"Dia pikir Mas Aby sama kayak suami- suami di luaran sana.!"


Aby tersedak mendengarnya. Untung Anita sudah berlalu kedapur untuk membuang pecahan gelas.


"Apa yang harus aku katakan kalau Anisa bertanya keberadaan ku semalam?" Aby mendesah panjang.


Untungnya Anisa tidak membahas hal itu lagi.

__ADS_1


Ia berangkat ke kantor seperti biasanya.


__ADS_2