
Aby berhenti tertawa seketika saat melihat pesan dari Ningsih.
(Mas, bagaimana kelanjutan cerita yang kemarin? Tolong jangan membuat aku lelah menunggu kepastian, Kalau memang mau menikah dengan mba Anisa dulu, tidak apa-apa. Tapi aku khawatir dengan ancaman Dodi) kening Aby berkerut membacanya.
"Siapa, Mas?" tanya Anisa penasaran.
"Ningsih. Dia masih berani juga menuntut ku." keluh Aby.
"Jangan sampai mereka tau tentang bukti yang ada pada kita. Ladeni apa maunya, disaat yang tepat kita keluarkan bukti itu biar dia tidak bisa mengelak lagi." usul Anisa.
Aby mengangguk setuju.
Lalu dia membalas pesan dari Ningsih itu.
(Aku sudah tidak bisa mengelak lagi. Baiklah kalau begitu. Lusa aku dan Anisa akan menikah. Setelah itu terserah apa maumu)
 Dengan senyum tipis Aby menatap pesan yang sudah di baca Ningsih.
(Benarkah, Mas? Terima kasih atas pengertianmu. Kalau kita jadi menikah, Aku akan berusaha menjadi istri yang baik buatmu. Aku janji, Mas)
Aby tidak membalas lagi. Dia malah memasukkan ponselnya ke saku celananya.
"Kenapa?" Anisa melihat wajah Aby seperti mendung.
"Aku hanya tidak habis pikir, dia masih muda, pintar lagi. kenapa mau menghancurkan masa depannya dengan berbuat ini semua?"
"Cinta.." jawab Anisa pelan.
Aby menatap kepadanya.
"Kadang hanya karena cinta orang sanggup melakukan hal di luar nalar. Tapi sayangnya Ningsih salah memaknai cintanya."
"Kita sudah lihat dalam rekaman itu tentang bagaimana dia menyukaimu, Mas. Cuma saja dia pikir cinta itu harus saling memiliki."
"Kalau begitu kenyataannya, kasihan, dong dia." celetuk Aby.
"Jangan terkecoh lagi, kau masih ingat dengan Jelita, kan?"
"Iya, Nisa. Aku hanya sekedar kasihan saja,
untuk terjebak lagi, Insya Allah tidak akan. tentu saja aku masih ingat masa masa kelam yang menyebabkan semua penderitaan kita."
Anisa tersenyum.
"Hari ini aku mau memeriksa sebuah rumah yang akan aku jadikan tempat usaha. setelah itu baru menemui Ningsih."
"Semoga semuanya di lancarkan, ya Mas."
"Aamiin..!" jawab Aby.
Sore harinya, Aby menepati janjinya untuk menemui Ningsih.
Wajah Ningsih langsung berseri saat Aby muncul di tempat itu.
"Mas, ternyata kau datang juga, aku pikir kau sudah tidak sudi melihatku." ucapnya masih dengan senyum mengembang.
"Kenapa kau beranggapan seperti itu?"
"Yaah, hanya feeling aja." jawabnya asal.
"Lalu kapan aku bisa menemui orang tuamu?"
Mata Ningsih semakin melebar.
Ia tidak menyangka Aby akan bersedia bertemu ayahnya.
Saat itu pak Sofyan keluar dari ruangan dan langsung menyapanya.
"Aby.. ? Kebetulan sekali aku melihatmu di sini, ada yang ingin aku bicarakan."
"Iya, pak. Saya dari survey lokasi tempat usaha. Setelah itu langsung kesini."
"Duduk..,! " tawarnya pada Aby.
Ningsih yang hendak keluar dari ruangan itu di tahan pak Sofyan.
"Kau tidak usah keluar. Ini menyangkut dirimu juga." Aby dan Ningsih merasa heran. Apa kira-kira yang akan di katakan pak Sofyan.
__ADS_1
"Begini, ayahnya Ningsih sudah menceritakan semuanya tentang kalian. Dia bertanya bagaimana dirimu. Setelah aku ceritakan secara detil. dia sangat mendukung rencana kalian untuk segera menikah." Ningsih menarik nafas lega. Tapi Aby malah terdiam.
"Apakah aku harus membuka kedok Ningsih sekarang di depan pak Sofyan?" Aby menjadi bimbang.
"Jadi bapak merestui kami?" Ningsih bertanya pada pak Sofyan, sedangkan tangannya memeluk lengan Aby erat.
Pak Sofyan mengangguk.
"Bagaimana denganmu, By?"
"Saya, saya butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya, pak." jawab Aby berbohong. Ia merasa tidak enak mengecewakan orang tua itu.
Aby dan Ningsih sudah duduk di bangku sebuah taman. Aby sengaja membawanya ketempat itu agar lebih leluasa berbicara.
"Ningsih, apakah kau bahagia saat ini?" Aby memulai percakapan.
Ningsih mendongak menatap matanya.
"Maksud Mas Aby? Tentu saja aku sangat bahagia."
"Yakin kau merasa bahagia?"
Ningsih mengangguk lagi.
"Walaupun dengan cara membohongi orang lain?"
Ningsih menatapnya heran.
"Sebenarnya apa yang membuatmu begitu terobsesi padaku?"
"Ini bukan obsesi, ini cinta tulus, Mas. Aku juga tidak tau, kenapa harus Mas Aby orangnya. Padahal teman priaku banyak...
kalau boleh memilih tentu aku tidak mau memilih mas Aby. Karna aku tau di hati mas Aby sudah ada mba Anisa..." mata Ningsih berkilat menatap Aby.
"Itu maksudku, aku hanya pria biasa yang sudah punya anak. Apa yang bisa kau harapkan kalau berjodoh denganku?"
Ningsih tertunduk.
"Aku mohon, pikirkan lagi keputusanmu." ucap Aby lirih.
"Tapi aku sudah terlanjur bicara dengan ayahku, Mas."
Ningsih menggeleng keras.
"Ini bukan tentang ayahku saja, tapi tentang Dodi, tentang mempertanggung jawabkan semua ucapanmu."
"Aku hanya ingin menolongmu saat itu, tapi kalau akhirnya kau menganggapnya serius, itu masalah mu."
"Tidak bisa begitu, Mas. Aku sangat mencintaimu... Sungguh.!" Ningsih masih berkeras
"Lalu apa yang kau rencanakan bersama Dodi? Bukannya ingin menjebak ku?" Sebenarnya Aby ingin menahan barang bukti itu dulu, tapi melihat kekerasan hati Ningsih membuatnya harus mengatakan saat itu juga.
"Mas, kau bilang apa?" Ningsih menggeleng heran. Ia masih berpura-pura tidak mengerti
Aby mengeluarkan rekaman yang di dapatnya dari Anisa.
"Mas, itu bohong! Itu tidak benar!" tangkis Ningsih.
"Lalu apa yang benar menurutmu?"
Ningsih tertunduk.
"Yang benar, aku sangat mencintaimu, aku ingin mengabdikan diriku padamu, Mas. Sekalipun harus menjadi yang kedua setelah mba Anisa."
Aby merasa tidak sabar lagi.
Ningsih sangat susah di beri pengertian.
"Mau aku buka aib mu ini di depan orang, atau kau tarik sendiri tuntutan mu padaku? Tinggal pilih." ancamnya.
Ningsih menangis tergugu.
"Maafkan aku, aku sudah di butakan oleh perasaanku. aku merasa tidak ada cara lain, kalau aku utarakan perasaanku secara langsung. pasti kau tidak akan menerima ku"
"Tapi caramu salah..."
Aby menghela nafas berat. Kemudian dia bicara lagi dengan lembut.
__ADS_1
"Aku tidak akan marah asal kau mau membatalkan semuanya. Aku bersedia menjelaskan kesalah pahaman ini pada ayahmu."
"Lalu perasaanku padamu?" mata Ningsih menatapnya penuh harap.
"Itu hanya perasaan simpati saja, kita baru beberapa hari saling kenal. Seiring waktu kau akan menyadari kalau itu bukanlah cinta. Percayalah, kau akan menemukan cinta sejati mu. Besok aku akan menikah dengan Anisa. Ku harap kau merelakan kami."
Ningsih terdiam. Dalam hati dia sangat tidak rela dengan penolakan pria itu.
"Aku tidak bisa..! aku terlanjur sayang padamu, Mas."
"Ningsih, kau gadis cerdas. Masa depanmu masih panjang. pilihanmu masih banyak. Sedangkan aku dan Anisa, kami sudah punya dua orang anak. Karena nasib membuat kami terpisah. Dan sekarang kami ingin bersatu demi anak-anak." jelas Aby.
Walau berat hati, akhirnya Ningsih menyerah.
Mereka menghadap orang tua Ningsih untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
Walaupun sempat murka, Ayah Ningsih bisa menerima alasan Aby.
Aby merasa lega. Satu masalah terselesaikan sudah. Kini tinggal merencanakan pernikahannya dengan Anisa.
***
Hari yang di nanti itupun tiba. Aby dan Anisa sepakat memilih hari Minggu, tempatnya pun di masjid dekat dengan rumah yang Anisa tempati. Sesuai kesepakatan mereka, yang di undang hanya kerabat dan sahabat dekat.
makanan pun mereka pesan.
Anisa terlihat anggun dengan kebaya panjang berwarna putih dengan hijab senada.
Begitupun Aby, senyum sumringah tidak pernah lepas dari bibirnya.
Akhirnya setelah begitu lama menunggu, begitu banyak duri dalam perjalanan mereka, jodoh memanggil mereka kembali.
Aby terlihat gugup saat melihat Anisa datang menghampirinya dan duduk di sampingnya.
"Kau terlihat cantik hari ini..." bisiknya pelan.
Anisa tersipu.
"Tidak usah menggombal, aku sudah punya dua orang anak, jadi tidak akan mempan dengan rayuan mu." balas Anisa berbisik
"Aku tidak sedang merayu mu tapi mengagumimu. Kau cantik tanpa riasan apapun." puji Aby lagi.
"Sudah selesai bisik-bisik nya? apa kita bisa memulai acaranya?" ujar penghulu menggoda mereka.
Aby mengangguk malu.
Karena Anisa sendirian, seorang tokoh agama bertindak menjadi walinya.
Al yang memakai jas yang sama dengan ayahnya, duduk diam di samping orang tuanya.
Ia merasa bahagia melihat kedua orang tuanya bersatu.
Acara ijab kabul itu berjalan lancar. Selancar Aby mengucapkannya.
Anisa tak kuasa membendung airmatanya.
Ia teringat almarhum Abahnya.
Setelah mencium tangan suaminya dengan Hidmat, Aby mengecup keningnya cukup lama sambil berlinang air mata.
"Anisa sekarang kita sudah bersatu kembali, kita tidak akan terpisah lagi kecuali Allah menghendaki."
Aby memeluk Anisa dan Al yang berdiri di sampingnya. Matanya mencari keberadaan Khaliza, saat fotografer hendak menjepret nya, ia berseru.
"Tunggu..! Personelnya kurang satu."
Khaliza datang diserahkan oleh seorang kerabat yang membantu memegangnya.
sambil memeluk Khaliza , baru dia meminta
fotografer mengabadikannya.
Dari arah luar pintu masjid. Ada seseorang yang sedang memantau kejadian itu.
Matanya memerah karena air mata. Ia begitu terharu.
"Aku merasa lega karena kau mendapatkan kebahagiaanmu kembali. Liza juga mendapatkan ayah yang begitu perduli padanya."
__ADS_1
Sambil mengusap airmatanya. Dia melangkah menjauh tertatih di bantu oleh tongkatnya.