
"Bunda, Ayah sedih kenapa Bunda tidak menjenguknya? ayah sakit, Bund." mata Al terlihat memelas.
Anisa memalingkan wajahnya. Ia menahan
Air matanya yang hampir tumpah.
"Bunda kurang sehat, jadi belum bisa menjenguk ayah Aby.." Rosma datang menjelaskan.
"Tapi Nek, kasihan ayah, dia sendirian disana.." Isak Al lagi.
"Kan ada temannya yang menemaninya. Sudah, Al mandi sana. Jangan khawatirkan ayah Aby, dia pasti akan sembuh."
Al berlalu dengan mata yang masih basah.
Anisa menggigit bibirnya, ia menahan agar dapat isaknya tidak terdengar.
"Bi, ijinkan Anisa kesana. Kali ini saja..!" Yahya memohon.
"Tidak, Anisa tidak akan kesana. Atau,
dia boleh kesana tapi harus bersama Bibi."
"Bagaimana, Nisa? Terima saja syarat dari Bibi. Pak Aby sangat menunggu kedatanganmu."
Anisa tidak menjawab. Tapi langsung masuk untuk bersiap.
"Bi, aku mohon. Jangan bicara yang macam macam disana, pak Aby sedang mengalami gangguan ingatan, dan mungkin saja... dia akan menganggap kalau Anisa masih istri nya." Yahya menjelaskan dengan hati- hati.
Namun tak urung mulut Rosma terbuka lebar.
"Anisa sudah tau tentang ini?"
Yahya mengangguk.
"Dan kau masih mengijinkan dia pergi?"
"Bibi, belum tau keadaan pak Aby sangat parah." ucap Yahya lagi.
"Apapun alasannya, keputusanmu tidak tepat mengijinkannya pergi. Ini awal dari malapetaka buatmu." Rosma seperti mengutuk Yahya.
Saat itu ponsel Rosma berdering.
Ia berbicara agak pelan.
Lalu terlihat menangis.
"Ada apa, Bik?"
"Bibik belum pernah cerita padamu.
Sebenarnya, Bibi datang kemari karena di usir oleh Anwar."
"Di usir? Tapi kenapa, tidak mungkin dua melakukan itu tanpa sebab."
"Istrinya keguguran, dan dia menuduh Bibi penyebabnya. tentu saja Bibi tidak terima.
Bibi berniat baik dengan memberi istrinya jamu buatan Bibi. Bukan salah Bibi, dong kalau istrinya keguguran." Rosma masih membela diri. Yahya me ggeleng heran atas cara pikir Bibinya.
"Tentu saja Anwar marah, 'mungkin Bibi terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka seperti yang Bibi lakukan padaku. Itu tidak baik, Bi...'
"Kau juga mau menghakimi Bibi seperti Anwar? Memang sekarang Bibi sudah tua, tidak berguna lagi, maka nya kalian selalu mencari kesalahan Bibi."
__ADS_1
Rosma masih menangis. Ia ingat bagaimana Anwar anak kandungnya yang telah mengusirnya. Ia di tuduh terlalu ikut campur dalam urusan anak dan menantunya itu.
Itu pula sebabnya dia jauh-jauh datang mencari Yahya. Karna memang tidak ada lagi yang mau menampungnya di Lampung.
Rosma masuk ke kamarnya, ia menolak untuk ikut kerumah sakit.
Pada akhirnya, hanya Anisa dan Yahya yang berangkat.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka.
Diam dan kaku.
Sampai dirumah sakit, Imran datang menyongsong mereka.
"Anisa, tolonglah Aby, keadaannya sangat mengkhawatirkan. Sejak kepergian Al tadi pagi, kondisinya menurun drastis. Kata dokter, ginjalnya semakin membengkak. ia tidak mau bicara sedikitpun. Kondisinya semakin lemah... Aku yakin, hanya kau yang bisa memberinya semangat untuk hidup."
Anisa menatap Yahya sejenak. Bagaimanapun marahnya ia pada pria itu. Ia masih sadar kalau Yahya adalah suaminya saat ini.
Yahya mengangguk membuat Anisa mantap melangkah kedalam ruangan itu
"Mas Aby...!" suara Anisa yang pelan membuat Aby membuka matanya.
Bibirnya yang kering terlihat ingin mengucap. Sesuatu.
Hati Anisa begitu pilu menyaksikan keadaan Aby, ia memulai terisak.
Anisa tidak tahan untuk tidak mendekati tubuh yang lemah itu dan memeluknya.
"Mas, kenapa kau sampai seperti ini?"
Tangan Aby sedikit terangkat, ia ingin membelai hijab Anisa.
"Ayo bicara, Mas! Kau yang yang jadi perantara hingga aku bisa hidup sampai sekarang. Ayolah, ini bukan permintaan, tapi perintah. Kau harus kuat, ingat Al. ingat aku, Mas, aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan sanggup hidup tanpamu lagi. Kau harus hidup, harus!"
Anisa melihat sudut mata Aby membasah. Pria itu menangis namun tidak terisak.
Anisa trus mendampinginya, bercerita tentang banyak hal. Ia minta ijin pada Yahya untuk menemani Aby di rumah sakit.
Yahya setuju.
"Jangan khawatir, ada Mas Imran juga." ucap Anisa.
"Aku percaya padamu. kalau begitu aku pulang, takutnya Al akan mencari. Kalau butuh sesuatu, telpon saja!" pesannya pada Anisa.
Dengan kehadiran Anisa di sampingnya, membuat Aby lebih baik. Ia mulai mau tersenyum dan sesekali bicara, terkadang pula ia meringis kesakitan.
Ada perawat wanita yang sangat ramah bernama Lyra. Ia begitu telaten merawat para pasien, termasuk Aby. Anisa sangat berterima kasih padanya.
"Mbak, tidak usah khawatir kalau mau pulang sebentar barangkali, Mas Aby biar aku yang menjaganya."
"Terima kasih, aku berhutang budi padamu."
"Jangan sungkan begitu, Mbak. Aku senang melakukannya. Lagi pula ini adalah tugasku." jawab gadis manis itu.
"Anisa, aku mau minum." suara Aby mengagetkan Anisa yang sedang mengobrol dengan Lyra.
"Minum, Mas?" dengan senang hati Anisa membantunya minum.
"Alhamdulillah, Mas. Kau ada perubahan..."
"Iya, benar. Sejak kedatangan Mbak Anisa kondisinya berangsur membaik."
__ADS_1
Anisa merasa sangat bersyukur, Aby sudah mau mengobrol.
Paginya ia pamit pada Aby untuk pulang.
"Jangan lama-lama datangnya, bawa Al juga, ya!" pesan Aby dengan semangat.
Anisa hanya tersenyum.
"Nis..." Aby memberinya sinyal agar mendekat.
Saat Anisa mendekat.
"Kau melupakan sesuatu,"
Anisa termenung tidak mengerti.
"Tiba-tiba saja Aby menariknya dan mencium keningnya.
Anisa tercekat. Tentu saja Aby tidak menyadari yang di lakukannya itu membuat Anisa kaget.
"Mas, aku pulang, ya!" ucapnya salah tingkah.
Aby mengangguk dan tersenyum.
sampai di rumah, Anisa mendengar Rosma sedang memarahi Yahya.
"Kau pria lemah, kau biarkan istrimu menginap di sana, dengan pria lain? Ck ck ck...! sungguh Bibi tidak mengerti jalan pikiranmu itu."
Yahya hanya terdiam. Untungnya Al tidak ada disana saat Rosma mengatakan hal-hal buruk tentang Aby.
"Bibi ngeri membayangkan apa yang terjadi disana, kau terlalu naif apa bloon?"
"Cukup, Bibi!" Anisa menerobos masuk.
"Hentikan semua hinaan Bibi."
Yahya mendongak kaget. Ia tidak menyangka Anisa datang begitu cepat.
"Memangnya apa yang sudah ku lakukan disana?"
"Apa yang bisa di lakukan oleh orang sakit?" sergah Anisa tak terima.
"Ya, mana Bibi tau, tanya sama dirimu, kok malah nanya Bibi. aneh!" wanita itu seakan tak mau kalah.
"Dan asal Bibi, tau. Mas Aby orang yang bersih, dia tidak akan pernah berpikiran jorok seperti Bibi!"
"Eeeh... Malah ngatain orang tua? Kualat kamu nanti."
"Sudah, sudah! malu pagi-pagi sudah ribut. Nisa, maafin Bibiku, ya..?"; ucap Yahya melerai.
"Kenapa kau minta maaf? Bibi tidak salah."
Rosma masih berteriak.
Yahya menggiring Bibinya ke kamar, meninggalkan Anisa yang sedang kesal.
"Pagi-pagi bukannya ngajak sarapan, malah ngajak berantem. Astagfirullah..! Bukan maksud aku durhaka, Bi. Tapi tuduhan Bibi itu tidak beralasan." gumam Anisa.
Ada bias bahagia di hatinya saat membayangkan menemani Aby di rumah sakit.
"Aku akan masak makanan kesukaannya..." pikir Anisa tersenyum.
__ADS_1
Saat melewati cermin, ia tertegun.
Perutnya semakin terlihat membesar, apa yang akan di katakan nya andai Aby bertanya. Ah, kenapa aku di hadapkan pada pilihan yang sesulit ini?"