
Sore yang cerah, kebahagiaan menyelimuti hati kedua insan itu. setelah sempat terpisah oleh banyak ujian, kini bersatu kembali. Dua cinta sejati yang tak lekang oleh waktu.
"Aku sangat bahagia, Nis. Aku tidak menyangka kita bisa bersama lagi.
"Aku juga merasa belum percaya, semula aku tidak yakin kau mau menerima ku lagi, padahal aku sudah sempat menjalin hubungan dengan orang lain." ucap Anisa tersipu.
"Memangnya kenapa? Semua yang terjadi padamu adalah atas kemauanku, lagi pula.. Aku juga pernah menduakan mu. rasanya seumur hidup aku tidak bisa melupakan kesalahanku itu."
Anisa meraih tangan Aby.
"Kesempurnaan hanya milik Allah, Mas. Kita hanya manusia biasa yang tidak akan pernah luput dari yang namanya kesalahan."
"Tugas kita membenahi diri, bagaimana caranya agar tidak mengulangi lagi."
"Kau benar, tapi kalau mengingat begitu panjang perjalanan cinta kita.. Rasanya aku tak percaya kita bisa berada di titik ini.
kita bisa bersama lagi dengan dua orang anak yang sehat dan pintar." Aby menyentuh pipi Khaliza.
"Tapi sempat ada yang mengganjal di hatiku." ucap Aby.
"Apa itu, Mas?"
"Yahya.. Aku bisa merasakan bagaimana perasaanya saat ini."
Aby memandangi kebun bunga di halaman rumah itu.
"Aku juga merasa iba, tapi segala sesuatu butuh pengorbanan. Dan mungkin, saat ini giliran dia harus berkorban. Siapa tau di balik cobaan yang dia hadapi, menyimpan sebuah hikmah."
Aby mengangguk.
"Aku akan membebaskan dia menemui Khaliza, kapanpun dia mau. Bagaimana menurutmu?"
"Aku tidak masalah, Yahya adalah ayahnya. tidak sepantasnya kita membatasi akses pertemuan antara orang tua dan anak. Aku sudah mengalaminya sendiri. Sangat menyakitkan tidak bisa melihat , memeluk dan menyaksikan pertumbuhan anak kita sendiri."
"Lalu kapan kita akan meresmikan ..?" Anisa tidak melanjutkan ucapannya.
"Secepatnya.. Aku ingin kita segera pindah kesini."
Anisa tersenyum malu layaknya perawan yang membicarakan hari pernikahannya.
"Hari hampir gelap, ayo kita pulang." ajak Anisa.
Aby memanggil Al yang bermain ayunan.
"Kapan kita kesini, lagi Yah?"
"Secepatnya. Kita akan tinggal disini." jawab Aby.
Mata Al berbinar, ia sangat menyukai tempat itu. ia menatap kearah Bundanya.
"Benar, Nak. Ayah, Bunda dan dedek Liza. kita akan tinggal disini, insya Allah."
"Ayah? Ayah juga akan tinggal bersama kami?"
"Tentu saja. Apa tidak boleh?" Aby sengaja menggoda anaknya.
"Boleh, Malahan aku senang banget. Terimakasih ya, Ayah." Al mencium ayahnya dengan gembira.
"Sama-sama anak soleh.."
Mereka berangkat pulang dengan hati ceria.
Di Tengah perjalanan Aby menghentikan motornya.
"Sudah azan magrib. Kita sholat dulu di masjid ini."
Anisa setuju. Mereka melaksanakan sholat magrib berjamaah.
"Nis, mumpung kita keluar, bagaimana kalau kita mampir sebentar untuk membeli kebutuhan sehari-hari."
"Terserah, Mas Aby saja. Aku akan ngikut." jawab Anisa tersenyum.
Akhirnya mereka mampir di sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar.
Mereka membeli berbagai kebutuhan.
__ADS_1
Saat di kasir, ada seseorang yang menepuk pundak Aby.
"Mas Aby..? Ternyata dunia sangat sempit, ya..?" saat Aby menoleh, ia melihat Ningsih sedang berdiri persis di belakangnya.
"Kau sedang belanja juga?"
"Lagi Survey kendaraan" Ningsih tertawa.
"Bercanda, lagi belanja, dong Mas." ujarnya sambil menyentuh lengan Aby.
Anisa yang berada agak jauh dari mereka merasa risih melihat gaya Ningsih yang bebas.
"kau sendirian saja?"
"Sendirilah, namanya juga masih lajang. Tapi aku sedang mencari seorang pendamping, kok. Biar tidak sendiri lagi. Dan kayaknya tipe pria yang aku cari ada pada mas Aby, deh." ucapnya tanpa basa basi. Ningsih mengamati wajah Aby yang terlihat kaku.
Ia kembali tertawa.
"Bercanda, Mas. Masa di bawa serius begitu. Tapi kalau di anggap serius juga ngga papa, sih." ucapnya lagi.
Ningsih terlihat begitu bebas dan lepas. dia leluasa mengutarakan isi hatinya tanpa beban.
"Mas, Sendirian juga, kan? Kebetulan banget. Kita klop dong." Aby Menatap Ningsih kaget.
Gadis di depannya itu terlalu ceplas ceplos.
"Kau bisa saja... " kilah Aby. Ia ingin segera menghindar dari tempat itu, tapi tiba-tiba ada seorang pria menarik tangan Ningsih dengan kasar.
"Ayo ikut aku...!"
Dia menyeret gadis itu dengan paksa.
Semua orang hanya bisa menyaksikannya tanpa berusaha menolongnya.
"Lepaskan aku! Aku tidak mau ikut denganmu." jerit Ningsih.
Wajahnya penuh ketakutan. Sangat berbalik dengan wajah cerianya barusan sebelum pria itu datang.
"Aku berhak atas dirimu. Jangan membantahku."
"Dasar wanita ******, kau sudah berani melawan ku ya sekarang?"
"Berhenti menindas ku! Aku manusia bebas yang tidak terikat siapapun."
"Apa kau bilang? Bebas?" .
Pria itu tersenyum sinis sambil berkacak pinggang.
"Aku membebaskan mu jika ada seorang pria yang mau menerimamu sekarang juga!"
Ningsih terdiam dengan nafas memburu.
"Baik lah, kau akan lihat, aku akan mendapatkan pria itu sekarang juga."
Setelah berkata begitu, Ningsih menarik tangan Aby.
Aby yang kaget dan tidak siap merasa bingung harus bagaimana.
"Dia! dia yang akan menikah denganku. Mulai sekarang kau lepaskan aku!" mata Ningsih menatap pria itu dengan berani.
Aby tercengang. Ia berusaha menarik tangannya dari Ningsih, tapi pegangan gadis itu sangat kuat.
"Aku tidak percaya, kau pasti hanya mengada-ada. Mana mau dia menikahi gadis kotor seperti mu."
Ningsih menatap Aby. tatapannya sangat memelas. seolah dia minta tolong.
Aby bingung, dia menatap kearah Anisa.
Anisa menggeleng kearahnya.
Tapi pegangan Ningsih sangat kuat.
"Ayo buktikan!" tantang pria itu lagi.
Semua terdiam menunggu, termasuk Aby.
__ADS_1
"Kau hanya membual, mana ada pria yang Sudi menikahi mu." ejeknya sambil menjambak rambut Ningsih.
"Tunggu!" tiba-tiba saja Aby bersuara. dia tidak tahan melihat wanita di aniaya.
"Aku yang akan menikahinya...!"
Semua mata memandang kearah Aby.
Begitu juga Anisa , dia menahan nafas.
Dia tidak mengerti kenapa Aby seceroboh itu.
Aby memegang tangan Ningsih.
"Sekarang kau puas? Aku yang akan menikahi Ningsih. Sesuai janjimu, dia bebas sekarang."
Pria itu menatap Aby dengan sinis. Dia meninggalkan tempat itu dengan menggerutu.
Ketegangan sudah berlalu.
Aby mencari keberadaan Anisa dengan matanya.
Ningsih memegang kedua tangannya.
"Mas, feeling ku tidak pernah salah. Kau memang pria sejati dan bertanggung jawab.
Dari sekian orang yang ada di tempat ini, hanya kau lah yang perduli penderitaanku." ucap Ningsih.
"Maaf, bisa kita bicara nanti saja? Yang penting kau selamat dulu dari pria tadi. aku mau mencari anak ku dulu ."
Aby berlari keparkiran, ia tidak mendapati Anisa dan anak -anak disana.
"Kemana dia? Jangan sampai Anisa salah paham dengan kejadian tadi. Aku hanya sekedar menyelamatkannya dari kekejaman pria itu." Aby terus menelpon, tapi Anisa sengaja tidak menjawabnya. ia merasa kesal dengan keputusan Aby.
Karna tidak menemukan Anisa dimana-mana, Aby meluncur ketempat Anisa.
Benar saja, dia mendapati Anisa sedang duduk termenung sendiri.
"Assalamualaikum.."
"WAalaikum salam...! " jawab Anisa.
"Kalau kau ingin bertemu anak-anak, mereka sudah tidur."
"Anisa, aku minta maaf atas kejadian tadi, aku melakukan itu hanya untuk menolongnya," jelas Aby bersungguh-sungguh.
"Apa perlu kau menjelaskannya, Mas? Dulu, waktu kau menolong Jelita, ini juga yang kau katakan."
"Tapi sumpah, kali ini aku hanya ingin menghindarkan dia dari pria itu."
"Lalu apa bedanya? Kau hanya berniat menolong, tapi wanita itu akan menganggapnya serius dan menuntut janji mu. Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku mohon, Nis. aku juga bingung. Ini memang salahku, kadang tidak berpikir apa akibat dari perbuatanku."
Anisa merasa iba juga melihat Aby kebingungan.
"Sekarang jawab yang jujur. kita belum terikat, jadi kau bebas memilih, sekalipun kau memilih bersama Ningsih, aku tidak punya hak untuk marah atau semacamnya."
Aby tertawa kecil.
"Kau bilang apa? Kita sudah membahas ini tadi sore, masa kau belum jelas juga."
"Lalu janjimu pada Ningsih?"
"Itu hanya spontan, Nis. Ok, lah aku salah... Sekarang tolong aku memikirkan bagaimana caranya menjelaskan pada Ningsih tentang rencana kita. Kau mau, kan menolongku?" Aby balik bertanya.
Anisa masih terdiam.
'Ayolah, bantu aku Nisa..demi anak-anak." Aby menangkupkan kedua tangannya.
"Baiklah, Mas. Besok antar aku menemui gadis itu."
"Terima kasih, Nisa. kau memang bijaksana dalam segala hal."
Aby pulang setelah berjanji akan mempertemukan Anisa dan Ningsih.
__ADS_1
.