KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 76


__ADS_3

Malam itu Anisa mengucapkan syukur yang sedalam-dalamnya. Hal itu ia curahkan lewat sujud panjangnya.


"Aku tidak menyangka bisa sampai di titik ini. Setelah rentetan ujian yang begitu panjang, akhirnya semua berjalan baik kembali.


Tentang Mas Aby, walaupun aku sangat berharap, biarlah ku serahkan kembali semua keputusan di tanganmu ya, Robb ku."


Anisa merebahkan tubuhnya di ranjang sempit itu. Ia terpaksa tidur berhimpitan dengan kedua anaknya.


Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar.


Wajah Aby melintas di benaknya.


Anisa berusaha mengerjap, tapi wajah yang teduh itu terus saja terbayang.


"Mas Aby sedang apa, ya? Apa dia juga sedang gelisah seperti diriku? Atau justru dia malah tidak memikirkan hal ini sama sekali?"


Anisa gelisah. Sampai jam tiga dini hari dia baru bisa memejamkan matanya.


Tak jauh beda dengan Anisa.


Aby juga sedang gelisah. Ia membolak balik badannya di atas kasur.


bayangannya tentang Anisa, anak-anak dan Yahya menganggu pikirannya.


"Kasihan sekali hidup Yahya, dia sudah kehilangan sebelah kakinya kini harus kehilangan istri dan anaknya pula. Aku harus bersyukur, ujian yang ku terima tidak seberapa di bandingkan dia..."


Ia menghela nafas panjang.


"Mudah-mudahan saja dia masuk dalam golongan hamba yang bersabar..."


"Kini saatnya aku menata kembali hidupku.


Aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu,. Aku ingin membuat Anisa dan anak-anak bahagia.


Rasanya tidak ada kebahagiaan yang melebihi saat kami bisa bersama melihat anak-anak tumbuh besar. Lalu apakah Anisa bersedia kembali padaku? Kalau melihat tatapannya pada Yahya, sepertinya dia sangat iba padanya. Aku harus segera membicarakan ini dengannya. Aku tidak ingin berlarut-larut. Tunggu aku besok sore, Aku akan mengutarakan niatku ini. Aku harap kau juga punya keinginan yang sama denganku."


Aby tersenyum penuh harap.


Pagi harinya, Aby mengirim pesan pada Anisa.


(Nisa, nanti sore aku mau kesana, ada yang ingin aku bicarakan) Aby menahan nafas saat menekan tombol kirim.


Tak berapa lama, balasan dari Anisa datang.


(Ada apa, Mas?)


(Nanti saja)


(Baiklah, aku tunggu)


Aby berangkat ketempat pak Sofyan dengan ceria. Hari ini adalah hari terakhir dia bergabung disana.


Nanti sore ia berencana mengajak Anisa dan anak-anak pergi jalan-jalan. Ia sudah membayangkan kegembiraan di wajah Al.


sekalian ia ingin mengutarakan niatnya melamar Anisa.


"Selamat pagi, Mas Aby..." wajah Ningsih terlihat ceria.


"Pagi juga, Kau terlihat sangat bersemangat."


"Iya lah ,Mas. Kita generasi muda, kalau kita saja yang muda loyo. bagaimana yang tua?"


Aby tersenyum menanggapi candaan Ningsih.


"Pak Sofyan belum datang?" tanya Aby sambil matanya mencari-cari.


"Belum, beliau sudah kirim pesan padaku, katanya datang agak siangan, beliau menyuruh Mas Aby menunggu."


"Owh begitu, ya..?"


Aby duduk sambil memeriksa ponselnya.


Ia berharap Anisa mengirim pesan atau sekedar menyapanya.


"Mas, sambil nunggu pak Sofyan datang. Tolong ajari aku, ada beberapa yang aku belum paham."


Dengan senang hati Aby bangkit dan duduk di dekat Ningsih.

__ADS_1


"Bagian mana yang kau belum paham?" Aby


menjelaskan dengan gamblang.


Sedangkan Ningsih malah terpana menatapnya.


"Kamu sudah paham, belum?"


Ningsih masih terpesona.


"Ningsih.." Aby menyentuh gadis itu.


"Oh, ya.. Aku paham, Mas." ucapnya tergagap.


"Dijelaskan malah melamun, benar sudah paham?"


Ningsih mengangguk cepat.


"Saya juga yakin kamu cepat menguasai pekerjaan ini, kau cerdas dan cepat tanggap." puji Aby membuat Ningsih merasa melayang.


"Mas Aby sangat baik, sungguh beruntung wanita yang mendapatkan cintamu Mas."


"Ah, kau berlebihan.." jawab Aby merendah.


Setelah berbincang ringan, pak Sofyan datang.


"Maaf aku terlambat, Lyra tiba-tiba merasakan kram di perutnya. Kami harus membawanya kerumah sakit dulu."


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang, pak?"


"Alhamdulillah, sudah membaik. Dia ditunggui suaminya ."


"Syukurlah..."


Pak Sofyan mengajak Aby masuk ke ruangannya.


Hari sudah menjelang sore saat Aby keluar dari ruangan pak Sofyan.


"Kalau kau tidak keberatan, datang sesekali untuk melihat keadaan di sini, lagi pula Ningsih masih perlu banyak bimbinganmu."


"Insya Allah , pak."


Wajahnya terlihat gelisah.


"Ada apa Ningsih? Kau pulang juga?"


"Iya, Mas. Tapi sebentar lagi."


"Saya duluan..!" Aby mohon diri.


 Ningsih melambai kearah motor Aby.


"Kau sangat membuat ku penasaran,


Tunggu saja aku beraksi. Aku tidak akan berhenti sebelum mencapai tujuanku." Ningsih mengulum senyum penuh arti.


Aby pulang sebentar untuk mandi dan berganti baju. Setelah itu dia menuju ketempat Anisa.


"Ayah.. !" Al menyambutnya dengan suka cita.


Aby langsung memeluk dan mengangkat nya. Khaliza tidak mau kalah, dia merengek minta di gendong.


"Gantian, dong. Ayah mana bisa menggendong kalian berdua sekalian." sela Anisa.


"Tidak apa, ayah masih kuat, kok." Aby mengambil Khaliza dari pangkuan Bundanya.


Kedua anak itu begitu gembira di pelukan Aby.


Anisa terharu melihatnya. Sungguh tulus hati Aby. Khaliza mendapatkan sosok ayah yang sempurna darinya, Ia tidak membeda-bedakan kedua anak itu.


"Sudah, ayo turun, biarkan ayah duduk dulu." Anisa mengambil kembali Khaliza. Tapi anak itu tidak mau.


"Abang dah yang ngalah dulu sama adiknya ." ujar Aby.


Al turun dari gendongannya.


"Dedek Liza suka di gendong ayah, ya?" goda Aby sambil mencubit pipi Khaliza.

__ADS_1


"Siapa yang tidak senang padamu, Mas? Hatimu tulus dan bersih." ucap Anisa dalam hati.


"Ayah juga sayang sekali pada adik."


"Lalu aku gimana, Yah?" Al menyela sambil cemberut.


Aby dan Anisa tertawa di buatnya.


"Sama, kalian anak-anak ayah yang manis."


Al merangkul ayahnya.


Anisa mengambil putrinya.


"Oh, ya Mas. Katanya ada yang mau kau bicarakan, tentang apa, ya?"


"Kita bawa anak-anak jalan -jalan? Gimana?"


Anisa mengangguk dan tersenyum


"Aku kira dia akan membicarakan hal kemarin..." batinnya kecewa.


Setelah semua siap, mereka berangkat.


Anisa begitu bahagia, ia merasa dunianya kembali lagi. Bagaimana tidak? kini mereka seperti sebuah keluarga yang utuh.


"Pegangan yang kuat, Nis. Jalannya agak rusak." teriak Aby.


"Memang kita mau kemana, Mas?"


"Sebentar lagi kita sampai. Kau tunggu saja "


Anisa terpaksa bersabar. Ia menahan rasa penasarannya.


Mereka berhenti di depan sebuah rumah kecil namun asri.


"Bagaimana, kau suka rumah ini?"


Anisa masih tidak percaya.


"Kau tidak suka, ya?" wajah Aby terlihat kecewa.


Anisa meraih tangan pria itu. Ia tidak sanggup menahan rasa harunya.


"Aku, sangat suka...." ucapnya terbata.


"Syukurlah.. Ayo kita duduk di kursi itu."


Anisa menurut saja saat Aby menuntunnya kesebuah kursi.


Khaliza masih anteng di gendongannya.


Setelah mereka duduk.


"Ehmm... Nis, sebenarnya aku ragu mau mengatakan ini. Aku paham kau sudah mengalami begitu banyak cobaan selama ini.


Tapi setelah kupikir-pikir ini demi anak-anak."


Aby berhenti menarik nafas.


Anisa menanti dengan wajah tak sabar.


"Apakah kau bersedia menjalani hari tua nanti bersamaku? Membesarkan anak-anak denganku?" Aby menahan nafas. Ia terlihat gugup menanti jawaban Anisa.


Setelah mengumpulkan keberaniannya, Anisa bisa bersuara


"Aku tidak mau... " Aby mendongak kaget.


Wajahnya terlihat kecewa.


"Aku tidak mau melewatkan sisa usiaku sendirian lagi." ucap Anisa pelan.


Aby menatapnya dengan senyum mengembang.


"Jadi? Kau mau?" Anisa mengangguk samar.


"Terima kasih, karna kau memberiku kepercayaan sekali lagi. Aku tidak akan berjanji apa-apa. karena janji di buat kadang untuk di langgar, tapi aku akan berusaha membuat kalian bahagia."

__ADS_1


Aby memeluk Khaliza dan Al.


Ia menarik nafas lega.


__ADS_2