
Di saat Anisa kebingungan oleh tingkah Yahya, tiba-tiba Rosma masuk, ia yang sedari tadi memantau gerak gerik Yahya jadi curiga saat mendengar teriakan Anisa.
"Yahya, aduh kenapa ini? Kau apakan dia?" ucapnya ikut panik.
Dengan Susah payah mereka berdua memindahkan tubuh besar Yahya ke atas ranjang.
"Sebenarnya kenapa dia?" cecar Rosma lagi.
"Aku juga tidak mengerti, Bi."
"Kasihan anak ku ini, ingin mendapatkan haknya sebagai seorang suami saja dia harus menderita seperti ini.. Hiks hiks.." isak Rosma.
"Tunggu dulu, kenapa Bibi bisa tau tentang kak Yahya yang menginginkan sesuatu? Bibi, menguping, ya?"
tebak Anisa.
"Ya, tentu saja Bibi tau, masalah dalam hubungan suami istri, ya hanya karna itu, apa lagi?." jawabnya asal. Ia masih menggosok kaki Yahya dengan minyak kayu putih.
"Baiklah, tapi kalau sampai semua karna ulah Bibi, Bibi akan segera tau akibatnya!" ancam Anisa."
Anisa merasa curiga dengan keadaan Yahya yang tak biasa. Ia tidak sungkan lagi bicara yang mengarah ke hal tentang hubungan suami istri.
Saat Anisa keluar kamar, Rosma baru memeluk tubuh Yahya sambil menyesali diri.
"Aduh kenapa jadi begini, maksud Bibi memberimu minuman itu agar kau bisa menjerat Anisa. Tapi kok malah begini...?"
Rupanya Rosma telah mencampur sesuatu kedalam minuman Yahya, ia berharap, dengan itu Yahya bisa berbuat sesuatu yang membuat Anisa semakin terikat. Tapi yang terjadi di luar dugaannya. Yahya malah lemas tak sadarkan diri.
"Anisa, temani suamimu di kamar, dia akan merasa lebih baik saat mengetahui kau menungguinya."
Walau merasa enggan, Anisa melakukan perintah Rosma. statusnya sebagai istri sah membuatnya tidak bisa membantah.
setelah keluar dari kamar Anisa, Rosma masuk kedalam kamarnya. Ia berusaha menghubungi Lyra.
Cukup lama ia mencoba baru akhirnya Lyra mengangkat panggilannya.
"Bagaimana dengan rencana kita? kenapa kau menghilang begitu saja?" cecarnya saat telpon sudah tersambung.
"Aku tidak mau mengikuti semua saran Bibi lagi..." suara Lyra terdengar menangis.
'Apa yang terjadi? coba ceritakan !" desak Rosma tak sabar.
Lyra menceritakan semua yang terjadi pada dirinya gara-gara mengikuti saran Rosma.
Wanita itu memutar otak untuk mencari cara agar bisa memanfaatkan keadaan Lyra demi kepentingannya, tapi tidak di sadari oleh Lyra sendiri.
"Apa ada orang lain yang sudah tau akan hal ini?" tanyanya.
"Hanya papa ku saja. Dan dia sudah mengancam ku. Kalau aku sampai hamil di luar nikah, dia akan mengusir ku dari rumah "
Lyra kembali terisak.
"Kau tunggu saja, apakah benar-benar hamil atau tidak. Nanti kita pikirkan cara selanjutnya, aku juga kasihan padamu, bagaimana kau akan bekerja nantinya." ia berpura-pura simpati dengan musibah yang menimpa Lyra.
Pagi harinya,
Rosma menajamkan telinganya saat mendengar suara Anisa dan Yahya mendekati kamarnya.
__ADS_1
"Kaka selalu saja membela Bibi, Karena itulah dia tidak mau berubah..."
"Jangan asal tuduh saja, Nisa. Belum tentu semua yang kau tuduhkan itu benar, bukan? Belum ada bukti nya juga." bela Yahya.
"Bukti apalagi, sudah jelas bubuk yang aku temukan di dapur. Dia sudah mencampurkan sesuatu di minuman mu, hal itulah yang membuatmu tidak sadarkan diri. Dan kalau aku ceritakan apa yang kau ucapkan padaku semalam.... Pasti kau tidak percaya." sungut Anisa.
Yahya berusaha mengingat sesuatu tapi ia tidak bisa mengingat apapun kecuali ia merasakan kepalanya begitu berat saat bangun tadi.
"Aku tidak bisa mengingat apapun. Sebaiknya kita minta penjelasan pada Bibi baik-baik."
Saran Yahya.
"Gawat .. Mereka mau mengintrogasi ku." Rosma meringis.
"Bi.. Buka pintunya sebentar!" Yahya mengetuk pintu pelan.
Karena tidak ada sahutan dari dalam, Anisa tidak sabar ingin melabrak wanita itu. Ia ingin menggedor pintunya, tapi ternyata pintu tidak terkunci.
Pintu langsung terbuka.
Anisa dan Yahya saling pandang. mereka melihat Rosma sedang membaca Alquran dengan khusuk nya, walaupun tidak dapat mendengar suaranya dengan jelas. Rosma mengangkat sebelah tangannya saat Anisa memanggilnya. Pertanda dia tidak mau di ganggu.
Yahya menatap Anisa.
"Tuh, kan Nis. Bi Rosma itu hanya kata-katanya saja yang keras. Tapi sebenarnya hatinya baik. Contohnya ini, dia membaca Alquran dengan khusuknya. Orang yang suka membaca Alquran akan mempunyai perisai dalam hatinya. dalam artian dia tidak akan sembarang mau berbuat yang merugikan orang lain. Itu aku dengar dari almarhum Abah mu lho..!" kata Yahya membuat Anisa terdiam. Dengan malas dia meninggalkan kamar Rosma.
Yahya mendekatinya sambil memegang pundak Anisa. Hal yang belum pernah di lakukan Yahya sebelumnya.
"Kau masih marah karna masalah semalam?"
Anisa masih terdiam. Ia terus saja membuatkan susu untuk anaknya.
"Bunda, Al, boleh minta uang?"
"Boleh, tapi untuk apa, Nak?" jawab Anisa.
Ia merasa beruntung karna Al, datang tepat waktu. Ia merasa risih bersentuhan fisik dengan Yahya.
"Buat beli baju bola, Bund. Kita kumpulin uang di kakak pembinanya."
"Berapa?" Yahya mendekatinya.
"Seratus ribu, Yah."
Yahya merogoh sakunya. Ia memberikan lembaran seratus ribu pada Al.
"Terimakasih, Ayah." ucapnya sambil memeluk Yahya.
"Sama-sama.. Yang rajin belajar ya, bang."
ucapnya sambil mengelus kepala Al.
"Terima kasih, kak." ucap Anisa terharu.
Namun di depan pintu, Rosma merebut uang itu dari tangan Al.
"Jangan biasakan memanjakan anak seperti ini, kalau dia minta seratus, kasi setengahnya saja."
__ADS_1
"Ini untuk Abang, anak kecil belum boleh pegang uang banyak. Nanti kalau kurang, minta sama nenek.."
Rosma mengembalikan uang itu pada Al, tapi hanya limapuluh ribu.
Anisa menahan nafas oleh sikap Rosma itu.
Ia memandang iba pada Al yang tampak kecewa.
"Bukannya Nenek pelit padamu, sayang. Tapi Nenek mengajarkan bagaimana hidup hemat dan efisien. Abang ngerti, kan?"
Walau tidak mengerti dengan ocehan Rosma, Al hanya bisa mengangguk.
"Berhemat, apa mau hidup sekarat?" sungut Anisa.
"Kalau di pikir lagi, memang benar kok ucapan Bibi."
"Benerin saja, terus...!" Anisa menggerutu kesal.
Di saat yang sama. Suara Aby mengucapkan salam dari depan.
Al dan Anisa langsung menyambutnya. Sedangkan Rosma meliriknya dengan malas.
"Ini, aku ada Rizki sedikit, mudah- mudahan
Bisa berguna."
"Tidak, Mas. Kau tabung saja gajimu itu. Aku sendiri masih ada tabungan kok." tolak Anisa dengan halus.
"Terimalah, Nisa. Ini untuk kebutuhan Al juga. Dia juga masih tanggung jawabku." desak Aby.
"Benar kata Aby, Al adalah tanggung jawabnya. jadi, terima saja pemberiannya. Kan lumayan bisa nambah untuk beli susu nya Liza.
"Jangan, Nis. " tiba-tiba Yahya datang.
"Pak Aby simpan saja uangnya. Aku masih bisa menghidupi keluargaku." ucap Yahya dengan congkak.
Anisa merasa tidak enak.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung kalian, tapi Al adalah tanggung jawabku." Aby kukuh dengan pendiriannya.
"Kalau begitu, kenapa tidak sekalian bawa dia ke rumahmu?" Rosma ikut nimbrung.
Anisa terbelalak. berani sekali Rosma berkata begitu. Ia berubah pikiran.
"Mas, aku terima uangnya. terimakasih, ya..! Kau benar, Al adalah tanggung jawab mu Karna dia anak "kita"
Anisa sengaja menegaskan kata "kita" pada Rosma dan Yahya.
Aby meninggalkan keluarga itu desah nafas kecewa.
"Apa aku harus mengakhiri semuanya, mungkin benar akulah pangkal semua ini."
Aby berangkat ketempat kerjanya dengan hati lemas.
Sampai di tempat kerja. ia tidak melihat pak Sofyan seperti biasa.
Dia mendapat berita dari karyawan lain bahwa pak Sofyan di rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung....
.