
Salah paham di antara Aby dan Yahya terus terjadi.
Yahya semakin cepat tersinggung. Di tambah Bibinya yang selalu mengomporinya, membuat suasana semakin keruh saja.
Seperti sore itu. Anisa sedang memetik buah pepaya di halaman. Al ikut menemani Bundanya.
Aby dan Yahya duduk di teras sambil mengawasi mereka.
Tiba-tiba bangku yang di naiki Anisa bergoyang. Anisa tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya.
"Ayah, tolongin Bunda..!" sontak Al berteriak pada Aby.
Aby lupa ada Yahya di antara mereka.
Dengan berlari kecil dia menghampiri putra dan mantan istrinya itu. Dengan sekali tangkap tubuh Anisa sudah ada di pangkuan Aby.
Walaupun sedang sakit, tubuh Aby masih terlihat kekar.
Beberapa detik mereka berada dalam posisi itu, wajah Anisa memerah karna Aby memandangnya begitu lekat.
"Turunkan aku, Mas!" suara Anisa menyadarkan Aby.
"Owh, maaf..." ucapnya tersipu. Ia memandang Yahya yang terlihat tidak suka.
Tiba-tiba Rosma datang menyodorkan sapu tangan pada Yahya.
"Ini, pakailah. Kau tidak akan melihat pemandangan yang menyesak kan dada lagi." ucapnya menyindir Aby dan Anisa.
"Maaf, Bi, aku hanya bermaksud menolongnya."
"Iya, Bi.. Kalau tidak ada Mas Aby pasti aku sudah terjatuh." timpal Anisa.
Tanpa bicara apapun, Yahya mengayuh kursinya kedalam.
"Semua ini salahku, coba kalau aku..."
"Biarkan saja Anisa terjatuh, begitu, kan maksudmu , Mas?" Anisa memotong ucapan Aby.
Aby mendesah pelan.
"Kau benar, Mas. Seharusnya kau biarkan saja aku terjatuh dan anak ku kenapa-kenapa. Tentu semua orang akan senang." ucap Anisa dengan wajah kesal. Seketika Yahya menghentikan kursi rodanya. ia berbalik menatap Aby dan Anisa.
"Kau benar, aku salah sudah menuduh pak Aby. Justru aku harus berterimakasih padanya. Terimakasih, pak Aby, kau telah menyelamatkan anak dan istri ku." kata Yahya.
Aby hanya mengangguk. Senyumnya begitu getir saat mendengar Yahya bilang 'anak dan istri ku'
Anisa tersenyum lega.bSedang Rosma berlalu dengan wajah kesalnya.
Satu masalah bisa terlewatkan, belum tau apa lagi yang akan mereka lalui kedepannya.
***
Malam itu Aby termenung sendiri di kamarnya.
Ia merasa harus mulai mencari pekerjaan yang menghasilkan uang untuk kelanjutan hidupnya juga tanggung jawabnya yaitu Al.
"Aku sudah cukup merepotkan Anisa. Tapi pekerjaan apa yang cocok buat pria lemah seperti ku? "
Aby terus memikirkan berbagai peluang yang bisa di kerjakannya.
"Besoknya, dia menghampiri Yahya dan Anisa yang sedang duduk.
"Maaf, aku menganggu sebentar."
"Ada apa, Mas?" Anisa menggeser duduknya untuk memberi ruang pada Aby.
"Aku merasa harus punya pekerjaan. Bagaimanapun, Al membutuhkan biaya pendidikannya yang tidak sedikit."
Anisa terdiam.
"Lalu kerja apa, Mas? Keadaanmu belum pulih total."
"Aku belum tau pasti. Tapi yang terbayang di benak ku adalah membuka usaha sendiri, seperti jualan toko kelontongan lah."
__ADS_1
Anisa menatapnya dengan kagum.
Walaupun dalam keadaan tidak sempurna, Aby tetap pria yang bertanggung jawab.
"Ehemm." Yahya berdehem melihat Anisa yang mengagumi mantan suaminya.
"Bagus, pak Aby. Aku salut padamu. Semangat hidupmu begitu tinggi." ucap Yahya memuji.
"Itu harus ustadz, ada Al yang harus aku pikirkan." jawab Aby tulus.
Dalam hatinya, Yahya merasa jengkel.
"Dia pasti hanya mencari simpati Anisa saja."
"Untuk rencana mu itu, aku mendukungmu, Mas. Tapi kalau mau meninggalkan rumah ini,baku tidak setuju!"
"Aku harus bisa mandiri, jangan manjakan aku seperti ini." ucapnya memohon.
"Pokoknya tidak boleh." kata Anisa tegas dan meninggalkan kedua pria itu.
Aby menceritakan maksud dan rencananya kepada Imran lewat telpon.
Imran sangat setuju, bahkan ia berjanji akan membantu meminjamkan modal.
Aby semakin mantap untuk bekerja.
Ia membiasakan diri berjalan tegak tanpa tongkat lagi, walau agak kesulitan, ia paksakan juga.
Yahya merasa iri melihat kemajuan Aby. Dia menyesali keadaannya yang hanya bisa duduk di kursi roda.
.Hari itu, Aby mau ke sebuah tempat dimana akan memasok barang yang akan di jual ya.
Ia merasa begitu yakin kalau usahanya akan berhasil. Apalagi Anisa, wanita satu-satunya yang selalu ada di hatinya itu mendukung seratus persen. Tak henti Anisa mensupport nya.
"Aku percaya kau bisa, Mas!"
"Amin.. Terimakasih, dukunganmu adalah modal terbesar ku." tanpa sadar, Aby menarik Anisa dalam rengkuhannya. Anisa yang juga lupa sangat menikmati pelukan hangat dari Aby.
Aby cepat-cepat melepas pelukannya, ia tidak mau semakin terhanyut. Mereka berdua sama-sama salah tingkah.
"Oh, ya Mas. bagaimana kabar Jelita, ya?" Anisa sengaja mengalihkan perhatian. Padahal dia sedang menenangkan debaran jantungnya yang tidak beraturan.
"Jelita? sejak dia mengkhianati ku, aku tidak tau lagi kabarnya." jawab Aby acuh.
Anisa melirik Aby diam-diam. Senyum itu masih sama seperti saat pertama mereka di pertemukan. Kenangan masa lalu itu kembali menghentak jiwanya.
Aby memang terlihat agak kurusan semenjak ginjalnya terinfeksi. Tapi kini wajah ya terlihat segar dan penuh semangat. Hanya satu rasa sesalnya. Kenapa ia bertemu dengan,Anisa lagi di saat yang salah. Anisa sudah menjadi gak orang lain.
"Eem. Mas."
"Iya, kau bilang sesuatu?" tanya Aby tergagap.
"Aku hanya, itu."
Aby meraba wajahnya yang di tunjuk Anisa.
"Kenapa wajahku?" tanya Aby cemas.
"Kenapa tidak dicukur?"
Aby menarik nafas lega.
"Aku pikir apa?" ujarnya tersenyum manis.
"Biar saja, lah mengikuti Sunnah nabi." jawab Aby seadanya.
Di saat itu Rosma dan Yahya datang.
Rosma langsung gusar melihat Aby dan Anisa berduaan di teras sambil senyam senyum.
"Apa-apaan ini? Kalian tidak mengerti etika?" ujarnya langsung.
"Suami sedang pergi, kau malah enak-enakan dengan mantan."
__ADS_1
"Bi, tenanglah, kami hanya ngobrol biasa. Lihat itu, ada Al juga." Anisa menunjuk Al yang sedang asik menggambar agak jauh dari mereka.
"Anak kecil tau apa? Dasar kalian saja yang otak mesum. Apalagi kau?" Tangan Rosma menunjuk Aby.
Anehnya Yahya hanya terdiam, seolah ia membenarkan perkataan Bibinya.
Anisa menurunkan perlahan tangan Rosma yang menunjuk Aby.
"Kalau mau memakai, maki saja aku. Tuduh saja aku. Tapi jangan sekali-kali mengarahkan telunjuk Bibi kepada ayah dari anak ku!" ucap Anisa tegas. Matanya menatap tajam.
Yahya hanya terdiam, begitupun Aby. Ia tidak menyangka Anisa akan begitu membelanya di depan Yahya.
Rosma pergi kekamarnya dengan menggerutu. Ia kesal karena Anisa sudah mulai menunjuk kan taringnya.
Perlahan, Aby pun meninggalkan teras itu. Menyisakan Anisa dan Yahya yang diam seribu bahasa .
"Kak, maafkan aku karna telah keras pada Bibi. Aku lelah di tuduh terus terusan. Padahal aku dan Mas Aby sangat menjaga perasaan kami masing-masing. Walaupun itu tidak mudah."
Yahya masih mematung.
Susah di tebak apa yang ada di pikiran pria itu.
Tiba-tiba saja Anisa mengerang kesakitan.
"Aduh...! sepertinya aku mau lahiran, Kak.
Auu.. sakit." Anisa mengaduh lagi.
Yahya panik bukan main. Tapi keterbatasan kakinya membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
"Apa, apa yang harus aku lakukan?" ia malah bertanya dengan panik.
Anisa mengatur nafasnya.
"Tolong bawa aku ke bidan segera."
Rosma datang dan ikut panik. Apalagi melihat baju bawah Anisa sudah basah.
Ia juga tidak mengerti apa yang harus di lakukannya. Anisa sudah terlalu kesakitan, wajahnya di penuhi peluh yang bercucuran.
Tiba-tiba Yahya ingat Aby.
"Pak Aby. Ya.. Dia pasti tau apa yang harus di lakukan." tanpa berpikir lagi, Yahya. Memanggil Aby yang ternyata sudah bersiap pergi diam-diam dari rumah itu.
Aby pergi lewat belakang. Tapi Yahya memanggilnya.
"Pak Aby...! Kelihatannya Anisa mau lahiran. Aku tidak tau harus gimana, tolonglah!" ucapnya dengan wajah memelas.
Aby berbalik dan menemui Anisa yang sudah lemas.
"Kita harus cepat membawanya ke Bidan terdekat.!" tanpa minta persetujuan siapa pun, Aby mengambil motor dan menaikkan Anisa di depannya. Memang sangat kesulitan. Tapi untuk menunggu taksi tentu saja tidak mungkin karena air ketubannya sudah pecah.
Sampai di bidan, ia sangat kecewa, karna bidannya sedang keluar. Tapi mereka menawarkan untuk mengantar kerumah sakit dengan mobil.
Aby tidak menolak.
Di dalam mobil, dia terus mengajak Anisa bicara agar wanita itu tetap sadar.
Aby memeluknya dan membelai kepalanya yang masih memakai hijab.
"Sabarlah sebentar lagi. Kau wanita kuat.
Kau adalah wanita ku yang terkuat." bisik Aby di telinga Anisa.
Di tengah rasa tak berdayanya, Anisa masih bisa tersenyum. Ternyata, Aby lah yang menemaninya di saat persalinan. Sungguh sesuatu yang tidak di rencanakan, namun itu adalah khayalannya selama ini.
Ia melingkarkan tangannya di leher Aby. Sangat aman dan nyaman.
"Apakah aku masih bisa berharap kalau ini tidak akan berakhir..?" bisiknya dengan suara lemah.
Aby terharu. apa yang di inginkan Anisa adalah keinginannya juga. Dia mengecup kening wanita itu dengan lembut.
"Kenapa perasaan kami begitu kuat, padahal kami sadar ini adalah cinta terlarang." desah Aby dengan perasaan yang mengharu biru.
__ADS_1