
Setelah dari tempat Aby, Anisa bersiap pergi ke pengadilan. hari ini adalah sidang putusan cerainya.
"Aku temani?" tawar Aby.
Anisa menggeleng.
"Sebaiknya jangan, Mas. Kau tau sendiri bagaimana Kak Yahya dan Bi Rosma, jangan sampai mereka dapat celah walau sekecil apapun untuk menjatuhkan kita."
Aby mengangguk.
"Kau kenapa?" Aby terlihat panik saat melihat Anisa meringis.
"Tidak apa, Mas." padahal Anisa menahan nyeri di ***********. mungkin karena efek Khaliza tidak menyusu. Ia mendesah pelan saat mengingat nasib putrinya di tangan Rosma.
"Kau tidak usah terlalu khawatirkan khaliza, Yahya adalah ayahnya, dia tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada anaknya. Percayalah!" hibur Aby.
"Iya kalau kak Yahya adalah kau, Mas. Sekarang dia seorang pria yang sudah kehilangan wibawanya. Kehilangan harga diri dan kebijakannya. Dia hanya bisa mengiyakan semua perkataan Bi Rosma." sesal Anisa.
"Berangkatlah, doaku menyertaimu. Semoga di lancarkan semuanya."
Anisa mengangguk dan mohon diri.
Setelah Anisa pergi, Aby bersiap pergi juga.
Dia menitipkan Al pada seorang tetangganya.
Firasat Aby merasa tidak enak tentang Khaliza. Benar kata Anisa, Yahya memang ayahnya, tapi Rosma lah yang pegang kendali.
Diam diam Aby Ke tempat Yahya tanpa sepengetahuan Anisa.
Dia sengaja memarkir motornya agak jauh.
Aby merasa heran karna rumah itu terlihat sepi, tapi anehnya ada dua motor yang terparkir disana.
"Sangat mencurigakan, aku harus mengintip dari belakang rumah." gumamnya.
Aby mengendap kebelakang rumah.
Suasana yang sepi di sekitar rumah itu memudahkan rencananya.
Setelah menemukan sebuah lobang kecil di belakang rumah, ia mencoba mengintip kedalam.
Aby menutup mulutnya karena kaget.
Ia melihat dua orang pria sedang mengikat tubuh Yahya di sebuah kursi. Begitu juga dengan Rosma. mulut mereka di sumpal kain hingga tidak bisa meminta pertolongan.
Lalu dimana Khaliza? Jantung Aby berdetak lebih kencang.
"Dasar wanita bodoh! Kau mau saja di kibuli.
Tapi kebodohanmu itu membawa keberuntungan buat kami. Hahaha..!"
Seorang dari mereka mendorong kepala Rosma. Mata Rosma berkilat memandang mereka.
"Ssst...! Jangan keras-keras.. Nanti ada yang dengar mampus kita." ucap pria yang satunya yang sedang merapikan sebuah kardus besar.
"Ayo bang. Harta Karun kita sudah siap,!"
Yahya dan Rosma berusaha meronta, apalagi Yahya, sorot matanya memancarkan kebencian. Tapi dia tidak berdaya melakukan perlawanan. Yahya tertunduk lemas dengan air mata yang bercucuran.
Mata Yahya terus menatap kearah Kardus besar itu. Aby tidak mengerti apa maksudnya.
Aby yang menyaksikan itu masih berusaha tenang. Ia hanya ingin mengetahui keberadaan Khaliza terlebih dulu.
Tak berapa lama kemudian, mereka keluar rumah sambil membawa kardus itu.
"Mereka tidak membawa apapun dari rumah ini kecuali kardus itu, Lalu dimana khaliza? atau jangan-jangan..."
Aby menahan nafas saat membayangkan yang di dalam kardus itu adalah Khaliza.
Ia tidak mau kehilangan jejak. Maka ketika kedua pria itu bersiap pergi, diapun cepat mengambil motornya.
Dengan hati gelisah Aby terus mengikuti kedua orang itu.
Saat mereka berhenti di depan sebuah supermarket, Aby pun ikut berhenti. Dengan berpura-pura membeli sesuatu ia sengaja berjalan di dekat kardus yang di jaga oleh salah satu dari mereka.
"Ayo, menangislah, Nak..!" bisiknya pelan saat melewati kardus itu.
Si Pria hitam yang menjaga kardus mengamati gerak gerik Aby yang mencurigakan.
__ADS_1
"Kalau memang iya yang di kardus itu adalah Khaliza, kenapa dia diam saja dan tidak menangis kehausan atau gimana?" pikir Aby heran.
Setelah berbincang sebentar dengan temannya, kedua pria itu langsung naik motor dan pergi dari sana.
Aby bergegas mengikutinya lagi. Untungnya dia sudah sempat menghubungi pihak berwajib.
Motor yang di ikuti nya terus memasuki daerah gang sempit.
"Ternyata mereka sudah sadar aku ikuti, dan sengaja memasuki kawasan sempit ini." pikir Aby.
Motor itu tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah kecil.
Aby ikut berhenti. Ia celingukan mencari kemana kedua pria itu menghilang.
"Mereka menghilang begitu cepat, kemana mereka membawa Khaliza?" pikir Aby gelisah.
"Cari siapa, Bung?" seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
Saat Aby menoleh ia melihat kedua pria itu sudah berdiri dengan wajah sangar.
"Saya, saya..." Aby berusaha mencari alasan.
"Kau memata matai kami?"
"Siapa kau sebenarnya?"
"Maaf Bang, saya hanya kebetulan lewat sini. Abang tau daerah sini?" tanya Aby balik.
Kedua pria itu saling pandang.
"Kau jangan mengalihkan pembicaraan." sergah mereka.
"Bener, Bang. Saya tersesat." ucap Aby lagi. Tapi matanya gelisah mencari keberadaan kardus itu.
"Kalau begitu, ayo ikut kami!"
"Kemana, Bang?"
"Tidak usah banyak tanya, bukankah kau tersesat?" tanya mereka.
Aby sengaja mau mengikuti mereka agar tau keberadaan Khaliza.
Bugh!
Aby meraba pelipisnya.
"Ayo cepat katakan, siapa yang menyuruhmu!"
"Tdak ada yang menyuruh ku. Aku mau tau apa isi kardus yang kalian bawa?"; tanya Aby dengan berani.
"Itu bukan urusanmu..! Sebaiknya kau lupakan saja.dan jangan campuri urusan kami, selesai!"
Aby menggeleng.
"Aku tau, yang di dalam kardus itu pasti bayi yang tidak berdosa itu, kan?" tebak Aby.
Kedua pria itu kembali saling pandang.
Mereka tertawa sinis.
"Kau terlambat..! Bayi itu sudah kami kirim ke tempat yang seharusnya."
"Apa maksud kalian? dimana dia?"
"He, kau dengar, dua jam lagi anak itu akan di kirim keluar negeri. jadi lupakan saja dia!"
Mata Aby nanar memandang kedua pria itu.
Ternyata saat di supermarket itu mereka telah menukar kardusnya, dan Aby tertipu.
"Khaliza... Aku harus menyelamatkannya...!"
dengan sekuat tenaga dia melakukan perlawanan. Saat kedua pria itu terjengkang, dia segera menuju motornya sambil menghubungi polisi.
Untunglah polisi sudah berada tidak jauh dari lokasi itu.
Setelah melumpuhkan kedua preman itu, Aby dan petugas polisi langsung menuju sebuah dermaga sesuai petunjuk tawanan mereka.
Aby melirik ponselnya. Ada panggilan dari Anisa.
__ADS_1
"Biarlah Anisa tidak tau dulu apa yang menimpa anaknya, yang ada dia akan semakin stres." pikirnya lalu menolak panggilan Anisa.
Di sebuah dermaga terlihat sebuah kesibukan. Mereka langsung terkesiap saat para polisi datang menggeledah tempat itu
"Ada apa, pak? Kenapa ada penggeledahan?" tanya seorang di antara mereka sambil mengangkat tangan.
"Kami mendapat laporan kalau disini sering terjadi transaksi ilegal, yaitu sindikat perdagangan anak."
"Periksa semua barang yang mereka kemas...!"
Namun para polisi tidak menemukan apapun.
"Bapak-bapak ini salah informasi, kami sudah bilang dari tadi, kan?" mereka bernafas lega.
Tapi Aby tidak menyerah begitu saja.
"Tunggu..!" suara Aby mengagetkan semuanya.
Aby mengamati tiga buah kardus yang tersusun rapi dan lumayan besar. kardus itu lolos dari pemeriksaan polisi.
Aby mengacak kardus itu, membuka isinya namun kosong.
Dia kembali mencoba pada kardus yang satunya, ternyata kosong juga. Ia terlihat putus asa.
"Kita salah informasi, pak Aby. Sebaiknya kita kembali." ucap komandan polisi yang memimpin penggerebekan itu.
Semua sudah berbalik saat Aby membuka kardus terakhir.
Dia memekik histeris saat mendapati Khaliza dan dua bayi lainnya terkulai lemas dalam satu kardus.
Para polisi langsung mengambil tindakan penyelamatan.
Aby membawa Khaliza yang lemas karena kehabisan oksigen. Bibirnya membiru.
Aby memeluknya penuh haru.
"Kau akan baik-baik saja, Nak. Tenanglah. Ayah Aby bersamamu." Di rumah sakit, Aby masih gelisah melihat keadaan Khaliza. ia mondar mandir di depan ruang perawatan.
Anisa datang tergesa, tangisnya pecah saat melihat Aby.
"Mas, kenapa anakku?"
Aby hanya mengusap bahunya.
"Berdoalah, semoga dia baik-baik saja."
Anisa langsung di persilahkan oleh perawat menemui anaknya.
Anisa tidak bisa menahan pilu di hatinya. gadis kecilnya tergolek lemah dengan bibir membiru.
Ia mengutuk Rosma dan Yahya dalam hati. Tapi semua sudah terjadi. Ia hanya bisa meratap sambil merangkul putrinya.
Aby betul-betul tersentuh oleh tangisan Anisa.
"Semua penderitanya berawal dariku. Yaah, semua salahku. Dengan apa aku harus menebus kesalahanku, Anisa? Aku ingin melihatmu bahagia." batin Aby. Ia mengusap airmatanya yang tiba-tiba ikut luruh.
Setelah menunggu tiga jam, Khaliza baru bisa menangis. hal itu membuat Aby , Anisa dan para perawat bernafas lega.
Dia memeluk putrinya itu dengan erat.
"Kita akan hidup bahagia, tidak ada lagi yang akan memisahkan kita, Bunda janji padamu."
Anisa menciumi Khaliza.
"Aku sangat ketakutan saat melihat kondisinya, di tambah kedua bayi lainnya tidak tertolong. Aku sangat takut, Mas."
"Bersyukurlah.. Semua sudah membaik."
"Dan itu berkat bantuanmu... Terimakasih Mas,Aby. Walaupun Khaliza bukan anak kandungmu, tapi.." Aby menahan bibir Anisa dengan jarinya.
"Apa maksudmu? Aku tidak pernah membedakan antara Al dan khaliza. mereka anak anak ku." Aby menggeleng.
Anisa tersenyum sambil mengusap airmatanya.
"Owh ya? Bagaimana sidangnya?"
"Aku resmi bercerai.. Sekarang tinggal menunggu ganjaran apa yang paling tepat di terima oleh dua orang itu." ucap Anisa geram.
"Yang penting, semua sudah aman. Tidak baik menyimpan kebencian. Allah yang akan membalasnya." Aby menenangkannya.
__ADS_1