KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 36


__ADS_3

Hari itu, Anisa dan Yahya menjemput bibi Rosma, dia adalah saudara dari mendiang bapak ustadz Yahya. Saat mendengar keponakannya sudah menikah, ia yang ikut suaminya ke Lampung ingin pulang.


"Waah ternyata menantu bibik cantik, ya..! Walupun sayangnya Yahya bukan yang pertama bagimu." Ia ramah dan banyak senyum. Tapi kadang ucapannya bikin orang tersinggung.


ucapannya memang hanya basa basi, namun berisi. Sampai Anisa dan Yahya saling pandang.


"Maksud Bibi... dia sangat beruntung. Begitu menikah langsung punya anak sebesar ini."


Ia memandang Yahya dan menyentil dagu Al.


Yahya menjawab cepat.


"Oh itu? Bibik benar sekali. Ini sebuah anugrah buatku " timpalnya tersenyum ke arah Anisa. Senyuman yang tulus.


Anisa sempat merasa tidak nyaman, namun senyum Yahya menenangkannya.


Akhirnya ia bisa melupakan kata kata wanita itu.


"Bibik, bisa tempati kamar yang ini. kalau butuh sesuatu, panggil saja saya." kata Anisa sopan.


Perempuan itu mengangguk dengan senyum lebar.


Anisa meninggalkan kamar itu sambil menahan nafas.


"Kenapa Nis, kayak di kejar hantu begitu?" sapa Yahya yang di tabrak nya di depan pintu.


"Tidak ada, kak. Aku baru dari kamar Bibi." ucapnya menarik nafas lega.


Yahya memindai wajah cantik yang senantiasa terbungkus hijab itu.


"Bener tidak apa-apa? apa Bibi mengatakan sesuatu yang membuat mu merasa tidak enak?"


Anisa mengangguk. Ia melangkah kedalam kamar.


"Aku tidak bohong, jangan bicara disini, nanti Bibi dengar, kan tidak enak."


"Atas nama Bibik, aku minta maaf. Jangan di ambil hati ucapannya, ya!"


"Tidak ada, Bibi tidak bilang apa-apa kok."


Anisa merebahkan tubuhnya perlahan. Yahya ikut berbaring dengan canggung.


"Bibi memang berwatak keras dari dulu, mungkin karna pernah di kecewakan seorang pria. Lukanya membekas sampai sekarang."


Anisa menyimak dengan serius.


Tiba-tiba pintu kamar mereka di ketuk dengan keras.


Yahya bergegas bangun dan membuka pintu.


"Bibik..? Bibik butuh sesuatu?" tanya Yahya heran.


"Begini, Bibik tidak biasa tidur di tempat baru, merasa tidak enak saja. Bibi tidur disini, ya?" ucapnya memelas


"Bibik.." Yahya bingung.


"Sebentar, biar aku tanya Anisa dulu."


Mendengar itu, Bibi nya kurang suka.


"Nis, Bibi mau tidur disini, dia belum terbiasa katanya." kata Yahya tak enak.


Anisa mendekati mereka.


"Boleh, ya?" wanita itu menengok kedalam.


"Kalian belum melakukan ritual, kan malam ini?" ucapnya tersenyum kecil.


"Ritual?" Yahya menautkan alisnya tidak mengerti.


"Ya iyalah, kau belum paham, kalau istrimu pasti sudah mengerti. Karna dia sudah berpengalaman." sindir Bibinya lagi tapi sambil tersenyum.


Yahya tersipu malu.


Sedangkan Anisa menatap tidak enak.


"Bibi boleh kok tidur di sini." jawabnya cepat.


Ia tidak mau ucapan Bi Rosma terlanjur ngelantur jauh.


Dengan gembira wanita itu mencari tempat di ranjang kecil yang hanya muat buat dua orang itu.

__ADS_1


 Akhirnya Malam itu Yahya mengalah dengan tidur di bawah menggelar karpet. Di ranjang, Anisa bersama Bi Rosma dengan suara dengkurnya yang menganggu.


Anisa kembali teringat akan kata-kata wanita di sampingnya itu.


Yahya sangat beruntung, begitu menikah langsung dapat tanggung jawab menjadi seorang ayah.


"Apa yang di katakan nya memang ada benarnya. Apakah benar kak Yahya bahagia dengan pernikahan ini?"


Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya.


"Mas Aby.. Kau telah mengantarku kedalam situasi yang rumit ini."


Esok harinya, Rosma minta Anisa mengantarnya ke pasar.


"Kalau ada sesuatu yang Bibik butuhkan, biar nanti aku belikan caranya.." ucap Yahya.


"Bibik ingin jalan-jalan dengan menantu Bibik ini. Apa tidak boleh?"


"Tentu saja boleh. tapi hari ini adalah pertama kali Anisa mulai mengajar lagi. tentunya dia akan malu terlambat di hari pertamanya."


Mata Rosma menatap Anisa.


Anisa merasa sangat tidak enak jika harus membuat wanita itu kecewa, tapi dia juga tidak mau terlambat sampai di sekolah. Ini adalah hari pertamanya kembali ke sekolah itu.


"Kau tidak keberatan, kan Nisa?"


"Baiklah.. tapi hanya sebentar ya , Bi."


"Kalau begitu tidak usah saja, biar Bibi perginya sama Yahya saja."


Anisa benar-benar merasa tidak enak pada Rosma.


"Kau berangkat saja, biar aku yang mengantar Bibi."


Yahya menegaskan.


 Beberapa menit kemudian, Rosma dan Yahya sudah berada di dalam pasar yang ramai.


"Ingat, kau adalah satu-satunya penerus di keluarga kita. Kau harus segera punya keturunan. Jangan di tunda lagi!" Rosma terus mengoceh sambil menembus kerumunan orang.


Yahya hanya mengiyakan saja. Tidak mungkin ia bercerita kalau di antara dirinya dan Anisa belum terjadi apapun seperti harapannya.


Mereka berhenti di sebuah toko rempah. Rosma membeli beberapa macam. Yahya enggan bertanya untuk apa, ia ingin segera pulang karna segudang aktivitas di pesantren sudah menunggunya.


Ucap Rosma saat mereka sudah sampai di rumah.


Yahya mengangguk dengan senyum tertahan. Ia tidak bisa membayangkan apa tanggapan Anisa dengan ulah Bibinya itu.


Dan benar saja, malam nya Rosma membawakan dua gelas jamu ke kamar Anisa


"Yahya sudah cerita, kan?"


Anisa menatap Yahya tak mengerti.


"Yahya adalah anak laki satu-satunya dari keluarga kami. Bibi sangat berharap dia segera punya keturunan. nah, ini jamu untuk menunjang stamina nya. Di minum ya...!" ucap Rosma sebelum meninggalkan kamar itu.


Anisa memandang Yahya seolah minta penjelasan.


Yahya memalingkan wajahnya.


"Jangan di pikirkan permintaan Bibi."


Ucapnya kemudian.


Anisa mengangguk canggung.


Merebahkan tubuhnya sambil terdiam.


Paginya, Rosma merasa curiga karna melihat pasangan itu biasa-biasa saja.


"Sepertinya aku harus menambahkan dosisnya, masa sih mereka tidak mempan dengan ramuan turun temurun keluarga ku?"


"Kali ini kalian harus minum di depan Bibi..!"


Yahya dan Anisa tidak bisa menghindar lagi.


"Mereka terpaksa meneguk habis jamu itu atas perintah Rosma.


"Bagus...!" ucapnya puas.


Malam itu Yahya tidak bisa mengelak lagi. Mungkin karna khasiat jamu itu, dorongan birahinya terasa lebih kuat dari biasanya.

__ADS_1


Bukan dirinya saja, Anisa pun merasa gerah lain dari biasanya.


Rosma sengaja menunggu di depan pintu, memastikan rencananya berhasil.


Ia juga melarang siapapun yang hendak masuk kemar itu termasuk Al yang ingin menemui Bundanya.


"Maaf, Anisa... Aku tidak bisa memegang janjiku." ucapnya dengan mata sayu.


Anisa hanya mampu memandangnya tatapan penuh harap.


Dalam hatinya Yahya merasa bersalah pada Aby, ia tidak bisa menjaga kesucian Anisa.


Pukul tiga dinihari, Anisa terjaga. Ia membuka mata perlahan. Ia kaget mendapati dirinya berada di pelukan Yahya


Ia melihat suaminya itu sedang tidur pulas di sampingnya.


Tangannya masih bertengger manis di tubuhnya.


Menyesalkan Anisa? Ada rasa menyesal karena ia merasa telah mengkhianati Aby.


Merasa lega juga iya, ia merasa sudah sepenuhnya memberikan hak pada Yahya.


Sebutir Airmata bergulir di pipinya.


perlahan ia memindahkan tangan Yahya dari atas tubuhnya. Ia berusaha untuk tidak membangunkan pria itu.


Anisa bergegas mandi. Setelah itu ia hendak langsung ke dapur. Namun ia kaget karena kakinya terantuk sesuatu.


*Bu Rosma? Kenapa dia tidur di depan kamarku? apa dia masih belum berani tidur sendiri?" pikirnya.


Perlahan ia membangunkan wanita itu.


"Kenapa tidur di sini, Bik?"


"Aku sedang berjaga." ucapnya asal.


Wanita bangkit dan menuju ke kamarnya.


Anisa meneruskan niatnya untuk memasak di dapur.


"Bunda, kata nenek.. Di kamar Bunda sedang ada gempa semalam? Karna itu nenek melarang Al masuk."


Anisa dan Yahya jadi salah tingkah.


"Emang benar, ya Bund?" ulang Al.


"Benar, sayang. Tanya pada ayah."


Wajah Yahya dan Anisa berbah kemerahan.


"Ah, di kamar Al tidak ada, kok." ucap anak itu lagi dengan polosnya.


"Ya, sudah.. Ayo habisin sarapannya. Nanti terlambat." Anisa mengalihkan topik pembicaraan.


"Nisa, aku mohon maaf atas kejadian semalam. Aku khilaf, aku..."


"Sudah, kak. Tidak usah di bahas. Semua sudah terjadi. Lagian itu hakmu dan kewajibanku "


Yahya tidak berani menatap wajah Anisa. Begitupun Anisa.


"Bibik harap segera jadi, ya!" ucapnya tersenyum lebar.


Di tempat lain, Aby sudah dapat pekerjaan menjadi buruh cuci piring di sebuah warung makan. Sambil terpincang-pincang ia berusaha melaksanakan kewajibannya itu.


"Saya tidak bisa memberi gaji yang sesuai, Mas. Kalau sekedar buat makan sih tidak apa-apa." kata pak Ali saat itu.


"Tidak apa, pak! Dapat makan saja, saya bersyukur banget. Tidak ada yang mau menerima orang cacat seperti saya kecuali bapak." ucapnya penuh terimakasih.


Sudah dua hari Aby bekerja di situ.


Siang itu pelanggan itu cukup ramai.


Ada dua orang pegawai pak Ali termasuk dirinya.


"Mas.. Tolong bawa ini kebelakang." pak Ali pria baik hati yang mau mempekerjakannya tanpa mempermasalahkan kekurangan


fisiknya. Pak Ali iba melihat dan mendengar kisah tentang hidupnya.


"Sudah siang, istirahat dan makan dulu." pak Ali duduk di sampingnya.


"Terima kasih, pak. Kalau boleh saya mau sholat dulu sebentar."

__ADS_1


"Boleh, banget Mas. Silahkan!"


Aby meraih tongkatnya dan menuju musholla dekat warung itu.


__ADS_2