KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 58


__ADS_3

Suatu sore, Rosma dan Yahya terlihat berbincang serius.


Terlihat jelas kalau yang mereka bicarakan sangat penting dan bersifat rahasia.


Sesekali Rosma menengok kearah pintu.


"Dengar nasihat Bibi.. Jangan pernah mau mengalah pada Aby. Apalagi mau menyerahkan Anisa kembali padanya. Ingatlah, kalau kau lakukan itu. Kau akan kehilangan Khaliza juga. Kau sanggup?"


Yahya mengusap wajahnya.


"Hanya itu alasanku satu-satunya masih bertahan, Bi. aku sama sekali tidak mendapat tempat di hati Anisa." ucap Yahya pasrah.


Rosma memandangnya dengan iba.


"Bibi heran. Kalau dia tidak ada hati padamu, kenapa kalian sampai menikah?"


"Sebenarnya saat saat Anisa sedang putus asa, dan juga jengah dengan gunjingan orang tentang hubungan kami yang tanpa status.


Karna aku memang sangat mencintainya, aku menyambut gembira ajakannya untuk menikah. Aku sama sekali tidak membayangkan kemungkinan kemungkinan lain."


"Aaah.. rumit sekali. Bibi jadi pusing sendiri mendengarnya! Apapun alasan pernikahanmu


saat itu, kenyataannya sekarang dia adalah istrimu. Pertahankan itu."


Yahya menatap Rosma aneh.


"Jangan menatap Bibi seperti itu, memang Bibi kurang suka padanya, karna istrimu itu suka membantah. Tapi bagaimanapun dia tetap ibu dari Khaliza." ucap Rosma.


"Lalu bagaimana dengan janjiku pada Aby?"


"Tidak usah di pikirkan. Toh cuma sekedar janji, lagipula saat ini dia sedang dekat dengan seorang gadis. Itu malah bagus untukmu."


Diam-diam Anisa mendengar percakapan mereka dari balik pintu.


Ia merasa heran, janji apa yang telah di buat Yahya dengan Aby?


"Awas kau Bi Rosma. Ternyata kau benar-benar duri dalam rumah tanggaku bersama kak Yahya selama ini." gumamnya tanpa sadar.


Anisa berniat mencari tau tentang janji yang di bicarakan Yahya dengan bibinya.


Sore itu ia sudah terlihat cantik dengan gamis kesayangannya. sambil memangku Khaliza, ia menunggu Aby pulang dari teras rumahnya.


Benar saja. Suara deru motor semakin mendekat. Hati Anisa sudah tak sabar ingin bertanya pada mantan suaminya itu.


Tapi senyumnya tiba-tiba saja lenyap saat melihat Aby pulang bersama Lyra.


Gadis itu terlihat begitu santai di boncengan Aby.


"Kita sudah sampai..." kata Aby sambil membuka helmnya. Gadis itu masih duduk sambil memejamkan mata, seolah enggan harus turun dari belakang Aby.


"Ly.. Kita sudah sampai." Aby mengulurkan kunci motornya.


"Mas, kau mengusirku? Tidak menawariku minum dulu kek atau apa?"tanya Lyra dengan mata melebar.


Aby tertawa kecil.


"Apa aku menyuruhmu pulang? Tidak, kan? Aku hanya mengembalikan kunci motormu." kata Aby sambil menatapnya intens.


"Becanda, Mas.."


Lyra duduk di teras rumah Aby. Dari sana pemandangan ke rumah Anisa sangat jelas.

__ADS_1


Lyra terkesiap saat melihat Anisa tengah menatapnya dengan sorot mata tidak suka.


Aby datang menyodorkan segelas air putih.


"Terimakasih, Mas." Lyra langsung meneguknya.


"Sepertinya Mba Anisa tidak suka dengan keberadaan ku disini."


"Ah, itu hanya perasaanmu saja." Aby memandang kearah rumah Anisa.


Namun Anisa sudah tidak terlihat disana.


"Begitu, ya..? Berarti kau pribadi tidak keberatan, dong." tanyanya manja.


Aby menghela nafas berat.


"Begini, aku tidak keberatan. Tapi belum tentu begitu juga dengan orang di sekitar kita. Kau pikirkan saja, kau dan aku tiap hari bertemu, padahal kita bukan siapa-siapa dan tidak ada ikatan pula. Bukankah itu mengundang tanya?


Kalau sekali dua kali, sih tidak masalah. tapi untuk selanjutnya sebaiknya kita batasi diri.'


 kata Aby dengan pelan. ia takut menyinggung perasaan gadis itu.


Lyra tampak termenung.


"Lyra.. Kau tidak apa-apa, kan?"


Gadis itu tersenyum dan mengangguk.


"Maaf, aku tidak sadar telah membuat Mas Aby tidak nyaman selama ini." ucapnya dengan suara sumbang.


"Aku harap kau tidak tersinggung, Ini semua demi kebaikanmu sendiri."


Mas Aby sudah mengingatkan diriku. aku pulang, Mas. hari sudah sore." ucapnya tetap tersenyum.


Lyra memasang helmnya dan pergi dari halaman rumah Aby.


Tapi di ujung jalan, ia di cegat oleh Rosma.


Dengan heran Lyra menepikan motornya.


"Bibinya Mas Yahya, kan?" tebaknya sambil menatap Rosma.


"ia benar. Aku ingin bicara sesuatu." jawab Rosma dingin.


"Maaf, Bi... Mungkin kau salah paham mengartikan hubunganku dengan Mas Aby, kami hanya..."


"Justru aku berharap kalian punya hubungan yang serius" potong Rosma cepat.


Lyra bertambah bingung. Apa maksud orang tua ini dengan ucapannya barusan?


"Tidak usah banyak pikir. Ayo kita mampir di warung depan itu. Kita bisa bicara dengan leluasa."


Bagai kerbau di cucuk hidungnya, Lyra hanya diam dan menurut saat Rosma naik di boncengan nya dan minta berhenti di warung tak jauh dari situ.


"Aku tidak suka berbasa-basi. Langsung saja. Aku berharap kau dan Aby ada hubungan uang serius, kalau bisa cepatlah menikah dengannya."


Lyra semakin tercengang.


"Aku tau, kau pasti heran dengan permintaan ku ini. Tapi semua ini aku lakukan demi kelanggengan rumah tangga Yahya dan Anisa. Aku pikir kau juga sudah tau kalau di antara mereka masih ada rasa walau pun tidak saling mengungkapkan."


Lyra baru mengerti maksud dari Rosma.

__ADS_1


"Berarti orang tua ini berharap aku menjadi penghalang di antara Mas Aby dan Mba Anisa..." ucapnya dalam hati.


"Lalu apa yang akan aku dapatkan kalau mau membantu Bibi?"


"Jangan pura-pura. Aku tau kau sangat mencintai Aby. Begitupun Yahya sangat mencintai Anisa, apa lagi mereka sudah punya seorang anak yang jadi pengikatnya.


Keuntunganmu adalah mendapatkan Aby.." jawab Rosma langsung.


Lyra tidak langsung mengiyakan.


"Bagaimana?" desak Rosma.


"Aku agak bingung juga, Bi. Mas Aby itu orangnya sangat baik, lembut dan polos. Selama ini aku sudah berusa mendekat padanya, tapi dia bilang, kita bukan muhrim. Jadi harus menjaga jarak. Dengan begitu Bibi tau sendiri artinya. Kesempatan untuk dekat semakin kecil. Bagaimana aku bisa mewujudkan rencana Bibi?"


"Tenang saja, aku tau caranya."


Rosma membisik kan sesuatu di telinga Lyra.


Sontak Lyra kaget dan berkata,


"Tidak, ah..!"


"Mau dapat Aby tidak?"


Lyra tampak bimbang.


"Sudah, ini simpan nomor handphone ku. Kalau kau berubah pikiran, hubungi aku!"


Setelah itu wanita itu meninggalkan Lyra begitu saja.


Gadis itu masih termenung memikirkan tawaran Rosma.


"Apa aku harus menyetujui tawarannya, ya?"


Dengan lunglai ia kembali keatas motornya.


Aby gelisah karna Anisa dan tidak kelihatan sama sekali, jangankan makanan seperti biasa, bayangannya saja tidak kelihatan.


"Tumben-tumbenan Al juga tidak kelihatan?"


Tiba-tiba Aby teringat sesuatu.


"Apa jangan-jangan Anisa marah karna melihat aku pulang bersama Lyra tadi? Ah, masa iya.. Itu bukan sifatnya. Kalau bukan karna itu lalu apa?" Aby bertanya-tanya.


Karn tidak tahan menunggu. Ia terpaksa menelpon Anisa.


Drrrt...!


Anisa hanya melirik sebentar ponselnya yang bergetar


Ia terus menyiapkan makanan di meja.


Yahya yang kebetulan lewat dan melihat ponsel Anisa menyala mencoba menengoknya.


"Nisa, ponsel mu menyala.."


Anisa tampak acuh saja. Ia membiarkan panggilan dari Aby terlewat begitu saja.


Hatinya masih gondok oleh sikap manis Aby pada Lyra sore tadi.


❤️salam lope lope buat semuanya

__ADS_1


__ADS_2