KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 18


__ADS_3

Jelita tertegun, ia menyadari saat Anisa buru-buru memutus panggilannya. Itu pasti karna ia melihat Aby sedang tertidur di kamarnya, dan pastinya ia bisa menebak apa yang sudah terjadi.


Antara bahagia dan rasa bersalah hinggap di hatinya.


ia sadar, bagaimanapun dirinya adalah penyebab jurang diantara Aby dan Anisa.


Sore yang cerah. Saat Anisa pulang beserta anak-anak.


Aby menunggunya di depan pintu dengan gelisah. Ada rasa bersalah menyusup di hatinya karena sudah melewatkan malam dengan Jelita.


Ia semakin gugup saat melihat sosok istrinya itu turun dari taksi yang mengantar mereka.


Jelita ikut menyambut dengan perasaan canggung.


"Bagaimana, senang sudah menginap di tempat kakek?" sapanya kepada Al.


"Anak itu berceloteh riang. Aby sempat melirik raut wajah Anisa yang begitu tenang. Bagai air sungai tanpa riak sedikitpun.


Anisa mencium tangan Aby seperti biasa.


"Bagaimana keadaan Abah?" tanyanya menghilangkan kecanggungan di antara mereka.


"Baik, beliau titip salam." Jawab Anisa sambil memberikan Zahra pada ibunya.


"Zahra tidak rewel, kan Mbak?"


Jelita berusaha mencairkan suasana.


Anisa menggeleng. "Ia anteng sekali, kata orang, anak kecil adalah cerminan hati ibunya, kalau ibunya happy, anaknya pasti anteng. Begitu pula sebaliknya." ucapan Anisa membuat Aby dan Jelita merasa tersindir.


Anisa terus masuk ke kamarnya. Aby mengikutinya dari belakang.


"Nisa, bisa kita bicara?" kata Aby dengan suara serak.


"Ada apa, Mas?" Anisa menghentikan aktivitasnya dan duduk di tepi ranjang.


Aby masih menatapnya dengan sorot mata gelisah.


"Ayo katakan ada apa?"


Tiba-tiba Aby bersimpuh di pangkuannya.


Aby menangis walau tanpa suara.


"Mas minta maaf.. Maaf, maaf!" ucapnya berulang kali.


"Aku telah membagi semua hal yang seharusnya hanya milikmu." ucapnya tergugu.


Anisa menahan perih di dadanya, namun sebisa mungkin ia menguasai diri agar Aby tidak mengetahuinya.


Ia membelai rambut Aby lembut.


"Kau tidak perlu minta maaf, aku senang karna kau sudah melaksanakan tugasmu sebagai seorang suami."


Aby mendongak. Dia melihat Anisa begitu tegarnya.tidak ada kesedihan di sana.


"Terima kasih atas pengertianmu, Nisa.." Aby mencium puncak kepala istrinya.


Anisa menyembunyikan air matanya yang hampir tumpah.


"Aku akan membereskan baju -baju ini dulu." ujar Anisa sengaja agar Aby segera pergi dari hadapannya.


Aby meninggalkan Anisa sendirian.


Setelah Aby pergi. Anisa memegangi dadanya. Ia terduduk lemas.

__ADS_1


"Aku hanya manusia biasa, Mas.. walaupun sudah berusaha ikhlas tapi tetap saja rasa sakit itu masih ada." ratapnya pelan.


Esok harinya, Aby sudah bisa beraktivitas dan ngantor seperti biasa.


Anisa juga berangkat mengajar seperti biasanya.


Yang tinggal hanya Jelita dan putrinya.


Kadang ia merasa jenuh juga dirumah tanpa teman bicara. Karna itu kadang ia mengundang Bu Sari untuk datang. Tentu saja tanpa sepengetahuan Aby dan Anisa.


Semakin hari, Anisa semakin bisa ikhlas menerima kenyataan bahwa semua yang terjadi adalah takdirnya.


Kehidupannya mulai normal lagi. Hubungannya dengan Aby pun semakin membaik.


Namun hal negatifnya, karna rasa bersalahnya. Aby lebih memprioritaskan Anisa ketimbang Jelita.


Ia semakin tergantung pada istri tuanya itu.


Walaupun bisa mengerti, namun kadang Jelita merasa tidak enak juga.


"Nisa..! Di mana kaos kaki yang warna biru?" teriak Aby.


Anisa yang sedang sibuk di dapur meminta tolong pada Jelita untuk mengambilkannya.


"Lit, tolong ambilkan, ya! Masa cari kaos kaki juga harus di ambilin.." Anisa menggeleng sambil tersenyum.


"Baik, Mbak.. Biar aku yang siapkan." jawab Jelita dengan senang hati.


Dengan hati gembira Jelita menghampiri Aby yang sedang bersiap di kamar Anisa.


Naluri kewanitaannya kadang juga ingin merasakan bagaimana rasanya menyiapkan dan melepas suami berangkat kerja.


Tanpa bicara, Jelita mengulurkan kaos kaki yang di maksud.


Jelita ingat tanpa sengaja pernah melihat Anisa memijat bahu suaminya saat Aby duduk setelah memakai kaos kakinya.


Ia memberanikan diri melakukan hal yang sama.


"Ini yang Mas Aby suka darimu. Orang lain tidak akan bisa melakukan apa yang kau lakukan..." ucap Aby bangga.


"Mas Aby, sarapannya sudah siap..!" teriak Anisa dari dapur.


Aby tercengang, perlahan dia menoleh dan sangat kaget mendapati Jelita yang sedang memijat bahunya.


Spontan ia berdiri.


"Kau, Lita? Eeum maaf.. aku pikir Anisa tadi." Aby terlihat gugup.


"Aku yang minta maaf, Mas. Mbak Anisa sedang memasak. Jadi dia minta tolong padaku untuk mengurus mu." jawab Jelita terbata.


"Baiklah, tidak apa-apa, aku yang salah." kata Aby melangkah keruang makan.


Jelita mengikutinya dari belakang.


Anisa yang melihat kecanggungan di wajah Aby dan Jelita, merasa heran


"Kalian kenapa?"


keduanya serentak menggeleng.


"Ayo kita sarapan!"


Anisa terlihat cuek dengan apa yang terjadi.


Aby memang lebih manja pada Anisa, walaupun ada Jelita, kadang ia bisa menunda makannya hanya gara-gara Anisa tidak ada di sampingnya. hal itu sedikit tidak menimbulkan kecemburuan di hati Jelita.

__ADS_1


Seperti yang terjadi malam itu.


"Mas, makan malam sudah siap!." sapa Jelita pada Aby di ruang kerjanya.


"Anisa kemana, Lita?" Aby malah menanyakan Anisa.


"Dia ada urusan sebentar, ia tidak mau menganggu Mas Aby yang sedang serius dengan pekerjaan. Makanya dia hanya titip pesan ke saya."


"Oh.. ya sudah, terimakasih. Sebentar lagi aku makan?" ucapnya lalu tenggelam lagi dalam pekerjaannya.


Jelita mendesah pelan.


"Aku seperti tidak berguna tanpa Mbak Anisa.." ucapnya sedih.


"Jelita, lihat ini. Aku bawakan apa untuk Zahra." ucap Anisa dengan hebohnya.


Ia mengeluarkan beberapa pasang pakaian anak perempuan usia dua tahun. Yang lucu-lucu.


"Tadi pas ketemu teman, kebetulan aku lihat dia bawa baju-baju ini. Motifnya cantik-cantik sangat cocok buat Zahra."


"Terima kasih, Mbak." jawab Jelita singkat.


Hal itu mengundang pertanyaan di benak Anisa. Ia melihat Jelita lesu tak bersemangat seperti biasa.


"Kau kenapa, Lit" Anisa meletakkan baju di tangannya.


"Kau belum makan? Mas Aby juga belum makan?" mata Anisa menyapu ke meja makan yang masih utuh.


Ia menarik nafas pelan.


"Mas Aby tidak mau makan kalau bukan Mbak yang menyiapkannya." ucap Jelita sendu.


Anisa merangkulnya.


"Yang sabar, ya..!"


Anisa mendekati Aby yang masih asik dengan laptop di depannya.


"Mas Aby.. Ini sudah jam berapa? Kenapa belum makan?" tanya Anisa sambil memegang bahu Aby.


"Ini nanggung. Kau kemana saja?" jawab Aby mengalihkan pertanyaannya. matanya masih tetap ke layar di depannya.


"Mas, tatap aku!"


Aby menatap Anisa yang terdengar tegas.


"kau sudah melukai hati Jelita. Kau tidak mau makan kalau bukan aku yang siapkan. Kenapa begitu, Mas?"


"Aku tidak bermaksud seperti itu, Nisa,. Beneran, pekerjaan masih tanggung makanya Mas belum makan." jawab Aby beralasan.


"Aku tidak mau mendengar alasan semacam itu, Mas."


"Baiklah, Mas akan minta maaf padanya." jawaban Aby membuat Anisa tersenyum.


"Ini sudah jam berapa? Jangan biarkan Jelita bertambah kesal karna menunggumu." nasehat Anisa.


Aby meraih Anisa duduk di pangkuannya.


"hatimu terbuat dari apa sih? Terkadang Mas Aby rindu dengan cerewet mu, rasa cemburu mu. Dimana semua itu sekarang? banyak hal yang hilang darimu, Nis.'"


"Sudah hukum alam, Mas. Kalau ada yang hilang pasti ada yang datang juga. Iya, kan?"


Aby tertunduk. Ia tidak akan pernah menang beradu argumen dengan Anisa.


Aby mencium kening istrinya itu sebelum akhirnya melangkah gontai menuju kamar Jelita.

__ADS_1


__ADS_2