KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 28


__ADS_3

Wajah Jelita terlihat merah padam karna malu dan kesal pada Anisa.


Menit demi menit berlalu, si nyonya ternyata sangat tertarik dengan kepribadian Anisa.


"wanita yang santun, berwawasan dan terlihat anggun dengan pakaian muslimah yang membungkus tubuhnya..." gumam si nyonya.


"Pantasnya Mbak Anisa ini yang mendampingi pekerja ulet seperti Aby.." bisiknya pada Anisa. Namun telinga Jelita masih sempat menangkap ucapan yang cukup pelan itu.


Anisa hanya tersenyum.


Hati Jelita semakin bergemuruh, dadanya sampai naik turun. Apalagi saat tamunya lebih getol mengobrol dengan Anisa ketimbang dirinya.


Setelah cukup lama berbincang-bincang. Mereka mohon diri. Aby dan Anisa mengantar mereka sampai di depan.


Setelah mereka menghilang dari pandangan, Anisa cepat berbalik hendak masuk.


"Terimakasih karna kau sudah membuat mereka terkesan dengan kunjungan ini." ucap Aby setengah berteriak.


Anisa hanya menoleh sebentar dan mengangguk, ia terus meninggalkan Aby sendirian.


" Jarak di antara kita semakin dalam. Rasanya semakin sulit meraih hatimu kembali, Nis..."


Keluh Aby, ia sangat merindukan momen dulu saat hubungannya masih baik-baik saja dengan Anisa.


Sedangkan Jelita sedang menahan amarah di dalam kamar.


Ia melampiaskan amarahnya pada bantal dan guling yang di remasnya sekuat tenaga.


lalu dengan kasarnya dia mencegat Anisa yang hendak masuk kamar.


"Hari ini Mbak Anisa sudah mempermalukan aku! Mbak puas.?"


Anisa berbalik. Ia menatap Jelita dengan tenang.


"Apa yang sudah aku lakukan? Bukan salahku dong kalau nyonya kaya itu terkesan padaku. di mana letak kesalahanku? aku sudah menjalankan peran yang kau berikan dengan baik. Bukankah kau bilang aku hanya saudara jauh mu yang sedang numpang di sini?"


Jelita terdiam. giginya gemeretak menahan geram.


Anisa meninggalkan Jelita begitu saja.


Aby yang sempat mendengar perdebatan itu menyeret tangan Jelita ke kamar.


"Apa yang di bilang Anisa itu benar? Kau mengenalkan dia sebagai saudara jauh mu?" wajah Aby terlihat tidak suka.


"Iya, dan ku pikir Mas Aby akan mendukungku. Bukankah akhir akhir ini hubunganmu dengan Mbak Anisa..." Jelita tidak berani melanjutkan ucapannya.


Aby menatap Jelita dengan tajam.


"Apa yang aku lakukan pada Anisa itu bukan urusanmu! Jangan sekali-kali kau jadikan alasan untuk memojokkannya. tolonglah Jelita, kau hanya perlu fokus pada Zahra. Tidak perlu mengurusi yang lain. Bagaimana hubunganku dengan Anisa biar menjadi urusan kami."


Jelita hendak protes namun Aby menggeleng tegas,


Membuat Jelita terdiam.


Jelita menimpuk bantal kearah pintu setelah Aby keluar dari sana.


"Aargh...! Kenapa aku tidak bisa menjadi seperti Mbak Anisa. Dia selalu lebih dariku dalam segala hal! dalam keadaan marah pun Mas Aby selalu membelanya." Jelita mengacak rambutnya.


Aby mengetuk pintu kamar Anisa.


"Ada apa lagi? Mau mengajak aku bersandiwara lagi? Aku capek, Mas! Mau tidur." Anisa hendak menutup pintu. Namun tangan Aby menahannya.


"Bukan, Mas kesini hanya ingin meminta maaf atas kejadian tadi. Mas benar-benar tidak tau kalau Jelita sudah..."

__ADS_1


"Tidak perlu di bahas lagi. sudah aku bilang, lepaskan aku! Jangan jadikan aku tawanan seperti ini, Mas, aku juga mau melanjutkan hidupku." Anisa menghiba.


Aby menatapnya dengan sendu. Ia tidak percaya wanita yang sangat di cintainya itu kini minta berpisah darinya.


Aby mengusap matanya yang tiba-tiba membasah.


"Aku mohon. Aku sudah mencoba untuk ikhlas berbagi dengan wanita lain,Tapi ternyata tidak mudah berbagi hati, berbagi suami dan yang lainnya. Aku akan mencari surgaku dengan cara lain, aku menyerah, Mas!"


Suara Aby tercekat. Ia tidak bisa memutuskan. Apakah ia harus menceraikan Jelita demi mempertahankan Anisa?


"Apakah dengan melepas Jelita rumah tangga kita akan kembali seperti semula?"


Aby menatap kedua mata Anisa yang terlihat cekung. Aby baru menyadarinya. mata itu terlihat lelah.


"Jangan, Mas! kalau hanya untuk membangun pondasi baru kau harus merusak bangunan yang sudah jadi, aku tidak setuju."


Aby putus asa. Ia berpikir kenapa Anisa kukuh ingin berpisah, padahal dia sudah menawarkan jalan keluarnya, yaitu menceraikan Jelita.


"Aku akan coba bicara dengan Jelita, mudahan di bisa mengerti."


Aby berbalik hendak menemui Jelita. Ia terkejut karena ternyata Jelita sedang berdiri menatapnya.


"Kau mendengar semua yang kami bicarakan?"


Jelita tidak bersuara. Hanya air matanya mengalir deras membasahi pipinya.


"Ayo kita duduk dan bicara baik-baik."


Aby menuntun tangan Jelita untuk duduk.


"Seperti yang sudah kau dengar tadi, aku ingin membuat rumah ini kembali hidup, tidak ada pertengkaran dan perdebatan setiap hari, karna itu.."


"Mas Aby mau menceraikan aku?" potong Jelita.


Dengan cepat Jelita menyambar pisau buah yang ada di meja.


"Aku lebih baik mati daripada harus bercerai dari mu!" Jelita benar-benar mengiris pergelangan tangannya.


Aby dan Anisa menjadi panik. Mereka berdua merebut pisau itu dari tangan Jelita.


Jelita kehilangan banyak darah. Akhirnya dia di rawat di rumah sakit.


Bu Sari tak berhenti menyalahkan Anisa atas apa yang menimpa anaknya.


Walaupun Aby sudah menjelaskan, orang tua itu tidak mau mengerti.


Aby Menjadi dilema. Seandainya menceraikan Jelita, bisa saja dia akan berbuat yang lebih nekat lagi.


"Lupakan tentang aku, tunggui istrimu dulu, Mas!" ucap Anisa saat Aby bilang ingin bicara.


Aby tidak membantah lagi. Ia merasa sedih karna Anisa semakin jauh darinya.


Hari Minggu itu, Al menghampiri ayahnya.


"Ayah, ini dari Bu guru." Al memberikan surat undangan dari sekolahnya.


Undangan untuk para wali murid, mereka akan membawa anak- bermain dan berwisata. mereka minta wali murid menyempatkan diri untuk ikut.


Aby berpikir, mungkin ini momen untuk mencairkan hati Anisa lagi.


"Baiklah, ayah akan ikut. Kasi tau Bunda juga."


Ada senyum kecil mengembang di bibir Aby.

__ADS_1


Hari Minggu itu, Anisa sudah menyiapkan perlengkapan untuk mereka pergi.


Bu Sari hanya bisa melihat mereka dengan wajah sinis.


Ketika mereka sudah siap di dalam mobil, ponsel Aby berbunyi.


"Pak Aby mohon segera datang kerumah sakit. Ibu Jelita menangis terus dari tadi, ia terlihat depresi."


Aby terhenyak.


"Kenapa harus sekarang, sih?" omel ya.


Ia tidak tega melihat kekecewaan di wajah putranya.


"Pergi saja, Kami bisa naik taksi."


Kata Anisa dengan wajah datarnya.


Aby memandangnya dengan rasa bersalah.


Ia harus melihat kekecewaan di wajah Al.


Anisa memesan taksi setelah Aby menghilang dari depan matanya.


"Gawat, taksinya berisi semua."


Sangat kebetulan ustadz Yahya lewat dan melihat mereka.


Melihat Anisa yang kebingungan ia menghentikan motornya.


Al sangat senang saat bisa bergabung dengan teman-temannya.


"Terimakasih, kau sudah jadi pahlawan untuk Al pagi ini." ucap Anisa tersenyum.


"Alhamdulillah kalau bantuanku bermanfaat untuk kalian. Memangnya dimana pak Aby?"


Anisa menceritakan semua dari awal hingga akhirnya Jelita harus di rawat di rumah sakit.


"Benar-benar rumit hubungan kalian bertiga..." komentar ustad Yahya.


"Karena itulah, aku merasa mantap untuk berpisah, tapi Mas Aby tidak setuju. Aku bingung. Di satu sisi aku ingin segera berobat ke luar negeri."


Tiba saatnya semua murid dan walinya di suruh naik bus.


"Bunda, kapan ayah datang? Semua teman Al ayahnya ikut semua." protes Al.


Anisa memang melihat para wali datang lengkap dengan pasangannya.


"Kita tunggu ayah dulu, Bu guru." Al dengan berani bicara pada gurunya.


"Mas Aby tidak mungkin bisa datang.' keluh Anisa dalam hati.


Sedangkan Al tidak mau berangkat tanpa ayahnya.


"Ustadz, bisa nggak ikut kita menggantikan ayahnya Al?" ucap Anisa terpaksa. Ia tidak yakin pria itu setuju.


"Boleh, kalau Al mau tentunya." jawabnya ramah.


"Gimana kalau ustadz Yahya menggantikan ayah? Soalnya kalau nunggu ayah sampai disini, kita akan ketinggalan."


Al mengangguk senang.


Tanpa di rencanakan, hari itu ustadz Yahya menggantikan posisi Aby. Anisa sadar akan konsekwensinya, tapi daripada membuat Al kecewa, ia merasa siap menghadapi kemarahan Aby.

__ADS_1


__ADS_2