KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 16


__ADS_3

Dengan bertanya sana sini, akhirnya Anisa bisa menemukan alamat rumah Jelita.


 Anisa sudah mengetahui kalau Aby membelikan rumah untuk Jelita dari kwitansi yang ia temukan. tapi baru kali ini ia melihatnya langsung.


Walaupun tak sebesar dan sebagus rumah yang dia tempati, rumah untuk Jelita termasuk lumayan nyaman.


Jelita dan Bu Sari kaget dengan kedatangan Anisa di sana.


Jelita masih diam terpaku saat Anisa berkata,


"Kamu tidak mempersilahkan saya masuk?"


"Owh, silahkan, mbak!" ucapnya kemudian.


Anisa masuk dan duduk di kursi di ruang tamu itu.


Matanya menangkap foto yang terpajang disana. Di sana terlihat Aby dan Jelita. Tersenyum bahagia dengan menimang seorang anak kecil.


Anisa menarik nafas panjang.


Sedangkan Jelita bergerak hendak memindahkan foto itu.


"Sudahlah.. Foto itu sudah tidak berpengaruh buat saya. Kedatangan saya kesini bukan untuk memeriksa isi rumah kamu." Anisa berhenti sejenak.


"Lagian apa yang mau di periksa nak Anisa, isinya ya cuman ini.. Tentunya sangat jauh berbeda dengan perabotan dan isi rumah milik Nak Anisa." Bu Sari yang menjawab.


"Ibu.." Jelita menggamit tangan ibunya.


"Maafkan ibu saya, Mbak."


Anisa hanya tersenyum kecil menanggapinya.


"Ada sesuatu yang lebih penting kalian ketahui ketimbang membahas soal isi rumah."


"Mas Aby kecelakaan.. Dia masih di rumah sakit belum sadarkan diri.".


"Mas Aby kecelakaan?" ulang Jelita menutup mulutnya.


Ia terlihat sok mendengar berita itu


"Kapan kejadiannya, Mbak? Pantas ponselnya tidak bisa di hubungi dari semalam." ucap Jelita sedih.


"Kejadiannya semalam. Sekitar jam sebelas."


Anisa sengaja tidak bilang kalau Aby habis menemuinya saat kecelakaan itu terjadi.


"Itulah, Nak Aby harusnya mendengar nasehat ibu,asa dia tidak mau tidur di rumah ini, padahal dia dan Jelita sudah sah secara hukum agama sebagai suami istri."


Ucapan Bu Sari membuat Jelita salah tingkah.


Diam-diam Anisa merasa kasihan pada gadis di depannya itu.


Dia di nikahi Aby, tapi tidak pernah mendapatkan haknya sebagai seorang istri.


"Bersiaplah.. Kita kerumah sakit sekarang. Taksi saya sudah menunggu." kata Anisa.


"Bolehkah saya membawa Zahra, Mbak?"


Anisa mengangguk.


Dalam hati, Jelita mengagumi ketabahan hati madunya itu.


"Pantas mas Aby belum bisa memberi ku tempat di hatinya, istri nya sangat luar biasa."


 Anisa dan Jelita dalam satu taksi.


"Kenapa mbak mencariku? Mbak tidak membenciku?" sapa Jelita pelan.

__ADS_1


"Saya bisa saja tidak mengabarimu, bisa saja merawat suami saya sendiri. Tapi apakah saya akan tenang dengan semua itu? Sedangkan saya sendiri tau, Mas Aby sangat menghormati hubungan kalian." ucap Anisa sambil memandang kesamping.


"Aku minta Maaf, aku juga tidak pernah bermimpi jadi orang ketiga diantara kalian."


Desah Jelita.


Ia sibuk menenangkan Zahra yang rewel.


Mereka tiba di rumah sakit, dan langsung menuju ruangan dimana Aby di rawat.


Disana masih ada Imran dan beberapa teman kerja Aby.


"Syukurlah kau cepat datang, Aby sudah sadar." ucap Imran.


Anisa menyeruak masuk.


"Mas Aby....!"


Aby menoleh, yang terlihat hanya sebelah matanya karena yang sebelahnya di tutupi perban.


"Anisa, maafkan Mas Aby. Mas belum bisa menjadi suami dan imam yang baik buatmu." ucap Aby terbata.


"Sudahlah, jangan bahas itu dulu. Aku ingin kau cepat sehat dulu. Jangan banyak pikiran!"


"Dimana putra kita?"


"Ada, Mas. selain Al, aku juga punya kejutan buatmu." ucap Anisa sambil menyeka airmatanya karena terharu.


Anisa memanggil Jelita untuk masuk.


Jelita masuk dengan perlahan sambil mendekap Zahra.


"Jelita?"


Aby memandang kearah Anisa.


Jelita mendekat dan memegang tangan Aby.


"Mas, maafkan aku, jangan bilang kau mengalami semua ini karna aku, karna masalah kita." kata Jelita tersedu.


Aby meraih pipi Zahra dan membelainya. Bibirnya tersenyum bahagia. Anisa ikut terharu, entah kenapa, dengan berusaha melupakan kebencian di hatinya, batinnya terasa lebih tentram. "Betul kata Abah, kalau kita berusaha ikhlas, hati akan tenteram."ucapnya sendiri.


Jelita mundur untuk memberi kesempatan pada Anisa.


"Terimakasih, sayang. Ini sangat membantu mengurangi bebanku." kata Aby sambil mencium tangan Anisa.


"Ayah, bunda.. siapa afi kecil ini?" tanya Al tiba-tiba.


Aby kesulitan memberi jawaban yang tepat untuk Al.


"Itu adiknya Al, bukankah selama ini Al pingin punya adik?" Anisa yang bicara.


Al mengangguk girang.


"Jadi mulai sekarang, Al bisa main bersama adik?"


Anisa mengangguk.


Al terlihat gembira mendapat mainan baru.


Satu Minggu kemudian,


"Kau sudah di bolehkan pulang. Sekarang aku serahkan padamu, mau pulang kemana?"


Ucap Anisa dengan tenang.


Aby terdiam sejenak, ia merasa bahagia dengan perubahan Anisa, tapi ia juga merasa canggung.

__ADS_1


"Kalau boleh, aku pulang ke tempatmu saja." ia memohon pada Anisa.


"Tidak apa-apa, kan?" kali ini ia memandang wajah Jelita.


"Tidak apa-apa, Mas." jawab Jelita.


"Ajak saja adik kecil pulang kerumah kita!" ucap Al dengan polosnya.


Jelita merasa tidak enak. Ia membuang pandangannya ke tempat lain.


'Boleh juga." suara Anisa mengejutkan Aby dan Jelita.


"Benar, kalian ikut saja pulang kerumah!" ucapnya meyakinkan Jelita.


"Aku.." Jelita memandang kearah Aby.


"Aku serius, kita bisa bersama-sama merawat Mas Aby. Dan Al juga pasti sangat senang karna bisa bermain dengan Zahra setiap saat." matanya yang teduh menatap Jelita dengan tulus.


Aby meraih tangan Anisa dan menciumnya.


"Terimakasih, Bidadari surga ku..!"


"Terimakasih, Mbak. Aku tidak tau harus berkata apa, aku merasa kecil di hadapanmu."


"Tidak ada besar dan kecil, kau dan aku sama,.


Kita masih perlu banyak belajar menjadi lebih baik lagi."


Jelita merasa terharu oleh kebesaran hati Anisa. Ia merasa harus banyak belajar darinya.


Sore itu, Aby pulang kerumah Anisa. Ia tak berhenti mengucap syukur. Ternyata musibah yang di alaminya membawa hikmah besar.


Hikmah yang menyatukannya kembali dengan wanita yang paling di cintainya, dan bonusnya, Anisa juga bisa menerima kehadiran Jelita dan anaknya.


"Oh ya, kenapa ibu tidak ikut sekalian?" tanya Aby pada Jelita.


"Biarkan saja ibu mengurus rumah itu, Mas. Lagian aku tidak mau ada masalah karna ibu. Kau tau sendiri bagaimana sifat ibuku."


Aby tersenyum melihat Jelita yang mulai belajar bijak juga.


Anisa menyiapkan kamar yang akan di tempati Jelita. Kamar itu tak kalah besar dengan kamar yang ia tempati bersama Aby selama ini.


"Kau bisa tinggal disini. Nanti kita tinggal pesan box buat Zahra.


Jelita tak tahan tidak memeluk madunya itu.


"Terimakasih, Mbak. Jangan terlalu baik padaku, aku merasa terbebani karenanya."


"Kenapa harus merasa tak enak, kita berdua masih sama-sama harus belajar banyak. Kita bisa tinggal disini sebagai saudara, anggaplah aku kakakmu. Sendiri."


Jelita semakin terisak.


"Mbak, aku juga ingin memakai hijab seperti, Mak Anisa."


Anisa sangat senang mendengar niat baik Jelita itu.


Malam harinya, Jelita terlihat anggun saat mengenakan hijab dari Anisa.


Aby kaget dan terpana melihatnya.


Saat itu Jelita datang membawakan secangkir kopi buat Aby di ruang kerjanya. Tentu saja itu atas suruhan Anisa.


Diam -diam Anisa melihatnya dari kejauhan. Ia mengusap dadanya. Memang ada desir nyeri disana, tapi ia berusaha menepisnya.


"Aku harus belajar ikhlas."


Dukungannya dong say..

__ADS_1


"


__ADS_2