
Pak Sofyan menghampiri putrinya yang sedang di rias. "Nduk, apa kau sudah periksa sekali lagi persiapannya, Papa takut masih ada yang terlewatkan. Pastikan semuanya sudah siap." kata pak Sofyan.
"Sudah, Pa." Lyra berbalik menghadap papanya.
"Kau sangat cantik, persis almarhumah Mama mu." Pak Sofyan memeluk anaknya.
Lyra tersenyum bahagia.
Tapi tiba-tiba..
Huek.. Huek..!"
Dia menutup mulutnya dan berlari ke kamar kecil. Pak Sofyan memandangnya heran.
Di sana ia memuntahkan seluruh isi perutnya.
Pak Sofyan panik dan khawatir melihat keadaan putrinya.
"Kau tidak apa-apa? Apa perlu kita panggil bidan?"
"Tidak usah, Pa. Lyra hanya masuk angin biasa, mungkin karena perut belum di isi sejak semalam." jawabnya dengan nafas ngos-ngosan.
"Segitu semangatnya mempersiapkan pernikahan ini, sampai lupa makan? cepat baluri perutmu dengan minyak kayu putih."
Seorang kerabat membantu menggosok tengkuknya.
"Mulai kapan kau seperti ini, Ly?" tanya wanita paro baya itu.
"Sudah sejak dua hari... Tapi biasanya di pakai kan minyak kayu putih juga baik kembali." ucapnya berusaha tersenyum.
"Biasanya gejala seperti ini adalah gejala ibu hamil. Tapi aku yakin kau hanya masuk angin biasa." ucap kerabatnya sambil terus membalurkan minyak.
Lyra tersedak, tebakan kerabatnya itu memang tidak salah. Di rahimnya kini telah tumbuh benih dari pria yang sangat di bencinya. Ia begitu jijik saat mengenang hari yang sial itu.
Di tempatnya, Aby gelisah sendiri.
Ia tau hari ini hari pernikahannya dengan Lyra, tapi kenapa dia sendiri merasa tidak yakin. Bayangan Al dan Anisa serta Khaliza menari di pelupuk matanya.
Ia seperti melihat mereka berempat berkumpul menjadi satu keluarga yang utuh.
"Astagfirullah.." Aby mengusap wajahnya.
"Aku akan menikahi Lyra, tapi kenapa bayangan Anisa yang muncul di benakku? ampuni hamba ya Allah.."
"Assalamualaikum..!" Aby terpana melihat kearah pintu. Orang-orang yang baru saja di bayangkannya kini nyata telah berada di depan pintu. Ia mengucek matanya.
"Ayah.." Al berlari memeluknya.
Aby merasa canggung saat menatap Anisa.
"Silahkan duduk, Nisa?"
Anisa hanya mengangguk dan duduk. Dia merasa heran karena Aby masih belum bersiap, padahal sudah jam delapan.
"Mas aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin bertanya, apa kau yakin dengan keputusanmu ini?" tanya Anisa dengan hati-hati.
Aby memalingkan wajahnya.
"Aku juga tidak tau, Nis. Kenapa semakin kesini aku merasa kurang yakin. Semula ku pikir dengan melakukan ini, aku bisa menjauh darimu, kau juga bisa melanjutkan hidupmu, toh lambat laun hatiku juga bisa menerima Lyra. Tapi..?"
Aby tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Dia menunduk sambil memijat keningnya.
Anisa terdiam. Ia memang melihat keraguan di mata pria itu. Tapi untuk meyakinkannya saat ini percuma saja. Acara sudah di depan mata.
__ADS_1
"Baiklah, aku hanya mengantar kan Al, aku mau langsung kesekolah."
Anisa keluar dari rumah itu. Ketika dia hendak memakai helmnya, tiba-tiba Aby memanggilnya.
"Anisa, aku tidak mengerti kenapa aku harus mengatakannya padamu. Aku ingin kau tau, aku tidak bahagia dengan pernikahan ini."
Anisa meletak kan kembali helmnya.
Tepat seperti dugaannya, Aby mengambil keputusan dalam keadaan bingung.
"Kalau kau tidak yakin, kenapa kau teruskan, Mas?"
"Tidak mungkin aku batalkan. sudahlah.. Anggap saja apa yang ku katakan ini hanya angin lalu, jangan di ambil hati." ucapnya tersenyum di paksakan.
"Mas, kalau boleh aku kasi saran, jangan teruskan pernikahan ini."
"Tapi aku tidak mungkin membatalkannya, undangan sudah di sebar. Aku tidak mau membuat pak Sofyan malu. Beliau sudah banyak membantuku selama ini." keluh Aby pasrah.
"Mas, aku tau apa yang sudah menimpa Lyra, dan itu semua bukan lah tanggung jawab mu! Memang kau berhutang budi pada ayahnya, tapi apakah harus? mengorbankan perasaan hanya untuk membalas budi? Apa kau akan mengulang sejarah dengan menikahinya?"
Aby mendesah pelan.
Anisa tau persis, karna kebaikan hati Aby, orang malah sering memanfaatkannya.
"Kau di manfaatkan oleh Lyra, Mas!"
Aby terdiam. Ia membenarkan ucapan Anisa. Tapi dia tidak mungkin merusak rencana yang sudah di atur keluarga pak Sofyan.
Walau ragu ia pergi juga.
Di rumahnya, Lyra dan pak Sofyan merasa gelisah karena Aby belum juga muncul. Padahal para tamu undangan sudah datang.
"Ly, kenapa Aby belum juga datang?" pak Sofyan menghampiri Lyra.
"Tidak tau, Pa. ponselnya juga tidak bisa di hubungi." Lyra ikut panik.
Dia langsung memohon maaf pada pak Sofyan.
"Maaf, pak, ada kecelakaan dan membuat jalanan macet."
"Ya sudah, yang penting kau sudah datang, bapak lega."
"Bisa kita mulai acaranya? Saya juga ada jadwal di tempat lain." kata penghulu.
Aby dan Lyra mengambil tempat duduk.
Bibir Lyra tak berhenti tersenyum. Ia bahagia karena impiannya bersama Aby dapat terwujud.
Aby sudah hampir mengucapkan ijab kabulnya saat Anisa dan Arman datang menghentikan pernikahan itu.
" Tolong hentikan pernikahan ini..." ucap Arman dengan lantang.
Wajah Lyra seketika menjadi pucat pasi.
Pak Sofyan menjadi bingung., begitu juga orang-orang yang hadir di sana.
"Ada apa ini?" tanya pak Sofyan. Matanya nanar memandang Arman.
"Lyra, kau bisa jelaskan pada Papa?"
"Biar saya jelaskan Om." Arman yang bicara.
"Diam kamu! Saya bertanya pada anak saya." bentak pak Sofyan membuat Arman tertunduk.
"Maafkan Lyra, pa. Lyra..." Lyra menangis tersedu.
__ADS_1
Aby memandang Anisa.
Anisa mengangguk padanya.
"Saya sangat mencintai Lyra, ijinkan saya menikahinya. Saya akan bertanggung jawab atas apa yang telah menimpanya." ucap Arman dengan jantan.
Semua orang memuji keberaniannya.
Pak Sofyan memandang Aby.
"Maaf, pak. Saya menikahi Lyra karena ingin menolongnya. Dia bilang Arman tidak mau bertanggung jawab."
"Maafkan aku, pa!" Lyra kembali meminta maaf dengan linangan air mata.
Pak Sofyan terduduk lesu.
"Bagaimana ini? Apakah pernikahannya di lanjutkan? Kalau tidak, saya mau ketempat lain." kata penghulu.
"Ijinkan saya, menikahinya ,Om! Saya akan membahagiakannya." Arman bersimpuh di kaki pak Sofyan.
"Berilah kesempatan pada Arman, Pak."
Aby memberi saran.
Walau berat hati, pak Sofyan mengijinkan Arman menikahi Lyra.
"Ly, maukah kau menjadi istriku?" tanya Arman tulus.
Lyra mengangguk. Mereka berdua tersenyum.
Akhirnya Aby memberikan jas dan peci nya pada Arman.
Acara ijab kabul antara Arman dan Lyra akhirnya selesai.
Selamat, ya Lyra.. !" ucap Anisa saat menyalami Lyra.
"Terima kasih, Mba. Untung kau membawa Arman tepat waktu. Kalau tidak, aku akan menyesal karena telah mengikat Mas Aby dalam pernikahan yang tidak dia kehendaki."
"Alhamdulillah, semua belum terlambat. Dan kau harus memberi kesempatan pada Arman. Dia tulus mencintaimu. Dia juga sudah menyadari semua kesalahannya."
"Sekali lagi terima kasih,Mba!" Lyra merangkulnya erat.
Arman yang kebetulan sedang menatap mereka tersenyum penuh haru.
"Nisa, kau tau darimana tentang Arman?" tanya Aby saat mereka sudah berada di atas motor.
"Tak sengaja aku mendengar saat Bi Rosma
Bicara lewat telpon dengan Lyra. Lyra bilang pada Mas Aby kalau Arman tidak mau bertanggung jawab, kan? Padahal Arman sudah memohon-mohon padanya.. Dia sengaja memanfaatkan Mas Aby agar mau menikahinya. Tentu saja itu dorongan dari Bi Rosma. Dari situ aku mencari tau tentang Arman."
"Apalagi melihat keraguan mu tadi pagi, membuat aku yakin untuk menolong Arman."
"Alhamdulillah.. Semua kesalah pahaman ini sudah berlalu." ucap Aby.
"Kau mau pulang atau kemana dulu?"
"Aku mau mengambil Liza di penitipan, motorku juga ada disana."
"Aku antar kesana.."
Anisa menarik nafas lega. Sesuatu yang sempat membuatnya ketakutan kini sudah berlalu.
Ia tidak bisa membayangkan reaksi Rosma saat tau rencananya menikahkan Aby dengan Lyra ternyata gagal.
"Terima kasih, ya Allah..!" ucapnya penuh syukur.
__ADS_1
Bersambung.....
L