
Sepanjang perjalanan Rosma terus membuang muka.
Ia merasa malas membayangkan harus serumah dengan Anisa dan Aby. Namun ia terpaksa harus ikut dengan Anisa, karena kalau tidak, dirinya akan tinggal dimana? Anak dan menantunya saja di lampung sudah tidak perduli padanya. tapi rasa dengki nya pada Anisa tidak bisa ia hilangkan. Ia merasa Anisa terlalu beruntung, di cintai oleh dua orang pria sekaligus. mempunyai wajah cantik dan berpendidikan pula.
Mereka sampai di halaman rumah yang lama peninggalan Abahnya Anisa.
Tampak oleh Yahya Aby dan putranya sedang bercengkrama dengan hangatnya. Tawa Al begitu lepas, tidak seperti saat masih bersamanya. Melihat keakraban itu, ada rasa iri terbersit di hatinya.
"Beberapa bulan terakhir anak itu sudah menghabiskan waktu bersamaku, aku merasa begitu dekat dengannya. aku iri karna ia bisa sebahagia itu bersama Aby." bathin Yahya. Tanpa sadar Ia mendesah pelan
"Kalian sedang main apa? Seru sekali?" goda Anisa pada Al.
" Bi, ustad Yahya..." sapa Aby sambil mengangguk sopan.
"Begini, Mas. Rumah kami sedang ada masalah. Jadi kami juga harus pindah kesini. Tidak apa-apa, kan?"
"Owh.. Kenapa tanya padaku, ini rumahmu, rumah kalian. istilahnya aku hanya numpang." sanggah Aby tersipu.
Namun basa basinya di artikan lain oleh Rosma.
"Maksud nak Aby, mau mengingatkan kami bahwa kami menumpang, begitu, kan? Keterlaluan!"
sungut Rosma ketus.
"Bukan, bukan itu maksud saya, kalian salah paham." matanya menyapu Rosma dan Yahya.
"Kami juga terpaksa datang kesini karna Anisa yang meminta. Kalau tidak, kami juga tidak sudi satu rumah dengan anda. Iya, kan Yahya?"
Yahya mengangguk di tengah kebingungannya.
Jujur, dia agak tersinggung dengan ucapan Aby.
Aby memandang Anisa dengan rasa bersalah.
"Maaf, Nis. Aku tidak bermaksud ...."
"Sudah, sudah... sebenarnya maksud Mas Aby tidak seperti yang kalian kira. tidak ada yang menumpang, ini rumah kita." ucap Anisa melerai.
"Bibi tetap tersinggung dengan ucapan Aby.
Menurutmu bagaimana?" tanyanya pada Yahya.
"Mungkin pak Aby memang tidak bermaksud jahat, tapi seharusnya dia tidak bilang seperti itu."
Degh!
Hati l Anisa begitu kaget, kenapa Yahya harus ikut-ikutan Rosma, malah berani menyalahkan Aby lagi. Sungguh ini sebuah awal yang tidak baik menurutnya.
"Oh, kalau ustadz menganggap kata-kata ku kurang sopan, aku benar-benar mohon maaf."
Aby merendah dengan mencakup kan kedua tangannya.
"Kenapa harus di perpanjang. Ayo kita masuk,vAl ajak ayah Aby ke kamarnya..!"
__ADS_1
Aby pasrah saat Al menuntunnya ke kamar. wajahnya terlihat muram, ia merasa sedih karena tuduhan Rosma dan Yahya yang tidak beralasan. Padahal sedikitpun tidak niat seperti yang mereka tuduhkan
Anisa berusaha bersikap adil dia tidak condong ke Aby maupun Yahya.
"Ini kamar Bibi. Dan yang ini kamar kak Yahya..."
"Lho, kenapa kalian beda kamar?" Rosma terlihat kaget. Kau pasti sudah mengatur semuanya. Kau ingin punya waktu lebih untuk mantanmu. Benar, kan?"
Anisa terhenyak.
"Bibi kenapa selalu berpikiran buruk pada orang lain? Tentu saja kami akan tinggal sekamar. Dan Bibi harus tau,
tidak semua orang sama seperti cara pikir Bibi. aku dan Mas Aby tau batasan kami masing-masing. Jadi, jangan pernah mencurigai kami." ucap Anisa geram dengan rahang mengeras.
Dia sudah hendak melangkah keluar, tapi kemudian berbalik lagi.
"Bibi tau maksudku memberikan kamar khusus pada kak Yahya? Agar dia punya tempat privasi."
Anisa beralih menatap Yahya. Pria itu membuang muka. Seolah dia setuju dengan pendapat Bibinya.
"Ayo, kak..!"
Anisa mendorong Yahya masuk kamar dan menutup pintunya.
"Dasar..! Sombong sekali dia, mentang -mentang aku numpang di sini." omelnya sambil menendang pintu, tapi ia kesakitan sendiri.
"Kakak harus betah di sini, besok aku akan urus masalah rumah kita yang disana. Mudah-mudahan bisa kembali ke tangan kita.." ucap Anisa sambil membantu suaminya naik keranjang.
Anisa menghembuskan nafas berat.
Ia heran kenapa sekarang Yahya gampang tersinggung. padahal niatnya baik. Tapi Yahya seolah merasa di usir dari sana dan harus secepatnya pindah.
PP
"Kenapa, Nisa? Kata kata ku ada yang salah, ya?" tanya Yahya menantang.
Anisa menggeleng.
Anisa berusaha memahami keadaan Yahya saat ini. Mungkin karena keadaannya yang memaksanya seperti itu.
"Baiklah, kakak istirahat dulu. Biar aku siapkan makan siang." ucapnya lembut.
Ia meninggalkan kamar itu dengan hati galau.
"Benarkah keputusanku? Membiarkan Mas Aby dan kak Yahya dalam satu atap pasti akan menimbulkan percikan -percikan kecil.
Tapi aku juga tidak mungkin membiarkan Mas Aby sendiri.."
Anisa menyiapkan makan siang untuk keluarga itu, ada kerabat jauhnya yang membantunya, dialah yang selama ini merawat rumah peninggalan Abahnya.
Pesantren yang di bangun Abahnya juga sudah bubar karena tidak ada yang mengurus. Yahya sebagai pengganti yang di harapkan sang Abah harus sibuk merawatnya saat berobat.
Karna melamun, ia lupa pada minyak di kompor yang sudah panas.
__ADS_1
"Awas Nis..! api itu menyambar keras hingga hijabnya terbakar. Dengan terpincang Aby Aby berusaha berlari menolongnya.
Ia menarik hijabnya dan membuat Anisa terhuyung jati ke dada Aby.
Anisa begitu shok. Ia tidak sadar kalau berada di pelukan mantan suaminya itu.
"Sudah, apinya sudah padam." ucap Aby mengusap kepala Anisa.
tepat di saat itu, Yahya sedang mengayuh kursinya dan melihat kejadian itu. Ia ingin marah dan memergoki mereka. Tapi hati kecilnya melarang.
Anisa yang sadar apa yang terjadi, langsung menarik diri dari Aby.
Mereka sama-sama tersipu.
"Maaf, Nisa, Mas Aby tidak bermaksud untuk.."
"Sudah, Mas. kau tidak salah. Terimakasih karna sudah datang di saat yang tepat." ucap Anisa sambil berusaha menutup kepala dengan kedua tangannya.
Ia bergegas kekamar untuk mengambil hijab.
Tapi ia tertegun saat melihat Yahya sedang menangis sambil memukuli kakinya yang cacat.
"Aku tidak berguna! Aku tidak bisa melindungi diriku sendiri, bagaimana aku akan melindungi Anisa dan anak ku kelak..?"
Ia meratapi keadaannya sambil menangis.
Anisa menghampirinya dan memeluknya dari belakang.
"Kak, kenapa kau seperti ini? Kau sangat berarti buat kami. Banyak yang bisa kau lakukan.." Anisa mendekapnya erat.
"Aku hanya bisa jadi beban semua orang. Aku laki-laki cacat. Apa yang bisa di banggakan?" ia kembali memukuli kakinya.
Anisa menahan tangan Yahya, lalu membawa ke perutnya.
"Tanya dia, kak. Apa dia tidak sedih melihat ayahnya seperti ini? Dia sedih karna Ayah yang di banggakannya ternyata cengeng dan gampang menyerah pada kenyataan."
Perlahan Yahya kecapean dan menghentikan aksinya. Matanya menatap kosong kedepan
"Kakak istirahat, apa butuh sesuatu?"
Yahya menggeleng.
"Anisa.." Yahya menangkap tangan istrinya.
"Ma-af.. Aku telah membuatmu cemas." ucapnya perlahan.
Anisa mengangguk dan tersenyum.
Lalu menyelimuti pria itu lembut.
"Jangan pikirkan apapun, entang Aku, kau dan Mas Aby. Yang perlu kau tau, aku akan tetap ada di sisimu selagi kau masih menghendakinya, apapun bentuk dan nama hubungannya."
Anisa meremas tangan Yahya seolah meyakinkannya. Ia ingat bagaiman pria di depannya ini begitu tulus merawatnya saat dia terkapar tak berdaya karena penyakitnya. Kini saatnya dia yang akan melakukan hal yang sama. Hanya saja bedanya, mungkin Yahya melakukannya dengan perasaan cinta, tapi dirinya melakukan itu karna perasaan tulus oleh tanggung jawab.
__ADS_1