KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 30


__ADS_3

Dari ruangan Anisa, Aby tidak langsung menemui dokter seperti katanya pada Jelita.


Ia duduk di kursi yang tersedia di bagian belakang rumah sakit itu.


Kenyataan pahit kalau Anisa serius ingin berpisah dengannya membuatnya terguncang.


"Kenapa kau memilih perpisahan, Nisa? Kau sama sekali tidak memikirkan masa depan anak kita. Al yang akan paling terluka." Aby meremas rambutnya sendiri.


Selama dua hari di rumah sakit, ustadz Yahya selalu setia menunggui Anisa.


Karna terbiasa bertemu, akhirnya mereka mereka semakin akrab.


Anisa sama sekali tidak mau bertemu Aby, kalau Aby datang ia pura-pura tidur dan berpesan agar jangan di ganggu.


Seperti sore itu,


Seorang perawat menghalangi jalan Aby yang hendak masuk keruangan Anisa.


Lagi lagi Aby kecewa karna Anisa sama sekali tidak mau bicara dengannya.


Aby membuka ponselnya. Ia melihat pesan dari Anisa.


(Mas aku minta ijin untuk pulang kerumah Abah. aku harap kau tidak melarang ku, Al juga aku bawa serta, tapi sebelumnya aku mengambil baju-baju ku dulu)


Aby menghela nafas berat.


"Kenapa rumah tanggaku jadi seperti ini?


Mengapa niat baik ku menolong Jelita berbuah sepahit ini? "


Aby merasa jalan satu-satunya untuk kembali pada Anisa adalah ia harus melepaskan Jelita, tapi hal itu sepertinya sangat sulit terjadi. Jelita yang nekat tidak menerima perpisahan mereka.


Aby memandang tanah rumput di depannya.


Tatapannya kosong.


Ia mencoba membalas pesan Anisa.


(Kau boleh pulang kesana sampai kapanpun kau mau. Mas tidak akan melarang, kecuali perceraian, kita tidak akan pernah bercerai sampai kapan pun!)


Berapa detik menunggu, tidak ada jawaban dari Anisa. Aby memilih cepat-cepat pulang kerumah. diam dirumah sakit pun tidak ada gunanya karena Anisa menjaga jarak dengannya.


***


Di rumahnya, Jelita merasa gerah karena Aby jarang mau bicara. Ia merasa kehadirannya tidak di anggap setelah Anisa tidak ada.


Matanya melebar saat melihat taksi berhenti di depan rumah mereka.


"Aah, Mbak Anisa sudah pulang, rumah ini pasti akan ramai lagi." ucapnya cuek.


Jelita bertambah kaget saat tau yang mengantar Anisa pulang adalah ustadz Yahya.


"Pasti akan ada pertunjukan seru, nih. Aku tidak boleh melewatkan nya."


Jelita sudah bersiap-siap dengan kamera ponselnya hendak mengabadikan momen itu. Tapi ia kecewa, tidak ada ketegangan apalagi pertengkaran.


Aby hanya menatap Anisa yang mengemas semua barangnya.


Dengan segan ia bertanya.


"Mau kemana lagi, Mbak? Belum puas menebar sensasi? Belum puas juga membuat Mas Aby berubah seperti patung hidup di rumah ini?"


Anisa terus mengemas.


"Ternyata manak Anisa seorang yang berbakat di bidang akting, ya?"


"Jawab dong, Mbak! Owh, aku tau, Mbak Anisa pasti ingin pergi bersama pria itu, kan?


Punya harga diri sedikit, Mbak. Di depan Mas mata Mas Aby kau selingkuh. berbuat aib kok bangga!" nyinyir Jelita.


Plak...! Sebuah tamparan mendarat keras di pipi Jelita.


Wanita itu meringis memegangi pipinya yang terasa panas.

__ADS_1


"Mas?:apa yang kau lakukan?" mata Jelita menatap nanar ke arah Aby.


"Sekali lagi kau bicara yang tidak pantas padanya, tamparan kedua akan segera kau dapatkan!" kecam Aby.


Jelita berlari sambil menangis.


Anisa menatap wajah Aby.


"Apa yang Mas Aby lakukan tidak akan merubah keputusanku."


"Aku juga tidak akan memaksamu lagi, apapun yang kau lakukan, silahkan saja. Cuma satu yang tidak bisa Mas Aby kabulkan, yaitu perceraian."


"Dan kau tau, Nisa.. Semua ketidak adilan yang terjadi padamu selama ini, aku tau semua. aku sengaja tidak membelamu di depan Jelita, karna hati ku di bakar api cemburu.


Sekarang aku menyesal, ternyata tidak ada gunanya membuatmu cemburu juga dan kembali padaku. Tapi malah sebaliknya, itu semua membuat mu semakin membenciku, kita semakin jauh."


Aby bicara dengan tenang, tidak meledak seperti biasanya.


"Semua sudah terjadi, biarlah kita berpisah untuk sementara waktu. aku tidak menjanjikan kita akan kembali seperti semula, tapi kalau Allah berkehendak, apalah dayaku menolak."


Anisa menyeret kopernya yang berisi bajunya dan perlengkapan Al.


Aby terus mengikuti langkah Anisa dengan pandangan pilu, sampai taksi yang membawa mereka menghilang di belokan.


Setelah kepergian Anisa dari tempat itu, membuat Jelita lebih leluasa. Karna rasa kecewa dan marah atas perlakuan Aby. Ia mulai suka keluar malam, Bu Sari begitu juga.


Aby jarang berada di rumah. Ia menghabiskan waktu di tempat Imran atau temannya yang lain.


Hal itu membuat Jelita semakin lupa diri. Uang dari Aby ia habiskan untuk berpoya-poya.


Sedangkan Anisa, di dampingi ustadz Yahya ia menjalani pengobatan secara herbal.


Namun kondisinya tidak kunjung membaik.


Yahya membujuknya untuk mau di operasi.


"Ini adalah ikhtiar, setelahnya baru kita bisa pasrah."


Yahya terdiam. Yang di katakan Anisa memang benar, darimana ia akan mendapatkan uang sebesar itu?


"Tapi asal kau bersedia, pasti ada jalan." ucap Yahya meyakinkan.


Anisa berusaha mengukir senyuman di bibir keringnya.


"Terima kasih, ya kak." ucapnya tiba-tiba.


Yahya menoleh.


Anisa mengangguk.


"Kakak?"


"Iya, mulai sekarang, aku akan memanggilmu kakak saja. Lebih akrab. Iya, kan?"


Yahya tersenyum. Apalah artinya sebuah panggilan di bandingkan kesehatan Anisa.


"Tidak jelek.." jawabnya sambil tetap tersenyum."Aku mau melihat Al dulu,."


Saat bangkit Anisa memegangi kepalanya dan terhuyung hampir jatuh.


Begitu paniknya Yahya sampai berteriak dan menangkap tubuh Anisa.


Anisa tertawa tertahan.


"Tenang, kak.. Aku tidak akan di panggil secepat itu. Karna masih ada orang-orang yang tulus menyayangiku"


"Kau hampir membuat jantungku melompat dari tempatnya.." jawab Yahya membalas candaan Anisa.


Anisa berlalu untuk melihat anaknya.


"Bunda, tadi Al ketemu ayah di sekolah."


"Oh, ya? Gimana keadaan ayah?" tak bisa di pungkiri, Anisa sangat merindukan sosok Aby di sampingnya.

__ADS_1


"Ayah menangis.. Katanya sangat rindu sama Al juga. Sama Bunda..'" jawab Al polos.


Ia terlihat ikut sedih karna kondisi orang tuanya yang tinggal berjauhan.


"Ayah bilang apalagi?"


"Kapan-kapan ayah mau ngajak Al nginap di rumah. Ayah ingin peluk Al."


Hati Anisa terenyuh.


"Mas Aby pasti sangat tersiksa karena harus berpisah dengan anaknya." gumamnya.


Sementara Anisa bergelut melawan penyakitnya. Aby di pusingkan dengan tingkah polah Jelita yang mendapat dukungan dari ibunya.


sampai suatu hari Aby terkejut saat di datangi petugas bank yang hendak menyita rumah mereka.


Setelah di jelaskan Aby baru tau kalau Jelita sudah menggadaikan surat rumahnya.


Dengan marah ia menghampiri Jelita di kamarnya.


"Apa maksudnya ada petugas bank di depan?"


"Apaan sih, Mas? Aku masih ngantuk" jawabnya acuh.


Aby menyeret tangan Jelita.


"Sekarang jelaskan!"


Jelita tidak bisa menjelaskan apapun. Surat penyitaan sudah menjawab apa yang terjadi.


Aby sangat murka.


"Aku salah telah mengangkat mu dari lumpur, aku salah telah membuang Anisa demi perempuan seperti dirimu. "


Jelita tidak bisa mencerna apapun karna dia masih setengah mabuk.


Aby pergi dari rumah itu dengan beberapa lembar pakaiannya.


Tapi di depan pintu, langkahnya terhenti. Ia melihat Zahra sedang duduk di pojokan.


Anak berusia tiga tahun itu terlihat ketakutan oleh suara Aby yang memarahi ibunya.


"Ayah ..!" suara kecilnya menyadarkan Aby.


Zahra tidak berdosa, ia tidak pantas menanggung huru hara yang terjadi di antara mereka.


"Zahra mau ikut ayah?" anak itu mengangguk dan memeluk lutut Aby.


Akhirnya Aby meninggalkan rumah kenangannya itu dengan membawa Zahra.


Di tempat Anisa, Al menangis kencang saat tiba-tiba Anisa jatuh tidak sadarkan diri. Wajahnya pucat dan Bibirnya membiru.


Yahya membawanya kerumah sakit terdekat


kali ini Anisa benar-benar tidak sanggup bertahan. Ia tetap diam walaupun tangisan Al dan panggilan Yahya tidak berhenti di telinganya.


"Ayolah, Nisa, ku harap kali ini pun kau sedang mengerjai kakakmu ini. Buka matamu!"


Anisa masuk keruang ICU.


Beberapa dokter yang menanganinya berbisik bisik dengan dokter Ratna. Hati Yahya berdesir ngeri. Apa yang terjadi pada Anisa?


Menyadari suasana yang lain dari biasanya. Yahya menelpon Aby. Ia menceritakan secara singkat tentang penyakit Anisa.


Seperti orang gila, Aby melajukan mobilnya menembus keramaian jalan.


Yang ada di benaknya hanyalah penyesalan dan penyesalan yang tidak berujung.


Ia bersimpuh di depan ruangan ICU.


Air matanya sudah tidak bisa keluar lagi. Hanya tatapannya yang mengungkapkan betapa menyesalnya dia karena sudah menyia-nyiakan wanita malang itu.


.

__ADS_1


__ADS_2