
Semenjak kepergian Anisa dari rumah membuat Jelita dan Bu Sari merasa bebas berbuat apa saja di rumah itu. Termasuk sedikit demi sedikit menghasut Aby agar Anisa Anisa semakin salah di mata Aby.
"Mas, kenapa mbak Anisa belum pulang juga? bahkan dia tidak minta ijin sama sekali pada Mas Aby.."
Aby hanya terdiam. Walau dalam hati ia membenarkan ucapan Jelita.
"Aku ngerasa Mbak Anisa banyak berubah, Mas. Dulu dia memang menerimaku dengan lapang dada, tapi sekarang sikapnya seolah dia sangat membenciku."
Aby tidak menjawab sedikitpun. Ia malah beranjak dari meja makan.
Melihat Aby bungkam, Jelita merasa suaminya itu membenarkan kata -katanya.
Ia semakin melonjak.
Esoknya tanpa sepengetahuan Aby. ia pindah ke kamar Anisa yang lebih luas dan mewah. Barang-barang Anisa sendiri ia pindah ke kamarnya.
Sekarang Ia merasa menjadi nyonya rumah yang sesungguhnya.
"Sempurna...! kapan lagi aku bisa menjadi istri Mas Aby yang sesungguhnya. Walaupun kalau Mbak Anisa datang, posisiku harus tergeser lagi." ucapnya tersenyum simpul.
Bu Sari bertepuk tangan atas kecerdasan putrinya.
"Ini yang ibu harapkan dari mu sejak dulu."
Mereka tertawa gembira.
"Tapi, kadang aku berpikir juga, apa kita tidak keterlaluan?"
"waktu kita masih hidup susah, orang juga tidak pernah memikirkan bagaimana kita, sekarang kita di atas buat apa juga kita memikirkan perasaan orang lain? Nikmati saja, belum tentu juga ini akan berlangsung lama." jawab Bu Sari.
Aby merasa gelisah karna Anisa tidak kunjung pulang. Ia sendiri merasa enggan untuk menjemputnya.
Di tengah kegelisahannya, Aby meraih kunci mobilnya dan langsung pergi.
Jelita dan Bu Sari saling pandang.
"Jangan-jangan dia mau menjemput Anisa?"
Jelita mendesah pelan.
Aby terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dalam hatinya sangat marah atas apa yang terjadi tempo hari di tempat Anisa. Sebenarnya ia enggan bertemu lagi dengan Yahya. Tapi ia juga tidak mau memberi kesempatan mereka untuk lebih dekat.
Aby di sambut ramah oleh para kerabat di sana.
Ia sama sekali tidak melihat keberadaan Anisa.
"Maaf, Anisa, nya ada?"
"Ada, dia sedang membahas sesuatu dengan ustadz Yahya. Anisa sempat sakit, tapi sekarang sudah baikan. Biar bibik panggilkan." wanita yang di sapa bibik itu pergi untuk memanggil Anisa.
"Anisa sakit? Keterlaluan! Mentang-mentang ada Yahya dia tidak butuh diriku lagi." sesal Aby dalam hati.
Saat itu Anisa sedang berada di halaman samping rumah bersama ustadz Yahya. mereka sedang membahas tentang kelanjutan pengobatan Anisa.
Kiyai Romli punya cukup aset yang di wariskan ke Anisa. ustadz Yahya berjanji akan membantu mengurus nya.
"Mulai sekarang kau harus cuti mengajar, kau harus menjalani pengobatan di Singapore."
Anisa terdiam. Ia membayangkan nasib anaknya kalau ia pergi menjalani pengobatan.
ia percaya pada Aby selaku ayah nya.btapi bisakah Jelita dan ibunya di percaya?
Tanpa sadar ia menggeleng. Al harus tinggal di tempat yang tepat. Dan satu-satunya orang yang tepat di mintai pertolongan hanyalah ustadz Yahya.
"Bisakah kau menjaga Al untuk ku?" pria bersahaja itu mengangguk.
"Tentu saja kalau mempercayakannya padaku."
Mereka terdiam lagi. Masalahnya, Mas Aby jelas tidak akan mengijinkannya.
Pada saat itu bibik muncul dan memberitau kedatangan Aby.
Dengan segera Anisa berdiri.
__ADS_1
"Aku harus menemui Mas Aby sendiri.." ucapnya pada Yahya.
"Tapi aku takut dia akan mengasari mu lagi."
"Tenang saja, dia suamiku. Aku tau persis bagaimana .menghadapinya."
Anisa mendekati Aby yang terlihat marah.
"Aku mau mengajak Al pulang." ucapnya datar.
"Hanya Al?" tanya Anisa dengan wajah tenang.
"Aku pikir kau terlalu betah disini,jadi aku merasa sungkan untuk mengajak mu." kata Aby dengan memalingkan wajahnya.
"Aku masih sah istrimu, Mas! Jadi kalau kau bilang aku pulang, aku akan pulang. Kalau kau tidak menghendakinya aju juga akan menerimanya." jawab Anisa.
Aby melirik Anisa, ia terlihat pucat seperti sedang sakit. Sebenarnya ada rasa iba di hati Aby. Tapi saat mengingat hubungan Anisa dan Yahya, membuat hatinya mengeras kembali.
"Baiklah.. Kau pulang bersamaku."
Tanpa pikir panjang lagi. Anisa memanggil Al dan berkemas. Saat hendak naik ke mobil. Yahya mencegatnya.
"Bagaimana dengan yang kita bahas barusan?" Anisa mengangguk dan terus masuk ke mobil.
Aby memandang Yahya dengan sinis.
Tak ada perbincangan di antara mereka. Aby lebih fokus pada Al dan bertanya tentang banyak hal.
Anisa tidak ambil pusing. Ia membiarkan ayah dan anak itu melepas rindu.
"Aku tau, hati Mas Aby sebenarnya sangat lembut. tapi entah kenapa akhir-akhir ini bisa berubah se drastis itu."
Sampai di rumah, Ak langsung memeluk Zahra. Hal itu membuat Jelita agak kurang suka. Tanpa sadar ia menjauhkan Zahra dari Al. Hal itu tak lepas dari pandangan Anisa .
"Mbak, gimana kabarnya?" sapa Jelita. Basa basinya terdengar kaku di telinga Anisa.
"Baik, kamu sendiri gimana?"
Anisa berjalan masuk hendak kekamarnya.
Tapi mencegahnya dengan ragu.
"Mbak...!"
Anisa menoleh.
"Eeum ... Semua barang-barang Mbak Anisa ada di kamar sebelah. Aku pikir, Mbak akan lama disana. Karna kamarku terlalu kecil apalagi ada bayi, aku yang tempati kamar itu sekarang."
Anisa terkejut, begitupun Aby.
"Kau melakukan itu tanpa seijin ku atau Anisa?" tanya Aby marah.
Jelita langsung menangis. Bu Sari bergegas membelanya.
"Maaf, Mas. Aku tidak sempat minta ijin dulu!" ucap Jelita sambil tersedu.
"Makanya jangan menjadi istri yang tak tau diri, kau harus ingat siapa dirimu, berani sekali mengambil kamar nyonya rumah ini,
Anisa adalah istri kesayangan Nak Aby." kata Bu Sari tegas.Membuat Jelita mendongak heran atas ucapan ibunya.
"Bukannya membela malah ikut menyudutkan." omel Jelita dalam hati.
Anisa hanya mendesah panjang.
Ia mau membagi suaminya, namun untuk membagi kamarnya pula, Anisa merasa keberatan.
"Kalau begitu, tolong kau kemasi barangnya kembali, Lit." ucap Anisa dengan nada lembut.
Dengan berlinang airmata, Jelita masuk hendak membereskan barang milik ya.
Tapi sungguh di luar dugaan.
"Tunggu! Suara Aby mengagetkan semuanya, termasuk Anisa.
__ADS_1
"kau tidak usah pindah lagi. Biar Anisa di kamar yang lain."
Anisa menatap suaminya tak percaya.
"Mas, itu kamar kita.. Kau mau membagi ya juga?" seru Anisa tak tahan lagi.
"Cuma masalah kamar saja. Jangan di besar-besarkan!" jawab Aby ketus.
Sebenarnya niat Aby hanya ingin memberi pelajaran pada Anisa. Ia merasa begitu sakit hati karna telah di duakan.
Walau dengan hati tak ikhlas, Anisa mengalah lagi.
Aby kembali asik bercanda dengan Al dan Zahra.
Ia tidak tau kalau saat itu Anisa sedang menangis tersedu, ia merasakan luka batin yang amat dalam.
Jelita dan Bu Sari merayakannya kemenangan mereka di kamar.
Malam itu Aby tidur di kamar Al.
"Mbak masih marah padaku karna hal semalam itu?" tanya Jelita pagi itu
ia sengaja mendekati Anisa yang sedang menyiapkan sarapan buat Al.
"Tidak, buat apa Mbak marah. Toh cuman sekedar kamar saja." Jawab Anisa. ia berusaha untuk tidak terpancing.
"Tapi, itu kan kamar kenangan Mbak Anisa dengan Mas Aby selama bertahun-tahun."
Melihat Anisa hanya terdiam, Jelita mengalihkan pembicaraan.
"Mbak, kalau mau membuatkan sarapan untuk Al, sekalian buat Zahra, Ya! Aku mau menyiapkan keperluan Mas Aby dulu." ucap Jelita bangga. Ia seperti sengaja membuat Anisa cemburu padanya.
Tanpa menunggu jawaban, Jelita sudah kabur ke kamarnya.
"Yang sabar ya Bu!" Bik Iroh, asisten rumah tangga mereka itu menenangkan hati Anisa.
"Terima kasih, Bik. Aku tidak apa-apa kok." Anisa berusaha tegar.
"Tolong, aduh..!" suara minta tolong terdengar dari kamar yang di tempati Anisa.
Semua tergopoh melihatnya.
Tampak Jelita sedang mengerang menahan sakit sambil memegangi lutut ya.
"Kau kenapa duduk di situ?"
"Mas Aby tidak lihat aku jatuh. Sakit, Mas!"
Aby menuntun Jelita untuk duduk di kursi.
Anisa mengamati tempat Jelita terjatuh. Seperti ada tumpahan sesuatu agar lantai itu licin.
"Kenapa sampai ada minyak disini?" tanya Aby heran.
"Pasti mbak Anisa. dia takut aku akan masuk ke kamarnya, iya kan?" tuduh Jelita.
"Aku masih banyak kerjaan, tidak sempat melakukan hal tidak penting seperti itu." jawab Anisa. Ia sudah pasrah kalau kali ini Aby juga ikut menyalahkannya.
"Tidak mungkin Anisa, sudahlah. Oh, ya.. Kenapa kau ada di depan kamarnya?" tanya Aby heran pada Jelita.
"Aku, aku mau mengambil barang ku yang ketinggalan di kamar itu." jawabnya gugup.
"Makanya permisi dulu, sekarang itu menjadi kamarku, jadi siapapun yang hendak masuk harus ijin dulu." sindir Anisa.
"Lalu siapa dong yang menebar minyak di sini?" Jelita masih berkeras.
" Bu , Bu Sari, mana botol minyak yang tadi ibu pinjam itu?" tiba-tiba Bik Iroh muncul di sana.
Semua mata memandang Bu Sari.
"Aku tidak jadi meminjamnya Roh. kamu liat saja di dapur sana! muka Bu Sari memerah menahan malu.
"Jadi ketahuan, kan siapa yang menumpahkan minyak?" kata Anisa sambil berlalu pergi.
__ADS_1