KETIKA HATI HARUS BERBAGI

KETIKA HATI HARUS BERBAGI
bab 59


__ADS_3

Sikap dingin Anisa terus berlanjut hingga esok harinya. Saat akan belanja di warung, dia harus melewati rumah yang di tempati Aby.


Aby sudah bersiap hendak menyapanya, namun Anisa lewat begitu saja."Nisa..!"


Langkahnya terhenti saat mendengar Aby memanggilnya.


"Kenapa teleponku tidak kau angkat semalam ?"


"Ooh.. Mas Aby sudah nelpon? Aku kurang memperhatikannya." jawab Anisa acuh.


"Nis, apa aku sudah berbuat salah?" tanya Aby hati-hati.


Anisa menggeleng.


"Kau tidak salah, Mas. Kau selalu benar. Oh ya, aku tidak membawakan mu makanan lagi, karna pasti Lyra sudah menyiapkannya." tukas Anisa sambil lalu.


Aby bengong sendiri.


"Dia bilang Lyra yang menyiapkan makanan buatku? Apa maksudnya coba" Aby menggeleng heran.


Aby berangkat ketempat kerja seperti biasanya.


Pak Sofyan dan yang lainnya menyambutnya dengan senyuman.


"Pagi ini kau terlihat lebih segar." goda pak Sofyan lagi.


"Alhamdulillah, pak." jawabnya santai.


Tidak ada yang beda bagi Aby hari itu, kecuali Lyra tidak muncul seperti biasa. Aby sedikit heran sekaligus bersyukur.


"Baguslah kalau dia bisa mengerti." gumamnya dan tenggelam kembali dalam tumpukan nota- nota di hadapannya


Dari tempatnya duduk, Aby bisa mendengar pak Sofyan terlihat serius bicara dengan seseorang. Dan kelihatannya ia bicara dengan Lyra.


"Pulangnya jangan malam-malam." pesan pak Sofyan.


Setelah itu pak Sofyan memanggilnya.


"By, saya merasa khawatir dengan Lyra. Dia pergi dengan Arman. Pemuda itu sudah lama mendekati Lyra, tapi Lyra tidak pernah menanggapinya. Tapi kenapa tiba-tiba dia mau pergi dengannya? Apa kemarin Lyra bicara sesuatu padamu?"


Aby termenung mengingat-ingat.


"Perasaan tidak ada, pak. Bahkan saya lihat dia masih baik-baik saja saat pergi dari rumah saya.." kata Aby ikut terheran-heran.


"Firasat saya tidak enak, By."


"Mungkin karena bapak terlalu mencemaskan nya, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kok padanya. Berdoa saja."


Pak Sofyan mengangguk samar.


Dalam hati Aby berpikir,


"Apakah tidak munculnya Lyra hari ini karena aku memintanya menjaga jarak?"


Aby ikut gelisah karna Lyra.


Bahkan saat jam pulang tiba, Pak Sofyan memintanya untuk diam sebentar untuk menemaninya.


***


Di tempat lain, Lyra sedang bersama Arman berada di sebuah pusat perbelanjaan.


Hati Lyra begitu gelisah. Ia sangat terpaksa menerima ide gila dari Rosma.


Sedangkan Arman, ia merasa heran dan curiga saat tiba-tiba Lyra menelponnya untuk ketemuan.


"Lyra, aku tau ada sesuatu yang aneh padamu hari ini. Tapi apapun itu, aku senang karna akhirnya kau mau jalan denganku." ucap Arman dengan sorot mata yang aneh.


"Iya... " jawab Lyra kikuk.


"Gila, aku memang suka pada Mas Aby, tapi kalau harus menyerahkan diriku ke mulut singa, ogah juga..!" keluh Lyra dalam hati.

__ADS_1


"Man, nanti sore kita main ketempat papaku, yuk!" ajak Lyra. Ia bosan berlama-lama dengan Arman, ia tidak nyaman karna tangan Arman yang terlalu agresif.


"Boleh, jam berapa?" tanyanya sambil matanya berkedip nakal.


"Jam limaan lah." jawab Lyra. Ia sengaja mengajak Arman di jam itu agar Aby bisa melihat mereka.


"Siap..!" jawab Arman tersenyum nakal.


seperti janjinya, Arman membawa Lyra menuju toko papanya. Entah apa niat tersembunyi Lyra, Arman tidak terlalu memusingkannya.


"Ly, kita lewat jalur lain, yuk." celetuk Arman.


"Terserah, pokonya kita bisa nyampai tepat waktu."


Lyra terpaksa setuju Kalau menolak, takutnya pemuda itu akan tersinggung dan rencananya akan gagal.


Beberapa saat kemudian, Dia bicara lagi


"Ly, kita mampir sebentar, ya. Di sekitar sini ada rumah temanku."


Lyra terlihat ragu.


"Sebentar saja.. janji deh." wajah Arman terlihat memelas.


"Baiklah, tapi hannya sebentar, kan?" ucapnya menegaskan.


Dengan senang dia mengangguk.


"Ayo ..!"


Ajaknya dengan suara lembut.


"Tidak, ah.. Aku nunggu di sini saja."


"Tidak baik seorang gadis sendirian di pinggir jalan. kayak gini


Arman masuk dengan leluasa di rumah itu, ia seperti sudah sering kesana.


Tak lama setelah mereka duduk. Seorang pemuda yang sebaya Arman terlihat menuruni tangga.


"Hay, Ron. Kenalin ini pacarku Lyra." ucap Arman tanpa basa-basi.


Lyra mengangguk ke arahnya. Namun pria itu tidak tersenyum.


"Aku Roni, temannya Arman." ucap Roni sambil menatap wajah Lyra dari jarak dekat.


"Lyra.." jawab Lyra pelan.


"Nama yang indah.."


Roni dan Arman terlibat percakapan seru yang Lyra sendiri kurang mengerti.


"Ron, aku numpang ke toilet sebentar."


"Ly, tunggu sebentar ya.."


Arman meninggalkan Lyra hanya berdua saja dengan Roni. Ia sudah merasa was-was saat menyadari tatapan Roni yang lain.


"Bagaimana ini, aku lepas dari Aan kok malah terperangkap disini?" keluhnya.


Perlahan ia meraih ponsel dari dalam tasnya.


Namun Roni merampas ponsel itu.


Lyra baru menyadari kalau dirinya dalam bahaya.


"Arman..!" teriaknya kencang. Kini pria tinggi itu tengah menghampirinya dengan senyum menyeringai.


"Arman? kau percaya pada bajingan itu?" ledek Roni.


"Dia sudah pergi. Dia memang sengaja meninggalkanmu di sini bersamaku. Ke toilet hanyalah alasannya. Hahaha...!" pria itu tertawa lebar.

__ADS_1


"Brengsek sialan itu..." umpat Lyra.


Bisa-bisa nya bajingan itu meninggalkannya dengan pria yang tidak dia kenal.


Lyra berusaha mencoba lari ke pintu keluar, namun gerakan Roni lebih cepat. Pemuda itu malah mengunci pintu rapat.


Tolong lepaskan aku, kita tidak saling mengenal sebelumnya, anggap saja begitu. biarkan aku pergi." ratapnya putus asa.


"Pergi? enak saja. Bajingan itu sudah membawamu kesini untuk penebus hutangnya. Dia mengalami banyak kekalahan di meja judi."


Roni mulai mengungkungnya.


Lyra pun tidak sanggup mempertahankan hartanya yang paling berharga.


Pria itu sama sekali tidak mendengar rintihan Lyra. Air matanya tak terbendung lagi. Harapannya untuk selamat kandas bersama pakaiannya yang beterbangan satu persatu.


Selesai menjalankan aksi bejatnya itu,


Roni langsung terkulai kelelahan.


Ia sama sekali tidak iba melihat Lyra yang bersimbah airmata.


Seluruh tubuh, khususnya pada daerah intimnya terasa sakit, tapi hatinya lebih sakit lagi.


Dengan langkah gontai, Lyra keluar dari rumah laknat itu.


Sedang si brengsek Arman tidak pernah muncul lagi di tempat itu.


Lyra mengeluh panjang. Selangkangannya terasa nyeri. Ia merasa jijik saat ingat bagaimana Roni menggarap nya habis habisan.


"Mungkin ini karma karna aku mau menggaet


Mas Aby dengan cara yang salah." rintihnya lagi.


Ia menyesal telah menuruti rencana Rosma.


Lyra plang kerumahnya dengan hati galau.


Plak...!


Lyra memegang pipinya yang terasa panas oleh tamparan papanya.


"Papa sudah wanti-wanti jangan bergaul dengan berandalan itu...!"


Lyra masih terdiam.


"Pokoknya papa tidak mau sampai kamu hamil tanpa suami..! Pikirkan sendiri bagaimana caranya."


Pak Sofyan meninggalkan kamar Lyra dengan marah.


"Apa yang harus aku lakukan? meminta tanggung jawab Roni ataupun Arman tidak ada gunanya. Aku tidak mau salah satu dari mereka harus menikahi ku."


Perlahan air mata menggenang di pelupuk matanya.


Ia teringat lagi saat Rosma berkata,


"Kau harus berkencan dengan seorang pria, kalau bisa yang agak urakan, terus di hadapan Aby kau harus berpura-pura telah di lecehkan oleh pria itu, dan pacar gadungan mun itu tidak mau bertanggung jawab. Aby sangat gampang tersentuh, dengan sedikit air mata buaya mu, dia pasti akan menawarkan diri menjadi pahlawan kesiangan."


"Tidak..!" jawabnya keras saat itu.


"Ini hanya pura-pura, jangan sampai pacar berandalan mu itu benar-benar menghamili mu."


Dan pada akhirnya Lyra setuju dan menjalankan rencana Rosma.


Tapi semua yang terjadi terbalik.


Ia yang semula ingin memanfaatkan Arman, tapi justru dirinya lah yang di manfaatkan oleh Arman untuk melunasi hutangnya pada Roni.


Di dalam kamarnya ia mengisi histeris, semua sudah terjadi,


karna kecerobohannya, jangankan mendapatkan cinta Aby, dia ternoda dan tidak percaya diri untuk muncul di depannya.

__ADS_1


"Bagaiman dengan pekerjaanku di rumah sakit?" ia malu kalau sampai ketahuan berbuat asusila. walau pun dirinya hanya korban, tapi pihak rumah sakit apa mau mengerti?


__ADS_2