Kisah

Kisah
10


__ADS_3

Amara baru saja terlelap tidur. Bayu menghampiriku dan memelukku dari belakang. Dia mencium pipiku sekilas, kemudian dia mengajakku berbicara empat mata, aku heran apa yang ingin dia sampaikan.


"Sayang, apa dirimu tidak rindu dengan keluarga?" sontak aku menatap raut wajahnya karena terkejut.


"Kenapa? apa seharusnya adek kembali lagi kerumah? apa adek ga dimarahi mereka?" aku menunduk lesu.


"Mana mungkin seorang ibu masih marah kepada anak perempuannya, terlebih dia sudah ada seorang cucu yang cantik" Bayu masih membujukku.


"Nanti adek telpon Abang aja di rumah, bagaimana reaksinya jika adek pulang, mama masih marah atau ga" keputusanku untuk menghubungi Abang kandungku terlebih dahulu.


"Lebih cepat lebih baik kita menghadap mama"


"Iya" aku merasa heran kali ini, tidak biasanya Bayu bersikap manis, ada apa lagi ini.


Sejak kejadian Bayu berbohong, aku sedikit curiga akan setiap tindakan dan ucapannya kepadaku. Selalu ada rasa was-was jika sudah bersama dengannya. Mungkin inilah karma yang aku dapatkan karena melawan dengan orang tua. Mataku terlalu buta untuk melihat kebenaran, tertutup dengan kabut nafsu semata.


Setelah mendapatkan solusi dari Abang ku, aku disarankan untuk segera pulang, habis Maghrib. Aku sedikit takut, takut mama marah besar setelah bertahun-tahun lamanya aku meninggalkan rumah untuk mengikuti saran dari Bayu.


"Assalamualaikum" aku mengucapkan salam.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" ucap mereka yang ada didalam serentak. Semua anggota keluarga berkumpul disana, sengaja menunggu kedatanganku.


Aku masuk dan langsung bersimpuh didepan mama, sambil mencium tangannya dan meminta ampun. Aku menyesal.


"Ana minta maaf, ma, Ana salah telah kabur dari rumah" Aku menangis dan menyesali semua yang telah aku lakukan.


"Sudahlah, jangan diingat lagi yang sudah lewat, ini anak mu?" mama melihat Amara dan langsung menggendongnya.


Amara bahagia digendong orang yang asing baginya tanpa ada rasa takut. Dia tertawa dan sesekali menjerit karena terlalu senang. Semua menerima kehadiran Amara, mereka bermain dengannya dan semua sibuk ingin menggendong secara bergantian.


"Jadi selama disini, kalian tinggal dimana?" mama bertanya sambil bermain dengan Amara.


"Dirumah Bayu, ma" aku langsung menjawab pertanyaan mama.


"Iya, ma, begitulah" aku menunduk lesu.


"Kalau begitu, lebih baik tinggal dirumah kontrakan mama saja! biar Amara mama yang jaga, terus kamu bisa kerja nyari duit sendiri kalau suamimu tidak mau bekerja!" sergah mama dan Bayu hanya diam.


Tidak ada raut bersalah sedikit pun dari wajah Bayu, dirinya santai seperti tidak ada kejadian apa-apa. Apa semua ini hanya rencana dia semata?.

__ADS_1


"Bagaimana, bang? mama menyuruh kita untuk tinggal di kontrakan mama" aku menanyakan pendapatnya bagaimana.


"Terserah adek aja, Abang nurut" jawabnya enteng. Sekarang kepala rumah tangganya siapa ya?.


"Iya, ma, kami mulai pindah besok"


"Baguslah" mama melangkah sambil menggendong Amara.


Esoknya kami mulai berkemas dan bersiap pindah dikontrakkan mama. Sebenarnya aku berat untuk tinggal dekat sama mama, tapi sebagai kepala rumah tangga Bayu tidak punya tanggung jawab sama sekali dan hanya pasrah dengan omongan mama. Aku jadi curiga dia sengaja mencari kesempatan untuk bisa tinggal dirumah tanpa membayar uang kontrakan.


"Kalau abang belum dapat kerja, biar adek juga ikut cari kerja ya" aku membujuknya.


"Istri itu dirumah jagain anak, bukan malah kerja diluar!" Bayu seketika emosi dan langsung keluar meninggalkan aku. Padahal aku bertanya untuk minta jawabannya, bukan ini yang aku harapkan terjadi.


Entah jam berapa Bayu pulang kerumah, hingga mama berkali-kali datang ke rumahku dan bertanya tentang suami yang belum pulang saat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.


"Hebat suami mu ya, dah jam berapa tak pulang-pulang?!" mama duduk dan melihatku sedang menidurkan Amara.


"Tidak tahu, ma, tadi dia keluar setelah aku minta ijin untuk bekerja kalau dia belum dapat kerja juga, dan dia langsung marah". aku masih setia mengelus punggung Amara agar dia terlelap.

__ADS_1


"Tuh lah suami yang kamu pilih, jangan-jangan dia yang suruh untuk pulang kesini kan?" deg, tebakan mama kenapa bisa sama dengan yang aku pikirkan?.


Aku diam dan mengangguk. Mama berkata benar, bukannya mau berburuk sangka. Kalau memang Bayu ada niat seperti itu, aku harus bicarakan semuanya nanti jika dia kembali.


__ADS_2