
Hal yang selalu membuatku meneteskan air mata hampir setiap hari terjadi. Rasanya sudah tidak sanggup, tapi aku berpikir lagi dimana posisi ku sekarang. Ini adalah kampung Bayu, otomatis aku tidak bisa berkutik untuk sekedar memberontak menyalurkan isi hati. Aku harus lebih bersabar dan banyak berdoa kepada sang pencipta, agar dipermudah kan segala urusan.
Entah sudah berapa tahun lamanya aku berdiam di negeri orang, meski aku bertahan dengan suasana yang asing, tapi aku masih menunggu keajaiban datang menghampiri agar ada acara untuk kembali ke tanah kelahiran ku.
Aku hanya mencurahkan isi hatiku lewat tulisan, karena memang ada buku dan sebuah pena disana. Didalam buku aku bercerita tentang keluh kesah yang aku lalui selama ini, dan ternyata apa yang kutulis selama ini Bayu telah membacanya, perlahan dia mulai menegur dan tidur juga kembali memelukku.
"Maafkan Abang, ya" ucapnya yang masih bisa kudengar.
Aku hanya mengangguk, karena mata ini sudah penuh dengan air mata, aku sesenggukan menahan isak tangis. Aku membalikkan wajah dan bersandar di dada bidangnya. Aku semakin kuat menangis saat dia memelukku lebih erat.
Pagi yang datang terasa lebih indah, perlakuannya kembali manis, aku memasak dan dia duduk melihat meski hanya sebagai penonton. Itu sudah cukup membuatku bahagia.
"Istri itu dibantu, bukan dilihat aja!" nenek tiba-tiba datang sambil membawa seikat kayu bakar.
__ADS_1
"Ini kan dibantu, nek, bantu menonton saja" Bayu tertawa lepas melihat kebawelan neneknya.
"Sejak kapan dia mau bantu istri masak, nek, paling nunggu semua masakannya selesai" aku mencibir tingkahnya yang sudah menjadi kebiasaan.
"Nah, itu tau, pinter" dia mengerlingkan mata kearah ku.
Nenek hanya menggeleng melihat interaksi kami berdua, kalau kalian bertanya siapa yang menjaga Amara, ya pasti kakek yang menjaganya. Kakek yang sangat senang menjaga Amara, seperti sudah menjadi mainannya bayi mungil itu.
"Nek, Bayu harus pulang"
"Anak istri mu bagaimana?" Kakek bertanya mengingat Amara yang masih terlalu kecil untuk dibawa perjalanan jauh.
"Istri dan anakku harus ikut, tidak mungkin Bayu kembali dan mereka tinggal disini!" Bayu memantapkan hatinya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau itu keputusan kalian, kapan mau berangkat? lebih baik siapkan perlengkapan yang mau dibawa"
"Secepatnya, kek"
Jujur aku sangat senang, ini adalah doa yang didengar oleh Tuhan. Rasanya sudah tidak sabar untuk kembali. Aku rindu semua yang ada di tanah kelahiran ku. Terutama mama, aku ingin minta ampun dan bertobat.
Hari keberangkatan tiba dengan cepat, dan kami sudah berada di terminal kembali. Bedanya ini adalah terminal menuju Binjai, meski akan transit beberapa kali untuk sampai kesana. Semua sudah ikut mengantarkan kepulangan kami ke Binjai. Nenek dan kakek pun memberi sedikit nasehat kepada Bayu.
"Ingat, anak istri jangan sampai kelaparan selama dalam perjalanan. Sesampainya disana, titip salam ke keluargamu ya, kami tidak bisa kesana mengingat biaya yang sangat mahal, jaga diri dan semoga selamat sampai ke tujuan" kakek menciumi wajah Amara, dia mengelus pipinya dan kembali mencium kening gadis mungil itu. Amara hanya tertawa melihat kakek.
"Ya, kek, Bayu pamit ya, semuanya, selamat tinggal" Bayu melambaikan tangan ketika bus sudah bergerak meninggalkan kampung halamannya.
Perjalanan panjang dimulai kembali, perjalanan menuju tanah kelahiran ku. Alhamdulillah Amara tidak rewel selama dalam perjalanan, banyak pasang mata yang memuji dirinya. Dia lebih banyak tertawa dan sesekali menangis kecil karena air susu keluarnya sedikit, karena memang aku mengurangi makan untuk menghemat pengeluaran agar bisa sampai ketempat tujuan.
__ADS_1