Kisah

Kisah
12


__ADS_3

Seminggu lamanya sejak terakhir kali Bayu berpamitan meminta ijin untuk bekerja. Aku melepas kepergiannya dan melihat punggungnya kian menjauh meninggalkan rumah.


"Kerja apa dia disana?" tanya mama sambil mengambil Amara dari gendonganku.


"Katanya ikut kerja bangunan, ma. Tapi biarlah lihat aja nanti pas dia pulang"


"Paling besok-besok pulang bilangnya duitnya ditipu lagi, jangan-jangan kamu itu di bohongi ga?!" ucap mama kembali.


"Ya makanya kita lihat dulu ya, ma" aku mengelus lengannya untuk meredakan emosi.


Aku heran, mama selalu aja kesal dengan apa yang dilakukan Bayu. Mungkin mama masih belum bisa menerima Bayu menjadi menantunya. Terlebih ini adalah pilihanku, jadi mau tidak mau mama menerima meski setengah hati.


"Kalau dia pulang dan ceritanya masih ditipu lagi, langsung aja pergi mencari kerja, biar abang mu yang antar"


"ok, ma" ucapku bersemangat.


Aku optimis kali ini, pilihan sudah aku buat. Ketika Bayu kembali aku akan mencari kerja jika alasannya masih sama, ditipu. Mungkin dia membohongiku lagi, aku berdoa meski berdosa. Semoga rejekinya sempit jika terus saja membohongi istri.


Kami sesekali bertukar kabar melalui pesan singkat. Itupun hanya beberapa pesan dan balasan dariku, tanpa ada melakukan panggilan. Bagiku itu sudah lebih dari cukup, karena mengingat untuk mengirit pengeluaran jika melakukan panggilan suara.


Ini sudah mendekati satu bulan sejak kepergian Bayu. Aku senang karena suamiku akan pulang. Terakhir dia memberi kabar melalui pesan bahwa akan pulang hari ini. Aku memasak sedikit menu kesukaannya, aku masih harus berhemat karena sekarang aku hanya menerima uang pemberian Bayu.


"Assalamualaikum" Bayu mengetuk pintu.


"Waalaikumsalam, abang sudah sampai rupanya" aku mengambil ransel yang dia bawa dan mengeluarkan baju kotor.


"Masak apa hari ini?" dia berjalan mendekat ke arah meja makan dan membuka penutup makanan.


"Itu kesukaan abang, mandi dulu baru makan ya" perintahku karena dia baru pulang dari bekerja.


"Amara mana? sama neneknya?" dia membuka baju dan memberikannya kepadaku untuk dicuci.


"Iya, dari tadi didepan sama neneknya, lebih betah disana daripada rumah sendiri" aku hanya tersenyum menjawab pertanyaan suami.


Bayu mandi dengan cepat dan sudah berganti baju. Dia duduk dan makan dengan lahap, setelah makan dia duduk sambil bersandar dan sesekali menghembuskan asap rokok yang dia hisap.


Aku sudah selesai mencuci baju, dan ikut duduk disampingnya. "Bagaimana kerjaan disana? lancar kan, bang?"


"Iya lancar, oh ya sebentar" dia membuka tas dan mengeluarkan amplop dari sana.

__ADS_1


"Ini apa, bang?" tanyaku setelah melihat beberapa lembar uang merah.


"Itu gaji abang selama kerja, lusa abang berangkat kesana lagi" ucapnya tanpa rasa salah sedikitpun.


"Tapi katanya gaji abang itu tiga juta, kenapa hanya sembilan ratus?" tanyaku terkejut sambil menatapnya.


"Iya, kan selama disana abang banyak pengeluaran. Makan, minum, rokok, dan uang pulsa semua mahal disana" dia masih menghisap rokoknya sesekali meneguk kopi yang aku buat.


"Eh, pulsa? memangnya abang menghubungi siapa sampai pengeluaran sebanyak itu?" aku mulai curiga dengan alasannya yang tidak masuk akal.


"Kita juga jarang berbicara ditelpon, abang nelpon siapa?!" tanyaku lagi


"Udahlah, ambil saja uang itu kalau mau, kalau tidak mau kembalikan!" nadanya sedikit naik sambil membuang muka.


"Abang mau mengantar duit kawan dulu kerumahnya!"


"Rumah kawan abang dimana? kenapa abang yang antar? kawan abang mandor ya?" tanyaku lagi dengan heran.


"Ada disana, sudahlah, suka kali ngomel, apa tidak lelah bibirmu itu ngomel setiap aku pulang!" dia berdiri dan pergi meninggalkan aku lagi.


Setelah kepergiannya aku menangis. Jujur sakit rasanya dengan kebohongan yang terus saja dia lakukan. Dia pikir mungkin aku bodoh dan bisa dimanfaatkan seenaknya. Aku hapus air mata dan mencuci muka, aku berusaha tersenyum. Kututup pintu, kunci dan langsung kerumah mama. Kali ini aku tidak akan mengeluh, tapi aku akan turuti nasehat mama


Aku tersenyum melihatnya, rasanya sudah sangat merepotkan mama dengan menjaga Amara. Tapi mama sangat keras kepala dan ingin bermain dengan cucunya. Aku duduk disamping mereka dan menyalakan televisi, bosan dengan menonton aku juga akhirnya ikut tertidur berdampingan dengan Amara yang masih setia dengan mimpi indahnya, karena kulihat dia sesekali tersenyum ketika tidur.


Tidak tahu kapan mama terbangun, aku mendengar tawa anak kecil. Aku membuka mata dan melihat mama sedang memandikan Amara. Mama masuk sambil menggendong Amara dan memakaikan pakaian gadis imut itu.


"Cepat mandinya, mama kuat mandikan Amara?" aku duduk dan memberikan minyak telon untuk mama.


"Kuatlah, tubuhnya kan masih kecil, ya kan cucu nenek" mama memberikan sentuhan diwajahnya dan Amara tertawa kecil.


"Jadi suamimu sudah pulang? apalagi alasannya, ditipu lagi atau banyak pengeluaran?"


"Banyak pengeluaran, ma. Sekarang dia pergi mengantarkan duit kawannya"


"Hebat betul" kata mama tanpa melihat kearahku.


"Aku besok akan mencari kerja, ma" keputusanku sudah bulat.


"Kalau begitu, Amara titip sama mama saja, fokus saja cari kerja"

__ADS_1


Amara menangis karena lapar, aku lupa sedari tadi dia belum ada makan. Aku menyuapinya makan dan dia makan dengan lahap.


Minggu pagi, Bayu belum menampakkan batang hidungnya. Aku jadi bertanya dimana rumah kawan yang dia sebutkan semalam sebelum pergi.


Aku melakukan aktifitas seperti biasa. Memasak, mencuci dan memberi makan Amara. Jam sembilan lewat sepuluh menit, Bayu pulang.


"Assalamualaikum" dia duduk dan memejamkan mata.


"Kenapa baru pulang? rumah kawan abang diluar kota ya?" aku bertanya tanpa melihat wajahnya.


"Disana hujan, pas mau pulang tiba-tiba hujan deras"


"Oh gitu" aku masih memendam amarah.


"Bukannya pergi ke tempat simpang lima ya?" aku langsung ke inti masalahnya.


"Apa ni? kalau bicara tuh jangan asal nuduh!" Bayu berdiri dan membentak ku.


"Aku bukannya ga tau ya, bang! aku muak melihat semua kebohongan mu!"


Sabtu sore, abangku datang kerumah mama.


"Na, dah tau kabar belum?"


"Kabar apa?" mama yang langsung penasaran.


"Suamimu selingkuh!" abangku tertawa sambil melihatkan layar ponsel pintarnya kehadapan ku.


Aku membaca status seorang wanita yang bekerja sebagai perawat disebuah klinik swasta. Dan yang pertama berkomentar dikolom komentar adalah suamiku, Bayu. Aku yang memang tidak paham dengan sosial media hanya menahan geram dan malu dihadapan mama dan abang ku.


"Bukan main lembutnya dia bicara, pakai sayang abang" sekali lagi abangku tertawa merendahkan. Aku malu punya suami seperti dia.


Kembali dengan Bayu. Aku menatapnya tajam. Dia langsung berdalih tidak mengakui apa yang aku katakan.


"Jadi siapa sayang abang yang abang komentari status nya di media sosial itu?!" aku bertanya sambil menahan geram


"Kerumah kawan atau kerumah dia? kalau lokasi di simpang lima masuk akal kalau abang baru pulang jam segini!" ucapku lagi menuntut jawaban darinya.


"Sudahlah, aku jujur salah, jangan buat aku kembali jahat seperti dulu ya!" ancamnya yang dia pikir aku akan takut.

__ADS_1


"Terserah! mau kembali jahat seperti dulu itu urusan mu! tapi jangan aku yang diam seperti ini kau buat jadi orang jahat ya! jahat aku lain cara mainnya!" ucapku sambil pergi dan membanting pintu.


__ADS_2