
Sudah lebih dari sepuluh menit aku menunggu kedatangan Risma, sahabat baikku. Aku memang sengaja datang lebih awal, agar Risma tidak kebingungan untuk mencari posisi duduk nantinya. Dalam penantian, aku sedikit membayangkan tentang perkataan Fahmi setelah dirinya mencuri dengar pembicaraan aku dengan Risma.
"Aku bersedia menjadi bapak untuk anak kamu" masih terngiang dengan jelas dan selalu membayangi indera pendengaran.
Aku menggelengkan kepala, pikiran apa yang merasuki kepala ku. Sampai kedatangan Risma tidak kusadari. "Woi, melamun apa?!" pundak ku dipukul sontak membuat ku terkejut.
"Kampret, bikin kaget saja!" aku mengelus dada yang mulai berdebar hebat.
"Haha, lagian kerjaan kau hanya melamun, kenapa? sudah berubah pikiran ya?" Risma mengejek ku secara terang.
"Siapa yang berubah pikiran, hanya membayangkan saja kapan kau itu akan menikah?" aku menyangkal ucapan yang tidak mendasarnya.
"Aku tidak usah dipikirkan, laki-laki itu mudah di dapat" dia masih terkekeh mencibirku.
"Mudah apanya, sampai sekarang juga kau tidak menikah, ganti pacar saja kerjaan mu, itu!" aku membuka buku menu untuk memesan beberapa makanan.
"Haha, kita makan dulu lah, lapar aku" dia membolak balik buku menu dengan antusias.
"Pesan lah sesukamu, nanti aku yang bayar"
"Serius? asik, aku pesan yang banyak biar kau bangkrut"
"Semoga perut kau itu membuncit karena kepenuhan makanan" doaku mengutuk sifat rakusnya.
"Haha, bisa di buang lagi, mana bisa buncit" dia menulis beberapa menu yang ingin dimakan.
__ADS_1
Setelah memesan semua makanan, kami makan dengan lahap, sesekali menanggapi sikap konyol wanita yang menjadi sehabatku sejak duduk dikelas 1 sekolah dasar.
"Jadi, kembali lagi ke topik semalam, jadi kau serius mau cerai sama Bayu?" tanya Risma kembali meyakinkan dirinya sendiri dengan rencana perceraianku.
Aku hanya mengangguk, "Iya, yakin dan sudah mantap, aku tak bisa hidup dengan orang yang sudah berkhianat" aku masih mengunyah beberapa cemilan.
"Jadi, mamamu sama anak mu bilang apa?"
"Mereka setuju, dan mama juga mau menjaga Amara"
"Ya, kau urus lah kalau sudah seperti itu, yang penting kau sudah mantapkan diri, lagian kau sudah kerja juga, sudah ada penghasilan sendiri, bisa lah kau dengan anak mu hidup, ya kan?" jelas Risma menganalisa kehidupanku.
Aku mengangguk lagi, "Iya, lagian kalau ada jodoh lagi, gas kan" aku tertawa renyah melihat muka Risma menjadi masam.
"Iya, aku paham kalau itu" aku tersenyum.
Risma mendukung keputusan ku, aku lega setelah menjelaskan beberapa hal kepadanya untuk dimengerti. Kini pikiran ku melayang kepada Fahmi, wajahnya jujur saja mengalihkan fokus pandangku. Meski aku belum memberi jawaban yang berarti, tapi aku bisa melihat kesungguhan dimatanya.
Setelah pertemuanku dengan Risma, aku kembali bekerja keesokan hari. Sebenarnya agak sedikit malas, tapi ini adalah tanggung jawabku sebagai senior.
"Selamat pagi, kakak ku yang baik hati, ramah, dan tidak sombong" Andi mulai memasang trik merayu nya kembali.
"Selamat pagi juga, semuanya" aku melirik sekilas kearah Fahmi yang sedari tadi memang menatapku tanpa berkedip.
"Kak, nanti ada menu baru dari bos yang harus dibuat, nanti kakak bisa bantu mencicipi" Fahmi memberiku secarik kertas resep menu baru yang akan aku bantu proses pembuatannya.
__ADS_1
Andi terlihat cemburu, jelas tersirat dari raut wajahnya yang langsung menahan amarah. Dia membersihkan toko dan membuka etalase dengan berisik. Aku sampai menoleh kearahnya karena terdengar bising.
"Hey, mau demo, ya?!"
"Tersenggol sedikit, kak" dia tersenyum karena aku datang menghampirinya.
"Kerja tuh pelan-pelan, kalau berat biar dibantu, ok" aku menepuk bahunya dan kembali melakukan kegiatan ku.
"Kak, bisa bantu angkat kursi yang disini?" Andi terlihat ngos-ngosan mengangkat sebuah kursi yang belum bergeser dari tempatnya.
"Iya, sebentar, hitungan satu, dua, tiga kita angkat bersama, ok!" kami berdua berhasil memindahkannya.
Dengan refleks Andi memeluk sambil mengucapkan terima kasih, "Terimakasih, kak" dia tersenyum senang. Aku hanya mematung dengan aksinya yang hanya dalam hitungan detik.
"Kak, ini sudah selesai, bisa dicicipi?" Fahmi berteriak dan pergi tanpa menoleh.
"Mana, sini dicicip" aku mencari keberadaan kue yang dibilang sudah ready untuk dicicipi.
Tanpa sadar, aku kembali mematung karena bibirku terasa basah, aku sadar setelah wajah tampan itu sudah berada didepan wajahku.
"Gimana rasanya?"
"Manis" aku menutup mulut dan langsung berlari keluar karena malu dengan bibirku yang tidak tahu malu.
Fahmi hanya tersenyum sambil meraba bibirnya yang sudah beradu dengan bibirku. Aku merasa situasi ini sudah tidak kondusif lagi, suhu tubuhku sudah naik.
__ADS_1