Kisah

Kisah
9


__ADS_3

Dan akhirnya disinilah kami berada, kembali ditempat dimana kami bertemu dan memulai masa depan meski menghabiskan banyak waktu di negeri orang. "Kita sudah sampai, ayo turun!" Bayu menggenggam tanganku dan menuntun untuk turun dengan hati-hati.


Kutarik nafas dalam-dalam, menghirup udara tanah kelahiranku dengan rakus. Ada sejuta kerinduan yang aku damba. Aku tersenyum senang.


"Kita sudah sampai, sayang" ucapku pada Amara meski dia tidak mengerti apa yang aku katakan.


"Tunggu disini sebentar, Abang mau mencari angkot" Bayu mulai melangkah dan berjalan keluar terminal.


Tidak berapa lama, angkot tiba dengan Bayu yang sedang duduk didalamnya. "Barang yang harus dinaikkan terlebih dahulu" aku langsung mengoper barang bawaan kami kearahnya.


Kami duduk dalam diam, tidak berapa lama akhirnya kami sampai dirumah Bayu. Sepertinya Bayu belum ada planning untuk mencari kerja dan tempat tinggal untuk keluarganya.


"Sementara waktu kita tinggal dirumah orang tuaku saja ya, nanti kalau sudah ada kerjaan tetap, punya gaji tetap, baru kita kontrak rumah sendiri" Ucapnya tanpa melihat kearah ku, karena dirinya sibuk bermain bersama Amara.


"Iya, mana baiknya saja" aku membuka barang bawaan dan mengeluarkan beberapa pasang baju kotor Amara.

__ADS_1


Dirumah hanya tinggal adik-adiknya Bayu, terkadang adiknya jarang pulang kerumah. Aku masih ingat, disini lah tempat aku melepaskan hal yang harusnya sangat ku jaga.


"Bang, minta duit belanja ya, untuk makan malam nanti gimana?"


"Ini ada sedikit, cukup kan untuk sekali makan aja buat nanti malam? kalau untuk besok, nanti saja biar Abang yang pikirkan" Bayu menyodorkan selembar uang berwarna biru.


Aku mengangguk dan menerima nafkah dari suamiku. Mudah-mudahan cukup untuk nanti malam, mengingat adik-adiknya juga ada disana karena mereka bahagia mendapat ponakan baru yang cantik.


Kami makan malam seadanya, tidak ada yang protes karena memang masakanku enak menurut mereka. Setelah makan, aku membersihkan semua peralatan makan. Amara masih setia bermain bersama pamannya. Setelah pekerjaanku selesai, terdengar tangisan Amara karena dia memang lapar, dan haus.


"Kak, Amara lapar sepertinya"


Amara terlelap dengan cepat, mungkin dirinya sangat lelah bermain bersama pamannya. Aku juga ikut tertidur tanpa sadar. Bayu membangunkan aku, samar-samar kudengar suaranya memanggil dengan lembut supaya Amara tidak ikut terbangun juga.


"Kenapa, bang?" aku mengucek mata dan melihat dia duduk di sampingku

__ADS_1


"Ssstt, jangan keras-keras bicaranya, nanti dia bangun juga!" Bayu meletakkan telunjuk kedepan menyuruhku diam.


Aku menoleh Amara, sebentar dia menggeliat dan diam.


"Sini" Bayu menarik dan mendekatkan tubuhnya kearah ku.


Ternyata dia meminta haknya sebagai suami tanpa ada suara karena sekarang kondisinya sudah berbeda, tinggal menumpang dan ada Amara yang harus tetap dijaga tidur pulas nya.


Setelah beberapa kali kegiatan itu diulangi, barulah Bayu kebelakang untuk mandi. Setelah dia mandi, aku segera mandi. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan itu dirumah keluarganya, malu jika rambut yang basah sampai dilihat orang.


"Lain kali, jangan sering-sering kita seperti itu, bang" aku memeluknya dan mengelus tangannya.


"Kenapa? menolak ajakan suami dosa loh" dia tidak mau kalah.


"Iya tau, tapi adek malu kalau keramas tiap hari, ga enak diliat sama adik-adik" ucapku lagi.

__ADS_1


"Biarin aja mereka, kalau mereka udah mengalami seperti kita baru mereka tahu" Bayu mengacak-acak rambutku gemas.


Aku tidak berkomentar lagi, aku diam dan memaklumi ucapannya. Memang benar menolak permintaan suami itu dosa.


__ADS_2