Kisah

Kisah
15


__ADS_3

Bayu pulang saat hari sudah mau gelap, jam berapa juga aku tidak tahu. Dia terlihat menyusun baju dan memasukkan kedalam ransel. Aku berjalan tanpa ada niat membantu, dia lebih dulu menegurku.


"Aku akan kerja di kota, mungkin akan lama, kalau tidak bisa pulang, duit gajinya akan ditransfer saja" aku mengangguk.


"Tidak masalah, kan?" tanyanya kembali.


"Iya, tidak masalah, asal pekerjaan itu halal, dan gajinya bisa untuk menghidupi kami disini" aku menjawab dengan pelan.


"Ya sudah, abang pergi, itu kawan sudah menjemput" dia bergegas setelah tangannya aku cium.


Aku menatap kepergiannya. Semoga apa yang dia lakukan membuat sedikit kemajuan pada ekonomi keluarga kami. Aku sedikit bernafas lega saat melihat dia bersemangat untuk bekerja, meski bukan kerja tetap tapi mudah-mudahan bisa cukup untuk keluarga yang dia tinggalkan.


"Kerja dimana dia sekarang?" tiba-tiba mama datang dan membuatku terkejut.


"Kota, ma, mudahan rejeki dia lancar dan bisa untuk hidupi anak istri disini" harapan ku kedepan.


Mama hanya diam tanpa bertanya kembali, dia langsung membawa Amara kerumah depan.


Tidak terasa sudah satu bulan lamanya Bayu pergi bekerja. Ponselku berdering dan nama Bayu tertera disana. Aku mengangkat panggilan itu dengan cepat.


"Halo, ya ada apa, bang?"

__ADS_1


"Halo, dek, besok abang pulang"


"Bisa pulang? sudah bisa libur ya?" tanyaku heran.


"Iya, libur tiga hari, kerjaan sudah selesai, tinggal nunggu kerjaan baru lagi" jelasnya dan aku mengangguk.


"Ya sudah, adek tunggu besok" aku mematikan ponsel dan meletakkan kembali kedalam kantong celana.


Aku pulang dan pergi bekerja seperti biasa. Gajiku sudah lumayan tinggi, karena prestasi yang aku raih ternyata mempengaruhi nominal gaji yang aku dapat tiap bulannya. Aku bersyukur, keuanganku sudah stabil dan bisa mencukupi kebutuhan Amara dan kebutuhanku sendiri.


"Assalamualaikum" suara Bayu terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka.


"Waalaikumsalam, eh, abang sudah pulang" aku berdiri dan menyambut tangannya untuk dicium.


"Ini kopinya, bang" aku meletakkan secangkir kopi panas keatas meja dan dia langsung menyeruputnya.


Setelah kopi tinggal setengah, Bayu mengambil ransel dan mengeluarkan satu persatu baju kotor yang belum sempat dia cuci selama perjalanan pulang dari kota. Aku maklum. Lalu ada sebuah amplop yang langsung dia beri dan aku menerimanya.


"Gaji abang, ya?" aku tersenyum dan langsung membuka untuk melihat isi amplop.


Aku terhenyuh, antara percaya dan menerima dengan ikhlas. Sesekali aku menatap wajahnya dengan tatapan tidak percaya. "Ini benar jumlahnya segini, bang?"

__ADS_1


"Iya, segitulah, jadi mau berapa?" jawabnya santai.


"Bukannya abang bilang, gajinya sekitar dua juta?" aku kembali bertanya.


"Iya itu kan gaji hitungan kotornya, kalau bersih ya tinggal segitu"


"Ya ampun, bang, bukannya tidak bersyukur, maaf sekali lagi maaf, tapi pengeluaran apa yang abang bayar selama disana? makan ditanggung, rokok juga ditanggung, pulsa juga abang jarang nelpon kesini, jadi kenapa hanya sisa sembilan ratus ribu? satu juta lebih lagi untuk pengeluaran abang?" aku kembali menghitung rincian secara kasar.


"Yang jelas sisanya segitu, jangan banyak protes!" dia bangkit dan langsung mandi.


Aku jadi heran, sumpah. Dengan jelas dia bilang gajinya dua juta, dan telinga ini belum tuli. Kenapa hasilnya jadi segini, pikir ku tak habis sampai disini. Tapi aku coba bersyukur, semoga yang dia katakan ada benarnya tanpa berniat membohongi istri.


Sudah tiga hari lamanya terlewati, dan hari ini Bayu akan kembali berangkat ke kota. Dia kembali membawa beberapa helai baju dan memasukkannya kedalam ransel.


"Dek, abang minta duit tiga ratus ribu ya, untuk ongkos" aku langsung menatap tajam kearahnya.


"Yang abang bilang kotor dan bersih kemarin apa? kenapa masih dipotong lagi untuk ongkos, bukannya abang sudah potong dari yang jumlah sebelumnya?"


"Sudahlah, jangan ngomel, pusing aku mendengarnya!" aku menyerahkan uang yang dia minta dengan perasaan geram.


"Lain kali kalau masih segitu yang abang bawa pulang, lebih baik jangan pulang, transfer kan saja!" perintahku kepadanya tanpa mendapat jawaban dari mulutnya dan aku tidak peduli.

__ADS_1


Semakin hari sudah semakin tidak benar, tingkahnya mulai aneh. Dia sudah pergi, dan aku mulai lelah melihat tingkahnya sekarang. Aku mulai curiga, sungguh.


__ADS_2