
Sudah enam bulan lamanya waktu berjalan, tanpa terasa aku sudah terbiasa menjalani hidup sendiri tanpa suami. Kabar beredar katanya Bayu sudah bebas, ada juga tetangga yang mengatakan jika Bayu tidak berani pulang karena salah. Aku tidak merespon desas-desus yang semakin terdengar ditelinga.
"Ana, kami dengar suamimu sudah bebas, ya?" tanya tetangga dengan antusias.
"Aku belum dengar berita apa-apa sejak dia masuk, bu" jawabku sekenanya.
"Pasti dia tidak berani pulang, jelas-jelas salah masih berani pulang, itu namanya cari mati, hahaha" tawa tetangga serentak mengenang bagaimana kerasnya sikap abang kandungku.
"Biarlah, bu, aku tidak peduli apa-apa lagi" aku berlalu pergi meninggalkan tetangga yang serba ingin tahu itu.
Aku masih tetap bekerja ditoko roti, aku karyawan yang paling lama, karena banyak karyawan senior diatas ku telah berhenti karena faktor usia. Wajar saja mereka berhenti, karena lebih fokus ke hari tua mereka bersama anak dan cucu.
Aku sekarang bertugas mengajari karyawan baru yang bergabung beberapa hari yang lalu, bos meminta langsung kepadaku untuk meluangkan waktu sebentar mengajari anggota baru. Namanya anak muda tentunya sangat cepat menangkap ilmu yang baru saja didapat, salut dengan semangat anak muda jaman sekarang.
__ADS_1
Ada dua anak laki-laki yang diterima oleh bos. Satu diantaranya bernama Fahmi, anak yang rajin dan baik hati, kalau tampang ya jelas tampan. Satunya bernama Andi, agak sembrono dan satu sifatnya yang tidak kusuka, genit.
Fahmi menerima ilmu yang dia dapat dengan cepat, semua bisa dilakukannya dengan mudah, jadi aku tidak terlalu khawatir untuk melepaskan dia bekerja di bagian pemanggangan roti. Beda hal dengan Andi, lebih banyak memanfaatkan kepolosan daripada hasil yang didapatnya dalam kepala. Aku sedikit gerah untuk mengajarinya. Andi sengaja menjadi bodoh, lugu, polos seperti orang yang butuh pengajaran berkali-kali.
Aku lelah dan malas banyak bicara hingga waktu tutup toko telah tiba. Fahmi dengan sigap membantuku, dia memang ringan tangan, salut dengan sikapnya ini. Aku mengucapkan terimakasih dan tersenyum.
Baru saja hendak melangkah, Andi menghentikan langkah kakiku. "Kak, biar aku antar pulang, mau?" tawarnya dengan nada genit.
"Terimakasih, kakak bisa pulang sendiri, lain kali saja, ya!" tolak ku dengan halus, dan melihat ekspresi kecewa diwajahnya.
Belum lama aku merenung, sebuah pesan masuk dan menampilkan nama yang mengirim pesan pada layar ponsel.
dek, maafkan Abang, Abang tidak berani pulang karena sangat malu pada keluarga disana. Abang minta maaf, ya!
__ADS_1
Aku masih membacanya tanpa ada niat untuk membalas. Aku tahu ini Bayu, meski dia mengganti nomor telepon, tapi cara dia mengetik pesan itu masih sangat aku hapal. Aku masih menatap layar ponsel, dan akhirnya tidak kubalas.
Pagi datang begitu cepat, hari ini aku mendapat jatah libur. Ada Andi yang menggantikan ku untuk menjaga pajangan roti. Semua sudah diberi arahan dan saatnya mempraktekkan ilmu itu dengan berhadapan langsung dengan pembeli.
Sosial media didalam ponsel berbunyi, ada notifikasi yang masuk, siapa lagi kalau bukan Andi yang berkomentar didalam group yang sengaja kami buat khusus untuk anggota karyawan toko roti tempat kami bekerja dan mencari rejeki.
Andi : capekkkkk
Andi : hey, diam semua kelen! tak seru lah...
Fahmi : sudah, jangan ngeluh, banyak baca doa dan sabar ya 💪🏻
Fahmi : kak Ana, mana suaranya... kasi semangat buat Andi tuh! 😂
__ADS_1
Saya : kerja, kerja!!! malah chat aja ini karyawan durhaka! 😤😤😤
Notifikasi hening, tidak ada balasan lagi, mungkin takut aku datang dan menghukum mereka. Karyawan muda gokil. Aku tersenyum, ini mungkin bisa menghilangkan jenuhku dirumah, daripada memikirkan masalahku yang mudah-mudahan bisa selesai.