
Pagi sekali aku sudah bangun, membersihkan rumah dan memasak makanan untuk Amara, karena aku sudah membiasakan Amara untuk memakan bubur yang aku masak sendiri. Semua persiapan rumah tangga sudah aku selesaikan dan lanjut untuk mandi dan mempersiapkan diri karena hari ini adalah hari pertama aku memulai pekerjaan.
"Ok, sayang, kita kerumah nenek ya!" ucapku pada Amara yang langsung membuat Bayu menatapku bingung.
"Mau kemana pagi-pagi sudah rapi?"
"Hari ini adek mulai bekerja, di toko roti" aku tidak banyak menjawab untuk menghindari keributan dipagi hari.
"Sejak kapan aku memberi ijin untuk mu bekerja, bukannya aku sudah melarang?!" Bayu meninggikan volume suaranya dan aku menatapnya tajam.
"Oh, jadi kalau aku tidak bekerja, kita mau makan apa, ok tidak usah kita yang dipikir, terus Amara mau makan apa kalau abang sendiri masih duduk diam dan santai dirumah, harus minta-minta dulu sama abangku untuk kebutuhan anak yang sudah kamu buat ini?!" aku sudah tidak kuat menahan emosi yang dipancing dipagi hari.
"Aku masih bisa usahakan buat makan anak, makan aja apa susahnya?!" kilahnya lagi.
"Apa abang pikir hidup hanya untuk makan ya? terus kebutuhan lainnya tidak dipikir? siapa yang mikir? abang?" cecar ku lagi.
"Terserah, kalau mau kerja, pergi lah, tapi tanggung aja dosanya jika suami tak ikhlaskan!" ancamnya tanpa membuat sedikitpun aku takut.
"Dosa apa yang abang bawa-bawa, lebih dosa suami yang acuh dengan anak dan istrinya!" aku menjawab sambil membawa Amara kerumah neneknya.
Aku pergi berjalan kaki dan tentunya naik angkot menuju toko roti tempat aku bekerja. Aku tidak mau merepotkan abangku yang sudah banyak membantu untuk mencarikan aku pekerjaan. Aku sudah sampai dan langsung memulai pekerjaan, menjual roti yang sudah siap untuk dikonsumsi.
Akibat terlalu sibuk dan bekerja dengan situasi yang menyenangkan, tidak terasa waktu sudah merangkak ke malam hari. Bos datang ketika toko roti hendak tutup. Dia sangat puas melihat laporan penjualan yang melonjak naik.
"Wah, bagus juga strategi penjualan kamu, kalau begini terus setiap hari, saya akan naikkan gaji kamu!" ucapnya tersenyum senang.
"Ah, tidak seberapa bos, roti yang dibuat disini, memang sangat enak, jadi wajar banyak yang membelinya, bos!" aku mengungkapkan rasa enak versiku sendiri kepada bos.
"Benarkah? darimana kamu tahu?" bos menjadi penasaran dengan apa yang aku katakan.
"Iya, bos, untuk apa saya berbohong, saya bisa merasakan mana roti yang enak, lembut dan membuat ketagihan, dibanding roti yang saya beli ditoko lain, roti ditoko ini sangat enak!" ucapku bercerita dengan serius.
__ADS_1
"Kalau begitu, setiap roti dari menu baru yang akan diproduksi, harus kamu coba dulu, bagaimana?"
"Apa bos yakin ingin mempercayai selera saya untuk merasakan roti baru yang akan diproduksi?" tanyaku meyakinkan kembali apa yang baru saja dibilang bos.
"Saya serius!" bos menepuk bahuku.
"Baik, bos, terimakasih atas kepercayaan yang diberikan" aku tersenyum puas.
Aku pamit ingin pulang, aku tidak mau terlambat pulang karena sangat risau dengan Amara. Bos memberikan beberapa roti untuk anakku tentunya, semoga rejeki melimpah ditempat aku bekerja.
"Assalamualaikum" aku masuk dan melihat Amara sudah tertidur.
"Waalaikumsalam" mama menjawab salam dari dalam.
"Kenapa pulangnya lama? ramai yang beli ya?"
"Iya, ma, ramai sekali yang beli roti, heran" aku tertawa mengingat pengalaman hari pertama bekerja.
Aku yang terbaring disampingnya, tidak sadar ikut tertidur. Asik bercerita panjang lebar sama mama membuat ku menguap beberapa kali dan akhirnya tertidur pulas. Besok paginya aku bangun dan terkejut karena tidak pulang kerumah, aku segera kerumah untuk melihat apa yang terjadi dengan rumah. Bukan melihat apa yang terjadi dengan Bayu.
"Assalamualaikum" aku mendorong pintu yang tidak terkunci. Aneh karena salam tidak dijawab dan rumah sepi.
"Astaghfirullah, berantakan sekali!" aku menyapu pandangan kesetiap sudut rumah. Ternyata Bayu tidak pulang kerumah, memberi kabar juga tidak. Aku menahan semua didalam hati dan mencoba membersihkan rumah.
"Semua makanan yang dimasak habis, nasi didalam magic com kosong, piring kotor berantakan tanpa dicuci, baju kotor dilempar sembarangan, air untuk mencuci dan mandi juga habis!" aku menggeleng melihat kelakuan Bayu.
"Hebat sekali dia ya, tunggu balasan ku!" aku tersenyum sinis ketika membersihkan semuanya dirumah.
Aku akan membuat semua didalam rumah ini kosong, biar dia tahu apa yang harus dibeli dan apa yang harus dibereskan. Jika dibiarkan seperti ini terus bisa mati berdiri lama-lama. Aku bukan tipe wanita yang lemah dan harus pasrah melihat keterpurukan hidup. Aku tidak gampang menyerah, dan aku akan balikkan keadaan biar dia sadar.
Aku kembali bekerja dan pulang kerumah setiap hari kecuali hari Minggu. Hari Minggu aku sedang duduk dan menyuapi Amara dirumah. Bayu kembali pulang dan duduk untuk bermain dengan anaknya.
__ADS_1
"Amara itu kan lagi makan, cobalah tunggu dia selesai makan, baru diajak bermain!" aku sedikit kesal melihat rasa tidak bersalahnya.
"Anak bapak makan dulu ya, bapak mau mandi" dia meletakkan kembali anaknya dan mengambil handuk untuk mandi, aku menatapnya sambil tersenyum menyeringai.
Dia kembali masuk dan merasa heran. "Air tidak ada, bagaimana mau mandi?"
"Mandi di sungai saja, memangnya siapa yang beli air?" jawabku enteng.
"Oh, jadi mau hitung-hitungan denganku?" dia sama sekali tetap tidak merasa bersalah.
"Haha, lucu abang, siapa yang mau hitungan, sekarang semua kebutuhan siapa yang siapkan?"
"Jadi apa gunanya kau itu kerja?!" bentaknya lagi.
"Wah, jadi sekarang semua kebutuhan istri yang tanggung?!" aku membersihkan mulut Amara yang sedikit belepotan.
"Jadi guna suami apa?!" aku mendelik menatapnya.
"Kan tau sendiri aku belum dapat pekerjaan, jadi apa salahnya istri yang menutupi kebutuhan rumah untuk sementara waktu"
"Sementara sampai kapan? sudah berapa tahun ini? harus nunggu satu abad baru abang dapat kerja, gitu?!"
"Adek pulang pergi bekerja, tapi apa yang abang lakukan dirumah? sedikit membantu ringankan pekerjaan istri dirumah saja tidak mau, bukannya mau menyuruh, tapi tenggang rasa abang ada ga?! Semua berantakan kalau dibiarkan, abang kemana? ada bilang mau kemana? terus pulang-pulang mandi dan nanya air" aku luapkan semua kekesalan yang aku simpan kepadanya.
"Berani menjawab sekarang ya, bagus, terserah lah, aku capek begini terus!" dia berdiri dan hendak keluar lagi.
"Apa yang abang capek kan? tidak ada, bang! jadi tidak usah mengeluh capek, entah kalau abang capek diluar sana, jadi buat aku berpikir buruk kan?!" ucapku degan sinis.
"Brengsek lah!" suara pintu dibanting terdengar lagi.
Sekarang aku tidak akan menangis karena itu. Karena telinga, hati, dan pikiran sudah terbiasa dengan semua yang aku alami. Jadi tinggal bagaimana aku mengambil keputusan untuk semua jalan hidup yang aku pilih sendiri.
__ADS_1